fbpx

0
0
0
s2sdefault

1570353752206

Sekitar 30 tahun lalu, pager alias penyeranta adalah perangkat wajib bagi para karyawan dan pebisnis, namun kini alat itu berbunyi untuk terakhir kalinya di Jepang.

'Kematian' pager disebabkan karena penyedia layanan pager terakhir di negara itu, Tokyo Telemessage, resmi menutup usahanya pada Selasa (01/10).

 

Pada masa-masa terakhirnya, layanan perusahaan itu digunakan oleh 1.500 pengguna—sebagian besar dari mereka adalah pekerja bidang kesehatan.

Salah satu pengguna setianya adalah seorang pria yang tetap menggunakan pager karena sang ibu yang berusia 80 tahun lebih memilih layanan tersebut untuk menghubunginya

Pada hari Minggu (29/09), sebuah perusahaan jasa pemakaman di Tokyo mendirikan tenda di dekat stasiun kereta api sehingga masyarakat dapat menaruh karangan bunga untuk pokeberu—sebutan pager di Jepang.

pager
Image captionPager amat populer pada 1990-an.

'Kami mencintaimu'

Foto sebuah pager menampilkan pesan "1141064", kode pager di Jepang yang bermakna "Kami mencintaimu".

Dikembangkan pada tahun 1950-an dan 1960-an, pager meraih popularitas pada 1980-an.

Hingga 1996, Tokyo Telemessage memiliki pelanggan sebesar 1,2 juta pengguna. Jika ditotal di seluruh Jepang, penggunanya mencapai 10 juta, menurut kantor berita Kyodo.

Selain kalangan profesional, pager digunakan para siswa SMA yang memakai kode nomor untuk bertukar pesan.

Akan tetapi, begitu telepon seluler mulai banyak digunakan, era pager pun menurun.

Di Inggris, Layanan Kesehatan Nasional masih menggunakan 130 ribu pager - alasan utamanya adalah penerimaan sinyal pager yang baik di lingkungan rumah sakit - akan tetapi penggunaannya akan perlahan ditiadakan pada tahun 2021.

Meski merupakan tempat lahirnya berbagai raksasa teknologi seperti Nintendo, Panasonic dan Sony, teknologi usang seperti pager masih ada peminatnya di Jepang.

Pada tahun 2015, BBC melaporkan bahwa teknologi usang lainnya seperti mesin faksimili dan kaset tape masih banyak digunakan masyarakat. Bahkan, tahun lalu, seorang menteri di Jepang mengaku dirinya tidak pernah menggunakan komputer.

Yoshitaka Sakurada, nama menteri tersebut, adalah menteri keamanan siber saat itu.

"Sejak saya berusia 25 tahun dan mandiri, saya selalu menyuruh staf dan sekretaris saya. Saya tidak pernah menggunakan komputer seumur hidup," katanya.

Sumber: https://www.bbc.com/indonesia/majalah-49888681


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh