fbpx

0
0
0
s2sdefault

Screenshot 20190703 101848

Peternak Kampret dan Cebong Ada di ILC?

Oleh: Sudin Maurid Sitindaon

 

Tayangnya ILC sungguh disayangkan cuti sekian bulan namun tidak menghasilkan sesuatu dari "meditasi" cuti panjangnya. Misalnya ada baiknya nama ILC dirubah menjadi IPC Indonesia Politician Club, sebab walaupun diskusi diisi dominasi nara sumber bertitel lawyer namun tema diskusi didominasi politik. Nara sumber juga cenderung mengedepankan nara sumber kelompok yang saling kontra bahkan tetap menggunakan nara sumber yang jelas ngaku bahwa ILC tempatnya untuk berbohong atau ngibul seperti RG. Hal ini jelas menunjukan bahwa cuti panjang hanya sekedar istrahat dari terpaan badai tanpa bermeditasi untuk sebuah perbaikan.

KI sebagai host tak juga menyadari bahwa ILC dalam setiap acaranya mempertajam jurang pemisah pemirsa yang terkelompok. Sebut saja misalnya kelompok pemirsa cebong dan kampret. Walaupun mungkin istilah cebong dan kampret bukan terlahir dari pengelompokan nara sumber yang hampir selalu disajikan berdasarkan kelompok pro dan kontra namun perdebatan para nara sumber secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi opini permirsa. Sedikit sekali pemirsa yang mampu menyaring dan mengambil sisi positif akan situasi politik terkini negri ini sebagai sebuah informasi penting yang patut diketahui tanpa keberpihakan. Seorang wartawan senior seharusnya sadar betul bahwa dominasi diskusi yang berbau politik secara rutin setiap minggu dengan cara penyajian pro kontra akan cenderung memperlebar jurang pemisah opini dikalangan pemirsa yang sudah terkelompok menjadi cebong dan kampret. Apalagi dalam setiap diskusi biasanya berujung pada ketiadaan kesimpulan bahkan terkesan hanya sebuah debat kusir yang tidak ada ujungnya.

Maraknya acara serupa, seolah tak mampu mempertontonkan perbedaan yang mencolok pada persepsi pemirsa. Sehingga ada baiknya para psikolog yang paham betul dengan komunikasi massa atau lebih spesifik komunikasi media memberikan masukan kepada pembawa acara. Para psikolog negarawan diharapkan ikut berkontribusi memberikan masukan berupa kritikan terhadap acara seperti ini. Jika tidak berapa banyak energi yang harus terbuang percuma hanya untuk mendinginkan suhu politik negri ini? Sekarang ini bisa jadi kebebasan pers telah kehilangan arah dan ketika pemerintah bertindak represif tentu tak akan menghasilkan sesuatu yang positif buat negri ini.

Pemirsa menginginkan sebuah informasi politik negri ini namun tidak memecah persatuan dan kesatuan.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10215826018537482&id=1055515789


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh