fbpx

0
0
0
s2sdefault

Bedah BUKU TAROMBO Marga SITINDAON. (Bagian Pertama)

Diterjemahkan dan ditulis kembali oleh: Zul Abrum Sitindaon. (A. Sakti Sitindaon) (Op. Ni Si Savana).

(Bedah buku ini akan kita publish secara bersambung atau serial)

Pendahuluan.
Tarombo atau Sejarah Singkat Marga Sitindaon yang di publish di media ini beberapa waktu yang lalu mendapat apresiasi yang sangat baik dari para netizen, khususnya generasi Millenial Sitindaon di perantauan yang mungkin selama ini belum pernah mendengar cerita asal muasal marga Sitindaon. Memenuhi permintaan para generasi millenial Sitindaon maupun marga-marga lain yang masih penasaran dan ingin mengetahui marga Sitindaon itu sendiri, maka berikut ini kami mencoba langsung Bedah BUKU TAROMBO Marga SITINDAON.

 

Tulisan ini adalah terjemahan langsung dari Buku tersebut yang berbahasa Batak.  Bisa saja cerita yang ditulis dalam buku ini berbeda dengan yang diceritakan penulis lain, namun tidak bermaksud mengurangi makna yang sebenarnya.  Buku ini bisa sebagai referensi untuk pengetahuan maupun penelitian atau sebagai bahan diskusi untuk mendapatkan peristiwa atau cerita yang sebenarnya terjadi pada masa lalu.

Judul buku : BUKU TAROMBO Marga SITINDAON

Buku ini menceritakan tentang Marga Sitindaon sampai kepada keturunan dari penulis sendiri.

Daftar Isi :

I.  Biodata Penulis dan Keluarganya.

II. Nama-nama Hari, Waktu, Bulan, Mata Angin, Nomor PlatKendaraan Indonesia serta Aksara Batak.

III. Tarombo, yang dimulai dari Sriwijawa, Siraja Batak, Si Raja Oloan.

IV. Naibaho.

V. Sitindaon.

VI. Raja Mangambit.

Buku ini sebenarnya belum selesai ditulis, karena penulisnya meninggal sebelum melengkapi tulisannya.

Ditulis : Periode sampai tgl 10. Mei 1963. (Beliau meninggal mendadak pada hari Sabtu tgl 10 Mei 1963, ketika mengikuti Pra Jabatan di Tj. Balai sebagai guru di P. Siantar dan jenazahnya kemudian disemayamkan dan di makamkan di kampung halamannya di desa Maniksilau, Kec. Sidamanik)

Kala itu penduduk Tj. Balai masih kental dengan ilmu racun.  Pengalaman nyata saya sekitar tahun 80 an, makan di warung di kota Tj. Balai, saat saya akan menyentuh nasi, tiba-tiba piringnya retak membelah dua piring tsb.  Sebelum saya menyuap nasi tsb ke mulut, pemilik warung berlari ke meja saya dan mengambil piring dan nasi itu kemudian menggantinya dengan piring dan nasi baru, dan mengatakan "silahkan lanjut makan pak, tidak apa-apa" katanya.  Kemudian saya berfikir mungkin ada orang lain yg telah meracuni makanan saya.

 

Kembali ke Buku TAROMBO Marga SITINDAON
Penulis : Ama ni JOOTJE DES INTAN (Ab. Noadnitis)

IMG 20181209 190544

Photo Pernikahan Abner Sitindaon dengan Rumani Siburian, Rabu, 27 Februari 1957.

Ab. Noadnitis sebenarnya Ab. adalah singkatan dari Abner dan Noadnitis adalah jika dibaca dari belakang berarti Sitindaon, jadi nama sebenarnya adalah Abner Sitindaon, sedangkan Jootje Des Intan adalah anak pertama perempuan dari Abner Sitindaon.

I. BIODATA PENULIS DAN KELUARGANYA:

Dalam buku tersebut, penulis memberitahu hari kelahiran keluarganya, istri dan anak-anaknya, sbb:

1. Abner Sitindaon          : Lahir pada hari Senin, tanggal 13 Juli 1931.
2. Rumani Siburian (istri) : Lahir pada hari Minggu, tanggal 18 Februari 1934.
   Anak :
1. Dahlia Jootje Des Intan (Putri) : Senin, 30 Desember 1957, Pukul 03.00(WSU: Waktu Sumatera Utara).
2. Zul Abrum Saud Parlindungan (Putra) : Selasa, 28 Juli 1959.
3. Bachtiar Efendi Anggiat Parulian (Putra) : Djumat, 9 September 1960.
4. May Ida Netty Berliana (Putri) : 9 Mei 1963.

Screenshot 2018 1209 185732

 

Selanjutnya ditulis hari-hari penting atau hari Peringatan-peringatan lainnya, sbb:

1. Rabu, 27 Februari 1957, merupakan hari Pernikahannya.
2. Sabtu, 22 Maret 1958, merupakan hari wafat atau meninggal bapak mertuanya, St. Kristian Siburian.Pangulu Baru Nagojor, Tanah  Jawa, (Bapak dari istrinya).
3. Sabtu, 27 Oktober 1958, merupakan hari wafat atau meninggal bapak kandungya, Pangulu Manase Sitindaon.
4. Minggu, 24 September 1958, "Pembersihan TNI di Maniksilau (desa atau kampung halamannya), dimana saya kena di dalamnya, dengan     dibersihkannya kantong saya, Rp. 700,- (Tujuh ratus rupiah) dan 1 vulpen".
5. Sabtu, 10 Mei 193, merupakan hari wafat atau meninggalnya penulis buku ini. (Tulisan ini dicatat di buku tsb. oleh Rumani Siburian, istri penulis buku ini..

Screenshot 2018 1209 185751

 

Catatan Redaksi: Peristiwa hari Minggu, tanggal 24 September 1958, dimana pada masa itu terjadi pemberontakan PRRI dan Permesta,  untuk menumpas pemberontakan tersebut maka Pemerintah pada saat itu mengirimkan pasukan TNI, dilapangan ternyata pasukan TNI ini juga melakukan perampasan terhadap harta benda rakyat, termasuk penulis sendiri sebagai korbannya, dengan dibersihkan TNI kantongnya yang berisi uang Rp.700,- (Tujuh ratus rupiah), jumlah yg tidak sedikit pada masa itu, dan juga turut dibersihkan TNI  1 buah vulpen yang ada di kantongnya.

 

Bersambung, edisi berikutnya Nama-nama Hari dan Waktu Batak atau klik disini


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh