Search
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By ZA Sitindaon
- Hits: 794
Foto: bbc | Mak Jah duduk di perahu yang bertengger di teras rumahnya yang tergenang air laut. - ULET IFANSASTI/GETTY IMAGES
SitindaonNews.Com | Banjir rob yang terjadi selama 20 tahun terakhir telah menenggelamkan dua dusun di Demak, Jawa Tengah, membuat lebih dari 200 kepala keluarga terpaksa pindah. Namun keluarga Pasijah memutuskan bertahan.
Perempuan paruh baya yang akrab disapa Pasijah itu mengayuh dayung sampan yang selama beberapa tahun terakhir dipakainya untuk bepergian.
Air laut yang mengepung rumah membuatnya harus menggunakan sampan ke mana pun, bahkan ketika sekadar harus ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari, serta mengantar anaknya ke sekolah.
Keluarga Pasijah adalah satu-satunya keluarga yang bertahan di Dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, Demak, Jawa Tengah.
Abrasi yang terjadi selama 20 tahun terakhir telah menenggelamkan dua dusun di Desa Bedono yang membuat lebih dari 200 kepala keluarga terpaksa pindah.
"Desa ini dulunya dikelilingi sawah. Saya di sini juga menanam padi dan jagung. Tapi rob datang terus menerus, akhirnya dibuat tambak. Tapi rob semakin parah sekarang malah jadi laut," ujar Mak Jah, panggilan akrab Pasijah.
Sejak tahun 2001, banjir rob menjadi langgangan pesisir Demak yang berdekatan dengan ibu kota Jawa Tengah, Semarang. Namun akhirnya, banjir yang biasanya menerjang setahun sekali, lambat laun menjadi banjir permanen.
Pada tahun 2004, air laut mulai menggenangi desa. Hingga akhirnya dua tahun kemudian, seluruh warga dusun tempat tinggal Mak Jah, terpaksa pindah.
"Tahun 2005 ada unjuk rasa [menuntut relokasi], tahun 2006 sedikit demi sedikit warga mulai pindah hingga tahun 2010 sudah kosong, tinggal saya saja. Sendirian, tidak ada temannya," tutur Mak Jah.
Laut yang dulunya berjarak sekitar empat kilometer dari rumahnya pun perlahan-lahan menggenangi rumahnya.
Teras depan rumah yang terendam air membuatnya harus menyesuaikan tata letak rumahnya. Ruang tamu dia jadikan kamar tidur sementara pintu belakang dan dapur, kini jadi pintu masuk ke dalam rumah.
Mak Jah mengaku terpaksa meninggikan lantai rumah tiga kali agar tak tenggelam.
"Saya tinggikan sendiri. Saya pakai perahu ke rumah-rumah, cari pecahan tembok yang sudah dipakai. Saya izin ke yang punya rumah. Kalau nggak diizinkan saya tidak ambil," kata dia.
Dengan kondisi rumah yang dikepung air laut, setiap hari Mak Jah harus berjibaku dengan air pasang yang selalu menerjang sejak petang hingga tengah malam.
Suatu kala, air laut pasang hingga mencapai tempat tidurnya, membuatnya terbangun dalam kondisi basah kuyup di tengah malam.
"Bantal basah semua, kemambang (terapung)," ujarnya sambil membayangkan pengalamannya itu.
"Kapok, amben-amben terus didhuwurke (tempat tidur lalu ditinggikan)," imbuhnya.
Kendala ekonomi menjadi faktor utama keluarganya bertahan di rumah itu.
Mata pencaharian Rohani, suami Mak Jah, sebagai nelayan disebut hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, keluarga Mak Jah membantu pembibitan mangrove yang ditanam di sekitar rumahnya.
Dia mengaku sudah menanam puluhan ribu mangrove, bekerja sama dengan perguruan tinggi di Semarang dan Dinas Lingkungan Hidup Demak.
"Saya bertahan di sini, meski tidak punya uang, tidak bisa makan, ya seadanya. Nyatanya sudah tidak bisa minta bantuan ke teman atau tetangga," kata dia.
Namun, Mak Jah mengaku merasa terpanggil untuk merawat desanya dengan menanam mangrove di lokasi di mana dulu dusunnya berada, meski tak ada orang lain yang bertahan di desa itu.
Panggilan itu yang kemudian membulatkan tekadnya untuk bertahan di rumah itu.
"Saya tidak ingin pindah. Sudah diniati di sini, kami tinggal di sini," tuturnya berkukuh.
