fbpx

0
0
0
s2sdefault

1590853440p

Memandang keindahan Danau Toba, jelas tidak cukup dari satu titik saja. Selain dengan menyisir tepian danau, Anda juga bisa mencoba sensasi menikmati keelokannya dari ketinggian.

Sebut saja, Geosite Huta Ginjang. Objek wisata untuk melihat Danau Toba dari ketinggian ini berada di Desa Huta Ginjang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara.

Menurut Binhot Aritonang, Kepala Dinas Pariwisata Tapanuli Utara, kawasan Huta Ginjang saat ini lebih tertata rapi sejak Pemerintah Tapanuli Utara menambah beberapa fasilitas, seperti ruang informasi dan toilet. "Kami menata kembali Huta Ginjang tahun 2017 ," ujarnya.

Lalu ada Panatapan Bakkara di Kabupaten Humbang hasundutan yang menyajikan pemandangan Lembah Bakkara berlatar Danau Toba nan cantik. “Dinasti Sisingamangaraja juga ada di Bakkara,” ujar Hotman Hutasoit, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Humbang Hasundutan.

Baca Juga: Melihat dari dekat sentra pembuatan kopi Lintong (bagian 1)

Nah, awal Agustus lalu, Tim KONTAN Jelajah Ekonomi Pariwisata 2019 menyambangi lima spot sangat menarik untuk menikmati keelokan Danau Toba dari ketinggian. Berikut lima spotyang bisa menjadi bahan referensi Anda saat berlibur ke kawasan bekas kaldera super vulkan ini:

Menara Pandang Tele

Menara Pandang Tele jadi salah satu spotterbaik untuk menikmati eksotisme Danau Toba. Lokasi menara yang berdiri sejak 1988 silam ini berada di Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir.

Dari Pangururan, Ibu Kota Samosir, jaraknya sekitar 45 menit perjalanan darat. Jalan menuju ke Menara Pandang Tele yang merupakan bangunan bertingkat empat menanjak dan berkelok-kelok.

Harga tiket masuk ke Menara Pandang Tele sebesar Rp 7.000 per orang. Lantai dua bangunan memiliki balkon yang luas, cocok banget buat swafoto alias selfie berlatar Danau Toba dan perbukitan di sekitarnya.

Baca Juga: Melihat dari dekat sentra pembuatan kopi Lintong (bagian 3)

Bukan cuma Danau Toba nan cantik yang tampak dari Menara Pandang Tele, Anda bisa melihat penampakan Bukit Holbung dan Air Terjun Efrata, misalnya.

"Pemandangan di sini bagus, kalau bisa bangunannya dibuat lebih tinggi," ujar Roni Handaka, pengunjung asal Jakarta, kepada Tim KONTAN Jelajah Ekonomi Pariwisata 2019.

Tak jauh dari Menara Pandang Tele terdapat bangunan modern dua lantai. Gedung berstandar internasional dan ramah lingkungan ini dibangun Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Di lantai dua bangunan tersebut terdapat area seluas 214 m² berupa rumah kaca yang berfungsi sebagai restoran. Fasilitas tempat istirahat atawa rest area ini lengkap dengan instalasi pengolahan air dan air limbah sehingga ramah lingkungan.

Bukit Holbung

Masih di Samosir, Anda juga bisa menikmati keindahan Danau Toba dari ketinggian di Bukit Holbung yang terletak di Desa Hariarapohan, Kecamatan Harian. Hanya saja, akses jalannya begitu masuk Kota Kecamatan Harian tidak terlalu bagus.

Dari Tuktuk Siadong, perjalanan memerlukan waktu 1 jam 30 menit, lewat Pangururan, Ibu Kota Samosir. Lalu, melintasi Jembatan Tano Pongol yang menyatukan Pulau Samosir dengan daratan Sumatra.

Untuk mencapai beberapa spot menarik di Bukit Holbung, Anda harus mendaki melewati anak tangga dan jalan setapak, sekitar 10–20 menit, dengan padang rumput di kanan-kiri. Begitu sampai di spot tersebut, Anda bak berada di Bukit Padar yang ada di Labuan Bajo lantaran pemandangannya mirip, teluk di bawah bukit.

Harga tiket masuknya Rp 5.000 per orang. “Kalau hari libur, banyak yang kemping,” kata Eljon Sihotang, Pengurus BUMDes Hariarapohan, pengelola Bukit Holbung.

Panatapan Bakkara

Jangan lewatkan Lembah Bakkara. Tanah kelahiran Raja-Raja Sisingamangaraja ini bisa Anda jangkau dari Geosite Sipinsur lewat Jalan Sisingamangaraja. Tapi, ada sedikit bagian jalan belum beraspal. Perjalanan sampai Lembah Bakkara memakan waktu sekitar 35 menit, dengan sebagian menyusuri pinggiran Danau Toba.

Di Lembah Bakkara terdapat situs yang dulunya merupakan Istana Raja Sisingamangaraja. Tempat kediaman Raja Sisingamangaraja I–XII yang memerintah 1530–1907 ini pernah dibumihanguskan pasukan Tuanku Rao (Bonjol) pada 1825 dan Belanda pada 1878 silam.

Kemudian, Pemerintah RI dan masyarakat membangunnya kembali pada 1978.  Di dalam kompleks istana terdapat makam Raja Sisingamangaraja X dan XI.

Kemudian, ada empat bangunan rumah Batak kuno yang merupakan replika istana: Ruma Bolon (tempat menerima tamu kerajaan), Ruma Persaktian (tempat tinggal raja dan keluarga), Sopo Godang (tempat kegiatan seni dan budaya), dan Sopo Bolon (tempat penyimpanan peralatan dan hasil-hasil pertanian juga perbekalan). Ada pula Bale Pasogit merupakan tempat semadi raja dan Batu Siungkapungkapon.

Untuk masuk ke istana yang terletak di Dusun Lumban Raja, Kecamatan Baktiraja ini, pengunjung tidak dipungut bayaran alias gratis. Tapi, Anda boleh memberi uang kebersihan dengan memasukkan ke kotak yang ada di kompleks istana. “Kami ada rencana mendirikan patung Raja Sisingamangaraja I hingga XII,” kata Hutasoit.

Dari Istana Raja Sisingamangaraja, Anda bisa lanjut ke Panatapan Bakkara. Perjalanannya sekitar 10 menit ke arah Dolok Sanggul, Ibu Kota Humbang Hasundutan.

Dari lokasi ini, Anda bisa melihat Lembah Bakkara nan elok, yang diapit dua perbukitan dengan hamparan persawahan hijau. Benar-benar menyejukkan mata. Anda dijamin betah berlama-lama memandang Lembah Bakkara berlatar Danau Toba.

Geosite Huta Ginjang

Tak hanya memanjakan mata dengan pemandangan Danau Toba, wisatawan juga bisa melihat tempat-tempat wisata di sekitar danau tekto vulkanik itu lewat teropong. Tahi Aritonang, petugas di Huta Ginjang, akan memandu langsung wisatawan melihat-melihat beberapa lokasi wisata tersebut.

Sebut saja, Tugu Aritonang, kampung penghasil mangga udang Bunturaja Muara, Geosite Sipinsur, Pusuk Buhit, Batu Guru, Air Terjun Situmurun, Pasir Putih Parparean, dan Balige. "Tarifnya hanya Rp 3.000 sekali dipandu melihat wisata lain lewat teropong ini, diterangkan juga," kata Aritonang kepada Tim KONTAN Jelajah Ekonomi Pariwisata 2019.

Sejatinya, tarif untuk menggunakan teropong sukarela. Makanya, Aritonang mengatakan, bukan rupiah yang menjadi fokusnya mendampingi para wisatawan di Huta Ginjang.

Bagi pria paruh baya ini, mampu mengenalkan Huta Ginjang nan cantik sebagai salah satu objek wisata unggulan Tapanuli Utara ke banyak orang membuatnya lebih merasa bahagia. Destinasi jalan-jalan yang terletak di Desa Huta Ginjang ini ada di ketinggian 1.550 meter di atas permukaan laut.

Apalagi, Aritonang merupakan satu-satunya petugas yang akan memandu pengunjung menggunakan teropong di Huta Ginjang. "Ramai kali orang mau lihat pakai teropong, sampai kami minum tak sempat," ujarnya tersenyum.

Lelah dan peluh yang menetes rasanya tak terasa saat Aritonang melihat wisatawan yang ia jelaskan merasa takjub dengan Huta Ginjang. Terlebih, jika ada wisatawan mancanegara yang mampu membuat Huta Ginjang dikenal lebih luas hingga berbagai negara. "Ini kan indah sekali, patutlah kita berbangga dan kita kenalkan ke semuanya," tuturnya.

Geosite Sipinsur

Memandang keindahan Danau Toba dari jauh memang punya sensasi tersendiri. Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat mencoba sensasinya, dengan menyambangi Geosite Sipinsur yang terletak di Desa Pearung, Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Pohon pinus yang teduh mendominasi sebagian besar salah satu objek wisata unggulan Humbang Hasundutan. Jelas, banyak spot-spotyang sangat cocok buat latar selfie, selain tentunya Danau Toba.

Ada gazebo yang bisa pengunjung gunakan untuk duduk sembari memandang keindahan Danau Toba dan alam di sekeliling Geosite Sipinsur. Selain hamparan Pulau Samosir, wisatawan bisa juga melihat Pulau Sibandang yang tepat di depan mata.

Destinasi ini menyabet juara pertama kategori Dataran Tinggi Terpopuler dalam ajang Anugrah Pesona Indonesia (API) 2018. Geser pandangan ke kanan, pemandangan ngarai dengan tanah kemerahaan membentengi Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara.

Nah, jika beruntung, Anda bisa melihat kapal-kapal kecil melintas di Danau Toba. Kapal-kapal ini membawa penumpang dari dan ke Pelabuhan Muara yang jadi salah satu gerbang masuk ke Samosir.

Di kawasan Sipinsur juga terdapat wahana bermain anak, seperti ayunan dan jungkat-jungkit. Jika lapar dan haus, ada stan-stan makanan dan minuman berbentuk rumah adat Batak.

Di hari biasa, pengunjung yang datang ke Geosite Sipinsur sekitar 300 orang. Sementara saat akhir pekan, pengunjungnya bisa menembus 800 orang. "Kalau masa libur anak sekolah, Natal, atau Lebaran, pengunjungnya bisa sampai 1.000 orang," ujar Mawari Purba, petugas Geosite Sipinsur, kepada kepada Tim KONTAN Jelajah Ekonomi Pariwisata 2019.

Selain untuk jalan-jalan melihat pemandangan, Sipinsur juga sering pengunjung manfaatkan untuk acara reuni dan ibadah. "Mereka biasanya pakai tikar di open stage. Kami menyewakan tikar seharga Rp 10.000 per tikar," terang Mawari.

Saat ini, Geopark Sipinsur sedang merampungkan pembangunan gedung galeri. Rencananya, tempat itu untuk pameran foto dan karya seni.

Untuk masuk ke wilayah Geopark Sipinsur, pengunjung cukup mengeluarkan biaya parkir saja. Satu mobil hanya Rp 2000 sekali masuk.

Selamat berlibur.

Sumber Artikel Ada Disini


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh