fbpx

0
0
0
s2sdefault

FB IMG 1564647103196

Benarkah Anies Baswedan Didukung NasDem?

Oleh: Birgaldo Sinaga

Sebuah pesan dari teman bernada wanti-wanti masuk ke inbox. Isinya meminta saya kudu jangan mengkritik Anies Baswedan terlalu keras. Ia bilang kritikan saya barusan soal ketidakmampuan Anies mengelola sampah dan polusi itu bisa berpengaruh pada saya.

Saya tidak tahu bagaimana teman saya itu bisa berpikir begitu. Saya juga membaca beberapa komentar di lapak komen fesbuk ini. Ada banyak yang menyentil saya dengan sinis soal kritikan saya pada Anies berbanding terbalik dengan dukungan capres Pak Surya Paloh pada Anies.

 

Sebagian publik memang teragitasi percaya bahwa Surya Paloh sudah memberi tiket capres 2024 pada Anies. Pasalnya pertemuan SP dan AB beberapa waktu lalu diplintir media. Seolah-olah NasDem sudah komit memberikan tiket dukungan capres 2024.

Benarkah Surya Paloh sudah memberikan dukungan capres 2024 untuk Anies?

Jika saya jawab pendek dengan kata tidak, saya yakin teman2 tidak akan percaya. Saya yakin kita akan berdebat kusir di sini.

Tetapi sebelum kita berdebat soal ini, saya mau menceritakan apa yang kita sebut karakter. Karakter yang kita kenal sebagai langgam pribadi orang itu dalam bersikap, berpikir dan bertindak dalam politik.

Sebut saja SBY, karakter peragu dan suka main aman menjadi ciri khas karakter berpolitik SBY. Dalam beberapa kali keputusan politik, SBY memilih jalan menyendiri dari dua poros kekuatan politik nasional. Bahkan dalam koalisi adil makmur, rekan satu koalisinya menilai Demokrat bermain setengah hati mendukung Prabowo Sandi.

Megawati, punya karakter pendiam, ngambekan dan kukuh dalam mempertahankan prinsip ideologi perjuangannya. Jika sudah memutuskan sesuatu, Megawati akan mempertahankan keputusannya all out. Termasuk hubungan dinginnya dengan SBY yang sudah memburuk sejak 2004.

Ciri karakter tokoh politik ini membentuk style partai politik yang dinakhodainya. Orang bilang seperti pelatih sepakbola. Cara dan ciri permainan tim ditentukan oleh strategi dan gaya sang pelatih.

Saya bukanlah kader utama NasDem. Orang lebih mengenal saya sebagai aktivis, relawan dan penulis pegiat media sosial. Sebelum bergabung ke NasDem saya menguliti platform partai. Platform partai menjadi nomor satu kemudian sosok pendiri dan pemimpin partai.

Pada pilkada DKI, Jabar dan Jatim saya senang sekali ketika Surya Paloh dengan naluri politiknya yang tajam langsung mengumumkan jagoannya untuk bertarung di wilayah itu. Semuanya tanpa mahar. Tanpa embel2 ada udang di balik bakwan.

Begitu diumumkan Surya Paloh, maka semua kader tegak lurus mematuhi perintah Ketum Surya Paloh. Itu artinya perjuangan memenangkan Ahok, Ridwan Kamil, Khofifah Indar Parawansa menjadi perjuangan cita-cita restorasi partai. Ada nilai platform partai ditaruh dipundak calon kepala daerah itu.

Bagaimana dengan Anies Baswedan yang diplintir media telah dicapreskan oleh Surya Paloh?

Saya tertawa geli membaca semua komentar yang digiring oleh PSI melalui Tsamara dan Raja Juli Antoni. Juga oleh beberapa kader PDI Perjuangan seperti Eva Sundari dan Anton Dwisunu.

Sampai hari ini, tidak ada satu perintah baik lisan maupun tulisan kepada seluruh kader NasDem untuk mendukung Anies Baswedan. Tidak ada gerakan dari semua kader NasDem untuk memoles citra Anies. Ini berbeda sekali ketika Surya Paloh memberi dukungan pada Ridwan Kamil, Ahok, Khofifah meskipun pilkada masih jauh pelaksanaannya.

Politik memang persepsi. Persepsi publik yang terbentuk dari isu, rumor dan plintiran tentu akan memproduksi persepsi yang bias dan keliru.

Bestari Barus, Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Jakarta baru saja meminta Ibu Risma mengurus persoalan sampah Jakarta yang tidak bisa dibereskan Anies. Ramai di lini masa berita sampah DKI yang menggunung sampahnya juga menggunung budgetnya. Jika Surabaya hanya menghabiskan 30 milyar, Jakarta menghabiskan 3700 Milyar. Hampir 125 kali lipat.

Kita dibuat kaget dengan berita ini. Kader NasDem Bestari menelanjangi Anies. Ujungnya Anies menyerang Bestari dengan ngeles ala gabener. Mengelak. Membela diri dengan menuding kritikan keras Bestari itu salah alamat. Seharusnya cocok untuk Ahok. Begitu ngeles Anies.

Belum lama ini, riak-riak kasus reklamasi juga dikritik NasDem. NasDem malah mengajukan usul hak interpelasi pada keputusan Anies yang memberikan ribuan IMB pada gedung pertokoan di pulau reklamasi. NasDem tidak setuju karena pemberian IMB itu tidak memberi manfaat apa-apa pada warga Jakarta. Seperti tuntutan Ahok sebesar 15 persen.

Ini tentu berbeda dengan PSI yang kemarin menyerang NasDem. PSI menilai NasDem membela orang yang mempolitisasi agama. PSI melalui Michael Sianipar Ketua DPW PSI Jakarta seperti diberitakan media malah mengapresiasi keputusan Anies. Alasannya kepastian hukum. Tidak ada kemarahan PSI menuntut 15 persen kontribusi untuk rakyat Jakarta. Padahal klaimnya PSI lahir dari spirit Ahok. Nilai-nilai Ahok. Kok melempem menuntut 15 persen kontribusi reklamasi?

Publik kadung terikut arus yang dimainkan plintiran media dan pemain politik. Seperti suara yang saya dengar di akun saya ini. Sebagian percaya dengan narasi serangan PSI. Padahal jika mau fair mengapa PSI tidak mempertanyakan pertemuan Megawati dengan Prabowo Subianto?

Bukankah Prabowo adalah panglima tertinggi permainan politisasi agama dan politik identitas? Belum hilang bau keringat Ahok di penjara Mako Brimob saat Fadli Zon, Ahmad Dhani, Habiburahman, Andre Rosiade kader Gerindra dengan sadis dan brutal menyerang Ahok habis-habisan. Lihatlah saat Fadli Zon di acara ILC bersekongkol dengan umat 212 menekan Kapolri agar Ahok ditetapkan sebagai tersangka meskipun Ahok sudah meminta maaf.

Tapi begitulah politik. Selalu saja ombak di permukaan dan di bawah permukaan bisa berbeda. Di meja makan semua nampak hangat menyilakan makan sambil bersenda gurau. Begitu teman keselak kena duri ikan, bukannya menolong malah mengharap duri ikan itu menancap lebih dalam di kerongkongan.

Saya percaya dan yakin, karakter Surya Paloh dan platform partai yang dibangun dengan nilai perjuangan pendiri bangsa ini tidak akan dikhianati dengan transaksi recehan. Itu bukan kelas Surya Paloh.

Saya ingat sekali pidato Ketum Surya Paloh saat membekali kami kader NasDem. Jika suatu saat kamu dihadapkan dua pilihan yakni antara kepentingan partai dan kepentingan bangsa dan negara, saya minta jangan pernah berpikir dua kali kalian untuk memilih. Kepentingan bangsa dan negaralah di atas segalanya.

Saya yakin spirit Surya Paloh akan dedikasinya pada bangsa dan negara masih 100 persen. Saya tidak ragu akan hal ini. Terbukti kami mengkritik Anies Baswedan tenang2 saja. Bedanya, Surya Paloh memberi nilai 5 dari skala 10. Sementara saya dan kader NasDem lainnya mengkritik frontal tanpa tedeng aling-aling.

Sampai di sini masak kalian belum mengerti sih..

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga

Sumber: https://www.facebook.com/1820404924838978/posts/2307139422832190/


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh