Search
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 10
JEMAAT UNTUK DIGEMBALAKAN, BUKAN DIMANFAATKAN
Jemaat adalah jiwa-jiwa yang dipercayakan Tuhan untuk dibina, dijaga, dan dituntun bertumbuh dalam iman. Karena itu pelayanan seharusnya lahir dari kasih dan hati seorang gembala, bukan dari kepentingan pribadi.
Namun realitanya, kadang ada jemaat yang merasa hanya dicari saat dibutuhkan—tenaganya, uangnya, koneksinya, atau loyalitasnya.
Dekat ketika ada kepentingan.
Diperhatikan ketika bisa membantu.
Tetapi saat sedang lemah atau terluka, justru merasa sendirian.
Ironisnya, gereja yang seharusnya menjadi tempat pemulihan bisa terasa seperti tempat pemanfaatan jika kasih dan penggembalaan mulai hilang.
Padahal Tuhan Yesus datang bukan untuk memakai manusia demi keuntungan-Nya, tetapi untuk melayani dan memberikan hidup-Nya bagi banyak orang.
Karena itu pemimpin rohani dan pelayan Tuhan perlu terus menjaga hati, supaya jemaat tidak dipandang sebagai alat, aset, atau sumber kepentingan.
Sebab jiwa manusia jauh lebih berharga daripada ambisi, popularitas, atau keuntungan apa pun.
“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu… jangan karena mau mencari keuntungan.” (1 Petrus 5:2)
Sumber: FB AtengJabar https://www.facebook.com/share/p/1EnAFayc5k/
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 101
PENDETA YANG MERASA HANYA DIRINYA YANG LAYAK DIDENGAR SEDANG BERADA DALAM BAHAYA BESAR.
Kalimat ini menyoroti kondisi berbahaya ketika seorang pendeta mulai menikmati posisi rohaninya lebih daripada menjaga hatinya di hadapan Tuhan. Awalnya ia dipakai Tuhan untuk melayani, tetapi perlahan pelayanan mimbar membentuk perasaan bahwa dirinya paling benar, paling rohani, dan paling layak didengar. Di titik itu, ego telah memerintah di dalam dirinya.
Yang mengerikan, ia masih bisa berkhotbah di depan jemaat, tetapi tidak lagi memiliki kerendahan hati untuk menerima nasihat. Ia senang menegur orang lain, tetapi marah ketika dirinya ditegur. Ia ingin dihormati sebagai hamba Tuhan, tetapi tidak lagi rela duduk sebagai murid yang mau diajar.
Saat seorang pendeta mulai sulit dikoreksi, sebenarnya itu bukan hanya masalah karakter, tetapi tanda bahwa hatinya kehilangan takut akan Tuhan. Sebab orang yang benar-benar dekat dengan Tuhan akan semakin sadar betapa rapuh dirinya tanpa anugerah Tuhan dan selalu bersedia dikoreksi setiap waktu.
Ego rohani sangat licik. Ia bisa tumbuh di balik tepuk tangan jemaat, popularitas pelayanan, dan besarnya gereja. Pendeta mulai dikelilingi orang-orang yang hanya memuji, sehingga ia tidak lagi terbiasa mendengar kebenaran yang melukai kesombongannya.
Pesan untuk kita, terkhusus untuk kami para pendeta: Tidak ada satu pun dari kita yang begitu layak di hadapan Tuhan sampai tidak lagi membutuhkan teguran, pertobatan, dan anugerah-Nya. Jika hari ini kita masih bisa berdiri, melayani, berkhotbah, dan dipakai Tuhan, itu bukan karena kita lebih suci dari orang lain, tetapi semata-mata karena kemurahan Tuhan.
Semakin seseorang merasa dirinya paling layak didengar, paling rohani, dan paling benar, semakin ia sedang lupa bahwa semua manusia hanyalah debu yang hidup oleh kasih karunia. Kelayakan di hadapan Tuhan tidak dibangun oleh besar kecilnya gereja, banyaknya jemaat, atau terkenalnya pelayanan, tetapi oleh hati yang tetap rendah, takut akan Tuhan, dan mau terus dibentuk oleh kebenaran.
[Pdt. Samuel Pasaribu https://www.facebook.com/share/1BK36jb1Zy/
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 136
Ibadah Minggu 10 Mei 2026 HKBP Perumnas Mandala Resort Perumnas Mandala Distrik X Medan-Aceh.
Minggu Rogate
Topik: Tetap Berdoa
Pengkhotbah: Biv.D.N. Lumbantobing, SAg
Renungan diambil dari Kitab Kolose 1:9-14
1:9 Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,
1:10 sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,
1:11 dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar,
1:12 dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.
1:13 Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;
1:14 di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 93
JEMAAT KAYA HAUS PUJIAN?
PENDETA PUN IKUT MENIKMATI?
Ketika memberi tidak lagi murni sebagai penyembahan, tetapi perlahan berubah menjadi sarana untuk dilihat, di situlah pergeseran mulai terjadi. Semakin besar persembahan, semakin besar pula godaan untuk diakui. Nama ingin disebut, kebaikan ingin disorot, dan pemberian yang seharusnya tersembunyi mulai diarahkan menjadi sesuatu yang terlihat. Hati tidak lagi sepenuhnya tertuju kepada Tuhan, melainkan mulai mencari perhatian manusia.
Ketika motivasi bergeser, tindakan yang terlihat rohani bisa kehilangan maknanya. Memberi tetap dilakukan, tetapi esensinya (maknanya) berubah, dari penyembahan menjadi pertunjukan diri. Inilah bahaya yang halus namun serius. Ibadah bisa tetap berjalan, persembahan tetap diberikan, tetapi hati sudah bengkok.
Lebih tragis lagi ketika mimbar tidak lagi mengoreksi arah ini. Pendeta yang dipanggil untuk menggembalakan, perlahan tergoda untuk menikmati posisi. Ia tidak lagi berdiri sebagai suara yang menegur, tetapi menjadi bagian dari sistem yang sama, membiarkan, bahkan merawat budaya pujian kepada manusia. Tidak ada konfrontasi, tidak ada pembongkaran, hanya kenyamanan yang dipertahankan bersama.
Hubungan yang seharusnya murni di hadapan Tuhan—antara jemaat dan pendeta, bergeser menjadi relasi timbal balik yang tidak sehat. Ketika seseorang memberi persembahan dalam jumlah besar, secara halus muncul harapan untuk diperlakukan lebih: lebih diperhatikan, lebih dihormati, lebih diistimewakan.
Fenomena ini nyata dan banyak terjadi di sekitar kita dan ketika melihat hal seperti ini, teguran tidak boleh hilang, tetapi harus disampaikan dengan kasih. Memberi, melayani, dan beribadah bukan untuk dilihat manusia, tetapi sebagai bentuk penyembahan yang murni. Ketika ada keinginan untuk diakui mulai muncul, itu tanda bahwa hati perlu diperiksa, bukan dibenarkan.
[Pdt. Samuel Pasaribu https://www.facebook.com/share/p/1CkeAydP4G/
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 95