fbpx

0
0
0
s2sdefault

1575027098093

Apa yang dijanjikan sebagai kebebasan finansial, sistem yang bekerja untuk mencarikan kita uang adalah bohong besar. Seluruh waktu saya tersita untuk membina downline. Keluarga pun, saya hanya melihat mereka sebagai prospek.

Izinkan saya curhat dan berbagi pengalaman ikut MLM yang cukup miris. Saat itu saya masih kuliah. Mulanya diajak teman untuk menghadiri seminar di sebuah gedung di Jakarta.

Naik lift ke ruang seminar. Diterima oleh dua orang resepsionis yang cantik dan tampan. Si cantik pakai Blazer plus bunga di dadanya. Si tampan pakai kemeja berdasi, jas, dan bunga yang sama. Wuih, terkesan sangat profesional.

Saya pun masuk ruangan yang telah disetting sangat mewah dan meriah. Ada proyektor dan layar putih di depan. Hadirin berjejer rapi. Di barisan depan para leader yang berpenampilan laiknya pengusaha sukses dan terlihat meyakinkan. Acara pun dimulai. Pertama, sessi testimoni orang yang sudah menggunakan produk yang dijual dengan cara MLM. Setelah itu barulah acara inti. Dibawakan oleh presentator yang gagah, klimis, penuh percaya diri. Dia memulai presentasinya dengan ajakan untuk berfikir positif. dilanjutkan dengan ajakan untuk membangun impian. Setelah itu, barulah masuk point utama.

“Hari Gini? masih berbisnis konvensional? udah gak jaman orang bersusah payah cari duit. Sekarang saatnya duit yang nyari kita. Passive Income membuat kita bisa pelesiran ke luar negeri sementara duit masuk ke rekening tanpa terkendali. Bagaimana caranya? Nih saya kasih Anda bussines plan yang tidak ada duanya di dunia ini… bla bla bla”

Sang Presentator sesekali mengutip teorinya Robert T Kiyosaki tentang The Cashflow Quadrant, teorinya Steven Covey tentang Seven Habbits, sedikit-sedikit kutipan ayat suci juga dia lantunkan meskipun agak kurang fasih.

Sepulang dari gedung itu. Hati saya meletup-letup. Gairah membuncah. Otak saya berkeliaran mencari cara untuk mendapatkan sejumlah uang secepat mungkin untuk mendaftarkan diri menjadi anggota MLM. Harapan tinggi di benak saya. Beberapa tahun dari sekarang saya pasti mendapatkan mobil mewah, rumah besar, bisa melancong ke luar negeri, dan yang hebat bisa mendapatkan uang tanpa kita kerja keras yang mereka sebut dengan Passive Income.

Bahagiakah saya? Sukseskah saya? Tidak sama sekali. Memang sih, saya dapat uang yang dijanjikan dari perusahaan MLM itu. ada bonus ini itu. Tapi selanjutnya adalah ketersiksaan. Apa yang dijanjikan sebagai kebebasan finansial, sistem yang bekerja untuk mencarikan kita uang adalah bohong besar. Seluruh waktu saya tersita untuk membina downline. Siang malam tak kenal jadwal. Saya pernah ditelpon oleh salah seorang downline saya untuk presentasi di depan calon anggota (prospek) jam 11.30 malam.

Setiap kali saya presentasi, saya selalu meyakinkan diri sebagai orang yang sukses. Padahal tidak. Saya membeli jas, kemaja necis, dasi, dan sepatu bermerek untuk memantaskan diri sebagai orang sukses.

Tak lupa saya menyebutkan kisah para leader saya yang sudah punya mobil mercy, pernah ke Hongkong, punya rumah mewah di kawasan bergengsi. Padahal saya sendiri sering frustasi, sulit sekali untuk mencapai level seperti mereka.

Di mata saya, semua orang adalah prospek. Ayah, Ibu, kakak, adik, saudara sepupu, paman, bibi, saudaranya paman, saudaranya sepupu, kakak ipar, saudaranya kakak ipar, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman organisasi, dosen, office boy di kampus.

Saya tak lagi tulus bersaudara. Saya tak lagi punya niat lurus dalam berteman. Akibatnya, banyak teman saya menilai bahwa semua gerak-gerik, ucapan, dan sikap saya adalah upaya mengajak mereka untuk ikut MLM. Sampai di suatu titik. Saya merasakan kejenuhan. Hidup terasa hampa. Persahabatan menjadi kering. Senyum saya tak lagi tulus. pertemuan di keluarga menjadi membosankan. Telepon dari downline saya untuk membantunya memprospek calon anggota mulai menjadi gangguan. Saya bosan sebosan-bosannya.

Tapi mereka terlanjur punya impian yang tinggi seperti halnya saya dulu. Mereka terus menghubungi saya untuk membantu meyakinkan calon member baru. Lama kelamaan telepon dari downline menjadi teror bagi saya.

Sekarang saya sudah tobat dan kapok untuk ikut MLM. Saya sudah keluar dari hiruk pikuk orientasi produk, presentasi, home sharing, prospek calon downline. Dalam perjalanan taubat saya, iseng-iseng membaca resensi buku dari Robert L. Fitzpatrick dan Joyce K. Reynolds berjudul “False Profits : Seeking Financial and spritual Deliverance in Multi-Level Marketing and Pyramid Schemes”.

Berikut cuplikannya : “Anda dimotivasi untuk dapat melakukan praktik MLM di waktu luang sesuai kontrol anda sendiri karena sebagai sebuah bisnis, MLM menawarkan fleksibilitas dan kebebasan mengatur waktu. Beberapa jam seminggu dapat menghasilkan tambahan pendapatan yang besar dan dapat berkembang menjadi sangat besar sehingga kita tidak perlu lagi bekerja yang lain. Perlu dipikirkan kembali bahwa pengalaman puluhan tahun yang melibatkan jutaan manusia telah menunjukkan bahwa mencari uang lewat MLM menuntut pengorbanan waktu yang luar biasa serta ketrampilan dan ketabahan yang tinggi. Selain dari kerja keras dan bakat, MLM juga jelas-jelas menggerogoti lebih banyak wilayah kehidupan pribadi dan lebih banyak waktu. Dalam MLM, semua orang dianggap prospek. Setiap waktu di luar tidur adalah potensi untuk memasarkan. Tidak ada batas untuk tempat, orang, maupun waktu. Akibatnya, tidak ada lagi tempat bebas atau waktu luang begitu seseorang bergabung dengan MLM. Dibalik selubung mendapatkan uang secara mandiri dan dilakukan di waktu luang, sistem MLM akhirnya mengendalikan dan mendominasi kehidupan seseorang dan menuntut penyesuaian yang ketat pada program-programnya. Inilah yang menjadi penyebab utama mengapa begitu banyak orang tenggelam begitu dalam dan akhirnya menjadi tergantung sepenuhnya kepada MLM. Mereka menjadi terasing dan meninggalkan cara interaksi yang lain”

Percayalah, menjadi member pada sebuah perusahaan MLM itu bukan langkah memulai bisnis Justru kita sedang dieksploitasi menjadi seorang sales merangkap sebagai tenaga perekrut sales. Malangnya kita tidak diberikan gaji, uang kesehatan, dan uang transport. Bodohnya lagi, kita wajib bayar uang pendaftaran untuk menjalankan tugas melelahkan itu.

Sejak itu, setiap kali ada teman yang mengajak bergabung di MLM, selalu saya tolak. Pernah ada yang ngotot dan berbusa-busa mengajak saya. Akhirnya saya jawab, “Baiklah saya mau gabung. Tapi dengan syarat!” “Apa syaratnya, Man?” “Saya mau gabung, kalau kamu sudah punya kapal pesiar dan dapat passive income 150 juta sebulan” Bagaimana dengan Anda?

Oleh: 

Sumber: mojok.co


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh