Search
- Details
- Category: Food & Travel
- By ZA Sitindaon
- Hits: 80
Buah Durian Besar, Daging Tebal dan Manis ?
Pahami Cara Kerja Nutrisi & Waktu yang Tepat di Kebun Durian.
Banyak orang berpikir,
“Kalau mau durian besar, ya tinggal kasih pupuk banyak.”
Ini keliru.
Durian besar bukan soal banyaknya pupuk,
tetapi soal ketepatan waktu, jenis nutrisi, dan keseimbangan sistem dalam pohon.
Karena pada dasarnya, buah durian itu terbentuk melalui dua proses penting:
• Awal → pembentukan sel (menentukan potensi ukuran).
• Akhir → pembesaran & pengisian (menentukan berat dan rasa).
Jadi kalau salah di awal,
di akhir sudah sulit diperbaiki.
Memahami 4 Unsur Nutrisi Penting.
Mari kita sederhanakan…
Bayangkan buah durian itu seperti “balon”:
• Ada yang membentuk balon.
• Ada yang mengisi balon.
•Ada yang menguatkan balon supaya tidak pecah.
Nah, di sinilah peran masing-masing unsur.
1. Kalium ( K ) → “Pengisi Buah”.
Kalium ini ibarat “kurir gula”.
Tugasnya:
• Mengambil gula dari daun.
• Mengirimkannya ke buah.
• Mengisi daging durian.
Kalau kalium kurang:
• Buah kecil.
• Isi tidak penuh.
• Rasa kurang manis.
Jadi saat buah mulai membesar, kalium wajib dominan.
2. Nitrogen ( N ) → “Pembentuk Awal”.
Nitrogen berfungsi di awal:
• Membantu pembelahan sel.
• Menentukan potensi ukuran buah.
Tapi ada jebakannya…
Kalau terlalu banyak: pohon malah tumbuh daun muda, daun jadi “saingan buah”.
Akibatnya: buah tidak berkembang maksimal.
3. Kalsium (Ca) + Boron (B) → “Penguat Struktur”.
Ini adalah “tulang” buah.
Fungsinya:
• Menguatkan dinding sel.
• Menguatkan tangkai buah.
• Mencegah buah pecah.
• Mengurangi rontok.
Tanpa Ca + B: buah bisa:
• Gampang rontok.
• Pecah saat membesar.
• Bentuk tidak sempurna.
4. Magnesium (Mg) → “Pabrik Gula”.
Magnesium bekerja di daun.
Fungsinya:
• Membantu fotosintesis.
• Menghasilkan gula.
Sederhananya:
- daun = dapur.
- Mg = mesin dapur.
Kalau dapur lemah → makanan sedikit → buah ikut kecil.
Timing Pemberian Pupuk yang Tepat.
Banyak kebun gagal bukan karena pupuknya salah,
tapi karena timing-nya salah.
1. Fase 1 (2–4 Minggu setelah bunga mekar).
Bakal buah masih berupa pentil hingga telur ayam.
Ini fase paling krusial tapi sering diremehkan.
Yang terjadi:
• Sel buah sedang dibentuk.
• Kapasitas maksimal buah, ditentukan di sini.
Yang dibutuhkan:
• NPK seimbang (sedikit saja).
• Ca + B.
Tujuannya: membangun “kerangka buah”.
2. Fase 2 (5–9 Minggu) — Golden Period, buah mulai membesar.
Ini fase “isi balon”
Yang terjadi:
• Buah mulai membesar cepat.
• Butuh banyak energi dan gula.
Yang dibutuhkan:
• Kalium mulai dominan.
• Contoh Pupuk: 15-5-20 / 12-12-17.
Kalau salah di fase ini: buah akan:
• Kecil.
• Tidak maksimal.
•Bentuk kurang bagus.
3. Fase 3 (≥10 Minggu) — Pengisian & Rasa.
Ini fase finishing,
Yang terjadi:
• Gula ditarik ke buah.
• Daging mulai terbentuk.
• Rasa ditentukan.
Yang dibutuhkan:
• Kalium tinggi (0-0-50 / 13-13-21).
Ini yang menentukan:
• Rasa manis.
• Daging tebal.
• Tekstur optimal.
Kesalahan Umum Yang Sering Terjadi.
1. Air Tidak Stabil.
Ini sangat sering terjadi di lapangan.
Kesalahan:
• Tanah kering → lalu disiram banyak + pupuk.
Dampaknya:
• Buah pecah.
• Daging jadi basah/lembek.
Prinsip: durian suka stabil, bukan ekstrem.
2. Daun Muda Tidak Dikontrol.
Ini “musuh diam-diam”.
Saat buah butuh nutrisi besar:
• Muncul daun baru.
• Daun menyerap nutrisi.
Akibatnya:
• Buah kalah saing.
• Pertumbuhan terhambat.
Solusi:
• Kontrol flush.
• Jangan biarkan daun tumbuh saat buah berkembang.
3. Hanya Mengandalkan Akar.
Banyak yang lupa…
Saat buah berkembang cepat, akar kadang tidak cukup cepat menyuplai nutrisi.
Solusi:
• Semprot Ca + B dan pupul mikro lewat daun.
Karena: penyerapan lewat daun lebih cepat.
4. Tidak Paham Keseimbangan Nutrisi.
Contoh:
• Kalium tinggi → Magnesium bisa terganggu.
Akibat:
• Daun tidak optimal.
• Produksi gula turun.
Jadi: bukan sekadar “tinggi”, tapi harus seimbang.
Rangkuman Paling Sederhana.
Kalau diringkas:
Awal (2–4 minggu).
• Bangun potensi buah → NPK + Ca + B.
Tengah (5–9 minggu).
• Besarkan buah→ Kalium naik.
Akhir (10 minggu+).
• Isi dan maniskan → Kalium tinggi.
PENUTUP.
Durian besar bukan karena pupuk mahal.
Durian premium bukan karena dosis tinggi.
Tapi karena:
• Tahu kapan memberi.
• Tahu apa yang dibutuhkan.
• Menjaga keseimbangan pohon.
“Buah durian tidak dibesarkan oleh pupuk,
tapi oleh sistem yang bekerja dengan benar.”
• • • Terjemahan dan Pengembangan dari artikel berbahasa Thailand sebagai tugas dan pembelajaran harian bersama Shifu Catur D Mirzada.
Sumber: FB Topan Adriansyah https://www.facebook.com/share/p/18DuEvMKuw/
- Details
- Category: Food & Travel
- By ZA Sitindaon
- Hits: 98
Foto: TPU Semper yang tergenang air (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Jakarta, CNBC Indonesia - Lele merupakan salah satu ikan paling populer di Indonesia. Lezat, kaya nutrisi, dan mudah disiapkan, ikan lele memiliki sejarah panjang di seluruh dunia. Terdapat lebih dari 2.000 spesies ikan lele, yang ditemukan di setiap benua kecuali Antartika.
Mengutip Seafood Watch, ikan lele memiliki profil lemak yang sehat. Kandungan lemak jenuhnya rendah (sekitar 1 gram per porsi tergantung jenisnya) sekaligus merupakan sumber asam lemak omega-3 DHA dan EPA yang kaya (hingga 300 miligram per porsi). Artinya, ikan ini juga membantu mendukung kesehatan jantung dan fungsi otak.
Meski begitu, penelitian menunjukkan ikan lele (Clarias sp. dan spesies catfish lainnya) mampu mengakumulasi berbagai polutan seperti logam berat dan polutan organik persisten melalui penyerapan air, bahan makanan yang terkontaminasi, dan limbah industri, yang kemudian dapat terakumulasi di jaringan ikan tersebut.
Ikan lele dapat mengakumulasi polutan seperti PCB, pestisida, dan logam berat (merkuri, timbal, kadmium) dari air dan sedimen yang terkontaminasi, menurut riset yang dipublikasikan di Environmental Research.
Ikan lele liar dari sungai yang tercemar memiliki risiko lebih tinggi daripada ikan lele dari perairan yang lebih bersih.
Studi di Sungai Paraopeba (Brasil) melaporkan bahwa logam berat seperti Hg, Cd, Cr, Pb, dan Zn terakumulasi dalam jaringan ikan lele. Kandungan logam berat sering kali lebih tinggi di organ internal, yang menunjukkan potensi risiko bagi kesehatan jika dimakan secara terus-menerus.
Agar tidak waswas saat mengonsumsi ikan lele, pilihlah ikan yang dibudidayakan dalam kolam bersih dan terawasi. Sebab, risiko kesehatan pada lele umumnya berasal dari paparan polutan lingkungan, bukan dari ikannya sendiri
Sumber: CNBC Indonesia cnbcindonesia.com
- Details
- Category: Food & Travel
- By ZA Sitindaon
- Hits: 120
- Details
- Category: Food & Travel
- By ZA Sitindaon
- Hits: 107
- Details
- Category: Food & Travel
- By ZA Sitindaon
- Hits: 166
- Details
- Category: Food & Travel
- By ZA Sitindaon
- Hits: 187