fbpx

0
0
0
s2sdefault

e58f4187 b22c 42fc 9697 0cb7f48f0fe2 169Foto: CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto

SitindaonNews.Com | Kini ada kekhawatiran di kalangan pengusaha bahwa bisnis mereka di ambang kebangkrutan yang ujung-ujungnya adalah PHK massal. Proyeksi ekonomi yang makin suram dan kondisi keuangan yang makin tipis menambah kekhawatiran yang berat bagi pengusaha.

Ramalan Dana Moneter Internasional (IMF) bahwa ekonomi negara-negara di dunia minus termasuk Indonesia minus -0,3% tentu saja membuat khawatir. Kondisi bisnis masih sulit bangkit meski sudah ada fase new normal pandemi covid-19.

Bahkan Menkeu Sri Mulyani secara gamblang memprediksi ekonomi Indonesia bisa saja masuk zona resesi bila pada kuartal III-2020 kembali tumbuh minus, tergantung konsumsi masyarakat untuk menyelamatkannya.

"Ya tentu bikin khawatir lah," kata Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Perdagangan Benny Soetrisno saat diminta tanggapan soal ramalan IMF, kepada CNBC Indonesia, Kamis (25/6).

Benny mengatakan yang menjadi kekhawatiran saat ini adalah perusahaan bisa bangkrut karena ekonomi sedang tertekan dalam, alias minus. Apalagi kondisi arus kas keuangan perusahaan menjadi persoalan.

BUAH SEGAR INDONESIA BAIK UNTUK KESEHATAN ANDA

1592958765588

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani sempat mengatakan sesuai prediksi cashflow pengusaha umumnya sudah habis akhir Juni 2020. "Napasnya sudah habis akhir Juni ini, terutama pengusaha-pengusaha UMKM ya," kata Hariyadi.

Wakil Ketua Kadin Bidang Industri Johnny Darmawan mengatakan pertumbuhan ekonomi yang diramal IMF, persis yang sudah disampaikannya kepada Menkeu Sri Mulyani. Ia memperkirakan ekonomi Indonesia di 2020 hanya bergerak antara 1% paling optimistis, dan minus 1% paling pesimistis. Namun, ia mengatakan kondisi saat ini memang tak bisa banyak diharapkan. 

"Perlu waktu, kuartal kedua baru ada ada kenaikan di 2021," katanya.

Sesuai proyeksi IMF,  negara maju akan mengalami kontraksi 8% di 2020, meski tumbuh 4,8% di 2021. Amerika Serikat akan berkontraksi 8% sedangkan Zona Eropa kontraksi 10,2%.

Ekonomi Italia dan Spanyol akan -12,8% sedangkan Prancis -12,5%. Jerman -7,8% sementara Inggris -10,2%. Kanada, akan -8,4%. Sementara ekonomi Jepang -5,8%. Ekonomi negara berkembang secara general akan minus 3%, dan akan positif kembali 5,9% di 2021. Di mana China di 2020, tetap tumbuh 1%. Namun kawasan Asia lain mencatat kontraksi, seperti India -4,5% dan ASEAN-5 -2%. Khusus di RI, ekonomi di 2020 -0,3%, meski tumbuh 6% di 2021.

Apa solusinya?

Wakil Ketua Umum Kadin, Shinta Kamdani mengatakan saat ini yang dibutuhkan langsung dunia usaha adalah bantuan modal kerja atau uang tunai untuk menggerakkan bisnis lagi. Meski ia mengakui memang ada stimulus dari pemerintah tapi dampak di lapangan belum terlalu terasa.

Ia bilang stimulus di lapangan tak semudah itu, karena supaya bisa jalan stimulusnya selalu butuh waktu eksekusi di lapangan. Hal ini perlu jadi perhatian pemerintah kenapa stimulus belum sampai dan belum dimanfaatkan oleh pelaku usaha.

Shinta mencontohkan insentif fiskal terkait pajak PPh 21, PPh 25 misalnya, di lapangan tak maksimal karena banyak perusahaan sudah yang merugi, sehingga tak bisa memanfaatkan insentif pajak. Ia bilang salah satu yang paling penting adalah bantuan cashflow, yaitu restrukturisasi kredit. Sayangnya untuk pelaku usaha dengan kredit di atas Rp 10 miliar di lapangan masih banyak kendala, harus jadi perhatian termasuk soal restrukturisasi bunga kreditnya.

"Bantuan penting, adalah bantuan modal kerja, bagaimana pengusaha dapat bantuan modal kerja," kata Shinta.

Ia bilang bila persoalan di atas belum diselesaikan maka gelombang PHK dan dirumahkan bisa terus bertambah di atas 6 juta orang. "Saya rasa ini yang sangat mengkhawatirkan soal tambahan PHK" katanya. 

Sumber: cnbcindonesia.com


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh