EPA

Kapal-kapal kargo terlihat di Teluk Persia dekat Pulau Qeshm di provinsi Hormozgan, Iran, 23 Desember 2011 (diterbitkan ulang 20 Maret 2026). 70% pengiriman maritim di Selat Hormuz telah menurun sejak ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat pada 28 Februari 2026.

Iran diprediksi menjadi negara super power usai perang.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Anggota Dewan Iran Alaeddin Boroujerdi, pada Ahad (22/3/2026) mengungkapkan bahwa Teheran telah memulai penerapan tarif 2 juta dolar AS bagi setiap kapal tanker yang ingin melintas di Selat Hormuz. Dilaporkan The Cradle, Selasa (24/3/2026), kebijakan Iran itu disebut Boroujerdi sebagai langkah menuju suatu "kedaulatan rezim" baru atas jalur laut strategis.

"Mengumpulkan 2 juta dolar AS biaya transit bagi kapal-kapal yang melintas di selat (Hormuz) merefleksikan kekuatan Iran," ujar Boroujerdi kepada IRIB, menambahkan bahwa "perang memiliki ongkos."

Boroujerdi, yang juga anggota Komite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional parlemen mengatakan, bahwa tarif perlintasan di Selat Hormuz merefleksikan tuntutan atas kontrol setelah beberapa dekade penerapan norma yang kemudian dibalikkan oleh serangan AS-Israel terhadap Iran.

Tidak hanya media Iran, media Barat seperti Bloomberg dan Lloyd’s List Intelligence, melaporkan bahwa Iran telah memulai menerapkan tarif tol terhadap kapal-kapal tanker yang ingin melintasi secara aman di Selat Hormuz. 

Pembayaran dilaporkan diminta Iran berdasarkan tujuan spesifik, di mana beberapa kapal sudah mematahui aturan yang secara efektif menciptakan sebuah sistem pembayaran informal tol di salah satu koridor energi paling penting di dunia. Mekanisme pemungutan tarif belum jelas, termasuk bagaimana kapal-kapal melakukan pembayaran dan mata uang apa yang digunakan. 

Menurut beberapa pejabat Iran, penerapan tarif di Selat Hormuz, sebagai bagian dari pendekatan lebih luas pada masa perang, guna membiaya beban finansial dari eskalasi militer dan disrupsi keamanan maritim yang masih berlangsung. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, Selat Hormuz tetap terbuka, tapi hanya untuk negara-negara yang dianggap bersahabat.

Iran saat ini mempersilakan kapal-kapal dari negara tak terlibat agresi untuk melintas, sambil membatasi kapal yang terkait dengan negara yang terlibat dalam serangan terhadap Iran. Sejauh ini setidaknya hanya lima negara yakni China, India, Turki, Pakistan, dan Thailand yang telah berkoordinasi atau bernegosiasi langsung dengan otoritas Iran agar bisa melintas secara aman.

Menurut Lloyd’s List Intelligence, dilansir bne Intellinews, Selasa, jumlah kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz terus bertambah seiring dengan penerapan sistem pembayaran tol yang diterapkan Iran. Kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz diarahkan ke wilayah perairan Iran lwa sebuah rute yang disebut sebagai "Stan Tol Teheran' yang meninggalkan dua jalur internasional di tengah selat yang biasa dilalui kapal-kapal komersial. 

Pada Selasa, setidaknya ada 20 kapal yang telah bergerak mengambil jalur antara pulau Qeshm dan Larak seperti yang diarahkan oleh otoritas Iran. Analis dari Lloyd’s List Intelligence mengungkapkan bahwa sedikitnya 16 kapal transit di Selat Hormuz sejak 20 Maret, di mana 12 kapal berlayar melalui koridor yang dikontrol Iran.

Setidaknya dua kapal diketahui telah membayar tol ke Iran, di mana satu kapal dilaporkan membayar sekitar 2 juta dolar AS. Koridor itu saat ini diawasi oleh IRGC yang melakukan verifikasi terhadap detail kapal, dan untuk beberapa kasus, menerapkan tarif tol untuk transit.

Meski jumlah kapal yang sudah bisa melintas masih di bawah rata-rata 100 kapal yang melintasi Selat Hormuz per harinya, perkembangan terbaru menggambarkan adaptasi terhadap aturan informasi baru. Adapun, jumlah minyak yang keluar dari Teluk Persia saat ini telah meningkat di angka 8 juta barel per hari menurut estimasi bne IntelliNews.  

Keajaiban ekonomi

Seiring pecahnya perang antara AS-Israel dan Iran, seorang profesor mendadak populer di internet lantaran analisis dan prediksi yang sampai membuatnya dijuluki sebagai 'Nostradamus China'. Dia adalah Profesor Xueqin Jiang yang membagikan prediksi-prediksinya secara reguler lewat akun YouTube, Predictive History.

Salah satu prediksi Jiang adalah Iran akan memenangi perang ini dan akan menuntut biaya reparasi akibat perang dari AS dan Israel. Uang dari reparasi itu ditambah hasil dari penerapan biaya tol di Selat Hormuz, menurut Jiang, kemudian akan digunakan Iran untuk membangun ekonominya kembali setelah puluhan tahun dijerat oleh beragam sanksi internasional.

"Kita bicara uang yang sangat banyak, triliunan dolar, dan apa yang akan dilakukan Iran terhadap uang itu? Iran akan menggunakannya untuk membangun ekonominya, sehingga dalam 5-10 tahun akan terjadi 'keajaiban ekonomi'. Iran akan menjalankan industrialisasi dengan cepat, dan sebagai hasilnya AS meninggalkan Timur Tengah dan Iran menjadi negara super power," kata Jiang dalam satu pemaparan di kelasnya.

Sumber: Republika republika.co.id