Search
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 8
Drama Politik Banteng Solo, Menara Gading di Atas Gorong-gorong
DRAMA POLITIK BANTENG SOLO
(Scene: 7)
Menara Gading di Atas Gorong-Gorong
Ruang kerja Gubernur sangat mewah dan dingin. Di dinding tergantung foto besar Sang Ketua Umum Partai berlogo Banteng Ketaton. Di meja Pram, tumpukan buku tebal tentang tata kota, tapi tak ada satu pun sepatu bot berlumpur di sudut ruangan.
KANTOR GUBERNUR, SIANG:
Pram sedang duduk menyesap kopi khusus yang didatangkan dari Afrika ditemani seorang petugas partai, tersenyum menatap layar televisi yang memutar ulang cuplikan pernyataannya di depan tokoh pengusaha sekaligus politikus kawakan, JK.
"Kami kerjanya pakai otak, Puang, bukan masuk gorong-gorong seperti bapak itu," demikian pernyataan Pram yang juga dikutip media massa.
Terdengar JK yang berpengalaman berkomentar di televisi kepada Pram, "Kau katakan saja terus-terang biar terang terus bahwa yang kau maksud itu Jokowi, toh?"
Pram menjawab malu-malu, "I... Iye, Puang!"
Acara televisi berganti sinetron "Fatamorgana Cinta di Gurun Sahara".
PRAM (tertawa kecil, bangga):
"Lihat itu, Bung, itu namanya kelas! Politik itu soal gagasan, soal narasi. Bukan soal keringat yang bau matahari. Masuk gorong-gorong itu kan cuma akrobat kamera. Kita ini kaum pemikir. Tidak ada banteng bodoh, toh, tetapi banteng sial mungkin ada."
KADER PARTAI (agak ragu):
"Tapi Pak... di media sosial, netizen mulai berisik. Mereka bilang, sejak Bapak kerja melulu pakai otak, genangan air di Jakarta belum surut-surut. Malah sekarang kalau hujan, airnya bingung mau mengalir ke mana karena saluran airnya belum tersentuh otak Bapak."
PRAM (mengebas tangan):
"Ah, itu rakyat yang belum tercerahkan. Mereka terbiasa disuapi gaya kepemimpinan 'otot' si Tukang Kayu itu. Padahal, dunia modern itu dikendalikan dari meja kerja. Intelektualitas kita di atas segalanya."
KADER PARTAI (mendekat setengah berbisik):
"Masalahnya Pak, rakyat di bawah bilang: 'Otak tanpa otot itu namanya bengong'. Sedang 'otot tanpa otak itu namanya bengis'. Tapi kalau cuma otak saja seperti Bapak sekarang, mereka bilang itu namanya 'omon-omon'. Apa betul begitu, Pak?"
PRAM (wajahnya mulai mengeras):
"Jaga bicaramu, Bung! Kita ini petugas partai terpilih. Kita punya marwah. PDIP itu isinya orang-orang ideologis. Bukan pencitraan masuk parit!"
KADER PARTAI (terus meyakinkan):
"Justru itu Pak. Karena Bapak dari PDIP, ya kita kita ini petugas partai dari kandang Banteng, orang makin sensitif. Tadi ada demo tipis-tipis di depan balaikota. Mereka bawa spanduk dengan tulisan: 'Gubernur Intelektual, Kasus Korupsi Tetap Kolosal'. Mereka mengungkit-ungkit lagi soal kader kita yang banyak masuk bui karema korupsi, soal jabatan Ketua Umum yang seolah abadi... Mereka bilang, kita sibuk menuduh orang lain dinasti, padahal kita sendiri mempraktikkan 'kerajaan' internal' di kandang sendiri."
PRAM (berdiri, berjalan ke jendela melihat kemacetan):
"Biarkan saja. Mereka itu cuma iri. Kita ini sedang membangun peradaban lewat dialektika."
KADER PARTAI (membisikkan sesuatu yang pahit):
"Tapi Pak, dialektika tidak bisa menyerap air banjir. Blunder 'gorong-gorong' Bapak kemarin itu dianggap menghina rakyat kecil yang biasa kerja pakai fisik. Bapak seolah-olah bilang kalau orang yang berkeringat itu bodoh. PDIP makin jauh dari rakyat, Pak. Kita makin dianggap partai elit yang cuma pintar mencela tapi kering prestasi."
PRAM (mulai gusar):
"Lalu kau mau saya apa? Ikut-ikutan masuk gorong-gorong? Pakai sepatu bot dan berkeringat? Itu merendahkan martabat intelektual saya, meledek martabat ideologi partai kita!"
PETUGAS PARTAI (sambil agak takut-takut):
"Bukan begitu, Pak. Rakyat cuma mau lihat hasilnya. Antara otak dan otot itu harusnya sinkron, bukan saling meniadakan. Sekarang, Bapak dicap hanya punya teori di awang-awang, sementara masalah Jakarta makin membumi, bahkan masuk ke gorong-gorong."
(Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar. Suara klakson kemacetan dan teriakan warga yang lewat).
SUARA WARGA:
"Woi, Pak Gubernur! Otak jangan dipakai buat nyindir doang, sekali-kali pakai buat mikir... mikirin macet kek mikirin banjir kek. Jangan enak-enak duduk di kursi empuk sembari ngupi!"
(Pram menutup gorden dengan kasar. Wajahnya terlihat pucat, namun tetap berusaha terlihat angkuh, padahal sebelum jadi gubernur dia sangat lemah-lembut dan toleran).
PRAM (wajah memerah):
"Dasar warga tidak tahu terima kasih. Mereka tidak paham indahnya sebuah retorika!"
KADER PARTAI (membatin):
"Retorika tidak bakalan mengenyangkan perut, Pak. Dan rakyat sudah muak melihat kita yang merasa paling suci di atas tumpukan kesalahan sendiri."
PRAM (merah padam).
DI KEDIAMAN JOKOWI DI SOLO: orang-orang dari berbagai kalangan semakin banyak berdatangan, mulai pasangan Pengantin Barcelona "Susi Susanti-Alan Budikusuma" sampai sejumlah duta besar negara sahabat. Kedatangan orang dari berbagai kalangan ini semakin menyulitkan para pembenci Jokowi sedunia yang menuduh bahwa itu rekayasa belaka dan orang-orang datang karena dimobilisasi dan dibayar, bukan dari hati sanubari sendiri. Tetapi yang menjadi berita justru salah seorang yang bertamu ke Jokowi itu adalah kader banteng yang sempat menjadi calon gubernur Jawa Barat, Ronal Surapradja.
(Bersambung)
Pepih Nugraha
DISCLAIMER: Ini merupakan skenario atau script lakon politik yang coba merekonstruksi peristiwa yang telah terjadi dan menangkap fenomena yang mungkin terjadi. Mohon maaf jika ada kesamaan nama, tempat, lembaga, dan nasib
Sumber: Pepih Nugraha II https://www.facebook.com/share/p/14UQF8yq19E/
