Dilema untuk pertumbuhan rendah, kata Nawir adalah karena akan banyak pengangguran karena ekonominya tidak mampu menyerap potensi dengan baik.
Selain itu, para calon kepala negara yang baru juga akan dihadapkan dilema soal kuantitas dan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional. Nawir menjelaskan, jika ekonomi tumbuh di level 7% namun tidak merata atau hanya berpusat di Pulau Jawa pun menyisakan masalah besar. Terlebih lagi Indonesia merupakan negara kepulauan.
Dilema yang selanjutnya, adalah pertumbuhan ekonomi nasional yang haus akan modal. Rendahnya modal dalam negeri memaksa banyaknya investasi asing yang masuk ke tanah air.
"Siapapun rezim yang akan menyetir akan dihadapkan dilema pertumbuhan, sehingga diperlukan sopir kapan harus ngegas dan kapan harus ngerem," ungkap dia.
(hek/fdl)
Sumber: detikcom
Hendra Kusuma - detikFinance
