fbpx

0
0
0
s2sdefault
protes rasisme mahasiswa papua di medan siap pulang kampung sc1Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam IMP Sumut berkumpul di Asrama Putra Kampus USU, Medan, Senin (19/8/2019). Foto/Andi Yusri
 
MEDAN - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Papua (IMP) Sumatera Utara (Sumut) menggelar aksi di Asrama Putera Universitas Sumatera Utara (USU), Jalan Dr Mansyur, Kota Medan, Senin (19/8/2019).

Mahasiswa asal Papua di Medan, Sumut ini mengaku siap pulang balik ke Papua. Namun orang-orang non-Papua yang ada di Papua juga harus meninggalkan lokasi yang bukan asalnya. Mereka bagian dari sekitar 200-an mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Kota Medan.

Koordinator aksi, Damiel Wandik mengatakan, aksi ini sebagai dukungan dan juga protes kepada Pemerintah. Terutama atas penangkapan mahasiswa asal Papua di Surabaya, serta intimidasi dan sikap rasisme yang dialami mahasiswa Papua di sejumlah tempat.

"Kami mengecam penangkapan para mahasiswa Papua dan rasisme terhadap orang Papua, baik di Surabaya, Malang, di mana-mana. Kalau diusir, kami siap pulang kembali ke Papua. Tetapi kami mau tukar. Orang luar yang ada di Papua, mereka juga harus kembali. Itu catatan kami," ujar Wandik.

Wandik menambahkan hari ini mereka menggelar aksi awal di asrama mahasiswa karena belum dapat izin dari polisi untuk berdemo di luar. Izin juga belum diperoleh untuk beraksi di dalam kampus."Nanti kalau sudah diperoleh izin, kami akan menggelar aksi di luar," pungkasnya.
 
0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

FB IMG 1565563354548Nasir Abbas

PENGAKUAN MANTAN TERORIS NASIR ABBAS

Mantan pelaku teror, Nasir Abbas, mengaku jadi teroris sejak remaja, yaitu usia 18 tahun.

“Memang usia remaja itu yang paling mudah dipengaruhi dan gampang direkrut,” kata Nasir Abbas saat memberikan testimoni tentang pengalamannya sebagai teroris di hadapan ribuan santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur, Kamis (1/8/2019).

Menurut dia, anak-anak muda yang telat belajar agama sangat rawan sekali terjangkit radikalisme. Sebab ilmu pengetahuan agama mereka masih sangat dangkal. Ia memberi contoh pengalaman dirinya sendiri.

“Saya dulu pada tahun 1987 dikirim ke wilayah konflik di Afghanistan berumur 18 tahun,” kata Nasir Abbas sembari mengatakan bahwa di Afghanistan ia diajari cara menggunakan senjata dan merakit bom.

Sejak itu ia jadi teroris yang ditugasi ke beberapa negara dengan nama dan identitas diri yang selalu berubah-ubah.

Siapa yang mengirim? “Ustadz Abu Bakar Baa’syir,” kata Nasir Abbas. Kini Abu Bakar Ba’asyir mendekam dalam penjara karena terlibat kasus terorisme di berbagai daerah dan negara.

“Saya ketemu kiai, tapi kiai yang gak benar,” katanya penuh nada penyesalan.

Ia mengaku bertemu Abu Bakar Baasyir di Malaysia saat usia 16 tahun. Sejak itu ia seperti kerbau dicocok hidungnya.

“Saya sebenarnya gak tahu tapi saya ngikut saja. Karena itu adik-adik santri harus cerdas dalam memahami agama. Jangan seperti saya. Saya saat itu hanya ikut-ikutan saja,” kata Nasir Abbas kepada para santri Amanatul Ummah.

Nasir Abbas lalu memberi contoh cara dan strategi para teroris merekrut calon anggota baru, terutama anak-anak remaja yang baru belajar agama Islam.

“Coba adik-adik santri jawab. Lebih baik mana Al-Quran dan Pancasila,” tanya Nasir Abbas kepada para santri Amanatul Ummah yang memadati Masjid Raya KH. Abdul Chalim. Para santri itu langsung menjawab, “Al-Quran…”.

Nasir Abbas kemudian melontarkan pertanyaan lagi, “Lebih baik mana Nabi Muhammad dan Pak Jokowi.” Para santri langsung menjawab, “Nabi Muhammad...”

“Lebih baik mana antara negara Islam dan negara kafir,” tanya Nasir Abbas lagi. Para santri menjawab, “Negara Islam.”

“Nah, dengan jawaban-jawaban itu adik-adik santri tanpa terasa sudah terpengaruh dan masuk jaringan teroris,” kata Nasir Abbas.

Kenapa?

“Karena pertanyaan-pertanyaan seperti itu seharusnya tak perlu dijawab karena tidak selevel. Itu pertanyaan-pertanyaan salah. Masak Al-Qur’an dibandingkan dengan Pancasila. Masak Nabi Muhammad dibandingkan dengan Pak Jokowi,” kata Nasir Abbas.

Tapi itulah strategi para teroris untuk mengelabuhi dan menjebak mangsanya, terutama untuk menjaring anggota teroris baru. Dengan jawaban-jawaban itu, kata Nasir Abbas, para teroris itu lalu mengembangkan doktrin.

“Kalau lebih baik Al-Quran mari kita ganti Pancasila dengan Al-Quran. Kalau negara Islam lebih baik dari negara kafir, mari kita ganti negara Pancasila yang kafir dengan negara Islam.

Kalau lebih baik Nabi Muhammad mari kita ganti Jokowi. Tujuannya kan agar kita membenci Pak Jokowi,” kata Nasir Abbas. Saat itulah otak anak-anak muda mulai tercuci secara tidak sadar. Ngeri.

“Membandingkan sesuatu itu harus selevel. Misalnya al-Quran dengan Taurat. Kalau al-Quran dengan Pancasila kan tidak selevel,” kata Nasir Abbas.

“Nabi Muhammad dengan Pak Jokowi juga tidak selevel. Nabi Muhammad itu dipilih langsung oleh Allah, sedang Pak Jokowi dipilih oleh manusia,” tambahnya.

Menurut Nasir Abbas, masih banyak pertanyaan menjebak lainnya yang dikembangkan oleh teroris.

“Karena itu kalau adik-adik santri mendapat pertanyaan seperti itu jangan dijawab,” pintanya.

Nasir Abbas menuturkan, kini para teroris dalam merekrut anggota baru tidak selalu dengan cara face to face atau tatap muka.

Mereka memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. “Bisa lewat baca dan bisa lewat video,” kata Nasir Abbas.

Karena itu ia minta mewaspadai kelompok-kelompok radikal dan intoleran. Sebab terorisme itu berawal dari sikap intoleran dan tidak mau menghargai perbedaan.

Menurut dia, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) juga sama. HTI punya tujuan mengubah negara NKRI jadi khilafah.

“Meski HTI sekarang tak terlibat kekerasan tapi mereka berusaha merekrut anggota polisi, TNI, yang pada saatnya mereka manfaatkan untuk melakukan aksi kekerasan,” katanya.

Bagi para teroris, kata Nasir, mendirikan negara Islam itu fardlu ain. Karena itu, ketika mereka kesulitan mendirikan negara Islam di Indonesia, gerakan mereka melebar ke Singapura, Malaysia, dan negara-negara lain.

“Mereka meyakini bahwa membunuh itu dapat pahala. Merusak dapat pahala. Mereka bilang Allah memerintahkan kita jadi teroris,” kata Nasir Abbas.

Nasir Abbas mengaku bersyukur ditangkap polisi setelah sekian tahun jadi teroris. Ia memetik hikmah berupa kesadaran bahwa ia selama ini telah menganut paham yang salah dalama beragama.

Karena itu, ia minta para santri cerdas dalam memahami agama agar tak terjerumus kepada paham radikalisme dan terorisme seperti yang dialami dirinya.

Sumber: https://www.facebook.com/1820404924838978/posts/2314062965473169/

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

1566200767810Ilustrasi kerusuhan. AFP PHOTO / ANDREAS SOLARO

Jakarta - Kerusuhan masih belum reda di Kota Manokwari, Papua Barat.Pangdam XVIII/Kasuari, Kapolda, dan Wakil Gubernur Papua Barat Mohammad Lakatoni terjun ke lokasi aksi untuk bernegosiasi dengan para demonstran.

"Negosiasi masih terus dilakukan, baik oleh Kapolda, Pangdam maupun Wagub, saat ini beliau bertiga langsung menemui para pengunjuk rasa," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo, di kantornya Jakarta, Senin, 19 Agustus 2019.

Namun, menurut Dedi, proses negosiasi itu terhambat oleh massa yang masih beringas. Dia mengatakan saat ketiga pejabat itu menemui pengunjuk rasa, mereka dilempari batu oleh beberapa demonstran. Walhasil, negosiasi mesti ditunda. "Sementara pasukan mundur dulu, untuk meredam dulu, situasi agar massa lebih tenang dulu," kata dia.

Dedi berujar bila situasi sudah kondusif, negosiasi bakal dilanjutkan. Kapolda, Pangdam dan Wagub, kata dia, bakal menemui para pengunjuk rasa lagi. Dedi mengatakan tokoh masyarakat Manokwari juga dilibatkan dalam negosiasi.

Kerusuhan di Manokwari pecah pada Senin, 19 Agustus 2019. Sejumlah fasilitas umum dirusak, salah satunya Gedung DPRD Papua Barat yang dibakar oleh massa.

Kerusuhan ini diduga merupakan buntut dari protes warga Manokwari atas perlakuan aparat keamanan atas mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang.

Sumber: https://nasional.tempo.co/amp/1237662/rusuh-di-papua-barat-polisi-negosiasi-masih-terhambat?__twitter_impression=true

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

 108252389 gerejasolosatu 1Hak atas fotoFAJAR SODIQ   Walaupun bangunan gereja dan masjid itu kini jauh lebih mentereng, nilai-nilai toleransi yang disepakati 80 tahun silam, masih di pegang teguh oleh pimpinan dan jemaah gereja dan masjid tersebut.

Keberadaan gereja dan masjid yang berdempetan di kota Solo, Jawa Tengah, merupakan saksi bisu perwujudan tenggang rasa dan welas asih yang dirawat terus-menerus oleh pimpinan dan umatnya.

Awalnya, kira-kira tahun 1939, gereja didirikan oleh jemaat Kristen Danukusuman di Joyodoningratan, Solo, di atas tanah yang dibeli dari seorang Muslim.

Bangunan itu didirikan karena ada kebutuhan untuk beribadah bagi warga Kristen yang terus tumbuh di kawasan tersebut.

Saat itu, sang pemilik tanah membolehkan tanahnya dibeli oleh pengelola gereja, namun dengan syarat mereka kelak dibolehkan mendirikan musala di samping gereja — kelak diperbesar menjadi masjid.

Kesepakatan pun dibuat antara kedua pihak, yang ditandai pendirian semacam prasasti setinggi sekitar 1,5 meter berbentuk lilin di antara dua bangunan ibadah itu.

Masjid dan gereja di SoloHak atas fotoFAJAR SODIQ
Image captionKesepakatan pun dibuat antara kedua pihak, yang ditandai pendirian semacam prasasti setinggi sekitar 1,5 meter berbentuk lilin di antara dua bangunan ibadah itu.

"Jadi prasasti itu menandakan tidak akan terjadi apapun, meskipun dua tempat ibadah itu saling berdampingan," ungkap Muhammad Nasir Abu Bakar, ketua takmir Masjid Al Hikmah, Rabu (07/08), mengisahkan sekelumit sejarah dua bangunan ibadah itu.

"Makna tugu lilin juga supaya tetap selalu rukun dan tidak terjadi apapun," tambah Nasir.

Dan sejarah mencatat, sejak 80 tahun berdiri, tidak ada gesekan berarti di antara umat Islam dan Kristen di kawasan itu, bahkan hubungan harmonis pimpinan dan umat dua bangunan ibadah itu kerap menjadi rujukan berbagai anggota masyarakat.

"Antara pengurus gereja dan masjid benar-benar menjunjung tinggi sejarah yang sudah terjalin dua tempat ibadah ini," kata salah-seorang pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan, Beritha Tri Setyo Nugroho, Rabu lalu.

Tugu lilin, yang masih berdiri kokoh, kini posisinya terletak di dekat tempat wudhu perempuan masjid tersebut. Pihak gereja merelakan tanahnya untuk lokasi pendirian prasasti tersebut.

Idul Adha, gereja meniadakan kebaktian pagi

Komitmen para pendiri gereja dan masjid — terletak di Jalan Gatot Subroto, Solo — untuk menjaga kerukunan di antara umatnya terus dijaga dan ditularkan kepada penerusnya.

Walaupun bangunan gereja dan masjid itu kini jauh lebih mentereng, nilai-nilai toleransi yang disepakati 80 tahun silam, masih di pegang teguh oleh pimpinan dan jemaah gereja dan masjid tersebut.

Itulah sebabnya, ketika sejumlah masjid dan gereja di beberapa kota saling mengalah untuk menunda atau membatalkan jadwal ibadahnya demi umat lainnya, pengelola dua tempat ibadah di Danukusuman, Solo, sudah mempraktikkannya sejak dahulu.

Masjid dan gereja di SoloHak atas fotoFAJAR SODIQ
Image captionKomitmen para pendiri gereja dan masjid — terletak di Jalan Gatot Subroto, Solo — untuk menjaga kerukunan di antara umatnya terus dijaga dan ditularkan kepada penerusnya.

Misalnya saja, kedua pihak lebih mengedepankan sikap bertenggang rasa ketika dihadapkan jadwal ibadah yang bersamaan waktunya. Dan, menurut pimpinan gereja dan masjid, hal ini sudah sering dilakukan.

"Peniadaan kebaktian pagi itu bukan hal yang baru untuk gereja dan masjid di sini," kata Beritha Tri Setyo Nugroho, pendeta di gereja tersebut. Pihak masjid pun begitu.

Dan tahun ini, pihak gereja memilih untuk meniadakan ibadah kebaktian pagi untuk memberi kesempatan umat Islam untuk salat Idul Adha dan ibadah qurban di lokasi itu, Minggu (11/08).

"Oleh sebab itu majelis memutuskan untuk meniadakan ibadah kebaktian pagi yang dimulai pukul 06.30 WIB," kata Beritha.

Menurut dia, peniadaan itu dilakukan untuk menghormati saudara umat Islam yang melaksanakan salat id dengan memanfaatkan jalan di depan gereja dan masjid.

Hal ini dilakukan untuk menghormati umat Islam yang akan menggelar salat id di jalan depan masjid dan gereja.

"Kami sudah mengantisipasinya jika Idul Adha jatuh pada hari Minggu, oleh sebab itu majelis memutuskan untuk meniadakan ibadah kebaktian pagi yang dimulai pukul 06.30 WIB," kata salah satu pendeta GKJ Joyodiningratan, Beritha Tri Setyo Nugroho, Rabu (7/8).

Menurut dia, peniadaan itu dilakukan untuk menghormati saudara umat Islam yang melaksanakan salat id dengan memanfaatkan jalan di depan gereja dan masjid.

"Selain meniadakan ibadah pagi, kami juga mengundurkan jadwal ibadah kedua yang biasanya pukul 08.30 menjadi pukul 09.00 WIB," ujarnya.

Masjid dan gereja di SoloHak atas fotoFAJAR SODIQ
Image captionDalam merawat toleransi itu, tidak hanya pihak gereja yang 'mengalah', namun dari pengurus masjid juga melakukan sikap seperti itu ketika tempat ibadah tetangganya itu merayakan hari besarnya.

Beritha mengungkapkan pengumuman terkait peniadaan ibadah kebaktian pagi telah disampaikan kepada para jemaat sejak jauh hari sebelumnya.

Para jemaat pun bisa memahami keputusan tersebut, selain itu mereka juga ingin menghormati kepada umat Islam untuk melaksanakan ibadah salat id.

"Kami sudah mewartakan peniadaan dan pengunduran jadwal ibadah kebaktian sejak dua minggu berturut-turut. Warga gereja bisa memahaminya," ujar dia.

Beritha pun mengakui keputusan untuk meniadakan kebaktian pagi memang murni keputusan dari pihak gereja, tidak ada paksaan dari pengurus masjid.

Ia beralasan sikap seperti itu memang sudah menjadi hal yang biasa ketika hidup berdampingan dengan umat Muslim.

"Bisa dikatakan keputusan itu inisiatif dari gereja kami dan sudah komunikasi non formal dengan pihak pengurus masjid," kata dia.

Masjid dan gereja di SoloHak atas fotoFAJAR SODIQ
Image caption"Peniadaan kebaktian pagi itu bukan hal yang baru untuk gereja dan masjid di sini," kata Beritha Tri Setyo Nugroho, pendeta di gereja tersebut.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Al Hikmah, Muhammad Nasir Abu Bakar menegaskan bahwa pihak gereja memang yang memundurkan jadwal ibadah kebaktian pagi karena berbarengan dengan salat id.

Hal itu bukan yang pertama kali, namun yang kesekian kalinya jika salat id jatuh pada hari Minggu, pihak gereja akan meniadakan ibadah pagi.

"Jadi luar biasa indahnya karena pihak gereja memundurkan kebaktian pagi. Kami tidak memaksa, tapi memang kami selalu saling berkomunikasi dengan pihak gereja ketika ada waktu yang bersamaan. Kami selalu begitu dan tidak ada masalah," ujarnya.

Hanya saja Nasir menceritakan pernah dalam sekali waktu pihak masjid lupa menjalin komunikasi dengan gereja saat ada pelaksanaan salat id yang jatuh pada hari Minggu.

Lantas, pihak gereja tidak memundurkan jadwal kebaktian pagi, namun hal tersebut tidak menjadi masalah yang berarti.

"Pernah sekali kelupaan, tetapi semuanya tetap berjalan dengan lancar dan damai. Jadi ada yang ke masjid dan ke gereja tetapi itu biasa saja, semuanya saling menghormati karena. Tidak ada ketersinggungan dari pihak manapun karena semuanya bertujuan beribadah kepada Tuhan," ucapnya.

Pihak masjid juga pernah 'mengalah'

Dalam merawat toleransi itu, tidak hanya pihak gereja yang 'mengalah', namun dari pengurus masjid juga melakukan sikap seperti itu ketika tempat ibadah tetangganya itu merayakan hari besarnya.

Bahkan, Nasir menceritakan saat peringatan Maulid Nabi yang hampir berdekatan dengan perayaan Natal, pihaknya memutuskan untuk memajukan acara pengajian untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Takmir masjidHak atas fotoFAJAR SODIQ
Image caption"Natal tetap di tanggalnya, tapi kalau pengajian untuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kan bisa diundur atau maju. Itu tidak ada masalah. Pengajian kita gelar tanggal 23 Desember pada waktu itu sehingga tidak terjadi suatu peribadatan yang berbarengan," jelas Muhammad Nasir Abu Bakar, ketua takmir Masjid Al Hikmah.

"Natal tetap di tanggalnya, tapi kalau pengajian untuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kan bisa diundur atau maju. Itu tidak ada masalah. Pengajian kita gelar tanggal 23 Desember pada waktu itu sehingga tidak terjadi suatu peribadatan yang berbarengan," jelasnya.

Selain itu, dia mengungkapkan saat umat Kristen melakukan ibadah kebaktian Natal di GKJ Joyodiningratan, pihak masjid juga memutuskan untuk menurunkan suara volume speaker masjid.

Bahkan, pembacaan ayat suci Alquran yang dilakukan sebelum azan salat lima waktu juga dihilangkan.

"Suara azan melalui pengeras suara direndahkan. Untuk ngajinya (membaca Alquran sebelum azan), kita tidak ngaji tapi langsung azan. Jadi kita harus tahu diri karena mereka juga beribadah. Jadi jemaah masjid sudah paham kalau yang biasanya ada ngaji 10-15 menit tidak ada dan langsung azan," ungkapnya.

Menurut Nasir pada saat pelaksanaan salat id yang memanfaatkan jalan di depan gereja dan masjid, biasanya pihak gereja juga akan ikut membantu membersihkan di depan bangunan tempat ibadah yang akan digunakan untuk salat id.

Sedangkan saat perayaan Natal dan Paskah, halaman depan masjid ini difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan para jemaat gereja, katanya.

Masjid dan gereja di SoloHak atas fotoFAJAR SODIQ
Image caption"Kami sudah mewartakan peniadaan dan pengunduran jadwal ibadah kebaktian sejak dua minggu berturut-turut. Warga gereja bisa memahaminya," ujar salah-seorang pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan, Beritha Tri Setyo Nugroho.

"Biasananya kalau Natal dan Paskah, lampu di depan masjid ini dinyalakan untuk parkir karena halaman masjid ini jadi tempat parkir," kata dia sambil menunjuk halaman masjid yang menjadi lokasi parkir.

Menjadi rujukan

Kini kerukunan antara umat beragama yang terjadi di dua tempat ibadah itu menjadi semacam percontohan tentang toleransi antar umat beragama.

Tak hanya dari Indonesia, namun sejumlah perwakilan dari berbagai negara telah mendatangi dua bangunan tempat ibadah itu untuk belajar tentang kerukunan umat beragama.

"Sudah sering sekali dikunjungi seperti dari Inggris yang terdiri dari ustaz dan pendeta, Malaysia, Thailand dan negara lainnya. Sedangkan dari Indonesia dari belahan timur ke barat sudah pernah datang ke sini. Mereka datang untuk melihat kerukunan yang terjalin di lingkungan ini," katanya.

Dari kunjungan para delegasi itu, menurut Nasir, mereka sangat takjub karena meskipun berbeda tidak terjadi gesekan. Bahkan, dua umat beragama yang tempat ibadahnya saling berdampingan ini juga saling rukun dan damai.

"Ternyata mereka menyatakan betul dan sangat rukun. Ini yang menjadi ikon bagi kita untuk selalu menjaga kerukunan. Kita sampaikan tidak hanya di Indonesia, tapi hingga dunia," ungkapnya.

Kesaksian warga Muslim: 'Kami sudah seperti keluarga'

Salah satu jemaah Masjid Al Hikmah, Khalid Badres mengaku sangat senang dengan kerukunan yang terjalin antar pemeluk dua tempat ibadah tersebut. Ia pun merasa sangat nyaman dan tidak terganggu meskipun berbeda agama.

"Masjid Al Hikmah dan gereja memang selama ini rukun, tidak pernah terjadi apa-apa sama sekali. Kami di sini itu sudah seperti saudara, alhamdulillah," kata Khalid yang merupakan keturunan Arab.

Ia sendiri telah tinggal di kampung yang menjadi lokasi dua tempat ibadah yang berbeda itu sejak 40 tahun. Selama puluhan tahun itu, Khalid mengaku belum pernah terjadi gesekan sedikit pun antar umat beragama.

Masjid dan gereja di SoloHak atas fotoFAJAR SODIQ
Image caption"Masjid Al Hikmah dan gereja memang selama ini rukun, tidak pernah terjadi apa-apa sama sekali. Kami di sini itu sudah seperti saudara, alhamdulillah," kata Khalid, warga setempat.

"Kita selalu bekerjasama jika ada apa-apa. Kalau di gereja ada apa-apa, kita hormati. Kalau di masjid ada kegiatan, gereja juga hormat. Kalau kita butuh bantuan, mereka akan membantunya. Karena kita keluarga," katanya bangga.

Terpisah, salah satu jemaat GKJ Joyodiningrata, Susiati mengaku sangat suka ketika pertama kali menjadi jemaat gereja tersebut, pasalnya bangunan gereja ini berdampingan masjid.

Tak hanya itu, ia juga merasa takjub dengan kerukunan yang terjalin di antara umat gereja dan masjid.

"Saya dari kecil sampai dewasa belum pernah melihat yang namanya masjid dan sampingnya gereja," kata dia yang merupakan warga pendatang di Solo.

Susiati mengungkapkan pengalaman yang paling mengesankan menjadi jemaat di gereja tatkala terdapat hari besar umat Islam yang jatuh pada hari Minggu, seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Pada dua hari besar itu umat Islam melaksanakan salat id di jalan depan gereja sehingga pihak gereja memutuskan untuk memundurkan jadwal ibadah kebaktian pagi demi menghormati umat Islam.

"Kebaktian pagi itu kan jam 06.30 WIB, sedangkan salat id katakanlah sekita pukul 06.0 WIB. Kita mundur dulu jam kebaktiannya pagi karena dari pihak gereja menghormati untuk memberikan kesempatan umat Islam melakukan salat id," ujarnya.

Sumber: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49276857

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

1566193927214Ilustrasi TNI AD. Tempo/Suryo Wibowo

Jakarta - Kondisi di Manokwari, Papua Barat mencekam. Pasukan TNI disiagakan. Kepala Penerangan Kodam XVIII Kasuari Letkol Inf Andi Gus Wulandri mengatakan mereka telah menerima perintah untuk bersiaga dari Panglima TNI.

"Kami di TNI siaga. Kodam siaga, pimpinan panglima," ujar Andi saat dihubungi Senin 18 Agustus 2019.

Andi menduga kerusuhan ini adalah imbas dari peristiwa kekerasan terhadap mahasiswa asal Papua di Malang dan Surabaya.

Sebelumnya pada peringatan Hari Kemerdekaan RI pada Sabtu lalu, 17 Agustus 2019, terjadi penggerebekan Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Nomor 10, Pacar Keling, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Penggerebekan dilakukan oleh aparat TNI diikuti pengepungan Satpol PP dan ormas. Sebanyak 43 mahasiswa digelandang ke Kantor Polres Surabaya.

Diduga penggerebekan dipicu kesalahpahaman setelah Bendera Merah Putih milik Pemerintah Kota Surabaya jatuh di depan asrama. Sedangkan di Malang terjadi bentrokan polisi dengan mahasiswa asal Papua yang demonstrasi pada 15 Agustus 2019.

Situasi terkini terpantau dari unggahan video pengguna Twitter, diketahui terbakarnya gedung DPRD di Papua Barat. Menurut keterangan yang mereka bubuhkan gedung DPRD dibakar oleh massa pagi tadi. Andi pun membenarkan hal tersebut. "Kabarnya begitu," ucapnya.

Sumber: https://nasional.tempo.co/amp/1237618/kondisi-di-papua-barat-mencekam-tni-siaga?__twitter_impression=true

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

Screenshot 20190808 083529Pekerja melintas didepan tumpukan timah saat bongkar muat dikawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Pangkalpinang - Perdagangan timah murni batangan asal Indonesia melalui Singapura pada semester I 2019 melonjak hingga 100 persen. Lonjakan ini akibat meningkatnya status Country Risk Indonesia dalam perdagangan internasional. Hanya kurun waktu 10 bulan pasca terhentinya ekspor timah perusahaan smelter swasta, Singapura menguasai 49 persen ekspor timah Indonesia.

Komisaris Utama Indonesian Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) atau bursa timah Fenny Wijaya mengatakan saat ini pasar global lebih memilih membeli timah melalui pasar Singapura ketimbang langsung ke bursa Indonesia. Hal itu disebabkan pelaku pasar menilai tidak adanya kepastian hukum produk timah murni batangan Indonesia.

"Hingga Juli 2019, ekspor timah melalui ICDX dengan negara tujuan Singapura sudah 19.620 Metric Ton dengan transaksi USD 387,3 Juta. Ini menguasai 49,50 persen dari total ekspor. Sampai Singapura tentu dijual lagi. Pasar pun lebih memilih membeli dari Singapura meski harga lebih tinggi karena kepastian hukum timah Indonesia sudah tidak dipercaya," ujar Fenny kepada wartawan di Pangkalpinang, Rabu, 7 Agustus 2019.

Fenny menuturkan tidak bisa diekspornya timah milik salah satu smelter di Bangka Belitung yang sudah ditransaksi berpengaruh besar terhadap kepercayaan pasar global. Hal itulah yang membuat reputasi Indonesia di perdagangan internasional menurun dan meningkatkan status Country Risk Indonesia.

"Awalnya timah batangan yang sudah ditransaksikan itu tertahan ekspornya karena dicurigai berasal dari bijih timah ilegal. Namun selama 9 bulan proses hukum, pengadilan memutuskan tidak terbukti. Rencana ekspor tertunda lagi karena syarat PE (Persetujuan Ekspor) dan ET (Eksportir Terdaftar) expired. Sampai sekarang belum ada solusi," ujar dia.

Fenny menuturkan saat ini Singapura diuntungkan dengan Country Risk Indonesia karena menjadi secondary market perdagangan timah. Negara yang sebelumnya membeli timah langsung di Indonesia juga semakin menurun jumlahnya.

"Sebelum perdagangan timah melalui bursa Indonesia, ekspor ke Singapura mencapai 80 persen sebelum 2014. Sejak via bursa dari 2014 sampai 2018 tinggal 24 persen. Di 2019 melonjak signifikan hingga 49,50 persen. Negara tujuan ekspor kini hanya tinggal 16 negara," ujar dia.

Menurut Fenny, kondisi pasar global memilih Singapura untuk bertransaksi timah seperti sebelum 2014 sangat merugikan karena kepercayaan dunia semakin terkikis dan membuat harga timah Indonesia kini anjlok hingga dibawah USD 16 ribu per Metric Ton.

"Begitu kasus yang terjadi di Oktober 2018 karena barang gagal ekspor, kepercayaan buyer yang semula sudah sangat baik dan membeli timah langsung dari Indonesia langsung buyar. Kini lebih memilih Singapura karena jaminan kepastian hukumnya dianggap lebih tinggi," ujar dia.

Fenny menambahkan pemerintah perlu turun langsung dan memberikan dukungan political will yang jelas sehingga kepercayaan dunia Internasional kembali lagi.

"Imbasnya juga terhadap program Pusat Logistik Berikat (PLB) Presiden Jokowi yang kurang berjalan maksimal. Padahal PLB sudah mengarah pada cermin kedaulatan Indonesia terhadap perdagangan timah dunia," ujar dia.

Sumber: https://bisnis.tempo.co/amp/1233295/ini-penyebab-pasar-global-membeli-timah-indonesia-dari-singapura?utm_term=Autofeed&utm_medium=Echobox&utm_source=Twitter&__twitter_impression=true

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

1566078839824Bubur ayam

SUKABUMI -- Momen peringatan hari kemerdekaan di Kota Sukabumi pada tahun ini lebih semarak. Salah satu alasannya adalah 50 tukang bubur dan gerobaknya yang memeriahkan Festival Bubur Ayam Merdeka di Lapangan Merdeka, Kota Sukabumi Sabtu (17/8). Kegiatan unik tersebut digelar setelah momen upacara HUT Kemerdekaan RI ke-74 tingkat Kota Sukabumi.

Acara ini mendapatkan respons positif dari warga yang langsung mendatangi gerobak bubur ayam di tengah Lapang Merdeka. Hanya dalam beberapa saat bubur ayam gratis itu sudah habis

''Festival bubur ayam merdeka ini digelar karena kami ingin menampilkan wajah Polres Sukabumi yang ramah dan menyenangkan seperti layaknya tukang bubur,'' ujar Kapolres Sukabumi Kota AKBP Susatyo Purnomo Condro, yang menggagas acara tersebut. Ia menilai setiap pagi tukang bubur melayani para pelanggan dengan ramah.

Dalam momen ini juga ada kebersamaan antara babinkamtibmas dengan tukang bubur. Selain itu berbagi kebersamaan dengan warga karena bisa menyantap bubur dengan gratis.

Dipilihnya bubur sebagai acara festival kata Susatyo karena bagian dari kearifan lokal. Bubur ayam juga selalu ada pagi, siang, dan malam sehingga selalu bisa memenuhi kebutuhan makan warga secara maksimal. "Maknanya, kami juga akan melayani masyarakat dengan optimal,'' cetus dia.

Para tukang bubur lanjut Susatyo membentuk formasi 17, 8, dan 45 di Lapang Merdeka. Mereka didampingi oleh babhinkamtibmas dan pejabat utama polres.

Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi mengatakan, kemeriahan dalam momen hari kemerdekaan ini bisa terwujud karena adanya kolaborasi antara semua pihak. ''Semoga dengan semangat kemerdekaan bisa menjadikan Sukabumi lebih baik,'' imbuh dia.

Sumber: https://m.republika.co.id/amp/pwditf328?__twitter_impression=true

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

1565169276503Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti saat memberikan orasi pada aksi Tolak Penggunaan Plastik Sekali Pakai di Taman Aspirasi, Monas, Jakarta, Ahad, 21 Juli 2019. Menurut Susi menghimbau masyarakat agar tidak menggunakan plastik sekali pakai agar laut Indonesia tidak tercemar oleh sampah plastik. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

Jakarta - Menteri Perikanan dan Kelautan tahun 2001-2004, Rokhmin Darmin, menuding bahwa saat ini industri perikanan bertumbangan karena banyaknya kebijakan yang sifatnya melarang. Menanggapi tudingan ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pun menyindir balik bahwa industri perikanan yang bangkrut adalah yang suka melakukan penangkapan ikan ilegal atau pencurian.

"Yang Bangkrut dan Hancur adalah Industri Pencurian Ikan. Industri Pencurian Ikan memang saya bangkrutkan," tulisnya melalui akun resmi Twitter @susipudjiastuti pada Rabu, 7 Agustus 2019.

Susi memastikan, dirinya tidak akan membiarkan industri perikanan yang melakukan pencurian ikan. "BTW Kapal asing dilegalkan jadi berbendera Indonesia tahun 2001," sindir Susi lagi.

Susi bahkan menyerukan kepada warganet bahwa untuk menghancurkan industri pencurian ikan. Ia juga mempertanyakan, industri perikanan mana yang bangkrut karena kebijakan-kebijakannya selama menjadi Menteri KKP.

Jika sudah jelas daftar-daftar perusahaan perikanan yang gulung tikar, Menteri Susi akan menjelaskan, apa penyebab dari tutupnya suatu industri perikanan. "Wong listnya  tidak sampai 100 kok, pemiliknya/ agennya paling 20 sampai dengan 30 orang saja," Susi menambahkan. Ia juga mengutip salah satu laman berita yang menunjukan kesejahteraan nelayan membaik.

Keterangan Susi yang mengatakan kehidupan nelayan sudah membaik diamini oleh salah satu netizen yang mengaku dekat dengan para nelayan. "Saya yang di lapangan tau betul nelayan kecil yang sudah menikmati dari kebijakan ibu, dan pengusaha yang bangkrut jg beberapa saya sudah lihat hanya kaki tangan pencuri ikan dari negara lain," ujar akun Twitter @taufikaris1613.

Juga ada cuitan lain bernada dukungan untuk Susi. "Kami bersamamu bu, dalam memberantas para pencuri ikan. Setiap kebijakan pasti ada efeknya, pasti ada yg senang dan tidak senang. Selama bertahun-tahhn para ilegal fishing meraup keuntungan yang besar, sekarang saatnya nelayan yg meraih keuntungan yang besar dan mereka (ilegal fishing) hancur," tulis akun Twitter @ronald192708.

Banyak warganet yang mendukung apa yang telah dilakukan Susi Pudjiastuti dengan kebijakan yang dikeluarkannya. Bos Susi Air ini ditunjuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan pada era Presiden Joko Widodo jilid pertama. 

Sumber: https://bisnis.tempo.co/amp/1233175/sindir-rokhmin-dahurisusi-yang-bangkrut-industri-pencurian-ikan?__twitter_impression=true

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

timthumb

Sengon 1 Triliun

Oleh: Dahlan Iskan

Sepele sekali. Kelihatannya. Hanya gara-gara satu pohon sengon. Listrik seluruh Jakarta padam. Juga Jabar. Dan sebagian Jateng. Minggu-Senin lalu.

Pohon sengonnya ada di Desa Malon. Nun jauh di Gunung Pati, 28 km selatan Semarang. Mati listriknya sampai Jakarta.

Maka pohon sengon itu perlu diabadikan. Fotonya. Untuk dipasang di seluruh kantor PLN. Sebagai monumen. Yang harus diajarkan turun-temurun. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Betapa mahalnya pohon sengon itu. Sampai membuat berjuta-juta orang menderita.

Pun kereta bawah tanah. Yang masih baru. Ikut lumpuh. Penumpangnya harus dievakuasi. Presiden Jokowi sampai marah karenanya.

Bahkan PLN sendiri sampai harus mengeluarkan ganti rugi kepada konsumen. Nilainya sampai Rp 1 triliun.

Satu pohon sengon. Di sebuah desa. Mampu menggegerkan mayapada.

Pohon sengon itu tidak salah. Tumbuhnya di dalam pagar penduduk, tetapi menjulang sangat tinggi.

Tinggi tiang SUTET itu 40 meter. Namun bentangannya menggelayut. Tinggi 18 meter. Tinggi sengon itu sekitar 15 meter. Sudah mencapai medan magnet SUTET (saluran utama tegangan ekstra tinggi).

Namun sengon itu juga berhak bertanya:
- Mengapa dibiarkan tumbuh tinggi di situ?
- Mengapa tidak ada yang tahu?
- Apakah tidak ada lagi anggaran untuk patroli pohon?
- Mengapa ada kebijakan anggaran ini --bahwa biaya operasi dan pemeliharaan harus di bawah anggaran SDM?
- Mengapa SUTET itu begitu rapuh? Hanya kesenggol satu pohon sudah pingsan?

Itulah. Mengapa tidak boleh ada pohon dekat SUTET.

Jangankan sampai nyenggol. Memasuki medan magnetnya pun sudah mengganggu. Bisa korsleting. Yang mengakibatkan arus listrik terhenti.

Mengapa yang korsleting di selatan Semarang, padamnya di Jakarta dan Jabar?

Orang Jakarta itu makan listriknya paling besar. Apalagi ditambah daerah industri sekitarnya: Tangerang, Bogor, Bekasi, Karawang.

Padahal pembangkit listrik terbesarnya ada di Jatim. Di Paiton.

Maka harus ada pengiriman listrik dalam jumlah besar. Dari Jatim ke Jakarta. Sekitar 3000 MW. Tepatnya saya sudah lupa.

Listrik sebesar itu hanya bisa dikirim lewat SUTET --yang tegangannya 500 kVA. Ibarat kirim air, selangnya harus sangat besar.

Kian tinggi tegangannya kian luas medan magnetnya. Karena itu harus ada sempadan yang lebar.

Di sepanjang jalur SUTET tidak boleh ada tanaman tinggi. Dalam istilah listrik sempadan itu disebut ROW --Right of Way.

Dulu selalu ada patroli. Yang mengawasi ROW itu --apakah mulai ada gejala pohon yang mengganggu. Tidak harus tiap hari. Pohon tidak bisa mendadak tinggi.

Pertanyaannya: apakah anggaran patroli masih ada? Atau manajemen patrolinya yang lemah? Atau patroli sudah dilakukan, laporan sudah dibuat, tapi tidak ada anggaran penebangan pohon?

Sesederhana itu.

Namun ada juga unsur nasib.

Jawa itu sebenarnya sudah aman. Biarpun sebagian besar pembangkitnya ada di Jatim.

Di Jawa sudah punya dua jalur SUTET. Jalur Utara (yang lewat Ungaran, Semarang itu) dan jalur tengah. Membentang dari ujung timur ke ujung barat Jawa.

Kalaupun ada gangguan di jalur utara seperti itu sebenarnya tidak ada masalah. Arus listriknya bisa otomatis pindah ke SUTET jalur tengah.

Pohon sengon itu bukan satu-satunya tersangka. Memang nasib PLN lagi apes. Terutama Plt Dirutnya. Masih baru. Belum 24 jam.

Hari Minggu itu ada perbaikan SUTET jalur tengah. Di timur Tasikmalaya. SUTET-nya dimatikan. Dengan pertimbangan sangat rasional: pada hari Minggu beban listrik di sekitar Jakarta turun drastis. Cukup dilayani jalur utara.

Sayang, kok sengon itu begitu jahatnya. Bergoyang di hari Minggu itu.

SUTET Utara kena sengon. SUTET tengah lagi diperbaiki.

Akibat hilangnya pasokan dari dua SUTET tadi beban listrik kacau sekali. Pembangkit-pembangkit listrik di wilayah barat mati satu per satu.

Terjadilah bencana itu.

Kenapa begitu lama? Ini sudah menyangkut manajemen recovery. Hanya PLN yang tahu.

Ada pertanyaan kecil: ke mana pasukan 'Kopassus'-nya P2B? Yang dibentuk dulu itu? Yang bisa memelihara SUTET tanpa harus mematikan sistem itu?

Dibubarkan? Tidak diteruskan? Tidak cukup? Tidak dikembangkan? Tidak ada anggaran?

Saya masih ingat. Peresmian pasukan itu dilakukan besar-besaran. Di Monas. Dengan demo cara-cara memelihara SUTET. Tanpa mematikannya.

Memang sangat berisiko. Peralatannya khusus. Bajunya khusus. Kepandaiannya khusus. Karena itu kita juluki 'Kopassus'-nya PLN.

Di PLN juga ada satu departemen khusus: namanya P2B. Itulah yang mengatur seluruh sistem listrik di Jawa. Isinya orang-orang istimewa. Ahli-ahli listrik.

Saya menyebutnya 'otak'-nya listrik. Lembaga itulah yang mengatur seluruh sistem di Jawa.

Kadang saya dikritik. Terlalu mengistimewakan P2B. Saya tidak peduli. Saya sudah biasa mengistimewakan redaksi. Dalam seluruh organisasi surat kabar.

SUTET di bawah P2B itu. Namun P2B di bawah siapa?

Organisasi PLN sekarang sudah beda. Di Jawa ada tiga direksi. Direktur Jatim/Bali, Direktur Jateng/DIY dan direktur Jabar/DKI.

P2B bisa punya posisi yang tidak jelas --di bawah koordinasi direktur yang mana. Mungkin sudah diatur. Orang luar seperti saya tidak bisa melihat.

P2B itu perlu terus berkoordinasi. Tiap tiga bulan mereka harus rapat. Untuk evaluasi perkembangan sistem di Jawa.

Adakah rapat itu masih ada? Atau sudah ditiadakan? Rapat-rapat P2B tidak boleh dianggap rapat biasa --yang bisa dihapus demi penghematan.

Demi laba.

Memang ironi: listrik itu baru diingat justru di saat ia mati.(***)

Sumber: https://m.jpnn.com/amp/news/sengon-1-triliun

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

Screenshot 20190812 114100

WASPADA AGEN GANDA!!

Mau tahu cara pendukung HTI menyamar masuk dalam lingkaran kita?

Seorang agen rahasia yang menyusup dalam organisasi mafia itu diuji dengan menembak pacarnya sendiri. Jika berani, maka kesetiaannya itu terbukti. Ia akan diterima menjadi anggota mafia. Jika tidak berani, maka semua omongannya soal kesetiaan itu hanya sampah. Ia akan dibuang dari organisasi. Peragu. Penyamar.

Kasus Enzo itu adalah test case dari semua omongan panjang soal anti khilafah dan anti radikalisme dari mereka yang selama ini paling besar congornya. Tak ada gunanya omong gede selama ini jika test case yang sangat menentukan perjuangan melawan khilafah ini malah menjadi ajakan merangkul. Bullshit.

Preseden sangat buruk terjadi dengan merangkul Enzo. Pesan yang mau disampaikan kepada seisi dunia adalah wahai kalian para pendukung HTI, emak2, keluarga2 HTI silahkan ekspresikan kebencianmu pada pemerintah. Kampanyekan khilafah sekuat2nya. Jangan takut. Lihat Enzo. Tidak masalah masuk Akmil.

Inilah pesan yang bergema di jutaan keluarga besar HTI, simpatisan dan pengikutnya. Dan itu artinya tidak ada lagi rasa takut dari mereka. Kita yang selama ini musuh yang ditakuti mereka malah berangkulan jadinya. Vangkeee gak.

Siapa sih cebong yang tak kenal Eri Jeli Bandaro? EJB seorang yang punya pengaruh di lingkaran cebong. EJB juga mendukung Enzo. Saya sih tidak terkejut. Karena saya sudah tahu rekam jejaknya EJB sejak bertahun2 lalu.

Mau tahu isi pikirannya seperti apa soal HTI?

Baca ini tulisannya pada 6 Juni 2011

Mau tahu isi pikiran Erizeli Jeli Bandaro soal HTI ?
Saya kutip dari blogspot miliknya pada tahun 2011

Khilafah ?

Indonesia tidak akan merdeka bila tidak ada kesatuan dan persatuan. Sebagai pengikat maka dibuatlah falsafah negara bernama Pancasila. Terbukti Pancasila sebagai dasar proklamasi kemerdekaan Indonesia memang sakti mengusir penjajah dari bumi Indonesia.

Lantas gimana selanjutnya ? ternyata Pancasila tidak sakti untuk membuat orang berbaris dengan tertip setelah kemerdekaan. Bangsa Indonesia kembali “dijajah”dalam bentuk lain atau istilah yang dipakai oleh Soekarno Neocolonialism.

Sampai kini suka tidak suka kita masih terjajah karena sistem yang dipakai untuk membangun peradaban negeri ini di design sesuai ketentuan international yang dikenal dengan Neoliberal.

Pan Islamic berhasil mempersatukan negara yang berkomunitas islam sedunia tapi belakangan dipermalukan oleh kalahnya mesir dalam perang enam hari dengan Israel.

Kini sudah terbentuk negara bersyariat Islam seperti Pakistan, Afganistan, Iran, namun tak menemukan kedamaian karena dizolimi dengan seenaknya oleh negara yang beraqidah lain, dan tetap saja terjajah dalam bentuk lain.

Apa penyebabnya setelah kejatuhan Khilafah Islam , umat islam terus kalah dan kalah?.

Begitu mudah dipersatukan dengan segala strategi dan taktik berjuang namun akhirnya ketika bersatu tetap menjadi kalah. Inilah yang menjadi pertanyaan besar saya sejak pertama kali berkecimpung ditengah tengah masyarakat.

Ternyata jawabanya tidak perlu banyak tesis. Jawabannya ada pada ritual islam yang mewajibkan umatnya berjamaah, dengan dimpimpin oleh satu imam.

Kenapa orang mau dipimpin oleh imam ? Ya karena begitulah perintah Allah dan Rasul. Ini soal keimanan. Saya acap sholat berjamaah di mosholla yang terletak di gedung perkantoran dan di Mall.

Kadang imam sholat itu adalah cleaning service yang lengkap dengan seragamnya. Yang jadi makmun mungkin ada yang menejer, pengusaha , intelketual. Semua dengan khusu mengikuti perintah imam. Ketika ruku semua ruku dan ketika sujud semua sujud. Walau yang perintah itu adalah Cleaning service.

Kehadiran Hisbut Tahrir tak lain adalah menjawab permasalahan bagaimana mempersatukan umat islam sedunia yang utuh dan kokoh dalam syariat Islam.

Tidak ada lagi istilah Pan Islamic/ OKI mempersatukan negara yang mayoritas Islam, tak ada lagi Pancasila yang mempersatukan umat islam dengan non islam di Indonesia, tak ada lagi negara dan bangsa dibawah PBB yang mempersatukan negara didunia dengan berbagai bendera, tak ada lagi bendera partai, tak ada lagi Bank International for settlement yang mempersatukan semua bank central (termasuk bangsa dan negara yang mayoritas islam ), tak ada lagi kamu, saya dengan perbedaan mahzab. Yang ada hanya Islam. Titik.

Prinsipnya adalah Pancasila ( rukun Islam ) dan palsafahnya adalah rukun Iman. Penjabaran dalam tataran praktis ( sosekpolbud ) mengikuti apa kata Al Quran dan Hadith sebagai sumber kebenaran , kebaikan dan keadilan. Untuk menjamin terlaksana kesatuan langkah dan nafas sesuai dengan Al Quran dan hadith maka perlu adanya Imam. Imam ini disebut dengan khilafah atau kepemimpinan Islam.

Umat lain seperti Yahudi dengan paham derivative sekularnya tidak takut dengan perkembangan populasi umat islam.

Mereka tidak takut islam dipersatukan oleh paham kebangsaan, Tidak takut bila islam dipersatukan dengan sekte.
Tidak takut bila islam dipersatukan dalam sistem perbankan dan bisnis.

Mengapa ?

Karena paham kesatuan itu sudah di trap dengan sistem demokratisasi, HAM dan liberalisasi yang akan mudah hancur dimakan waktu.

Itulah mengapa gerakan Hisbut Tahrir menjadi topik utama dibahas disemua pusat riset dan inteligent negara berpaham sekular.

Termasuk oleh negara Indonesia. Apa yang ditakuti oleh umat lain seperti Yahudi dengan derivative paham sekularnya adalah bila umat islam dipersatukan oleh Al Quran dan Hadih.

Inilah ancaman bagi mereka,yang akan mereka lawan dengan kekuatan infrastruktur yang mereka miliki. Dan ini adalah ladang ibadah bagi siapa saja untuk menghadapinya dengan iman, akhlak dan ilmu pengetahuan.

Kepemimpinan /Khilafah Islam.Kita semua sepakat tentang khilafah. Kita jadikan itu sebagai ladang ibadah untuk berjuang menegakkannya.

Hanya khilafah yang bisa memastikan islam dijalankan secara kaffah. Namun yang harus dicatat bahwa perjuangan khilafah adalah pernjuangan menegakkan sistem kepemimpinan dalam tataran global. Bukan hanya lokal. Karena islam itu ya globalisasi kehidupan dalam menegakan syariat islam. Ya misi Internationalisasi bukan nasional..

Disisi lain, agama lain , paham lain juga punya misi yang sama. Seperti Yahudi dengan misi new world order era. Ini menjadikan pertarungan yang tidak mudah.

Namun kita sadar bahwa keberadaan yang lain itu tak lain adalah cara Allah untuk menguji keimanan kita. Karena kalau Allah berkehendak agar terbentuknya khilafah, tentu tidak sulit. Tinggal bilang kun fa ya kun. Ya kan.

Nah, gimana caranya berjuang menegakkan khilafah itu?

Menurut saya , harus dimulai dari semangat terbentuknya kepemimpinan lokal. Ada teman saya yang menjadi ketua RT dan sekaligus menjadi imam Masjid dilingkungannya, juga pengusaha.

Disetiap jumat dia memberikan ceramah tentang nilai nilai islam dalam kehidupan sehari hari dilingkungannya. Di perusahaan dia juga menanamkan nilai nilai islam kepada karyawan, mitra dan siapa saja yang bersinggungan dengannya.

Ada juga pengusaha tergolong sukses dan namanya anyar sekarang , dia menjadi ketua asosiasi bisnis, dan mendapatkan kesempatan sebagai penceramah didepan umum. Pada waktu itulah dia bicara tentang nilai nilai islam.

Dia teladankan bagaimana komitmennya untuk tidak mau mengambil deviden atas sahamnya diperusahaan tapi digunakan untuk pengembangan usaha dan mensejahterakan karyawan serta memberikan dukungan pembinaan usaha kecil.

Ada juga teman saya dosen ekonomi tapi menjadi mentor terbangunnya organisasi pembinaan usaha kecil. Dan banyak lagi contoh. Mereka itu secara tidak langsung telah menjadi pemimpin dilingkungannya.

Bila kepemimpinan dalam tataran lokal ini kita ibaratkan ring maka bila semua kita punya komitment untuk mendirikan khilafah islam maka akan terjadi kekuatan ring to ring.

Kenapa ? karena dasarnya sama yaitu Al Quran dan Sunnah. Tak penting dimanapun dia berada , apapun profesinya, konsepnya tetap sama yaitu AL Quran dan Hadith.

Model ring to ring ini bila dilakukan secara tertip maka akan meluas kelevel nasional dan international.. Maka saat itulah khilafah akan berdiri.

Siapakah yang akan memimpin ? tentu akan terjadi seleksi efektif lewat kepemimpinan yang sudah terbentuk dari ring to ring itu.

Siapapun terpilih tidak akan menimbulkan masalah karena eksistensi mereka sudah teruji lewat putaran waktu. Dan kesadaran bahwa pemimpin itu bukanlah rezki tapi ujian Allah bagi orang beriman.

Tugas kita sebagaimana program HTI dengan dakwah khilafahnya harus mengkampanyekan ini dalam setiap level kepemimpinan yang kita pegang.

Entah itu sebagai kepala Rumah Tangga, pemimpin daerah, pemimpin asosiasi profesi , pemimpin sosial keagamaan, pemimpin perusahaan, dan lain lain.

Keteladanan dari pemimpin disetiap level itu harus membumikan AL Quran dan hadith agar orang awam yang dipimpinnya entah itu muslim/nom muslim dapat menjadikannya panutan sebagai pencerah untuk lahirnya kebaikan,kebenaran dan keadilan.

Bila ini dilaksanakan , hanya soal waktu proses sunattullah akan terlewati dengan benar untuk lahirnya daulah islamiah sebagai rahmat bagi alam semesta.

Erizeli Bandaro at 1:26 PM

Jadi kalo saya serius keras soal ini itu bukan karena saya sok hebat. Ini saya lakukan karena hanya soal waktu saja mau seperti apa wajah NKRI ke depan. Itu artinya lehermu dan leher saya ditentukan bersatu atau putus tergantung nasib negara kita jadinya seperti apa. Khilafah atau tetap NKRI.

Dan itu ditentukan dimulai dari sekarang.

Fahamkan Panjul...

Markibong.. Eh salah.. Markirang..

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga

 

FB IMG 1565584361260

FB IMG 1565584385709

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2314297325449733&id=1820404924838978

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

rupiah 065547 small

Jakarta - Depresiasi nilai tukar rupiah semakin menebal menjadi 0,67% ke level Rp14.275 per dolar AS, terhitung hingga pukul 14.35 WIB. Rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal II yang kurang memuaskan menjadi faktor domestik yang membebani rupiah. 

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode tersebut hanya tumbuh 5,05% (yoy), lebih lambat dari kuartal sebelumnya yang mencapai 5,07% (yoy). 

Baca Juga: Saat AS-China Lanjut Berperang, Akankah BPS Jadi Penyelamat Rupiah?

Dengan realisasi tersebut, geliat investasi pada aset-aset berisiko berbasis rupiah menjadi kurang diminati pelaku pasar. Alhasil, bak peribahasa nasi sudah menjadi bubur, rupiah harus menerima nasib buruk dengan legawa, yakni terkoreksi bertubi-tubi di hadapan mata uang Asia dan dunia.

Berdasarkan pantauan WE Online, rupiah bergerak melemah di hampir semua mata uang, termasuk di hadapan dolar Australia (-0,10%), poundsterling (-0,76%), dan euro (-0,76%). 

Baca Juga: Gawat! Investor Bakar IHSG hingga Minus 1,50%, Alasannya Ngeri Banget!

Beruntungnya, rupiah masih dapat mempertahankan posisinya sebagai mata uang terlemah keempat di Asia. Ya, meski tertekan, rupiah masih lebih baik daripada dolar Taiwan (0,18%), won (0,25%), dan yuan (0,84%). 

 

Sebagai informasi, investor tengah dihadapkan dengan keputusan sulit di tengah polemik perang dagang AS dan China yang kembali memanas. 

Baca Juga: Jika AS Mau Perang, Mari Kita Berperang

Jika sentimen domestik seperti pertumbuhan ekonomi nasional tak memberi kepuasan, tentu mudah saja bagi investor untuk berpaling pada aset-aset investasi lainnya yang lebih menjanjikan, yaitu dolar AS. 

Didukung oleh sentimen tesebut, dolar AS masih menjelma sebagai mata uang yang perkasa di hadapan mayoritas mata uang Asia. Satu-satunya mata uang Benua Kuning yang mampu menekan dolar AS adalah yen dengan apresiasi sebesar 0,41%, selain itu tak ada yang berkutik

 

Sumber: https://m.wartaekonomi.co.id/berita239534/bagaikan-nasi-sudah-menjadi-bubur-rupiah-terima-nasib-saja.html

0
0
0
s2sdefault