Ilustrasi foto Ai Pemilu 2029

Semerbak Tanah dan Muslihat di Pematang 2029

Jati adalah sebuah tepian desa yang tenang di Tasikmalaya tempat saya bertani. Saya paham bahwa musim tanam tak pernah benar-benar menjanjikan panen yang sama. 

Begitu pula di Jakarta, di mana para petinggi partai mulai sibuk mengasah luku, padahal padi di sawah baru saja mulai merunduk. 

Mereka sudah bicara tentang musim 2029, sebuah musim di mana angin nampaknya mulai bergeser arah, meninggalkan aroma pinus dari Solo dan berganti dengan bau tanah yang lebih liat.

Golkar, seperti pohon beringin tua yang akarnya merayap dalam ke segala penjuru, sedang menunjukkan sifat aslinya: rindang untuk berteduh, tapi dahan-dahannya selalu punya perhitungan sendiri. Mereka adalah penguasa seni "menunggu di tikungan". Meski bibir bicara setia pada sang Jenderal, namun mata mereka tak lepas dari kursi nomor dua.

Kursi nomor dua? Ya, saya sedang tidak berhasrat cerita tentang kursi nomor satu.

Bagi Beringin, Gibran adalah bibit yang dipaksakan tumbuh di pot yang mereka pinjamkan. Pada 2029 nanti, mereka tentu lebih ingin menanam benih sendiri di pot emas itu. 

Mereka, Golkar itu, mendukung Prabowo bukan karena cinta mati, tapi karena Prabowo adalah ladang yang paling subur saat ini, asalkan penjaganya bukan lagi anak muda dari Solo itu.

Lalu kita lihat PAN, PKB, dan Demokrat. Mereka bak burung-burung pipit yang riuh di pematang. Masing-masing membawa bungkusan harapan. PAN dengan Zulhas-nya, Demokrat dengan AHY yang gagah. PKB dukung Prabowo lanjut tanpa Gibran. Mereka semua punya satu kalimat yang sama namun tak terucap: "Prabowo yes, Gibran no." 

Kandang Banteng? Seperti biasa ngambang, belum bersikap. Alasannya klasik; fokus bekerja untuk kepentingan rakyat, khususnya yang terdampak bencana alam.

Ini adalah sebuah pengeroyokan halus. Mereka sadar, jika Gibran tetap di sana, pintu bagi kader mereka akan tertutup rapat hingga satu dekade ke depan. Kursi nomor dua yang diidamkan tinggallah impian tanpa kenyataan.

Namun, di ujung pematang yang lain, Jokowi berdiri seperti seorang petani tua yang keras kepala. Ia adalah sang Kingmaker yang percaya bahwa aliran air harus tetap mengalir ke sawah keluarganya. 

Baginya, duet Prabowo-Gibran adalah harga mati, sebuah jaminan agar gubuk yang ia bangun dengan susah payah tidak roboh diterjang badai pasca-kuasa.

Bagaimana jika Gibran akhirnya "dibuang" dan memilih maju sendiri sebagai Capres mandiri?

Inilah yang saya sebut sebagai "Loncatan Belalang" (kebetulan ada belalang loncat di depan saya). Secara elektoral, Gibran adalah magnet bagi kaum muda yang tak peduli pada pesona politikus tua yang telah lama pudar.

Jika ia maju mandiri atau melalui kendaraan partai baru, ia akan menjadi poros pengganggu yang mengerikan. Ia bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan ancaman. Kok bisa?

Ya, boleh jadi suara anak muda yang bosan dengan wajah-wajah lama akan mengalir padanya bak air bah yang menjebol tanggul.

Polarisasi 2029 tidak akan lagi soal "Kiri vs Kanan", melainkan "Tua vs Muda", "Kemapanan vs Pendobrak", "Bau Tanah" vs "Wangi Melati".

Prabowo mungkin tetap akan menang jika menggandeng cawapres dari partai besar, tapi ia akan kehilangan "sihir" masa depan yang selama ini melekat pada Gibran. Nyerempet-nyerempet bahaya.

Politik kita seperti burung tekukur yang berkukila di dahan jati. Suaranya merdu, tapi kita tak pernah tahu kapan ia akan terbang meninggalkan dahan itu demi sepiring jagung protolan siap santap di tempat lain.

Gibran bisa saja tetap menjadi wapres, atau ia akan menjadi musuh paling tangguh bagi mentornya sendiri. Semua bergantung pada seberapa kuat petani tua di Solo itu menjaga aliran airnya.

Tetapi, Gibran adalah "kartu liar" yang bisa mengacaukan meja judi para elit partai dari sekarang.

Pepih Nugraha

Sumber: FB Pepih Nugraha II https://www.facebook.com/share/16GfMCENQ3/