SITINDAON NEWS SITINDAON NEWS

Categories

  • Trending News (723)
  • Tarombo Marga Sitindaon (48)
    • Sukacita & Dukacita (12)
  • Politik & Opini (304)
  • Ekonomi & Bisnis (291)
  • Lifestyle & Health (366)
  • Tekno & Sains (70)
  • Entertaintment (65)
    • Games (0)
  • Food & Travel (94)
  • Budaya (58)
  • Inspirasi dan Inspiratif (135)
    • Jansen Sitindaon (31)
  • Sport (16)
  • Lowongan Kerja (29)
  • International (29)
  • Mimbar HKBP (0)
    • HKBP Pasar Minggu (3)
  • Pilpres 2019 (69)
  • Hukum & Kriminal (19)

Berdiri sejak 2018

  • Login
SITINDAON NEWS SITINDAON NEWS
  • Homepage
  • Tarombo Marga Sitindaon
    • Jansen Sitindaon
  • Siapa kita?
  • MORE

    HOT CATEGORIES

    • Pilpres 2019
    • Our Social Media
    • Games

    USER

    • Login Form
    Show
    • Forgot your username?
    • Forgot your password?
  • WTNG
Berlangganan buletin kami Newsletter
  1. You are here:  
  2. Home
  3. Politik & Opini
  4. Sekolah Garuda, Sekolah Rakyat dan Nasib Sekolah Negeri: Kasta Baru Pendidikan Indonesia?

Search

Details
Category: Politik & Opini
ZA Sitindaon By ZA Sitindaon
ZA Sitindaon
15.Feb
Hits: 7

Sekolah Garuda, Sekolah Rakyat dan Nasib Sekolah Negeri: Kasta Baru Pendidikan Indonesia?

SEKOLAH GARUDA, SEKOLAH RAKYAT, DAN NASIB SEKOLAH NEGERI: KASTA BARU PENDIDIKAN INDONESIA?

Di negeri yang konstitusinya menjamin hak pendidikan bagi seluruh rakyat, ironi justru muncul dari kebijakan yang membelah wajah sekolah menjadi beberapa kelas sosial. Munculnya program Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat digadang-gadang sebagai solusi pemerataan akses dan peningkatan kualitas. Namun di lapangan, sekolah negeri—yang sejak dulu menjadi tulang punggung pendidikan nasional—justru terasa seperti anak tiri di rumahnya sendiri.

Gedungnya banyak yang rusak.

Kekurangan guru.

Fasilitas minim.

Laboratorium sekadar papan nama.

Kesejahteraan guru jauh dari layak.

Sementara itu, sekolah dengan label program khusus justru hadir dengan bangunan baru, fasilitas lengkap, pendanaan jelas, bahkan skema pembiayaan guru yang lebih terjamin.

Pertanyaannya sederhana:

Mengapa negara mampu membiayai sekolah baru, tetapi tidak mampu memperbaiki sekolah yang sudah ada?

Ini bukan soal menolak program baru. Ini soal keadilan kebijakan.

Sekolah negeri selama puluhan tahun telah:

Menampung mayoritas anak Indonesia

Menjadi harapan rakyat kecil

Bertahan dengan keterbatasan

Namun hari ini, mereka seperti dipaksa menonton dari kejauhan ketika anggaran negara dialirkan ke proyek-proyek pendidikan dengan label baru.

Jika alasannya adalah “sekolah unggulan” atau “percontohan”, maka logikanya seharusnya: unggulkan semua sekolah negeri, bukan membuat sekolah unggulan baru.

Karena kualitas pendidikan tidak akan naik dengan menciptakan pulau-pulau kemewahan di tengah lautan sekolah yang kekurangan.

Lebih menyakitkan lagi bagi para guru.

Di satu sisi, ada guru yang mengajar di sekolah negeri dengan honor minim, beban administrasi tinggi, dan fasilitas terbatas.

Di sisi lain, negara menunjukkan bahwa sebenarnya anggaran itu ada—karena mampu membangun sekolah model baru dengan sistem pembiayaan yang lebih baik.

Artinya masalahnya bukan tidak mampu.

Tetapi tidak menjadikan sekolah negeri sebagai prioritas.

Jika pola ini terus berjalan, maka yang lahir bukan pemerataan pendidikan, melainkan kasta baru dalam sistem sekolah Indonesia:

1. Sekolah elite program negara

2. Sekolah model bantuan khusus

3. Sekolah negeri biasa yang dibiarkan bertahan sendiri

Padahal semangat pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa—bukan menciptakan hierarki sekolah.

Negara seharusnya ingat:

Mayoritas anak Indonesia tidak akan masuk Sekolah Garuda.

Tidak semua akan menikmati Sekolah Rakyat versi baru.

Tetapi hampir semuanya pernah dan akan bergantung pada sekolah negeri.

Kalau sekolah negeri kuat → pendidikan nasional kuat.

Kalau sekolah negeri dibiarkan lemah → ketimpangan makin parah.

Maka pertanyaan publik yang wajar hari ini adalah:

Kenapa bisa membangun sekolah baru dengan fasilitas lengkap, tetapi tidak bisa memperbaiki sekolah negeri yang sudah puluhan tahun mengabdi?

Ini bukan sekadar kritik kebijakan.

Ini suara keadilan bagi jutaan siswa dan guru yang setiap hari bertahan dalam keterbatasan.

Karena pendidikan bukan proyek pencitraan.

Pendidikan adalah masa depan bangsa.

Sumber: FB Yoyok Rahayu Basuki  https://www.facebook.com/share/1CrmhJ2nbu/

ZA Sitindaon
ZA Sitindaon

No comments

Leave your comment

In reply to Some User
Previous article: Drama Politik Banteng Solo, Menara Gading di Atas Gorong-gorong Prev Next article: Drama Politik Banteng Solo, Kontras Antara Kemegahan Tradisi dengan Kegelisahan yang Mendidih di Teuku Umar Next

Popular Posts

  • Cara Mengatasi Internet Telkomsel 'Lemot', Ikuti Langkah-langkahnya Agar Akses Internetmu Lancar
    27.Nov
  • Semrawutnya Parkir di Kawasan Pusat Pasar Medan
    04.Jan
  • Emak Emak Yang Terlibat Menjual Senjata Untuk Aksi Rusuh 22 Mei 2019
    28.May
  • Bokom, Makanan Pengantar Sejarah Aceh Singkil yang tak Lekang Digerus Zaman
    07.Sep

Categories News

  • Lowongan Kerja
  • Trending News
  • Food & Travel
  • Lifestyle & Health
  • Sport
  • Tekno & Sains
  • Entertainment
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kisah Insipirasi
  • Budaya
  • Politik & Opini
  • Hukum & Kriminal
  • Mimbar HKBP
  • International

Follow Us

Facebook Sitindaon News Instagram Sitindaon News YouTube Sitindaon News Twitter Sitindaon News Email Berlangganan Buletin Kami

SITINDAON NEWS 1

Sitindaon News menuju Situs Web Portal Berita Online berkelas dunia melalui penyediaan jasa informasi dan berbagai produk multimedia lainnya sehingga terbangun Tugu Namangolu didalam maupun diluar negeri khususnya marga Sitindaon yang nantinya dapat menjalankan fungsi² sosial lainnya bagi masyarakat luas. Berdiri sejak 2018.

Bagikan Share
FacebookFacebook MessengerMessenger TwitterTwitter WhatsAppWhatsApp TelegramTelegram Copy LinkCopy Link