Search
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 7
Drama Politik Banteng Solo, Saya Takkan Pernah Keluar Dari Ring
DRAMA POLITIK BANTENG SOLO
(Scene: 4)
Saya Takkan Pernah Keluar dari Ring!
INTRO: RUANG KERJA PRIBADI ISTANA NEGARA
Ruangan itu sunyi, hanya detak jam dinding yang terdengar. PRESIDEN duduk di balik meja kayu jati besar, menatap sebuah dokumen draf Reshuffle Kabinet. Di sudut ruangan, bayangan siluet seseorang yang sangat familiar sedang berdiri menatap keluar jendela, ke arah lampu-lampu Jakarta.
PRESIDEN (suara berat, tanpa menoleh):
"Burung-burung sudah mulai berkicau di luar sana, Mas. Mereka bilang, saya akan menarik sampeyan kembali ke sini. Bukan sebagai tamu, tapi sebagai penasihat."
Sosok itu berbalik. JOKOWI. Ia tersenyum tipis, gaya khasnya tenang namun sulit ditebak. Ia berjalan perlahan menuju kursi di depan Presiden.
JOKOWI (sambil terkekeh kecil):
"Kicauan burung itu seringkali lebih cepat dari langkah kaki kita sendiri, Pak Presiden. Di Solo saja, cacing-cacing sudah mulai kepanasan mendengar kabar itu. Ada yang bilang saya tidak tahu malu, ada yang bilang saya mau 'Presiden tiga periode' lewat pintu belakang."
PRESIDEN (tersenyum getir):
"Mereka lupa sejarah. Mereka lupa kalau negara ini butuh navigasi yang berpengalaman. Saya butuh orang yang tahu di mana letak batu karang di bawah laut, sebelum kapal ini menabraknya. Wantimpres itu bukan soal jabatan, ini soal menjaga keberlanjutan."
TERAS SEBUAH KAFE JAKARTA
GUNTUR MEMBAHANA dan beberapa kolega politiknya duduk mengelilingi meja penuh cangkir kopi yang sudah dingin. Wajah mereka tegang, mata mereka terpaku pada layar televisi yang menyiarkan berita "Breaking News: Rumor Jokowi Masuk Wantimpres".
GUNTUR MEMBAHANA (memukul meja pelan, suaranya bergetar menahan amarah):
"Ini sudah tidak sehat! Ini stroke demokrasi! Apa dia tidak puas sepuluh tahun? Mau jadi bayang-bayang selamanya? Lihat fisiknya, sudah lelah, renta, tapi ambisinya... ambisinya itu yang bikin kita semua seisi kandang banteng sakit kepala!"
KOLEGA POLITIK (sambil mengisap rokok dalam-dalam):
"Banteng sudah mengeluarkan pernyataan maaf secara satir semalam. Mereka pikir itu serangan mematikan. Tapi kalau dia benar-benar masuk Wantimpres, permintaan maaf itu justru jadi senjata makan tuan. Dia bukan lagi petugas partai yang bisa mereka pecat, dia jadi 'Guru Bangsa' yang punya stempel resmi dari penguasa baru."
RUANG KERJA ISTANA NEGARA
JOKOWI mengambil sebuah bolpoin di atas meja Presiden, memutar-mutarnya di antara jari-jarinya yang ramping.
JOKOWI:
"Pak Presiden, kenapa hanya saya yang dipersoalkan? Ibu Mega masih memimpin BPIP, memimpin BRIN, memegang kendali partai. Pak SBY masih menjadi komandan di partainya. Mereka terjun ke politik, mereka memberikan pengaruh. Tapi begitu nama 'tukang kayu' ini disebut mau membantu... dunia seolah kiamat."
Ia berdiri, berjalan menuju peta besar Indonesia yang menempel di dinding.
PRESIDEN terdiam.
JOKOWI (suara meninggi, penuh penekanan):
"Mereka ingin saya pulang ke Solo, duduk diam, dan menonton mereka membongkar apa yang sudah kita bangun. Maaf... saya bukan tipe orang yang suka duduk diam sementara 'Gajah' saya sedang belajar berlari. Jika Wantimpres adalah jalannya, biarlah cacing-cacing itu semakin kepanasan. Biarlah mereka berteriak, karena teriakan mereka adalah tanda bahwa kita masih di jalur yang benar."
PRESIDEN berdiri, mengulurkan tangannya. JOKOWI menyambutnya. Sebuah jabat tangan yang bukan lagi sekadar serah terima jabatan, melainkan aliansi yang akan membuat "kandang banteng" berguncang hebat.
PRESIDEN:
"Selamat datang kembali di ring, Mas."
JOKOWI (tersenyum misterius):
"Terima kasih. Saya memang tidak akan pernah keluar dari ring, Pak."
Hening suasana. Malam semakin larut (emang gula).
(Bersambung)
Pepih Nugraha
***
DISCLAIMER: Ini merupakan skenario atau script lakon politik yang coba merekonstruksi peristiwa yang telah terjadi dan menangkap fenomena yang mungkin terjadi. Mohon maaf jika ada kesamaan nama, tempat, lembaga, dan nasib.
Sumber: FB Pepih Nugraha II https://www.facebook.com/share/1G21TbAzGQ/
