Search
- Details
- Category: Hukum & Kriminal
- By ZA Sitindaon
- Hits: 8
Foto: REUTERS/KIM HONG-JI
Jakarta, CNBC Indonesia - Fitur Mobile Banking (m-Banking) bisa membawa risiko pembobolan rekening hingga tabungan terkuras habis jika penggunanya tidak berhati-hati. Sejumlah modus penipuan di aplikasi M-Banking antara lain pencurian data pribadi, penipuan atau phising.
Untuk menghindari hal tersebut, berikut merupakan hal yang bisa dilakukan nasabah pemilik M-banking sebagaimana dikutip dari laman resmi Otoritas Jasa Keuangan, Rabu (18/2/2026).
Tips untuk Menghindari Kejahatan Digital Banking
1. Tidak memberitahukan kode akses/ nomor pribadi Personal Identification Number (PIN) kepada orang lain
2. Tidak mencatat dan menyimpan kode akses/ nomor pribadi SMS banking di tempat yang mudah diketahui orang lain
3. Periksalah transaksi secara teliti sebelum melakukan konfirmasi atas transaksi tersebut untuk dijalankan
4. Setiap kali melakukan transaksi, tunggulah beberapa saat hingga menerima respon balik atas transaksi tersebut
5. Untuk setiap transaksi, nasabah akan menerima pesan notifikasi atas transaksi berupa SMS atau email yang akan tersimpan di dalam inbox. Periksa secara teliti isi notifikasi tersebut dan segera kontak ke bank apabila ada transaksi yang mencurigakan
6. Jika merasa diketahui oleh orang lain, segera lakukan penggantian PIN
7. Bilamana SIM Card GSM hilang, dicuri, atau dipindahtangankan kepada pihak lain, segera beritahukan ke cabang bank terdekat atau segera melaporkan ke call center bank tersebut
8. Hati-hati dengan aplikasi di internet yang merupakan spam atau malware yang mungkin dapat mencuri data-data pribadi dan menyalahgunakannya di kemudian hari
9. Tidak melakukan transaksi internet di tempat umum seperti warnet, WIFI gratis, karena data-data kita berpotensi dicuri oleh pihak lain dalam jaringan yang sama
10. Tidak lupa melakukan proses logout setelah selesai melakukan transaksi di internet banking
11. Jika berganti ponsel, pastikan bahwa semua data-data sudah terhapus untuk menghindari penyalahgunaan oleh pihak lain yang menggunakan ponsel tersebut
Sumber: CNBC Indonesia cnbcindonesia.com
- Details
- Category: Hukum & Kriminal
- By ZA Sitindaon
- Hits: 14
Foto: Infografis/ Flexing di Medsos, Sasaran Empuk Penipu Online Kuras Rekening/ Ilham Restu
Jakarta, CNBC Indonesia - Penipuan di ranah internet terus terjadi. Para pelaku juga menggunakan banyak modus untuk bisa memperdaya para korbannya.
Salah satu penipuan yang baru-baru ini terjadi diceritakan oleh pengguna Instagram @mandharabrasika. Dia membagikan cerita baru saja tertipu ratusan juta melalui penipuan phone scam.
Dalam caption unggahannya, dia meminta untuk menyebarkan postingan tersebut. Tujuannya agar tidak ada korban penipuan lagi.
Dia menceritakan pelaku menelepon dengan mengatas namakan pihak pajak. Pelaku memanfaatkan kebingungan soal platform coretax dan mengatakan ada kesalahan.
Korban mempercayai pengakuan pegawai pajak karena data-data yang disebutkan benar. Data tersebut juga disebutkan tidak pernah dipublikasikan sebelumnya.
"Anehnya, mereka dengan lancar menyebut data-data yang tidak pernah kami publikasik-kan, NPWP dan sebagainya. Membuat korban (tim kami) yakin bahwa yang menelepon adalah benar pegawai pajak," jelas pengguna dikutip Rabu (19/2/2026).
Pelaku disebutkan mengirimkan link untuk menginstall aplikasi. Mereka juga menawarkan bantuan dengan cara berbagi layar.
Fitur berbagi layar ini membuat pihak lain dapat mengetahui informasi perangkat pengguna. Dalam hal ini, informasi rahasia seperti username, PIN, hingga password.
Setelah informasi didapatkan, mereka meretas HP korban. Dalam waktu singkat, rekening milik korban kosong dikuras pelaku.
Pelaku juga berupaya untuk menekan psikologi korban dengan membuat situasi mendesak. Jadi korban tidak sempat berpikir atau bertanya kepada orang lain.
Pihak pengguna juga telah melaporkan ke pihak bank terkait, kepolisian dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun semua laporan tersebut masih berstatus dalam proses dan belum ada kemajuan berarti
Sumber: CNBC Indonesia cnbcindonesia.com
- Details
- Category: Hukum & Kriminal
- By ZA Sitindaon
- Hits: 50
Foto: Infografis/ Peta Baru Sumber Kejahatan Siber Dunia, Ini Daftar Negaranya/ Ilham Restu
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia kembali menjadi sorotan global. Dalam Global Fraud Index 2025, Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat perlindungan penipuan (fraud) terendah kedua di dunia sepanjang 2025.
Mayoritas kasus penipuan di Tanah Air didominasi modus social engineering atau rekayasa sosial. Hal ini disampaikan oleh Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Teguh Arifiyadi.
Teguh menyebut lebih dari 70% kasus penipuan yang terdata berkaitan dengan social engineering. Berdasarkan definisi resmi OJK, social engineering merupakan kejahatan yang memanipulasi kondisi psikologis korban sehingga tanpa disadari korban memberikan akses atau informasi penting, yang berujung pada pengurasan rekening.
Ia menekankan bahwa literasi digital tetap menjadi kunci, meski penipuan tidak selalu berkaitan dengan tingkat pendidikan. "Kadang-kadang tidak berkaitan dengan tingkat pendidikan. Bisa jadi profesor, dokter, banyak yang kena juga. Ini bicara soal kebiasaan," ujar Teguh di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Selain menanggapi posisi Indonesia dalam daftar tersebut, Teguh menyebut pemerintah tengah memperkuat langkah pencegahan lintas sektor.
"Kita sudah mengetahui bahwa kita sebagai negara dengan tingkat penipuan terbesar kedua di dunia. Dari sisi internal pemerintah, kami sedang mengupayakan untuk mengkonsolidasikan semua jalur atau upaya pencegahan dari masing-masing sektor," katanya.
Menurut Teguh, konsolidasi dilakukan dengan mengintegrasikan berbagai sistem dan inisiatif yang sudah berjalan. Ia mencontohkan peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan sistem IGC, layanan pencegahan milik Komdigi, dukungan aparat Polri, hingga peran sektor swasta.
"Itu sedang kita upayakan untuk mengkonsolidasi. Ke depan, kampanye pencegahan akan dibuat lebih terstruktur dan melibatkan lebih banyak kerja sama dengan pihak swasta," katanya.
Selain konsolidasi, Teguh menekankan pentingnya penguatan regulasi sebagai fondasi utama menekan angka penipuan. Fokusnya antara lain pada verifikasi nomor seluler, verifikasi pengguna tanda tangan digital, serta verifikasi pengguna layanan pemerintah.
"Ekosistem yang bagus itu ketika verifikasinya dilakukan dengan baik," tegasnya.
Sebagai catatan, Global Fraud Index mengukur ketahanan terhadap penipuan di 112 negara berdasarkan empat pilar utama, yakni aktivitas fraud, akses terhadap sumber daya, intervensi pemerintah, dan kesehatan ekonomi.
Dalam survei tersebut, lima negara dengan perlindungan fraud terbaik adalah Luxembourg, Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Belanda. Sementara itu, negara dengan perlindungan terendah ditempati Pakistan (peringkat 112), Indonesia (111), Nigeria (110), India (109), dan Tanzania (108).
Sumber: CNBC Indonesia cnbcindonesia.com
- Details
- Category: Hukum & Kriminal
- By ZA Sitindaon
- Hits: 80
- Details
- Category: Hukum & Kriminal
- By ZA Sitindaon
- Hits: 61
- Details
- Category: Hukum & Kriminal
- By ZA Sitindaon
- Hits: 29