fbpx

0
0
0
s2sdefault

 

Rumor dan desas-desus mengenai jadi tidaknya Gibran menapakkan kakinya ke dunia politik yang sangat baru baginya dengan tujuan kepemimpinan no. 1 di kota bengawan ini akhirnya terjawab dengan lugas dan jelas. Meskipun DPC PDI-P Kota Surakarta teguh kukuh hanya secara resmi mengajukan pasangan tunggal yakni Purnomo - Teguh , Gibran tetap fokus pada maksud dan tujuannya sejak awal, mendaftar sebagai calon walikota surakarta.

Boleh jadi di kalangan akar rumput, determinasi Gibran ini dianggap tidak masuk akal dan "ngoyoworo". Lha wong sudah jelas DPC hanya mengusung Purnomo - Teguh, ini kok tetap nekat. "Mbok yo Gibran tahu diri". Begitu mungkin yang dipikirkan. Ketika suara-suara dukungan terhadap Gibran makin terasa menguat, maka narasi-narasi yang menganggap Gibran belum layak memimpin Solo makin masif, di antaranya ialah : Gibran belum berpengalaman, belum paham politik apalagi poltiik anggaran, kalau menang tidak dianggap dan kalau kalah memalukan sebab bapaknya ialah seorang Presiden RI.

Akhirnya narasi-narasi yang menggugat Gibran mengerucut pada penolakan terhadap DINASTI POLITIK. Tidak elok seorang anak Presiden berkontestasi dalam Pilakda pada saat bapaknya masih menjabat sebagai Presiden RI. Alangkah baik apabila Gibran maju setelah bapaknya tidak menjabat sebagai Presiden RI. Demikianlah argumentasi yang disampaikan untuk menghentikan langkah Gibran. Kalau argumentasi itu disampaikan oleh kalangan idealis pejuang keadilan sosial maupun aktivis NGO tulen, hal itu bisa dimaklumi. Namun apabila argumentasi tersebut dilontarkan oleh orang-orang yang dekat dengan lingkar kekuasaan, maka asumsi, dasar argumetasi dan motif-motifnya perlu dibongkar dan diekspos ke publik supaya tidak ada dusta di antara kita.

Terhadap tuduhan membangun dinasti politik, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu dinasti. Dinasti politik ialah strategi politik yang bertujuan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan politik supaya tetap berjalan dalam kendali keluarga sehingga siapapun yang berkuasa mempunyai ikatan kekeulargaan dengan yang sebelumnya. Dinasti Politik lazimnya terjadi dalam sebuah negara atau pemerintahan dengan sistem monarki atau kerajaan. Sebab untuk memegang sebuah kekuasaan politik, seorang anggota keluarga hanya perlu ditunjuk oleh raja BUKAN dipilih oleh rakyat.

Apakah dengan demikian bisa dikatakan bahwa keluarga Presiden Joko Widodo mencoba membangun dinasti politik di Indonesia ? Kalau Joko Widodo langsung menunjuk Gibran Rakabumin Raka menjadi Walikota Surakarta, maka Joko Widodo terbukti membangun dinasti politik dan oleh karena melanggar konstitusi dan peraturan perundang-undangan, maka Presiden Joko Widodo harus dilengserkan. Apakah itu yang terjadi ? Tentu tidak seperti itu, bukan ? Bahwa Gibran mempunyai hak yang sama sebagaimana warga negara pada umumnya untuk menduduki jabatan politik di pemerintahan lewat mekanisme yang sudah ditetapkan. Apa itu mekanismenya ? Lewat pemilihan umum. Apabila Gibran mendapat mandat sebagian besar warga kota Solo yang menggunakan hak pilihnya, maka ia legitim dan sah terpilih sebagai Walikota Surakarta.

Jadi perbedaan prinsip sistem monarkhi (dinasti politik) dan demokrasi ialah, yang pertama DITUNJUK oleh pemegang kekuasaan politik dan yang terakhir DIPILIH oleh rakyat. Tapi Gibran kan anaknya Presiden. Mosok Joko Widodo berdiam diri saja tidak mendukung Gibran menjadi walikota ? Selamat datang di demokrasi liberal, bung. Tidak peduli kamu kaya atau miskin, seorang suci atau seorang bajingan apabila kamu memenuhi tahapan yang dipersyaratkan dan memperoleh mandat rakyat, kamu legitim dan sah menjadi Walikota.

Sah-sah saja orang-orang yang merasa terusik dengan tampilnya Gibran mencoba membangun wacana negatif tentang Jokowi dan Gibran terkait dengan dinasti politik. Hanya saja sebagaimana saya sampaikan di awal bahwa ketika yang mewacanakan itu ialah orang-orang partai politik dan yang dekat dengan lingkar kekuasaan, maka tinggal diperlihatkan saja standar ganda yang mereka pakai.

Oleh sebab itu daripada wacana politik lokal Solo hanya dipenuhi dengan pro-kontra tentang Gibran, jauh lebih baik apabila kita coba menggali ide, gagasan, problem, solusi dan visi dari mereka yang berpotensi dan menjadi bakal calon pemimpin kota Solo atau kita bisa mengambil inisiatif dengan mencoba merumuskan mandat sosial untuk memastikan kota Solo berbenah dan bergerak maju. Harapan saya sih tetap, hanya di tangan #MudaVisioner, kota Solo melesat.
.
.
.
Guntur Wahyu Nugroho

Sumber: https://www.facebook.com/803774136380640/posts/2695288610562507/


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh

Login Form