fbpx

0
0
0
s2sdefault

juragan kodok

I Wayan Nuastra saat menunjukan dua indukan kodok jantan dan betina di tempat budidaya kodok di rumahnya di Banjar Pande, Desa Jegu, Kecamatan Penebel, Tabanan, Selasa (11/12/2018). - Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – Menggeluti hobi menjadi usaha yang menghasilkan uang tentu jadi keinginan banyak orang, seperti yang dilakukan juragan kodok ini.

Siapa sangka kodok yang bagi sebagian orang dianggap menjijikkan malah menjadi sumber penghidupan. 

 

Seorang pria 64 tahun tampak sibuk membersihkan puluhan kolam di rumahnya di Banjar Pande, Desa Jegu, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali, Selasa (11/12/2018).

Satu persatu kolam yang digunakan untuk budidaya kodok lembu berukuran 1x1 meter pun dibersihkan pria yang bernama I Wayan Nuastra atau Pak Kodok bersama dengan istrinya Ni Wayan Nuadi (63).

Hal itu pun setiap hari dilakukannya bersama sang istri.  

Setidaknya, ada 8.000 kodok yang ia ternak saat ini.

Hingga saat ini, ia pun memilih untuk tetap mempertahankan profesinya sebagai peternak kodok lembu.

Sebab, selain berawal dari hobi, usaha ini juga sudah digelutinya puluhan tahun atau sejak bulan Maret 1980 silam.

Selain itu, dia juga berhasil menyabet beberapa penghargaan salah satunya “Sang Penemu” dari Kementrian Kelautan dan sudah memiliki hak paten sejak tahun 2000-an silam.

Nuastra menceritakan, usaha yang digelutinya saat ini berawal dari hobinya memelihara hewan termasuk kodok.

Dia mulai mengenal dan mendalami tentang kodok sejak 1980 higga akhirnya mengetahui seluk beluk dari kodok pada tahun 1983.

Mulai dari sana, ia pun kemudian memiliki indukan kodok jantan dari Amerika Latin dan indukan kodok betina dari Taiwan yang selanjutnya diternaknya.

Terlebih lagi saat itu, bagaimana caranya agar bisa memanfaatkan lahan yang sedikit untuk hal yang bermanfaat.  

“Awalnya mencoba tahun 1980 lalu. Hingga tiga tahun kemudian kodok sudah ada indukan sudah bisa menelurkan. Setelah perkembangan itu baru memulai untuk membuat penangkarannya dan pemeliharaannya agar praktis dan bermanfaat,” ujarnya sembari mengatakan memilih budidaya kodok karena hobbi dan dorongan dari brosur yang menawarkan bahwa kodok memiliki nilai ekspor yang cukup tinggi.  

“Sehingga ia pun mencoba untuk mengenal lebih dekat dan berhasil,” imbuhnya.  

Untuk makannannya, kata dia, mulanya kodok diberikan makanan berupa bekicot.

Dan bekicot tersebut berhasil membuat kodok memiliki berat hingga sekitar 1 kilogram.

Namun seiring berjalanna waktu, bekicot pun mulai susah didapat sehingga diganti dengan memberi pakan pellet lelet dan digunakan hingga saat ini.

“Tapi jika dilihat dari kasiatnya, bekicot jauh lebih bagus digunakan pakan daripada pellet. Karena pertumbuhan kodok lebih bagus,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Pak Kodok ini melanjutkan, untuk menernak kodok juga membutuhkan waktu yang lumayan panjang atau sekitar 6 bulan.

Sebab, kodok harus melalui beberapa proses untuk selanjutnya bisa dijual kepada hotel atau restauran yang memiliki menu masakan berbahan dasar kodok.

Dimulai dari indukannya kawin, kemudian bertelur hingga telurnya menetas membutuhkan waktu 1 bulan.

Kemudian setelah menetas atau kecebong hingga menjadi katak membutuhkan waktu dua bulan.

Dan dari katak hingga ukuran siap jual membutuhkan waktu sekitar dua bulan tergantung pertumbuhan kodok itu sendiri.

“Jika masa panennya tidak sekalian, itu tergantung dari pertumbuhan kodok sendiri. Tapi biasanya jika dari umur katak hingga menjadi kodok siap jual sekitar dua bulan,” katanya seraya menyebutkan harga kodok per kilogramnnya senilai Rp 50 ribu.

Hingga saat ini pemasaran daging kodok ini masih di wilayah Bali.

Banjir pesanan tidak hanya datang dari wilayah Bali, tetapi juga dari luar Bali.

Untuk luar Bali memang ada permintaan, namun ia takut tak bisa memenuhi jumlah pesanan yang begitu besar.

“Banyak yang memesan tapi kami tidak menerimanya, karena ditakutkan tak bisa memenuhi pesanan,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, banyaknya permintaan daging kodok biasanya berasal dari wisatawan dari Jepang dan China.

Sebab, daging kodok memiliki kandungan kolesterol yang sangat rendah.

Sehingga, daging ini sangat cocok untuk masyarakat yang sedang mengalami kolesterol tinggi namun tetap ingin mengkonsumsi daging.

“Kurang lebih seperti itu. Saya harapnya anak saya nanti akan meneruskan usaha ini karena budidaya kodok saat ini sangat jarang ditemukan,” tandasnya. (*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan

Editor: Ida Ayu Made Sadnyari

Sumber: Tribun Bali

 


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh