Ilustrasi Pesawat Tempur

Iran Masih Berstamina pada Hari Kedua

Memasuki hari kedua pada 1 Maret 2026, intensitas serangan balasan Iran justru dilaporkan mengalami peningkatan dan perluasan target yang signifikan, alih-alih menunjukkan penurunan yang mengindikasikan pelemahan kekuatan militer. 

Berbeda dengan serangan awal yang lebih terfokus pada Israel, pada fase ini Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan operasi yang lebih luas dengan menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara Teluk, termasuk Markas Armada Kelima di Bahrain, serta fasilitas militer di Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Di sektor maritim, penggunaan drone presisi untuk menyerang aset logistik angkatan laut AS di Jebel Ali membuktikan bahwa Iran masih memiliki kemampuan taktis yang mumpuni di tengah tekanan udara masif dari pihak lawan, sementara gelombang rudal balistik dan drone terus menghujani sasaran strategis di Haifa dan wilayah utara Israel lainnya.

Meskipun Iran menderita kerugian besar pada hari pertama akibat operasi "Genesis" yang menargetkan ratusan titik militer dan menewaskan sejumlah tokoh kunci, tanda-tanda pelemahan kekuatan menyerang mereka belum terlihat secara nyata. Resiliensi infrastruktur rudal Iran terbukti masih sangat tinggi karena mereka tetap mampu meluncurkan lebih dari 125 rudal dalam satu gelombang ke arah Tel Aviv dan infrastruktur sekitarnya. 

Walaupun terdapat laporan mengenai gangguan pada rantai komando akibat tewasnya pejabat senior, secara operasional serangan tetap terkoordinasi dengan baik melalui keterlibatan proksi dan berbagai titik peluncuran yang tersebar di 24 provinsi. Analisis militer menunjukkan bahwa Iran masih mempertahankan keunggulan dalam jumlah proyektil roket mobile dan pasukan darat sebagai instrumen penggentar utama untuk mencegah kemungkinan invasi darat.

Dampak situasional dari eskalasi ini terasa sangat luas, di mana skala serangan balasan Iran memaksa negara-negara tetangga seperti Yordania, Irak, dan Uni Emirat Arab untuk menutup wilayah udara mereka demi keamanan penerbangan sipil. Di sisi lain, status darurat yang masih diberlakukan di kota-kota besar seperti Teheran dan Isfahan menunjukkan bahwa Iran berada dalam posisi defensif tingkat tinggi sekaligus agresif secara ofensif. 

Secara keseluruhan, meski terjadi kerusakan fisik pada berbagai fasilitas militer akibat gempuran AS-Israel, intensitas serangan balik yang tetap tinggi mengindikasikan bahwa Iran masih memiliki cadangan strategis yang cukup untuk melakukan eskalasi regional demi memulihkan daya tawar mereka di kancah konflik ini.

Sumber: FB Hasanudin Abdurakhman  https://www.facebook.com/share/1G3geAPuNR/