fbpx

0
0
0
s2sdefault

Screenshot 20191016 163106

Jakarta - Tangisan mengiringi pascaoperasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Wali Kota Medan Tengku Dzulmi Eldin. Adalah Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution yang lirih menangis ketika mengetahui kabar penangkapan.

"Iya, beliau abang saya, saya hormat sama dia," kata Akhyar dengan mata yang berlinang air mata dan memerah di Medan, seperti dilansir Antara, Rabu 16 Oktober 2019.

Belum bisa komunikasi sampai sekarang. Terakhir komunikasi semalam.

Ahyar mengaku menangis karena mendengar Dzulmi terjaring OTT KPK. Hingga saat ini, kata dia, pihaknya belum bisa berkomunikasi dengan Dzulmi yang diterbangkan ke Jakarta setelah ditangkap di Medan.

"Belum bisa komunikasi sampai sekarang. Terakhir komunikasi semalam," tuturnya.

Diketahui, KPK mengamankan barang bukti sekitar Rp 200 juta dari OTT terhadap Dzulmi. "Uang yang diamankan lebih dari Rp 200 juta. Diduga praktik setoran dari dinas-dinas sudah berlangsung beberapa kali, tim sedang mendalami lebih lanjut," ucap Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Rabu 16 Oktober 2019.

Dari OTT yang dilakukan Selasa malam 15 Oktober 2019 sampai Rabu dini hari 16 Oktober 2019 di Medan, total tujuh orang yang diamankan terdiri dari unsur kepala daerah/wali kota, kepala dinas PU, protokoler, ajudan wali kota, dan swasta

Saat ini, Wali Kota Medan Tengku Dzulmi Eldin sedang menjalani pemeriksaan di Gedung KPK Jakarta

 

Sumber Artikel Asli Ada di:  tagar.id

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

FB IMG 1570716044068

Tiba-tiba teringat Assad, dia bilang [kepada negara-negara penyokong "jihadis" yang menyerbu Suriah selama 8 tahun], "Terorisme bukan kartu yang bisa Anda mainkan lalu Anda masukkan lagi ke kantong. Seperti kalajengking, ia akan menggigit Anda kapan saja."

Ini nasehat yang juga sangat patut diingat oleh setiap elit di Indonesia. Memelihara kelompok radikal dan menjadikan mereka sebagai kartu politik belaka [indikasinya: tidak pernah mau bertindak tegas, terstruktur, dan sistematis menghadapi radikalis] adalah tindakan berbahaya yang menghancurkan bangsa ini. Dan negara ini bagaikan kapal, kalau tenggelam, semua ikut tenggelam, termasuk yang memeliharanya dan menjadikannya alat politik.

Semoga Allah menjaga bangsa ini.

sumber meme: @SyrianperNews
.
.
.
Dina Sulaeman

Sumber: https://www.facebook.com/803774136380640/posts/2682409441850424/

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

FB IMG 1571216693061

*Terima Pimpinan MPR, Presiden Ingin Pelantikan Khidmat dan Sederhana*

Presiden Joko Widodo menerima pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 16 Oktober 2019. Kesepuluh pimpinan MPR dipimpin oleh Ketua MPR Bambang Soesatyo atau akrab disapa Bamsoet.

Dalam pertemuan itu, Presiden Joko Widodo menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya seluruh pimpinan MPR periode 2019-2024. Sementara pimpinan MPR menyampaikan langsung undangan untuk pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih pada 20 Oktober mendatang.

"Saya juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan upacara dan perayaan di dalam pelantikan dilakukan sederhana saja, tapi juga tanpa mengurangi kekhidmatan dan keagungan dari acara itu," kata Presiden Jokowi seusai pertemuan.

Senada dengan Presiden Jokowi, Ketua MPR Bambang Soesatyo mengatakan MPR ingin agar acara pelantikan berlangsung dengan khidmat tanpa gangguan apapun. Untuk itu, ia mengimbau kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga kekhidmatan tersebut.

"Karena suksesnya ini, suksesnya acara pelantikan presiden, akan memberi pesan positif bagi dunia internasional dan itu akan juga membantu perekonomian kita. Dengan ekonomi yang baik maka itu sama dengan membantu rakyat kita semua. Jadi _message_-nya jelas, kami di MPR ingin acara ini berlangsung dengan khidmat," ujar Ketua MPR.

Bamsoet mengatakan, sejumlah kepala negara dan kepala pemerintahan negara-negara sahabat akan hadir dalam acara pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih. Mereka yang sudah dipastikan hadir antara lain kepala negara atau kepala pemerintahan dari beberapa negara ASEAN dan Perdana Menteri Australia.

"Tapi untuk pastinya silakan nanti dicek ke Menteri Luar Negeri," imbuhnya.

Di samping membahas tentang pelantikan presiden, dalam pertemuan tersebut Presiden Jokowi dan pimpinan MPR juga sempat menyinggung soal amendemen UUD 1945. Menurut Presiden Jokowi, hal yang paling penting adalah melakukan kajian-kajian mendalam serta menerima masukan dari berbagai pihak.

"Ya yang paling penting perlu kajian-kajian mendalam, perlu menampung usulan-usulan dari semua tokoh, akademisi, masyarakat. Yang paling penting usulan-usulan itu harus ditampung. Masukan-masukan ditampung, sehingga bisa dirumuskan," ungkap Presiden Jokowi.

"Berikan kesempatan kepada MPR untuk bekerja, melakukan kajian, menampung usulan-usulan yang ada," sambungnya.

Adapun Ketua MPR mengatakan pembahasan tersebut akan dilakukan dengan cermat dan menampung semua aspirasi. Pihaknya juga akan berkonsultasi dengan Presiden selaku kepala negara dan kepala pemerintahan terkait amendemen ini.

"Jadi MPR tidak dalam posisi yang buru-buru. Kami akan cermat betul menampung seluruh aspirasi, sebagaimana disampaikan Pak Presiden, yang berkembang di tengah-tengah masyarakat," tandasnya.

Turut mendampingi Presiden dalam pertemuan tersebut yaitu, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Sementara pimpinan MPR yang hadir yaitu Ketua MPR Bambang Soesatyo dan 9 Wakil Ketua MPR yakni Ahmad Basarah, Ahmad Muzani, Lestari Moerdijat, Jazilul Fawaid, Sjarifuddin Hasan, Hidayat Nur Wahid, Zulkifli Hasan, Arsul Sani, dan Fadel Muhammad.

Jakarta, 16 Oktober 2019
Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Erlin Suastini

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212930923821073&id=1630014103

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

Screenshot 20191010 203612Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers usai menjenguk Menkopolhukam Wiranto di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (10/10). [Suara.com/Arya Manggala]

"Masalah dalam negeri, masalah politik. Terutama berkaitan situasi eksternal dari sisi ekonomi, yang kita semua hati-hati karena perkembangan ekonomi dunia...

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Dalam pertemuannya dengan SBY, Jokowi mengaku tak membahas masalah Peraturan pemerintahan pengganti undang-undang (perppu) atas revisi Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hal ini menyusul banyaknya desakan yang meminta Jokowi mengeluarkan Perppu KPKatas revisi UU KPK.

"Enggak, enggak (membahas Perppu KPK)," ujar Jokowi usai bertemu SBY di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Menurut Jokowi, yang dibahas bersama SBY di antaranya situasi terkini di Indonesia hingga masalah politik.

Masalah dalam negeri, masalah politik. Terutama berkaitan situasi eksternal dari sisi ekonomi, yang kita semua hati-hati karena perkembangan ekonomi dunia. Masalah dunia yang menuju pada resesi. Bicara banyak," ucap dia.

Pertemuan tersebut berlangsung secara tertutup sekitar satu jam lebih.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyebut pertemuan dengan SBY sudah lama direncanakan. Namun kata Jokowi, pertemuan tersebut baru hari ini terealisasi.

"Ini saya dengan Pak SBY sudah janjian lama, tapi belum pas waktunya dan hari ini alhamdulillah pas waktunya dan ketemu," tandasnya.

Sumber: suara.com

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

Screenshot 20191016 101802Juru Bicara KPK Febri Diansyah memberi keterangan pers di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (12/10). [Suara.com/Muhaimin A Untung]

"Nah uang di ATM itulah yang diduga diugunakan pihak penerima. Diduga sudah diterima sekitar Rp 1,5 miliar," ujar Febri.

SitindaonNews.com - Kepala Balai Pelaksanaan Jalan (BPJN) Wilayah XII, Refly Ruddy Tangkere merupakan salah satu dari depalan orang yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan tim KPK di Jakarta dan Kalimantan Timur, Selasa (15/10/2019) malam.

"Diamankan sekitar delapan orang di Samarinda, Bontang dan Jakarta. Kepala Balai Pelaksana Jalan Wilayah XII diamankan di Jakarta, sisanya dari unsur PPK, dan swasta diamankan di Kaltim," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan Jakarta Selatan.

Febri menyebut mereka ditangkap diduga terkait suap proyek pekerjaan jalan senilai Rp 155 miliar di BPJN Wilayah XII Kemen PUPR.

"Kami menduga pemberian dari pihak rekanan atau swasta terkait dengan paket pekerjaan jalan multiyears senilai Rp 155 milyar pada Balai Pelaksana Jalan Wilayah XII Kaltim dan Kaltara - KemenPUPR," ujar Febri.

KPK menduga telah terjadi beberapa kali pemberian uang kepada pihak penerima yang dilakukan secara tranfer bank. Pemberian uang itu berkaitan dengan posisi pejabat negara. 

Namun pemberian uang ini diduga tidak dilakukan secara langsung, pemberian uang diduga melalui transfer rekening ke ATM," ungkap Febri.

Menurutnya, pemberian uang yang diduga mencapai miliar rupiah lewat transfer itu dilakukan secara periodik kepada rekening milik perantara dan kemudian ATM-nya diberikan kepada pihak penerima.

"Nah uang di ATM itulah yang diduga diugunakan pihak penerima. Diduga sudah diterima sekitar Rp 1,5 miliar," ujar Febri.

Dalam OTT ini, Refli Rudy Tangkere dibekuk tim KPK di Jakarta saat ini sedang diperiksa intensif di Gedung KPK. Sementara tujuh orang lainnya yang diringkus di Kaltim sedang diperiksa di Mapolda Kaltim.

"Pihak yang diamankan di Kaltim akan dibawa besok ke Jakarta melalui penerbangan pagi," kata Febri.

KPK memiliki waktu 1 x 24 jam setelah OTT untuk menentukan status perkara dan status hukum para pihak yang ditangkap.

Febri berjanji informasi lebih rinci mengenai OTT ini akan disampaikan melalui konferensi pers.

"Besok konferensi pers direncanakan akan dilakukan pada sore atau malam hari," tutup Febri.

Sumber: suara.com

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

FB IMG 1570248601108

KELOMPOK MANA PENCULIK NINOY?

Oleh: Birgaldo Sinaga

Senin malam, 30 September 2019, menjadi malam yang paling tidak bisa dilupakan Ninoy Karundeng seumur hidupnya. Malam yang paling menakutkan baginya. Relawan Jokowi ini tidak menyangka hidupnya berada di ujung tanduk.

Maksud hati ingin meliput aksi demonstrasi, tapi apa daya malah nasibnya diseret dan dipukuli selama hampir 12 jam.

Bahkan hampir dibunuh andai ambulans yang dipesan untuk mengangkut mayatnya datang tepat waktu.

Siapakah mereka yang mau membunuh Ninoy?

Dua hari lalu, saat bertemu dengan Ninoy, saya mendengar pengakuan Ninoy. Ninoy tidak tahu siapa mereka. Siapa nama kelompok mereka. Tapi Ninoy masih mengenali banyak di antara mereka. Ada puluhan orang di Mesjid Al Falah Pejompongan itu malam dan subuh naas itu.

"Ini kali ke tiga saya meliput aksi demo Bang. Sebelumnya juga meliput pada aksi demo 23 dan 24 lalu", ujar Ninoy.

30 September 2018, sekitar pukul 20.00 WIB, Ninoy memutar motor scoopy metik miliknya dari arah BNI Pejompongan. Jalan dekat BNI Pejompongan sudah ditutup. Aparat mengarahkan pengendara berbalik ke arah Benhil.

Ninoy memutar arah. Saat memutar mata Ninoy melihat banyak demonstran terkena gas air mata. Demonstran ini sebagian dipapah. Mereka dibawa ke dalam gang. Di dalam gang ada sebuah mesjid. Mesjid Al Falah namanya.

Naluri jurnalis Ninoy muncul.

"Saya harus masuk ke dalam melihat apa yang terjadi", bisik Ninoy dalam hati.

Ninoy memarkirkan scoopy putihnya di pertigaan jalan dekat Mesjid Al Falah. Persisnya di seberang jalan warung Taichan.

Lalu Ninoy mengikuti para korban gas air mata itu masuk ke dalam gang. Hanya sepelemparan batu saja jaraknya.
Tiba di depan Mesjid, Ninoy mengambil beberapa gambar.

Cekrekk..cekrek..cekrekk.

"Woii ngapain kamu motret2. Darimana kamu? Siapa kamu?", teriak seseorang dari kerumunan.

Ninoy tergagap. Ia menjawab spontan.

"Saya dari Tangerang. Banten", jawab Ninoy.

Ninoy dipepet. Ia dikepung banyak orang. Ninoy tidak bisa berkutik. Hapenya dirampas. Tasnya dibuka. Ada laptop.

"Woii..kamu intel ya. Kamu polisi. Penyusup", teriak salah seorang dari mereka.

Tetiba..

Bukkk..plakkk..bukkk...plakkk...bukkk...

Bertubi-tubi pukulan mendarat di wajah dan kepala Ninoy. Ninoy dihajar beramai-ramai. Lalu ditarik masuk ke dalam mesjid.

Sudah cukup?

Belum.

Di dalam mesjid Ninoy diinterogasi. Interogasi yang dibarengi pukulan. Ancaman. Teror.

Seorang pria berpakaian medis menginterogasi Ninoy. Semua data di hape dan laptop diperiksa. Ada 3 hape dibawa Ninoy. Ketiga hape itu disimpan dalam tas kecil jinjing. Laptop disimpan dalam tas punggung hitam. Satu hape hilang saat Ninoy diseret beramai2 ke dalam mesjid.

Ninoy serba salah. Ia tidak bisa mengelak. Pukulan bertubi-tubi terus mendarat di muka dan kepalanya. Ia terus dipaksa mengaku siapa yang mengirimnya.

KTP Ninoy diperiksa. Agama Ninoy dipertanyakan. Ninoy diuji mengucapkan dua kalimat syahadat.

Ninoy bersikukuh independen. Ninoy bertahan dengan pengakuan itu. Tapi orang ramai itu tidak percaya. Mereka membuka laptop Ninoy.

Dan mereka semakin marah. Tulisan Ninoy dalam laptop membuat mereka semakin beringas. Ninoy dituduh menyerang kehormatan tokoh2 yang dekat dengan mereka.

Tanpa ampun Ninoy dihajar lagi. Terus menerus. Ditempeleng. Dipukul. Berkali-kali. Bibir Ninoy berdarah. Pelupuk mata Ninoy memar membengkak.

Ninoy tetap bertahan. Ninoy mengaku hanya seorang relawan Jokowi yang bekerja di Jokowi App untuk kampanye saja. Tugasnya sudah berakhir April lalu.

Mereka memeriksa pengakuan Ninoy. Ditemukan kartu tanda pengenal pers Jokowi App. Mereka semakin mengamuk. Pukulan mendarat lagi di wajah Ninoy.

Ada beberapa orang dari mereka kasihan melihat Ninoy. Darah mengucur deras dari bibir Ninoy. Mereka memberi obat agar pendarahan berhenti. Ninoy juga diberi roti dan air minum.

Malam semakin larut. Ninoy mengiba agar dipulangkan.

"Saya memohon berkali-kali agar dibebaskan tapi mereka tidak mau Bang", ujar Ninoy

Permintaan Ninoy tidak digubris. Orang-orang semakin ramai berdatangan.

Informasi penyusup masuk Mesjid Al Falah menyebar di kompleks mesjid.

Tak pelak orang-orang yang baru datang itu juga menghajar Ninoy. Mengumpat Ninoy. Mencaci maki Ninoy.

Subuh dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB, seseorang yang dipanggil habib datang. Ia langsung menginterogasi Ninoy. Juga memukuli Ninoy. Berkali-kali. Hingga Ninoy terhunyung-hunyung. Ninoy terus ditekan.

Ninoy dicecar dan didesak dengan pertanyaan asal kelompok Ninoy. Buzzer dari kelompok mana. Ninoy bertahan dengan pengakuannya. Independen. Tidak berafiliasi dengan kelompok manapun.

Nama-nama Abu Janda, Denny Siregar, Eko Kunthadi, Kajitow, Niluh Jelantik, Manuel Mawengkang disebut-sebut mereka.

"Nama Bang Bir juga disebut mereka", ucap Ninoy serius.

"Benarkah Bro?", tanya saya terkejut.

"Benar Bang Bir. Serius", balas Ninoy.

"Ahhh sejak zaman Ahok sudah sering masuk list ancaman bro. Jadi sudah biasa", balas saya mencoba tenang.

Ninoy mencoba mengingat subuh kejadian itu lagi. Nasibnya diujung tanduk. Ninoy menarik nafas panjang. Es coffee lemon yang kami minum itu terasa kecut.

"Saya ingat subuh itu ada seorang habib dipanggil", lanjut Ninoy.

"Orang yang dipanggil habib itu punya rencana gila", ucap Ninoy.

"Maksudnya", tanya saya.

Menurut Ninoy orang yang dipanggil habib itu meminta dipanggilkan mobil ambulance. Tujuannya untuk mengangkut mayat Ninoy. Lalu di jalan akan membuang mayat Ninoy. Entah di mana.

Ninoy mendengar terjadi perdebatan di antara mereka. Apakah Ninoy dibunuh atau tidak?

Ninoy yang mendengar rencana jahat mereka kontan ketakutan. Ia memohon2 agar tidak dibunuh. Ninoy terus memohon ampun. Menyembah mereka. Tapi mereka tidak bergeming. Ninoy harus dihabisi segera. Darah Ninoy halal.

Orang ramai itu sebagian setuju Ninoy dihabisi. Mereka takut jika dibiarkan hidup Ninoy akan melapor ke polisi.

Rencanapun disusun. Mereka sepakat Ninoy akan dibelah kepalanya menjelang bakda subuh. Ninoy akan dibelah kepalanya dengan kapak. Kapak sudah disediakan.

Syukurnya, mobil ambulance yang dipesan belum juga datang. Orang yang dipanggil habib itu terus menanyakan keberadaan mobil. Mobil ambulance yang akan dipakai mengangkut mayat Ninoy. Sudah menjelang subuh ambulance belum juga datang.

"Saya sudah pasrah Bang Bir. Kalau mati ya itulah takdirku", tutur Ninoy dengan suara lirih bergetar.

Orang yang dipanggil habib itu kehabisan waktu. Waktu eksekusi membunuh Ninoy semakin mepet. Subuh perlahan berganti pagi. Ia terus menanyakan mobil ambulance.

Akhirnya, mereka menyerah. Ninoy harus dilepas dari dalam mesjid. Rencana eksekusi dibatalkan. Orang2 itu berunding bagaimana melepaskan Ninoy.

"Kamu harus bertobat. Coba kamu sholat", perintah orang yang dipanggil habib itu pada Ninoy.

Ninoy lalu sholat. Usai sholat Ninoy diminta sumpah di atas kitab suci. Ninoy dipaksa menandatangani surat pernyataan maaf di kertas bermaterai. Ninoy diancam untuk tidak melapor ke polisi. KTP dan alamat rumah Ninoy dicatat.

"Saya hanya pasrah Bang Bir. Semua permintaan mereka saya turuti. Yang penting selamat", ujar Ninoy lirih.

Selasa, 1 Oktober 2019 sekitar pukul 07.00 WIB, Ninoy dibebaskan. Sebelum dibebaskan Ninoy diminta membuat pengakuan. Pengakuan bersalah dan pengakuan bertobat itu direkam video.

Seorang lelaki tim medis memesan mobil go box untuk mengantar Ninoy dan sepeda motornya pulang ke Tangerang.

Ninoy dipulangkan dengan mobil pick up go box. Ninoy duduk di samping supir dengan surban menutupi wajah dan kepalanya. Surban itu dililitkan seseorang agar luka memar bekas pukulan tidak tampak.

Tas jinjing kecil, tas punggung, hape dan laptop milik Ninoy diserahkan kembali. Hanya kartu sim hape dan eksternal hard disk drive disita mereka.

Dari pengakuan Ninoy ini kita bisa melihat bahwa mereka bukanlah warga biasa. Mereka adalah orang-orang yang terorganisir. Orang-orang yang faham dan mengerti bagaimana mengeksekusi orang. Musuh mereka.

Dari cerita Ninoy kita jadi faham ternyata mereka mengenali siapa musuh mereka. Siapa lawan mereka.

Mereka menyekap. Mereka menginterogasi. Mereka menculik. Mereka memukuli. Mereka menyiksa. Mereka mengancam. Mereka merencanakan pembunuhan. Mereka bersekongkol. Mereka bersiasat.

Apa tujuannya?

Teror. Ya teror pada kita. Agar kita yang selama ini vokal membuka kedok mereka takut. Agar kita yang selama ini membuat wajah mereka bopeng-bopeng bungkam. Timbul rasa takut.

Kelompok yang terorganisir ini harus diselidiki polisi. Siapa mereka? Apa motif mereka? Siapa target mereka berikutnya? Siapa otak jaringan mereka? Siapa mastermind dibelakang mereka?

Polisi harus bisa menguak tabir gelap ini. Menguak sampai ke inti jaringan mereka.

Membiarkan kasus penculikan dan rencana pembunuhan Ninoy dengan hanya mencokok orang2 di lapangan tidak akan menyelesaikan persoalan mendasar.

Kita dukung polisi untuk mencari dalang dan otak siapa di balik ini semua. Polisi tidak boleh takut menyebut kelompok penculik itu. Polisi harus berani membuka siapa kelompok itu. Terang benderang. Transparan. Agar publik tahu siapa mereka.

Kemarin Ninoy pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan MRI. Ia merasa kepala dan lehernya masih sakit.

Kita akan kawal kasus Ninoy. Kita akan terus menjaga Ninoy. Apa yang dialami Ninoy setidaknya alarm keras bagi kita. Bahwa kekerasan, teror, intimidasi dan pembungkaman nyata dan ada di depan kita.

Kita LAWAN..

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga

Sumber Artikel Asli:   https://www.facebook.com/1820404924838978/posts/2353178384894960/

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

Screenshot 20191014 150207

Anggota DPRD Kab. Dairi Periode 2019-2024 Resmi Dilantik Ketua Pengadilan Negeri Sidikalang

SitindaonNews.com - Senin, 14 Oktober 2019 sebanyak 35 orang anggota legislatif atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Dairi resmi dilantik dan diambil sumpahnya oleh Ketua Pengadilan Negeri Sidikalang.

Salah satu anggota dewan yang dilantik adalah Drs. Bona Hasudungan Sitindaon dari Partai Demokrat.

Drs. Bona Hasudungan Sitindaon adalah anak seorang guru yang berasal dari desa Silumboyah, Siempatnempu Dairi akan konsen untuk mengembangkan dan memajukan sistem pendidikan supaya lebih baik dan berkwalitas di Kabupaten Dairi.

Semoga apa yang menjadi program beliau kiranya dapat terlaksana dengan baik.

IMG 20191014 WA0024

IMG 20191014 WA0022

IMG 20191014 134944

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

Screenshot 20191004 152737

Zal sedang berada di sebuah kios tempatnya bekerja dan melihat sejumlah orang berkerumun mendatangi beberapa kios, termasuk ke kios tempatnya bekerja.

Kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua menjadi kisah kelam bagi seluruh warga perantau yang berada di daerah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

Tak terkecuali, Erizal (42) yang berasal dari Sungai Rampan, Koto Nan Tigo IV Koto Hilie, Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Erizal menjadi salah satu penyintas yang selamat saat kerusuhan di Wamena karena berpura-pura mati.

"Alhamdulillah saya berhasil selamat dari peristiwa waktu itu, namun sayang anak dan istri saya meninggal dunia karena terbakar," kata Erizal saat memulai menceritakan kisahnya di kantor ACT Sumbar di Ulak Karang seperti dilansir Antara di Padang, Selasa (1/10/2019).

Menurut keterangan dari Zal, saat peristiwa tersebut, ia sedang berada di sebuah kios tempatnya bekerja dan melihat sejumlah orang berkerumun mendatangi beberapa kios, termasuk ke kios tempatnya bekerja.

"Jumlah mereka sekitar 30-an orang dan kami sama sekali tidak mengenal mereka," ujarnya.

Ia beserta istri, anak dan beberapa orang lainnya mencoba menyelamatkan diri, namun terkepung di dalam rumah yang ada di belakang kios tersebut.

Kerumunan tersebut mengetahui keberadaan mereka dan memaksa untuk membuka pintu.

"Salah seorang kemenakan saya yang bernama Yoga mencoba menahan pintu, namun mereka berhasil mendobraknya, sehingga kami dilempari, ditembaki dengan panah dan kami semua sudah pasrah mati," katanya.

Ia melanjutkan, kemenakannya yang bernama Yoga tersebut beserta anak dan istrinya meninggal dunia karena ditikam dengan parang oleh mereka.

Sedangkan, ia berhasil menyelamatkan diri karena berpura-pura mati di dalam rumah tersebut. Namun, Zal tetap terkena luka bakar.

"Karena setelah kami ditikam, rumah itu dibakar namun saya cepat bangkit dan menyelamatkan diri tapi tetap saja kepala dan tangan saya terbakar," sambungnya.

Ia mencoba meminta bantuan kepada teman-teman yang ada di Kodim, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa lantaran mobil tidak bisa masuk ke sana.

"Dua jam setelah itu barulah bantuan datang, saya langsung dibawa ke rumah sakit diobati pihak medis karena mengalami luka bakar di beberapa badan saya," ujarnya.

Erizal mempunyai dua orang anak, anak pertama bernama James Lugian Rizal (13) tengah sekolah di SMP Serambi Mekah, Padang Panjang dan anak keduanya telah meninggal dunia beserta istri tercinta.

Ia mengatakan merantau ke Wamena sudah sekitar enam tahun lebih pergi berdagang mencari hidup, menafkahi keluarga dan mencari biaya untuk menyekolahkan anaknya.

"Selama enam tahun lebih di sana, hubungan saya dengan penduduk asli Papua baik-baik saja, kami tidak pernah ada konflik apapun," sambung dia.

Bahkan saat terjadi kericuhan pada 23 September 2019 penduduk di sana ikut membantu menyelamatkan mereka dari kericuhan.

Ia berharap konflik tersebut bisa segera terselesaikan, sehingga tidak banyak lagi korban jiwa yang berjatuhan dan para perantau Minang di sana bisa segera dipulangkan dari Wamena. (Antara)

Sumber: suara.com

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

IMG 20191014 050844Presiden Joko Widodo saat bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (10/10) siang ini.

Sitindaon News.com Partai Demokrat menyatakan akan tetap mendukung pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) selaku presiden terpilih. Demokrat mengklaim, dukungan itu akan diberikan terlepas dari posisi Demokrat di kabinet.

Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon mengatakan, sikap Demokrat akan mendukung pemerintahan Jokowi dalam lima tahun ke depan. Hal ini, kata Jansen, juga telah disampaikan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya 9 September 2019 lalu.

"Soal yang lain-lain seperti masuk di kabinet atau tidak, biarlah itu jadi otoritas dan kewenangan penuh Pak Jokowi," kata Jansen saat dihubungi Ahad (13/10).

Jansen juga menyatakan, Demokrat menyerahkan keputusan posisi di dalam atau di luar kabinet berada di tangan Jokowi. Jika memang dibutuhkan, Jansen pun menyatakan, Demokrat akan tetap menyiapkan kadernya.

"Kalau di Demokrat beliau lihat ada figur yang cocok dan punya kapasitas untuk membantu beliau 5 tahun ke depan tentu kita siap," kata Jansen Sitindaon.

Sebelumnya, SBY sudah menemui Jokowi. Jansen mengatakan, dirinya tidak mengetahui secara rinci pembicaraan apa yang dilakukan oleh SBY maupun Jokowi secara empat mata itu. Namun, pembicaraan itu diyakini Jansen tidak hanya bicara soal politik praktis.

"Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini mendampingi pak SBY, kalau pak SBY bertemu dengan seseorang pastilah yang selalu dibicarakan itu soal politik kebangsaan," kata dia.

Sebagai Presiden Keenam RI, tambah Jansen, konsentrasi utama SBY adalah agar Indonesia rukun, adem, stabil dan aman. Ia meyakini, pertemuan dengan Presiden Jokowi, materi pembicaraan mereka tidak lepas dari situasi kebangsaan Indonesia saat ini.

Pertemuan antara Jokowi dan SBY terjadi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (10/10). Menurut Jokowi, pertemuan empat mata ini dilakukan untuk membahas kondisi politik dan Tanah Air akhir-akhir ini.

"Yang banyak berkaitan politik, dengan situasi keadaan kota akhir-akhir ini," ujar Jokowi saat memberikan keterangan pers. Jokowi tak membantah dalam pertemuan ini juga dibahas rencana bergabungnya Partai Demokrat dalam kabinet di pemerintahan.

Sumber: republika.co.id

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

Screenshot 20191004 123558

 

Bila kisah tertangkapnya mafia bola di PSSI, dipicu dari Banjarnegara, Kamis (3/10/2019) juga ada berita terbaru dari Banjarnegara yang dapat membuka mata seluruh rakyat Indonesia. Berita terbaru tersebut adalah tentang beredarnya slip gaji bupati yang bila di bandingkan dengan kinerja akan sangat memiriskan hati.

Namun, juga bukan rahasia publik Indonesia lagi bahwa, gaji-gaji pejabat di Indonesia berdasarkan slip resminya memang kecil, tetapi pendapatan sripilan (sampingan) nya yang besar. Entah ada maksud apa, sehingga slip gaji bupati Banjarnegara tersebut sengaja di share ke media sosial oleh Pemkab Kabupaten Banjarnegara.

Slip gaji Bupati Banjarnegara bulan Oktober 2019 tersebar ke media massa. Dalam slip, gaji Bupati Banjarnegara hanya sebesar 6 juta sekian rupiah. Setelah di potong, peneremiaan bersih menjadi 5.9 jutaan. Bila membandingkan slip gaji-slip gaji lain, di bawah gaji pokok biasanya juga tercantum tunjangan-tunjangan lain, lalu diiringi oleh identifikasi potongan. Nah dalam slip gaji bupati Banjarnegara ini, hanya tertulis gaji utama tanpa ada tunjangan.

Pertanyaannya, apakah benar, slip gaji yang diposting di akun instagram resmi Pemkab Banjarnegara, Jawa Tengah, gaji bupati tak memiliki tunjangan ini dan itu. Bila hal itu benar, berarti seluruh kepala daerah di seluruh Indonesia juga memiliki nasib yang sama seperti Bupati Banjarnegara.

Lalu bagaimana para bupati minimal dapat menghidupi keluarganya? Mengembalikan dana partai yang telah mengusungnya? Serta kebutuhan lain-lainnya?

Pantas saja, selama ini kita begitu sering mendengar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkapi pemimpin daerah (Bupati/Wali Kota) di seluruh Indonesia karena terjaring OTT oleh KPK. Mustahil, bupati dapat hidup dengan uang gaji seperti demikian bila tidak ada sampingan lain, plus pendapatan negatif dari upaya korup.

Atas beredarnya slip gajinya di media sosial, Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono tidak mempermasalahkan. Ia justru berharap agar Presiden membacanya. 

"Tidak masalah dipublikasikan, kenyataannya memang Rp 5.961.200. Ini slipnya masih ada," ujarnya saat dikonfirmasi oleh awak media, Kamis (3/10/2019) di Banjarnegara. Budi berharap agar informasi ini sampai ke Presiden Joko Widodo karena faktanya gaji bupati saat ini masih rendah, jika dibandingkan dengan gaji DPRD, gaji bupati jauh di bawahnya. 

Sejatinya, perihal besaran gaji bupati yang terbilang rendah juga sempat disampaikan dalam paguyuban bupati seluruh Indonesia. Ia melihat kondisi ini justru rawan untuk bupati melakukan korupsi dan benar saja sudah berapa bupati di tangkap KPK.

Sengaja disebarkannya slip gaji bupati Banjarnegara, pun dengan tujuan agar Presiden tahu kondisi apresiasi negara kepada pejabat bupati, memang wajib menjadi perhatian. Terlebih, kini setelah DPR baru dan sebentar lagi ada pelantikan pemerintahan kabinet baru, maka harus ada upaya keadilan terhadap penghargaan pejabat-pejabat di bawah yang sama-sama berjuang untuk rakyat.

Bisa dibayangkan, anggota DPR saja menerima gaji dan tunjangan sudah cukup besar, namun mereka masih melakukan upaya korupsi dan sudah terbukti beberapa anggota dewan menjadi pesakitan di KPK.

Rakyatpun  menjadi tahu, mengapa DPR dan anggota DPR ngotot agar Presiden tidak mengeluarkan Perppu tentang revisi UU KPK, karena siapa biang keladi terbanyak dari aktor koruptor di Indonesia, merekalah orang-orang partai yang duduk di DPR dan menjabat menjadi pemimpin daerah.

Bahkan, rakyat pun bertanya, mengapa para tokoh yang kini dielu-elukan tetap dapat melenggang menjadi anggota DPR baru, hingga terpilih menjadi pimpinan DPR? Padahal dari ketua dan wakil DPR terpilih, kelimanya masih disinyalir tersandung kasus korupsi E-KTP, kasus uang di kardus durian, kasus suap dana perimbangan daerah, dan kasus korupsi lainnya.

Apa kabar Perppu tentang revisi UU KPK Bapak Presiden? Bagaimana dengan slip gaji bupati Banjarnegara yang sengaja diviralkan agar Bapak tahu kondisi ini? Lalu mengapa anggota dewan korup saja masih bisa memimpin dan mengatasnamakan mewakili rakyat.

Sumber: indonesiana.id

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

Screenshot 20191012 200236foto atas: upaya pembunuhan Presiden Ronald Reagan.
foto bawah: Peristiwa di alun-alun Menes, Pandeglang, Banten. (Detiik)

UPAYA PEMBUNUHAN MENKOPOLHUKAM: CLEAR AND PRESENT DANGER!

Pejabat tinggi negara diserang secara brutal dan terbuka, di depan khalayak, akhirnya terjadi (lagi) dan membuat kita semua kaget dan terperangah!

Saya menyebut kata, (lagi), karena sejatinya dahulu pernah terjadi peristiwa ‘Granat Cikini’ pada tanggal 30 November 1957, sasarannya adalah Presiden Soekarno sendiri! Senjata yang dipakai tidak main-main -granat nanas- dan bukan hanya satu, tetapi beberapa buah!

Pelaku salah perhitungan. Saat granat pertama, sebagai pemancing, telah meledak, diperkirakan Presiden dan dua anaknya -Guntur Soekarno Putra dan Megawati Soekarno Putri- akan dibawa Pengawal Presiden berlindung masuk ke dalam mobil kepresidenan, sebuah Chrysler Crown Imperial hadiah Raja Arab Saudi, maka granat kedua dan seterusnya dilemparkan para pelaku, ya, ke arah mobil! Nyatanya, Presiden dan keluarga justru dibawa masuk berlindung ke rumah terdekat dari TKP! Selamatlah Sang Proklamator. Mobil hancur, 7 orang meninggal seketika, dua di rumah sakit dan ratusan orang terluka dan cacat seumur hidup.
Penyerangnya sungguh biadab. Korbannya sebagian besar anak-anak, karena Soekarno memang tengah diundang untuk memperingati ulang tahun ke-15 Perguruan Cikini, tempat Guntur dan Mega sekolah.

Penyerangan nekad pada Soekarno dan Wiranto, bisa dibilang terkait masalah politik, namun peristiwa paling konyol adalah upaya pembunuhan terhadap presiden AS ke-40, Ronald Reagan, pada 30 Maret 1981 di halaman Hotel Hilton Washington, dilakukan oleh pelaku tunggal-John Hinckley Jr – semata-mata karena ingin menarik perhatian artis idolanya, Jodie Foster!
Setelah menonton film Taxi Driver (produksi 1976, sutradara Martin Scorsese) yang dibintangi oleh Jodie, Hinckley rupanya naksir berat. Segala upaya ia lakukan agar Jodie tahu kalau ia sungguh cinta dan mabuk kepayang. Puluhan surat dan telepon tak membuahkan hasil, maka, jalan sinting pun ia lakukan.

Pelaku tahu kalau Reagan akan lewat di depannya setelah pidato, celakanya, Secret Service (pengawal Presiden) melakukan kesalahan fatal dengan membiarkan kerumunan massa –tak disteril- bisa mendekat hingga berjarak hanya lima meter dari Presiden, termasuk Hinckley!

Penggemar gila itu segera mencabut revolver Rohm RG-14 kaliber 22 mm, dan memberondong 6 peluru dalam waktu 1,7 detik! Karena tegang sendiri, gugup atau amatir, semua tembakan meleset!
Begitu letusan pertama terdengar, secara naluri beberapa pengawal segera menubruk Presiden agar tiarap, saat itulah salah satu peluru yang mengenai mobil kepresidenan justru memantul balik ke arah Presiden! Merobek lengan bawah, menjebol iga dan menembus paru-paru! Limosin kepresidenan memang dibuat tahan peluru, tapi baja yang melapisi mobil itu jutru hendak membunuh Reagan!
Sempat mengalami kritis gawat, namun berkat kesigapan tim medis, nyawa Reagan berhasil diselamatkan.

Nah, ternyata Soekarno, Reagan dan Wiranto mengalami upaya pembunuhan dengan pola yang sama: mereka diserang pada saat acara utama TELAH selesai!
Soekarno hendak pulang, Reagan selesai pidato dan Wiranto saat menuju helikopter yang akan membawanya kembali ke Ibukota.
Mengapa setelah usai acara? Ya, karena di saat itulah penjagaan biasanya mulai mengendur, petugas -bisa jadi- telah lelah karena terus bersiaga semenjak pagi. 'Human error' seperti ini bisa terjadi dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja. Agaknya momen inilah yang harus segera diantisipasi di masa mendatang.

Dan, mirisnya, di saat nyawa pejabat penting negara sedang dalam bahaya, terdengar cuitan konyol seorang anggota DPRD, SR, yang menuduh peristiwa itu hanya settingan! Kemana suaramu, Bu, saat seorang dosen ketahuan membuat serangkaian bom teror?

Atau, seorang artis –meragukan – penyerangan, dengan berkicau: “kalau niatnya emang membunuh, kenapa pisaunya kecil ya”
Betapa bodoh cara berpikirnya. Mari saya balik: kalau senjata tajam kecil, yang dengan mudah bisa disembunyikan, bisa mematikan, mengapa harus berisiko membawa yang panjang? Bukankah di tangan seorang pembunuh profesional sebuah pulpen bisa juga menjadi senjata yang mematikan?

Sesuai judul tulisan –Clear and Present Danger- sejatinya adalah novel (yang sudah difilmkan dengan titel yang sama), karangan Tom Clancy (The hunt for Red October, Patriot Games, Cardinal of The Kremlin, The Sum of All Fears) penulis spionase dan teknologi militer idola saya, yang terkenal akan detilnya, merupakan kutipan ucapan Admiral James Greer saat ia mengetahui ancaman narkoba dari Amerika Selatan sudah dalam taraf membahayakan keamanan nasional karena bisa ‘membeli’ pejabat tinggi di lingkungan Gedung Putih, “Its clear and present danger” Jadi, jaringan narkoba harus dibasmi hingga ke akar-akarnya.

Maka, penyerangan di Menes jelas sudah membahayakan nyawa pejabat tinggi negara dan Keamanan Nasional dipertaruhkan, maka, saya juga bisa bilang, “its clear and present danger!”
NKRI harus dilindungi!

Gunawan Wibisono

foto 1: upaya pembunuhan Presiden Ronald Reagan.
foto 2: Peristiwa di alun-alun Menes, Pandeglang, Banten. (Detik)

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2686536461437722&id=803774136380640

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

FB IMG 1570162700160

ENAM JAM BERSAMA NINOY

Oleh: Birgaldo Sinaga

Kamis, 3 Oktober 2019.

"Saya tunggu di depan mesjid. Sekarang bang", ucap Ninoy di seberang handphone.

Saya segera meluncur dari Bandara Soetta. Usai mengantar seorang teman. Menuju tempat yang sudah ditentukan. Di bilangan Sudirman. Jam menunjukkan pukul 16.30 WIB.

Tidak sulit mencari lokasi itu. Persis di depan mesjid berwarna krem itu seorang pria berkaos oblong warna abu-abu padu celana jeans biru melambaikan tangannya.

Saya membalas. Melambaikan tangan dari jauh. Wajahnya ditutup masker. Kacamata hitam menutupi kedua matanya.

Topi pet menutupi rambut pendeknya. Tas kecil berwarna hitam menggantung di pundak kirinya. Sekilas ia jadi mirip penyidik KPK saat menggeledah rumah tersangka OTT.

Kami berpelukan. Saya memeluknya erat. Lama. Menepuk punggungnya. Senang haru melihatnya selamat.

"Kita keluar dari sini Bang", ajak Ninoy sambil clingak clinguk melihat sekeliling. Matanya awas.

Kami berjalan cepat. Menuju parkiran mobil. Sepelemparan batu jaraknya.

"Ahh lega rasanya", ucap Ninoy sambil menyandarkan punggungnya di jok mobil.

Ia membuka masker dan kaca matanya. Tampak di bibir atas kiri luka bekas pukulan sudah mengering. Mata sebelah kiri masih lebam dengan warna menghitam.

Lebam itu melingkar di bawah pelupuk mata. Sudah mengempis. Di banding video yang menyebar pada 1 Oktober lalu.

"Kita ngopi dulu ya", ajak saya. Ninoy setuju. Saya menyetir. Kami berputar arah menuju kawasan Senayan. Mencari tempat nongkrong. Kami haus. Kopi es lemon menemani kami ngobrol.

Ceritanya begini.

Senin, 30 September 2019, pukul 14.00 WIB, Ninoy pamit keluar rumah. Dari bilangan Tangerang, Ninoy memacu sepeda motor Scoopy matik menuju Senayan. Tepatnya seputaran Gedung DPR MPR.

Sekitar sore hari Ninoy tiba di Senayan.Tas punggung hitam berisi laptop dibawanya.

Aksi demo di luar gedung DPR MPR masih berlangsung. Matahari sudah tenggelam. Suara teriakan demonstran masih kencang terdengar. Ninoy mengambil foto. Dengan kamera hapenya.

Usai mengambil gambar, Ninoy berbalik ke bilangan Penjompongan. Ia memacu scoopy. Ia mau keliling melihat situasi lain.

Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Di pojokan masuk sebuah gang, Ninoy melihat banyak orang. Rupanya para demonstran. Ada yang dipapah karena terkena gas air mata.

Naluri jurnalistik Ninoy berbisik. Ia segera memarkir motornya. Lalu, berjalan mendekat ke arah kerumunan orang itu.

Cekrek..cekrekk...cekrekk.
Ninoy berhasil mengambil gambar.

"Woy ngapain elo ambil gambar!!", bentak seorang pria.

Kontan kerumunan orang itu melihat Ninoy. Ninoy dipepet. Hapenya dirampas.

"Siapa elo. Ngapain di sini!!", bentak pria itu lagi.

Tanpa ba bi bu Ninoy dikerubuti. Pukulan melayang ke tubuhnya. Ninoy dibawa ke sebuah mesjid. Massa semakin ramai. Bertubi-tubi pukulan dan tamparan diterima Ninoy. Ninoy tak bisa mengelak.

"Saya sudah pasrah saja Bang malam itu", ujar Ninoy bergetar.

"Apa yang terjadi?", tanya saya.

"Saya mau dihabisi. Saya mendengar rencana mereka mau membunuh saya. Pake kampak membelah kepala saya. Lalu membuang mayat saya", ucap Ninoy. Saya merinding.

"Lalu apa yang terjadi?"

"Saya memohon-mohon. Mengiba. Meminta belas kasihan mereka. Beberapa kali saya memohon2", ujar Ninoy sambil memperagakan kedua tangannya memohon ampun.

Di dalam mesjid itu, Ninoy diinterogasi. KTPnya diperiksa. Mereka tidak percaya Ninoy beragama Islam. Ninoy dicecar pertanyaan. Berulang2.

Ada puluhan orang dengan sorot mata tajam. Mereka anggota ormas yang terkenal sering melakukan kekerasan.

Laptop Ninoy dibuka. Isinya diperiksa.
Dan kemarahanpun semakin menjadi-jadi. Massa semakin jengkel. Tulisan Ninoy banyak menyerang tokoh2 yang dekat dengan mereka.

"Saya sudah berpikir bakal mati Bang. Sudah gak bisa ngapa-ngapain. Pukulan dan tamparan terus menghajar saya. Suara habisi nyawa saya berseliweran terdengar dari mereka".

"Saya seperti berada dalam tawanan ISIS bang. Menunggu ajal saja", ujar Ninoy lirih.

"Kamu mengaku saja. Siapa jaringanmu. Kamu jangan bohong. Maunya aku kamu diselesaikan saja. Untung masih ada yang kasihan sama kamu", ancam seorang pria yang suaranya berlogat dari Indonesia Timur.

Ninoy tak bisa berkelit. Dari mulutnya mengalir pengakuan Ninoy bekerja di Jokowi App. Bergaji Rp 3.2 juta. Bekerja sendirian. Tidak berafiliasi dengan jaringan lainnya.

Tapi mereka tidak percaya. Ninoy terus didesak. Nama jaringan Abu Janda disebut-sebut pria yang menginterogasi Ninoy.

Malam beranjak subuh. Ninoy masih disekap dan terus diinterogasi. Berulang2 dengan pertanyaan yang sama. Data laptopnya diambil.

"Kamu coba sholat subuh", paksa seorang pria.

Rupanya mereka masih belum percaya Ninoy seorang muslim. Sebelumnya Ninoy diuji mengucapkan dua kalimat syahadat. Disumpah pake kitab suci. Lolos. Tapi mereka belum yakin. Hingga Ninoy diminta sholat. Berhasil.

Sudah hampir 12 jam Ninoy disekap. Sinar matahari sudah menyeruak masuk ke dinding jendela mesjid.

"Kita pulangkan saja dia", ujar seorang massa.

Pagi sekitar pukul 07.00 WIB, mobil go box dipesan mereka. Sepeda motor Ninoy tidak bisa dihidupkan. Kuncinya hilang. Hilang saat dikerubuti massa pas malam kejadian.

Motor Ninoy dinaikkan ke atas mobil pick up. Ninoy memakai baju lengan panjang coklat daleman kaos oblong hitam. Wajah dan kepalanya dililit sorban. Menutupi lebam luka matanya.

Ninoy selamat. Sebelum dipulangkan Ninoy dipaksa membuat surat pernyataan. Isinya permintaan maaf. Hanya kesalahfahaman.

"Saya tak punya pilihan lain bang. Yang penting saya selamat saja", ujar Ninoy sambil menyeruput es kopi lemon.

Usai minum, kami memutuskan pergi dari Senayan. Singgah ke suatu tempat untuk mengambil laptop. Laptop yang akan menjadi barang bukti untuk diserahkan ke polisi.

Ninoy kembali memasang masker. Menutupi mulut dan hidungnya. Dengan kacamata. Dengan topi. Ada rasa ketakutan. Harus waspada.

Kami meluncur kencang. Berbalik arah. Menuju tempat rahasia. Yang hanya dia yang tahu.

Ninoy seperti Jason Bourne dalam film serial Bourne. Film yang dibintangi Matt Damon. Seorang prajurit spesial yang sedang diburu musuh. Diburu karena mempunyai informasi rahasia. Saya seperti dalam film itu. Menegangkan.

Ninoy berada dalam situasi yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Berada dalam situasi hidup dan mati. Istrinya sudah dimintanya mengungsi sementara. Pun juga anak2nya.

Malam semakin larut. Kami membelah jalan tol Slipi menuju Jakarta Kota. Perut kami sudah keroncongan. Kami mencari warung Padang. Makanan selera nusantara.

"Saya tidak takut bang. Saya akan lawan mereka", ujar Ninoy di kedai itu.

Sebelumnya, beberapa jam usai dibebaskan, saya menelepon Ninoy. Mencari tahu keberadaannya. Memberi dukungan moril. Mengharapkannya tidak takut. Memintanya melaporkan ke polisi.

"Apa yang terjadi sama elo bisa saja terjadi sama gue juga suatu saat. Sama teman2 yang lain juga. Sama siapapun yang melawan agenda khilafah mereka", ujar saya.

Ninoy mengangguk. Ia mengutak atik hapenya. Mencari nomor istrinya. Meneleponnya.

"Segera pergi dari sana. Ikuti saja perintah saya. Jangan lupa beri makan kucing sebelum pergi. Nanti saya hubungi lagi. I love you", ucap Ninoy tegas.

Ninoy khawatir keselamatan istrinya. Juga nasib kucing-kucingnya. Sebentar-sebentar ia menelepon istrinya. Memastikan semua aman.

Apa yang terjadi pada Ninoy adalah bagian dari skenario untuk meneror kita. Kita yang selama ini berdiri menghadang agenda mereka. Agenda yang berlawanan dengan para founding fathers republik.

Pesan kelompok pengusung khilafah ini ingin menakut-nakuti pendukung Jokowi yang selama ini berdiri teguh melawan rencana mereka.

Salah satu yang mengancam mau menghabisi Ninoy ditengarai polisi seorang mantan kerusuhan Poso. Ia punya ciri luka di jarinya.

Ancaman dan teror kelompok pengasong khilafah ini tentu tidak main-main. Terbukti Ninoy mau dihabisi nyawanya. Mau dibelah kepalanya. Sudah dirancang eksekusinya.

Syukurnya Ninoy muslim. Bisa mengucap dua kalimat syahadat. Bisa sholat. Bagaimana jika Ninoy non muslim? Apa yang bakal terjadi?

Kekerasan berbuntut teror untuk menyumpal mulut kita harus kita lawan. Mereka tidak akan berhenti berusaha membungkam mulut kita. Penyiksaan dan penyekapan menjadi alat mereka untuk menakit-nakuti kita.

Pilihannya ada dua. Kita takut. Atau kita melawan.

Jika kita takut maka negara ini akan luluh lantak. Tragedi kemanusiaan bakal terjadi seperti di Timur Tengah sana.

Seperti di Libya, Suriah dan Iraq. Ketika orang2 sipil biasa seperti kita akhirnya harus hidup dalam ketakutan dan penderitaan.

Hari ini Ninoy yang mengalaminya. Esok bisa saja saya. Kamu. Atau keluargamu.

Itu bisa terjadi jika kita takut dan memberi mereka panggung untuk menakut-nakuti kita.

Negara kita adalah hukum. Hukum menjadi konsensus nasional dalam menyelesaikan persoalan berbangsa dan bernegara. Hukum menjadi alat untuk menyelesaikan perbedaan2 yang terjadi.

Bukan dengan ancaman. Bukan dengan pukulan. Bukan dengan penyekapan. Bukan dengan penculikan. Bukan dengan pisau. Pedang atau peluru.

Membiarkan tindakan keji mereka tanpa perlawanan sama saja membiarkan pedang menempel di leher kita.

Maka tidak ada jalan lain selain melawan mereka. Kita semua anak bangsa harus bersatu bahu membahu. Kita harus bergandengan tangan melawan mereka.

Melawan siapapun yang menghalalkan kekerasan sebagai jalan teror merampas kebebasan kita. Merampas hak-hak keadilan dan kemanusiaan kita.

Ninoy tidak surut. Ia akan terus berjuang. Sekalipun trauma itu akan membuatnya bermimpi buruk.

Tetapi mimpi buruk pernah disiksa itu akan menjadi mimpi indah. Menjadi mimpi indah andai perjuangan Ninoy membela Jokowi dan negeri ini terus kita perjuangkan bersama. Tanpa takut. Tanpa gentar. Tanpa surut. Utuh penuh.

Pukul 23.30 WIB, saya mengantar Ninoy ke arah Selatan. Mengambil kendaraannya. Mengawalnya hingga semuanya aman.

Kami berpisah. Ninoy ke kiri, saya ke kanan. Lambaian tangan perpisahannya memberi keyakinan pada saya bahwa Ninoy akan baik-baik saja. Ia pejuang yang kuat.

Tetap kuat dan semangat kawan. Saya dan teman2 seperjuangan akan terus bersama perjuanganmu.

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga

Sumber: https://www.facebook.com/1820404924838978/posts/2352379071641558/

0
0
0
s2sdefault