fbpx

0
0
0
s2sdefault

1577426253982

Mumi Agat Mamete Mabel yang dirawat oleh Eli Mabel (kiri) di desa Pumo, Distrik Wogi, Silakarmo Doga, Wamena, kabupaten Jayawijaya, Papua, 9 Agustus 2017. Eli Mabel merupakan keturunan ke -13 yang menjaga mumi tersebut, kemungkinan usia mumi itu berumur lebih dari 200 tahun. Tempo/Rully Kesuma

Jakarta - Pada masa prasejarah Suku Dani di Lembah Baliem, Papua, memiliki dua tradisi penguburan yaitu jenazah dibakar atau disimpan dalam bentuk mumi.

Penanganan mayat dengan cara dikremasi umumnya dilakukan untuk seluruh anggota Suku Dani.

 

“Ini berlaku untuk orang-orang yang meninggal baik karena tua, sakit maupun mati terbunuh. Sedangkan penanganan mayat dengan cara dimumi hanya berlaku untuk orang-orang tertentu yang membutuhkan persyaratan tertentu,” ujar peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, Rabu, 25 Desember 2019.

Lembah Baliem terletak 1.650 meter di atas permukaan laut. Lembah ini terkenal hingga ke mancanegara karena adanya Festival Budaya Lembah Baliem yang digelar setiap tahunnya pada bulan Agustus. Pada zaman Belanda, lembah ini dinamai Grote Vallei atau Lembah Besar.

Orang yang memenuhi kriteria dapat dijadikan mumi adalah tokoh adat yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat atau panglima perang. Namun, tidak setiap orang memenuhi kriteria dapat dijadikan mumi setelah meninggal tanpa mempersiapkan terlebih dahulu syarat-syarat lain yang banyak dan cukup berat.

Contohnya, seperti mempersiapkan orang-orang yang dapat menangani, memelihara supaya mumi tersebut tetap awet selamanya. Dalam mempersiapkan dan menangani mumi ada beberapa tahapan, yaitu menunjuk anggota suku yang bertugas mengerjakan proses pemumian, menyiapkan kayu bakar, dan menyiapkan honai sebagai tempat pelaksanaan pemumian.

“Proses pengerjaan mumi di Lembah Baliem adalah, setelah tokoh yang layak diberi penghormatan tinggi meninggal dunia, jenazahnya pun disiapkan menjadi mumi. Tapi sebelumnya, mayat diasap dengan kayu bakar,” kata Hari.

Sebelum pengasapan dilakukan, Hari menjelaskan, biasanya dipersiapkan babi yang baru lahir sebagai tanda waktu. Waktu pengasapan berlangsung adalah sejak babi lahir sampai babi tersebut mempunyai taring yang panjang.

Setelah selesai pengasapan, dilakukan upacara-upacara untuk memandikan para petugas, pelepasan mumi dengan memotong babi yang digunakan sebagai tanda waktu, mengalungkan ekor babi yang dipotong tersebut ke leher mumi. “Setelah semua proses pengerjaan mumi selesai, maka diakhiri dengan pesta bakar batu,” tutur arkeolog itu.

Berdasarkan data di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya terdapat empat mumi yang sudah dikonservasi, yaitu mumi Araboda, Aikima, Pumo, Yiwika. Keempat mumi ini telah dikonservasi pada Oktober hingga November 2017, dengan menghabiskan anggaran Rp 900 juta. Kondisi keempat mumi saat ini terawat baik dalam kotak penyimpan.

Sumber: tempo.co


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh