fbpx

0
0
0
s2sdefault

1570158177697Kantor WeWork. Foto: Reuters

California - Kejatuhan spektakuler   startupWeWork   membuat   sorotan mengarah ke startup sejenis di Amerika Serikat yang punya pola yang sama, yaitu punya nilai valuasi sangat tinggi tapi belum jelas kapan menghasilkan untung dan terus saja 'membakar' uang.

Pada masa puncak, valuasi WeWork pernah bernilai USD 47 miliar atau di kisaran Rp 667 triliun. Sayang seiring berjalannya waktu, praktik bisnis WeWork banyak dipertanyakan. Pada tahun 2018, diketahui mereka mengalami kerugian masif hingga USD 2 miliar.



Menjelang rencana berjualan saham pada publik, WeWork merilis dokumen keuangan yang mengejutkan. Mereka ternyata masih rugi USD 900 juta di paruh pertama 2019 dan ada kewajiban sewa USD 47 miliar. Akibatnya, Adam Neumann selaku CEO lengser dan rencana IPO dibatalkan.

"WeWork tidak sendirian. Perusahaan ride hailing Uber dan Lfyt yang go public tahun silam merugi miliaran dolar. Uber melaporkan kerugian USD 6,2 miliar dalam dua kuartal pertama semenjak IPO. Lfyt yang jadi rivalnya merugi USD 1,7 miliar di periode yang sama," tulis kolumnis teknologi CNN, Nicole Gelinas.

Investor pun menjauh dan saham kedua perusahaan terus jatuh. "Selama bertahun-tahun, Silicon Valley memicu startup mencari valuasi begitu tinggi, membakar sejumlah besar uang dan tidak mengcecek power pendirinya. Sekarang, pasar publik memberi sinyal bahwa itu ada batasnya," tulis CNN.

WeWork sendiri, yang bergerak di bidang penyewaan kantor virtual dan fisik, diprediksi kehilangan seluruh uangnya tahun depan jika situasi tidak berubah. Pada akhir Juni, WeWork memiliki uang tunai USD 2,5 miliar.

Jika mereka terus membakar duit dalam skala seperti saat ini, yakni USD 700 juta per kuartal, mereka akan kehabisan uang pada kuartal I 2020. Dengan pembatalan IPO dan reputasinya yang merosot, bahkan ada kemungkinan bisnis WeWork tidak dapat dipertahankan.

Sumber: detik.com


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh