fbpx

0
0
0
s2sdefault

SitindaonNews (ZAS) - Sebuah sejarah adalah masa lalu yang tidak boleh dilupakan apalagi sampai di hilangkan atau di hapus sebahagian atau seluruhnya. Sepahit apapun masa lalu harus diketahui generasi penerusnya, bahkan dalam sejarah kelahiran Marga keturunan bangsa Batak ada juga yang berasal dari perkawinan antara anak dan ibu kandung. Yang pahit atau buruk tidak berarti harus ditiru generasi berikutnya, itu akan menjadi  pengetahuan dan wawasan bagi generasi penerusnya.

 

Ratusan Tahun Yang Lalu.

Marga Sitindaon berasal dari Marga Naibaho, dahulu Naibaho Siahaan punya anak kembar laki-laki dan perempuan, laki- laki bernama Inar Naiborngin dan yang perempuan bernama Boru Naitang. Dalam kekerabatan suku Batak mereka mar ito atau mar iboto, ito adalah sebutan atau panggilan antara saudara laki-laki dengan saudara perempuannya atau sebaliknya.

Dalam kebiasaan atau kehidupan orang Batak, jika memiliki anak kembar laki-laki dan perempuan, mereka harus dipisahkan ke seberang lautan tidak boleh bertemu lagi untuk menghindari saling suka atau saling mencintai keduanya. Tetapi tidak demikian halnya dengan sikembar Inarnaiborngin dengan Boru Naitang, hingga dewasa mereka tetap tinggal bersama orangtuanya Naibaho Siahaan.

Adapun Boru Naitang, setelah dewasa adalah seorang gadis yang cantik rupanya, demikian pula Inarnaiborngin adalah seorang pemuda yang tampan.

Keseharian mereka sejak anak-anak selalu bermain bersama-sama membuat keduanya sangat dekat dan sangat akrab hingga mereka dewasa. Kedekatan dan keakraban ini membuat mereka saling menyayangi dan mencintai dan lupa bahwa mereka adalah mar ito atau mar iboto atau saudara sekandung.

Kedekatan dan keakraban mereka berdua yang berlebihan membuat kecurigaan orangtuanya Naibaho Siahaan. Sehingga Naibaho Siahaan berniat menikahkan Boru Naitang dengan orang lain. Pada masa itu begitu banyak pemuda yang suka kepada Boru Naitang karena kecantikannya.

Akhirnya Naibaho Siahaan menerima lamaran dari salah satu pemuda yang suka dengan Boru Naitang yaitu anak dari Op. Palti Sinaga. Tanpa sepengetahuan orangtua dan calon suaminya, Boru Naitang tengah mengandung anak hasil pergaulannya dengan Inarnaiborngin itonya. Setelah mereka menikah maka Boru Naitang tinggal bersama suaminya, selama berada di desa suaminya tersebut Boru Naitang selalu teringat dan merindukan itonya yaitu Inarnaiborngin.

 buku sitindaon pohon keluarga 1

Karena kerinduan dengan itonya, Boru Naitang mengajak suaminya untuk berkunjung ke rumah orangtuanya Naibaho Siahaan di Pangururan. Namun di tengah perjalanan Boru Naitang membunuh suaminya dan melanjutkan perjalanan seorang diri.

Sampai di Pangururan, Boru Naitang bersembunyi di rumah bapa udanya Hutaparik. Kemudian tanpa ada yang mengetahui, dia melahirkan seorang anak laki-laki dan disembunyikannya.

Setelah sekian lama Op. Palti Sinaga menunggu anak dan menantunya yg tidak pulang, maka pergilah Op. Palti mencari ke rumah besannya Naibaho Siahaan di Pangururan dan bertanya dimanakah anak dan menantunya berada dan dijawab yang ada adalah Boru Naitang sementara suaminya anak dari Raja Sinaga tidak ada. Kemudian mereka memanggil Boru Naitang dan bertanya dimana suaminya.

Akhirnya dia mengaku telah membunuh suaminya, dan Op. Palti pun menuntut balas atas kematian anaknya dengan meminta agar Boru Naitang dibuang dan ditenggelamkan ke tengah danau.

Keesokan hari, Naibaho Siahaan beserta anaknya laki-laki yang lain membawa Boru Naitang ke tengah danau dan menenggelamkannya dengan batu pemberat dan mereka kembali ke tepi danau, namun Boru Naitang tidak mati tenggelam bahkan kembali ke tepi danau. Kejadian ini terus berulang-ulang, setiap ditenggalamkan tetapi selalu muncul kembali di tepi danau.

Karena ayahnya Naibaho Siahaan dan saudaranya laki-laki sudah kelelahan dan kehabisan cara untuk menenggelamkannya, maka Boru Naitang mengajukan permintaan kepada orangtua dan saudaranya untuk dibuatkan satu tambak atau pertanda dan agar ditanam jabi-jabi sejenis beringin di tambak itu. Kemudian dia juga meminta seekor ayam putih, kemudian sebuah hajut sejenis tempat penyimpanan benda kapur, tembakau, sirih dan lain-lain. Dan juga meminta selembar tikar baru, dan semua permintaannya tsb agar diletakkan di tambak itu.

Akhirnya mereka memenuhi permintaan Boru Naitang, setelah semua permintaannya tersedia, Boru Naitangpun mengambil tikar itu dan meletakkan anaknya yg baru lahir di atas tikar itu yg tidak pernah diketahui orang lain kelahirannya.

Kemudian dia berdoa, katanya "Ianggo ho hasian, na ingkon TANDAON ni halak do ho muse". Yang artinya "Hai anakku tercinta, satu saat kelak engkau akan di TANDA atau di ketahui orang lain keberadaanmu".

buku sitindaon pohon keluarga 2

Setelah itu dia membawa alat tenunnya dan berjalan ketengah danau sampai tidak terlihat lagi menjadi mahluk penghuni danau atau "Sombaon Boru Naitang".

Setelah itu Naibaho Hutaparik mengambil anak yg ditinggalkan Boru Naitang tadi dan mengasuhnya.

Akhirnya orang mengetahui bahwa Boru Naitang mempunyai anak dari hasil perbuatannya dengan itonya Inarnaiborngin, orang pun penasaran ingin tahu dan bertanya dimana keberadaan anak tsb. dan bagaimana rupanya.

Hutaparik selalu menyembunyikam keberadaan anak itu, dan berkata kepada orang lain " Tu aha TANDAON i" artinya "Buat apa kalian mengetahui itu".

Sejak itu muncullah panggilan atau nama "TANDAON" dan kemudian menjadi "TINDAON" yang dikemudian hari dikenal dengan nama atau Marga "SITINDAON".

Akan halnya SITINDAON ini tidak diakui keberadaannya sebagai anak dari Naibaho Siahaan karena malu, maka Naibaho Hutaparik menganggap dan mengangkat SITINDAON menjadi anaknya.

Karena merasa malu dengan statusnya, akhirnya SITINDAON meninggalkan Pangururan dan berjalan sampai ke Onanrunggu.

Setelah dewasa SITINDAON menikah dengan boru Sianturi dan mempunyai 3 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan. Anak laki-laki paling tua bernama Passalaut, anak laki-laki yang kedua bernama Pangahuraja dan anak nomor tiga atau paling bungsu bernama Mangambittua. Sementara anak yang perempuan menikah dengan Raja Sonang Gultom.

Konon kabarnya pada masa itu, Passalaut menetap dan tinggal di Sibual-bual, sampai sekarang keturunannya masih ada yg tinggal disana. Karena situasi dan kondisi pada masa itu. anak nomor dua Pangahuraja pergi merantau ke Dairi, terus ke Pakpak dan sampai ke Barus. Sedangkan anak nomor tiga Mangambittua pergi ke kampung Lontung dan selanjutnya ke Tomok, Sipansa, Siduma-duma dan Parbaba.

Kembali kepada Inarnaiborngin, setelah mengetahui Boru Naitang akan di hukum bunuh oleh orangtuanya Naibaho Siahaan, maka Inarnaiborngin menjadi takut karena akan di hukum bunuh juga. Oleh karena itu dia melarikan diri ke Humbang-Lintong Nihuta dan bertemu dengan Raja Raung Nabolon marga Sihombing Lumban Toruan. Karena jasanya, Inarnaiborgin diangkat menjadi anak Sihombing Lumbantoruan dan dinikahkan dengan parumaen/menantu nya karena anak dari Sihombing ini telah tewas dibunuh oleh raja Marbun. Pada waktu diangkat menjadi anak Sihombing Lumbantoruan dibuatlah "Padan atau Janji", mulai saat itu Inarnaiborngin menjadi Marga Sihombing dan tidak boleh lagi kembali jadi Marga Naibaho, dan selanjutnya Inarnaiborngin dipanggil atau disebut menjadi DATU GALAPANG, karena ilmu kesaktiannya.

Marbingkas sian i, tubu ma sada umpama :
"Ansimun so bola on
Hotang-hotang so dohonon
Naniida sitongka paboa-boa on
Nabinoto sitongka padohon-dohonan".

Demikianlah Tarombo atau Sejarah singkat Marga Sitindaon. Kisah ini sudah di edit oleh penulis. Dan bisa saja setiap orang berbeda versi, namun tidak bermaksud mengurangi makna atau peristiwa sesungguhnya.

Zul Abrum Sitindaon.

Keterangan:

Danau dalam kisah di atas adalah Danau Toba di Perairan Tanjung Bunga, Pangururan, Samosir.

Tambak yg di minta oleh Boru Naitang sampai sekarang masih ada dan pohon jabi-jabi atau beringin tsb masih tumbuh sampai sekarang sudah berumur ratusan tahun.

Tambak tsb. sudah di renovasi oleh Pemda Setempat dan di tetapkan sebagai Situs Sejarah berada di tepi pantai Tanjung Bunga, Pangururan.


Referensi penulis disadur dari Buku Tarombo ni Marga Sitindaon, yang ditulis dalam versi bahasa Batak oleh St. Abner Sitindaon ( A. Ni Jootje Des Intan) atau Op. Sakti Sitindaon yang ditulis pada periode tahun 1957 s/d 1963.

IMG 20181116 192213

 Foto : Abner Sitindaon (A. Jootje Des Intan)/ Op. Sakti Sitindaon (Lahir pada hari Senin, 13 Juli 1931, Meninggal Dunia pada hari Sabtu tanggal 10 Mei 1963 )

buku sitindaon daftar lahir


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh