fbpx

0
0
0
s2sdefault

FB IMG 1583753482821

Pasien saya pernah berkonsultasi seperti ini:

"Dok, saya rasa saya perlu membawa istri saya ke dokter jiwa."

Saya kaget, lalu saya bertanya, "Kenapa Bapak berpikir demikian?"

"Anak saya dah habis dicubit istri saya, belum lagi dipukul dengan rotan. Saya tidak tega melihatnya. Itu termasuk usia satu tahun, Dok."

"Istri saya bagaikan macan ... Padahal dulu istri saya sangat lembut hatinya, marahpun tidak tega," ujarnya lagi.

Saya terdiam, lalu bertanya, "Pak, mohon maaf sebelumnya, saya bertanya dulu, ya, soal kondisi Ibu."

Singkat cerita, saya mendapat informasi bahwa si Ibu ini punya 4 orang anak. Usia anaknya mepet-mepet, terbesar 10 tahun, lalu 8, 5, dan 2 tahun. (Saya dengarnya saja sampai melotot).
Punya pembantu hanya 1, dan si Ibu ini bekerja, jam kerjanya dari jam 7 pagi sampai jam 6 malam.

Biasanya Si Ibu bangun jam 4 pagi untuk masak dan bersih-bersih, lalu lanjut dengan menyiapkan anak-anak sekolah, bahkan Ibu ini harus mengantarkan anak-anak sekolah pagi.

Dan siklus ini berlanjut sampai hari Sabtu. Hari Sabtu si Ibu akan bekerja sampai jam 3 sore.

Pada saat anak pertama, si Ibu ini baik-baik saja. Semakin anak bertambah, keganasannya pun bertambah. Bahkan kalau marah bisa menjerit-jerit dan membanting barang.

Saya melanjutkan pertanyaan saya, "Bapak, kalau boleh tahu, aktivitas Bapak kalau pagi dan sore bagaimana, Pak?"

"Oh, saya bangun jam 6, mandi, makan pagi, lalu berangkat kerja. Sampai di rumah saya jam 6 sore, Dok, mandi, makan, buka kerjaan kantor sebentar, lalu istirahat. Capek dah kerja seharian. Saya gak ngurus anak-anak, Dok. Mereka kan urusan ibunya."

(Iiiih pengen deh nyubit si Bapak. Nyubit pake capit kepiting raksasa 😅)

"Mohon maaf sebelumnya, ya, Pak. Sebelum saya merujuk istri Bapak ke dokter jiwa, sebaiknya Bapak bisa melakukan beberapa hal berikut ini."

"Kita tunggu satu bulan, kalau tidak ada perubahan, boleh kita bawa ke psikiater."

"Tolong lakukan ini setiap hari, dan tolong jangan tanya kenapa ... Just do it! (Maksa mode on 😁)."

1. Bapak bangun jam 5 pagi, bantuin Ibu mandikan anak-anak dan bagi tugas mengantarkan anak.
2. Gantian, Pak, setiap Sabtu, sesekali Bapak yg "Me Time", sesekali Ibu yg "Me Time".
Kasih Ibu waktu untuk rehat, biarkan sesekali pergi ke salon, nonton, pergi dengan teman, apapun itu yang bisa membuat beliau segar kembali.
3. Kalau memang Bapak punya dana lebih, sebaiknya ditambah pembantu satu lagi, Pak.
4. Diajak kencan berdua, sesekali anak dititipkan.

"Begitu, ya, Pak. Sebulan lagi kita cek ulang."

Selang sebulan, si Bapak kembali dengan wajah yang sumringah.

"Gimana, Pak?"

"Betul, Dok! Istri saya sekarang sudah lebih sabar. Anak-anak juga sangat jarang dipukul. Saya lihat anak-anak saya juga lebih bahagia. Saya rasa gak perlu ke psikiater, ya, Dok. Saya sadar saya salah. Saya kurang berikan waktu istirahat untuk istri saya."

Ia pun lanjut bercerita, "Tapi saya belum sanggup sewa pembantu lagi, Dok. Tapi kata istri saya tidak usah, sanggup kok merawat anak-anak selama saya membantu."

"Alhamdullilah ... Ya, selama komunikasi dengan Ibu baik, Bapak mau membantu istri Bapak. Saya rasa bisa kok, Pak, merawat anak-anak."

Sebenarnya para suami perlu tahu, bahwa dengan membahagiakan istrinya artinya juga menyelamatkan anak-anaknya.

Apa hubungannya?

Seringkali anaklah yang menjadi korban saat ibunya banyak pikiran dan tertekan.

Peran ibu sangat besar dalam mendidik anak-anak agar mereka tumbuh besar, bertanggungjawab, dan cerdas.

Bersyukurlah para suami mempunyai istri yang bisa tetap menjaga kewarasannya ketika beban hidup begitu berat.

Selalu dengar istri Anda, selalu ringankan tangan untuk membantu pekerjaannya, dan selalu berikan pelukan untuk menenangkannya 😊.

Seringkali depresi dan stres istri justru berasal dari orang terdekatnya, loh. Beban istri tidak hanya dari anak-anak saja.

Anak rewel, anak sakit, anak dengan kondisi khusus, anak lebih dari satu ... Banyak.

Ini makin parah dengan beban sikap buruk dari suami, keadaan ekonomi yang sulit, belum lagi jika mendapat mertua, ipar, orangtua yang jahat alias juliiid, banyak tuntutan (perhatian maupun materi), suka ngatur (kaya di sinetron deh tuh 😁).

Akhirnya, karena tidak berdaya dan tidak ada pembelaan dari suami, gak bisa balas, ujungnya hanya bisa melampiaskan pada sosok yang lemah, yaitu anak.

Apalagi klo beban ekonomi ibu bergantung total pada suami. Apa-apa minta suami. Mau beli make up minta suami ....

Kebayangkan, sudah stres ... gak bisa merawat diri, dibilang gila lagi! 😢.

Berapa banyak kasus penganiayaan bahkan hingga kasus pembunuhan anak berawal dari sini?

Dan ketika itu terjadi, para ibu seringkali dicap tidak punya iman, ibu gila, ibu jahat. Semua menghakimi tanpa memikirkan bagaimana kondisi mental si Ibu.

Dan yang mengerikan, orang gak sadar bahwa dari ucapan dan tindakan itulah yang menjadi pembuka pintu untuk menjadikan seorang ibu menjadi seorang pembunuh bagi anak-anaknya.

Baik pembunuh karakter maupun pembunuhan yang menghilangkan nyawa.

Semua bisa kok dilewati ketika suami berbuat baik pada istrinya, berada di garda terdepan untuk melindungi dan menyayangi istrinya. Menjadi pendamping dan pembimbing. Karena dengan begitu, sesungguhnya seorang suami juga sedang melindungi anak-anaknya.

Dan buat kita semua wanita!!!

Please deh jangan julid!!!

Kalau ada teman yang stres punya banyak anak, jangan menghakimi, terus dibandingkan,

"Iih punya anak 4, gak bisa merawat diri, makin lama makin jelek."

Yang berkomentar hilang ingatan klo dia sendiri cuma punya anak dua dengan dua baby sitter, seorang sopir, dan dua pembantu ... 😅.

(Dokter Ika Devi)

***

Memang benar, ya, yang paling berefek menyakiti dan mengubah pribadi seorang ibu, ya, orang terdekatnya.

Ditambah lagi yang mengherankan, yang usil dan sering menghakimi juga sesama wanita:

- ibu sendiri, padahal sebagai ibu juga pasti dia pernah merasakan beban yang berat menjadi seorang ibu.

- ibu mertua, padahal ia juga pernah merasakan menjadi menantu. Tapi tanpa sadar ia juga memperberat kondisi menantunya.

- ipar/saudara perempuan yang sebenarnya sama-sama merasakan beratnya beban hidup tapi malah menambah beban dengan ketidakpedulian dan persaingan.

- teman wanita lainnya, yang justru malah nyinyir mencari kekurangan wanita lain hanya untuk merasa ego bahwa dirinya jauh lebih baik.

Segala hal jadi bahan perbandingan dan dipermasalahkan secara berlebihan: caesar atau tidak caesar, vaksin atau tidak vaksin, asi atau tidak asi, bisa ngupas salak atau gak bisa ngupas salak 😝😂.

Setiap orang itu kan mengalami situasi dan kondisi yang berbeda-beda, jadi jangan disamakan dengan kondisi kita, bisa saja lebih baik atau mungkin lebih buruk.

Pahami dulu, sebelum menghakimi!

Salam waras, Mak 😁👍

Copas: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10221291195620279&id=1559094120


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh