fbpx

0
0
0
s2sdefault

IMG 20181216 144514

Hendra Kusuma - detikFinance

Jakarta - Seluruh bidang usaha memiliki risiko yang sama, jika tidak mampu beradaptasi dengan perkembagan zaman. Maka, usaha itu pun akan mati dengan sendirinya.

Hal itu juga berlaku pada bidang usaha percetakan khususnya tukang 'ngeprint' dan penjilidan yang kebanyakan berlokasi di sekitaran kampus maupun perkantoran.

Budi, salah satu pemilik toko fotokopi di sekitaran Stasiun Pondok Cina mengatakan banyak pesaingnya harus rela beralih profesi karena tidak mampu beradaptasi dalam menjalankan bisnis fotokopi dan penjilidan.

Dia pun tidak segan, menyebut pesaingnya tersebut sebagai amatiran. Pasalnya, dulu toko percetakan banyak di wilayah usahanya.

 

"Ada sih (yang beralih profesi), sedikit dan itu yang sekadar amatiran, karena membuka saja tanpa didalami, ya itu amatir lha," kata Budi saat berbincang dengan detikFinance, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Amatir yang dimaksud Budi adalah, para pelaku usaha yang hanya sekadar ikut-ikutan buka toko 'ngprint' dan penjilidan saja tanpa mempelajari bidang tersebut secara serius.

Menurutnya, seiring teknologi berkembang dengan pesat maka dalam menjalankan bisnis pun harus cepat beradaptasi.

Dia mencontohkan, dulunya toko percetakan tidak menyiapkan fasilitas komputer yang bisa digunakan oleh konsumen sebelum benar-benar mencetak dan menjilid. Sekarang, hampir semua toko menyediakannya.

"Jadi dia hanya sekadar coba-coba, dia tidak kuat terhadap perubahan, sebetulnya kalau pengusaha itu setiap hari harus bisa beradaptasi, sama dengan zaman," ujar dia.

Akibatnya, lanjut Budi, para pesaingnya itu kebanyakan beralih profesi menjadi tukang ojek online.

"Ya paling banyak itu jadi ojek online, grab dan gojek," tegas dia.

Sementara itu, Enda alah satu pemilik toko fotokopi dan penjilidan Pelangi Mandiri di seberang Universitas Gunadarma mengungkapkan hal yang sama.

Dia bilang, banyak rekan-rekannya yang justru beralih profesi menjadi tukang ojek online dan melakukan usaha lain di kampung halamannya.

"Ada yang di gojek, buka konter HP (handphone), ada juga yang buka toko fotokopi di kampung, di Cianjur," kata dia. 

(erd/dna) 

 


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh