fbpx

0
0
0
s2sdefault

FB IMG 1571135725321

SETELAH PILPRES SELESAI

SitindaonNews.com - Saya jadi kepikiran. Apa yang ada dalam kepala Ratna Sarumpaet sekarang?

Ketika ia melihat Prabowo bergandengan tangan dengan Jokowi dan Megawati. Lalu Gerindra diperkirakan akan menempatkan kadernya dalam kabinet Jokowi-Amin mendatang.

Dari dalam penjara, mungkin Ratna bertanya, untuk apa semua ini? Di sekelilingnya tembok dengan berbagai coretan. Jeruji yang kaku dan piring kaleng tergeletak di pojokan.

 

Apa yang ada di kepala Bagus Bawana Putra. Ketika ia antri makan di dalam penjara. Dengan lauk tiga ikan teri dan sayur kurang garam.

Bagus dan tujuh rekannya meringkuk di penjara karena membuat hoax tujuh kontainer surat suara yang menghebohkan itu. Bagus, kabarnya, adalah seorang ketua relawan Prabowo-Sandi.

Apa yang ada di kepala tiga emak-emak di Bekasi yang menyebar hoax Jokowi melarang adzan. Ketiganya masih berurusan dengan polisi. Anak-anaknya terbengkalai. Sementara tidak ada satu orangpun dari tim Prabosan yang menjenguknya.

Apa juga yang ada di pikiran lelaki yang ditangkap di Bogor. Ketika dengan gaya sok-sokan ia melemparkan fitnah di pinggir jalan. Manantang polisi. Hanya karena ia pembenci Jokowi dan jadi pendukung Prabowo yang militan.

Ada banyak orang yang tangannya lancang, menuliskan fitnah. Ada yang mulutnya lancang menyebarkan kebencian. Pilpres mengubah mereka menjadi sosok yang lain. Sosok yang akhirnya tidur di dalam sel yang dingin.

Adakah semua itu begitu berarti hingga mereka mau menukarkan kebebasannya?

Tidak juga. Mereka hanya diseret oleh eforia politik. Apalagi ketika menggunakan embel-embel agama. Mereka jadi semakin yakin Tuhan bersamanya dalam membela Prabowo.

Tapi siapakah yang dibela Tuhan sekarang, ketika Prabowo dan Jokowi saling berjabatan dan berdiskusi kursi menteri apa yang akam disiapkan untuk kader Gerindra? Setelah Pilpres selesai, sepertinya memang 'tuhan' tidak terlaku banyak ikut campur lagi.

Toh, tidak ada lagi sekarang teriakan siapa pemimpin yang agamis diantara Prabowo dan Jokowi.

Prabowo adalah politisi. Megawati politisi. Surya Paloh politisi. Juga Jokowi. Rakyat bisa saja saling emosional menunjukan dukungan dalam Pilpres. Dan kini Pilpres sudah selesai.

Setelah Pilpres kelar, tidak ada lagi Cebong. Tidak ada lagi Kampret. Politisi kembali bersama, balik ke habitatnya. Membicarakan kekuasaan. Lalu kursi. Lalu merancang masa depan Indonesia dari pikirannya.

Adakah Prabowo memikirkan orang yang dipenjara karena terlalu memujanya dulu? Saya gak tahu.

Bagi orang-orang yang tadi, yang tersisa hanyalah malam yang dingin di balik jeruji besi.

Politik pada dasarnya adalah seni merebut dan mengelola kekuasaan. Mungkin seperti pertandingan sepak bola. Bagaimana cara memasukkan gol.

Setelah pertandingan, para pemain akan membuka kaos dan saling bertukar. Kaos basah dan bau bacin itu, dipertukarkan, menandakan pertandingan sudah selesai. Kompetisi sudah final. Dan piala dinikmati oleh pemenang.

Atau seperti dua petinju yang adu jotos di atas ring. Saling merangsek san menjatuhkan lawan. Tapi begitu bel akhir berbunyi, keduanya dengan muka sembab dan bibir yang pecah, akan saling berpelukan. Saling merangkul dan melepaskan sarung tinju.

Bagi Ratna Sarumpaet, Bagus Putra Bawana atau emak-emak di Bekasi. Pilpres ternyata tidak sesederhana itu. Mereka masih punya urusan panjang sampai sekarang. Bahkan sampai jauh setelah Jokowi melantik menteri dari Gerindra nanti.

Sebab kita ini sebetulnya cuma mur di dalam sebuah mesin besar. Dan kita tidak tahu pasti bagaimana sesungguhnya mesin itu bekerja. Yang kita tahu Pilpres telah usai dan ada mesin yang bekerja sendiri. Kita hanya bisa mengamati dan merasakan hasilnya.

"Saya jadi tahu, mas. Kenapa dulu ketika Jonru di penjara dan istrinya membuka donasi, kamu ikut share pengumuman donasi itu. Padahal Jonru kan, beda pilihan politik."

Saya hanya tersenyum.

Eko Kuntadhi

Sumber: https://www.facebook.com/803774136380640/posts/2693767737381261/


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh