fbpx

0
0
0
s2sdefault

IMG 20190828 060803Kuyang si hantu wanita dari Kalimantan.

Sosok setan atau iblis Kuyang tiba-tiba saja menjadi topik pembicaraan hangat di media sosial khususnya twitter. Kuyang menjadi kata atau hastag yang digunakan dalam lebih dari 11 ribu cuitan pada hari Selasa, 27 Agustus 2019.

Populernya setan Kuyang bukan tanpa alasan, sejak Presiden Joko Widodo memindahkan ibu kota ke Kalimantan Timur, setan Kuyang langsung jadi perbincangan karena berasal dari pulau Kalimantan. Tidak hanya sektor pariwisata dan kuliner Kalimantan saja yang jadi sorotan, setan Kuyang pun ternyata ikut terlibat di dalamnya.

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

250px Boneka JailangkungBoneka Jailangkung

Jailangkung adalah sebuah permainan tradisional Nusantara yang bersifat ritual supernatural. Permainan ini bersifat supernatural, umumnya dilakukan sebagai ritual untuk memanggil entitas supernatural. Media yang digunakan untuk menampung makhluk halus atau entitas supernatural yang dipanggil dalam permainan Jailangkung adalah sebuah gayung air yang umumnya terbuat dari tempurung kelapa yang didandani pakaian dan bergagang batang kayu.

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

1566946297923etnis Hakka di Kalimantan

Lebih satu dekade lalu, sulit bagi siapa pun—kecuali sejarawan pemerhati Tionghoa—mencari informasi tentang Republik Lanfang di Kalimantan Barat. Kini, tinggal ketik kata kunci “Lanfang Republic” di search engine dan klik, lalu seabrek informasi tentang republik pertama di Asia itu tersedia.

Prof Yuan Bingling, sinolog Universitas Fudan dan peneliti sejarah kongsi di Kalimantan Barat, membebaskan kita untuk mengakses bukunya, Chinese Democracies: A Study of the Kongsis of West Borneo, secara gratis. Sebuah stasiun televisi swasta di Jakarta sempat mendokumentasikan kisah Republik Lanfang, lengkap dengan rekonstruksi suasana 200 tahun lalu.

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

putroe neng 20170409 200820Putroe Neng

Apakah Anda pernah berpikir untuk menikah hingga lebih dari puluhan kali?

Kisah ini terjadi seorang perempuan bernama Putroe Neng yang hidup pada masa perang dahulu.

Putroe Neng, merupakan salah satu perempuan 'perkasa' yang berasal dari Aceh.

Tidak hanya dapat menumbangkan laki-laki di medan perang, namun juga saat 'malam' datang.

Nama asli Putroe adalah Nian Nio Lian Khie, nama yang ia pakai sebelum menjadi muslim dan menikah dengan Sultan Meurah Johan.

Putroe merupakan seorang komandan perang perempuan dari Tiongkok berpangkat Jendral dari China Buddha.

Dalam buku 'Putroe Neng: Tatkala Malam Pertama Menjadi Malam Terakhir Bagi 99 Lelaki' karya Ayi Jufridar, ia datang ke Aceh bersama ribuan prajurit perempuan China dan mendirikan kerajaan Seudu.

Meurah Johan, suami pertama Putroe, adalah seorang pangeran yang telah mengalahkan pasukan yang dipimpin oleh istrinya tersebut di medan tempur.

Meurah Johan juga seorang pendiri kerajaan Darud Donya Aceh Darussalam.

Sayangnya pada saat malam pertama, Meurah Johan meninggal di tempat tidur dengan tubuh membiru.

Kematian Meurah bukanlah kesengajaan, dan Putroe Neng tidak tahu menahu masalah ini.

Kemudian pada malam pertama untuk kedua kali, sang suami dari Putroe Neng kembali meninggal.

Kejadian ini kembali terulang hingga 98 lelaki yang menikahi Putroe Neng berikutnya.

Namun kematian tersebut tidak menyurutkan keinginan para lelaki untuk menikah dengan wanita hebat itu.

Padahal disebutkan tidak mudah bagi Putroe Neng untuk menerima pinangan setiap lelaki.

Bahkan dirinya akan memberi syarat berat seperti mahar tinggi atau pembagian wilayah kekuasaan.

Setelah diketahui sebabnya, ternyata ada 'senjata tersembunyi' berupa racun yang terletak pada organ intim Putroe Neng.

Racun ini tidak ditanamkan oleh Putroe sendiri, tapi justru oleh neneknya.

Maksud dari sang nenek adalah untuk mengantisipasi terjadinya pemerkosaan terhadap cucunya saat masa-masa perang.

Hingga pada akhirnya Putroe Neng kembali menikah untuk yang ke-100 kalinya dengan Syeikh Syiah Hudam.

Lelaki ini akhirnya bisa menarik racun yang ada dalam tubuh istrinya dengan cara memasukkan racun itu ke dalam sebuah bambu dan dipotong menjadi dua bagian.

Satu bagian dibuang di laut, sedangkan lainnya dibuang ke gunung.

Sayangnya, meski racun sudah tak lagi bersemayam di tubuh Putroe, pasangan ini sama sekali tidak dikaruniai keturunan.

Dalam buku yang sama, kisah Putroe Neng menikah hingga 100 kali hanyalah mitos.

Pengamat budaya Aceh, Syamsuddin Jalil mengatakan bahwa kisah Putroe Neng bersuami 100 tidak lah benar.

"Tapi itu sebagai gambaran saja bahwa Putroe Neng sudah mengalahkan 100 pria di medan pertempuran," tuturnya, dilansir dari Bangka Pos.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara pun punya pandangan serupa dengan Jalil di buku sejarah buatannya.

Diketahui, makam Putroe Neng dan Syeikh Syiah Hudam berada di jalan Medan, Banda Aceh, Desa Blang Pulo, Lhok Seumawe, Aceh.

Makam Putroe Neng YouTube/HOTNEWS

Informasi mengenai Putroe Neng memang sangat minim. Hingga kini tidak ada yang bisa menjelaskan siapa saja 98 suami Putroe selain Meurah Johan dan Syeikh Syiah Hudam. (*)

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/amp/2019/07/19/kisah-putroe-neng-yang-nikahi-100-pria-99-suami-meninggal-saat-malam-pertama

0
0
0
s2sdefault