Mereka yang "terusir" karena terancam tenggelam
Demak mengalami perubahan garis pantai hingga 5 km ke arah darat akibat abrasi.
Akibatnya, pada tahun 2006 sebagian besar rumah milik 206 KK di Desa Bedono mulai terendam air. Setelah warga menuntut relokasi, mereka dipindahkan ke desa lain di Kecamatan Sayung, termasuk perempuan paruh baya bernama Maryati.
Maryati yang berusia 53 tahun itu mengatakan bahwa genangan air laut telah membuat lapuk dinding rumahnya yang terbuat dari papan. Imbasnya, hampir setengah rumahnya rusak.
"Bagian belakang rumah sudah rusak kena ombak. Dinding yang terbuat dari papan sudah rontok," tuturnya.
Khawatir anaknya yang kala itu masih kecil akan terdampak banjir laut. Dengan sedikit bantuan material yang diberikan pemerintah daerah, dia membangun rumah yang berjarak sekitar 5 km dari rumah sebelummya.
Senada, kekhawatiran banjir laut yang kian tinggi juga menjadi alasan Muningsih dan keluarganya untuk pindah dari Rejosari.
"Kalau rob masuk rumah, air bisa menggenangi rumah."
"Saya jadi takut, lalu saya minta pindah. Sebenarnya tidak punya dana, lalu cari pinjaman uang dan bangun rumah," ujarnya.
`Lebih dari 100 desa terancam tenggelam`
Pekalongan dan Demak merupakan salah satu daerah di pesisir Indonesia yang terancam tenggelam. Penurunan muka tanah, ditambah dengan pemanasan global menjadi penyebab utama potensi tenggelamnya pesisir Indonesia.
Peneliti Geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas menuturkan kenaikan permukaan air laut di Indonesia (sea level rise) akibat pemanasan global diperkirakan sekitar 3 - 8 milimeter per tahun.

Sementara, penurunan muka tanah (land subsidence) diperkirakan sekitar 1-10 sentimeter per tahun. Bahkan, di beberapa tempat seperti Pekalongan dan ibu kota Jakarta, perkiraan penurunan muka tanah mencapai 15 hingga 20 sentimeter.
"Di Jawa lebih dari 100 desa kena dampak," ungkap Heri.
Merujuk data Road Map Land Subsidence yang dirilis Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi pada 2019, luasan area terdampak banjir rob di Pantai Utara Jawa mencapai 11.400 hektar dan abrasi (erosi pantai) mencapai sekitar 5.000 hektar.
Diketahui bahwa Pekalongan dan Demak merupakan dua kota yang mengalami banjir rob dengan luasan paling besar.
Pekalongan, `salah satu kota dengan laju penurunan muka tanah tercepat di dunia`
Peneliti Geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas menuturkan penurunan muka tanah terutama terjadi di daerah anglomerasi, pesisir yang banyak orangnya.
"Yang cepat potensi tenggelam Pekalongan.
"Pesisir Pekalongan di situ memang orang sudah banyak, terutama banyak nelayan, petani, masyarakat menengah ke bawah. Sekarang sudah terimbas oleh banjir laut ini," imbuhnya.
Pekalongan di pesisir utara Jawa Tengah, mengalami penurunan tanah sekitar 1-20 sentimeter setiap tahunnya.
Pada tahun 2018, tercatat 31 persen wilayah daratan Pekalongan telah tergenangi air laut secara permanen.
Lahan yang dulunya sawah dan kebun, kini banyak dimanfaatkan sebagai tambak ikan.
Salah satu warganya, Sisriati, terpaksa meninggikan lantai rumahnya hingga satu meter.
Imbasnya, jarak antara lantai dan langit-langit rumah semakin pendek.
"Kalau berjalan [di dalam rumah] harus hati-hati, kalau nggak hati-hati ya kejegluk (terbentur). Tamu-tamu juga sering kejegluk soalnya ini kan sudah mentok, nggak bisa ke atas lagi wong atasnya sudah rapuh," tuturnya.
Sisriati memilih bertahan tinggal di sana meski rumahnya terus ambles dan sumber penghasilannya menghilang.
"Dulu sebelum ada rob sekitar sawah itu masih bisa ditanami sebelum jadi tambak. Jadi kehidupan di sini dulu tercukupi ekonominya. Menanam padi juga masih bagus penghasilannya bagi para petani."
"Tetapi sekarang banyak yang menganggur," jelasnya.
`Impian saya, jadikan area bebas yang kita hijaukan`
Banjir rob yang datang setiap tahun di Pekalongan, adalah alasan utama dibangunnya tanggul pengendali ombak di kota tersebut.
Proyek ini menelan biaya hingga Rp500 miliar. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menyediakan sejumlah pompa air berkapasitas 2.000 liter/detik.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, ketika awal tanggul itu dibangun, dia mengaku sulit sekali mendapat dukungan dari masyarakat yang menuntut ganti rugi.
"Pada saat peralatan berat mau masuk [ke area proyek], ternyata dicegat orang. Selalu begitu sampai akhirnya sekarang sudah mulai kelihatan tanggulnya," ungkap Ganjar.
"Kurang lebih 22.000 KK bisa diselamatkan," akunya.
"Tahap berikutnya adalah kita menyiapkan rencana berikutnya. Tapi kalau tidak, saluran-saluran air harus diperbaiki."
Dia mengatakan, pemerintah masih mencari solusi jangka panjang untuk permasalahan tata ruang serta ekonomi wilayah terdampak.
"Kalau impian saya, dibebaskan, tidak untuk perumahan, tidak untuk industri, biarkan mereka menjadi area bebas yang kita hijaukan kemudian kita tanam sesuatu yang bisa menahan, antara lain mangrove atau barangkali di beberapa pantai itu cemara udang. Tapi, mahal sekali dan mereka belum tentu mau," ujar Ganjar.
"Tapi kalau menunggu alam dan kondisi tiba-tiba membaik dan airnya surut, itu seperti menunggu Godot. Tidak akan pernah datang," cetusnya.
Tulisan ini merupakan bagian dari laporan seri tentang Pesisir Indonesia yang terancam tenggelam di situs BBC News Indonesia. Anda juga bisa menyimak kisah ini di Siaran Radio Dunia Pagi Ini BBC Indonesia.
Produksi visual oleh Anindita Pradana dan grafis oleh tim jurnalis visual East Asia BBC News.
Sumber: vivanews.com
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By ZA Sitindaon
- Hits: 867

SitindaonNews.Com | Coba tanyakan pada ibu, bagaimana cara menyimpan alpukat yang biasa dilakukannya.
Hampir sama seperti pisang, alpukat adalah buah yang dapat matang dengan cepat, nih, teman-teman.
Maka dari itu, kadang ibu memilih untuk membeli alpukat yang belum matang sepenuhnya jika belum ingin langsung dipakai.
Ada berbagai cara menyimpan alpukat yang bisa dilakukan agar alpukat cepat matang kalau ingin segera digunakan, lo.
Cara Menyimpan Alpukat Agar Cepat Matang
Alpukat yang masih keras artinya belum matang, sehingga kurang nikmat kalau dimakan.
Nah, agar alpukat cepat matang dan bisa kita olah dan nikmati maka sebaiknya simpan alpukat di tempat yang hangat.
Misalnya saja kita masukkan ke dalam kantung kertas, bungkus dengan kertas koran, maupun letakkan di dalam beras.
Perlu diingat, kalau alpukat belum matang, maka jangan simpan alpukat di dalam kulkas.
Alasannya adalah karena alpukat sama seperti pisang, yaitu akan menghasilkan etilen ketika dipetik, yaitu zat yang memicu proses pematangan.
Dengan memasukkan alpukat ke tempat yang hangat, maka hal ini akan memekatkan gas etilen yang memicu alpukat cepat matang.
Namun kita harus selalu memeriksa alpukat, nih, agar alpukat tidak terlalu matang dan daging buahnya menjadi lembek.
Cara Menyimpan Alpukat yang Sudah Matang
Kalau alpukat yang dibeli ibu sudah matang tapi belum ingin kita gunakan, maka ada cara yang bisa dilakukan agar alpukat tidak terus menerus mengalami proses pematangan.
Kebalikan dari cara menyimpan alpukat agar cepat matang, alpukat yang sudha matang bisa kita simpan di kulkas, nih.
Hal ini memang tidak bisa menghentikan proses pematangan alpukat oleh zat etilen.
Namun dengan menyimpannya dalam kulkas, maka proses pematangan akan berjalan lebih lambat dibandingkan saat alpukat diletakkan di tempat yang hangat.
Membekukan alpukat juga bisa dilakukan agar alpukat bertahan lebih lama.
Letakkan alpukat dalam sebuah wadah tertutup, lalu simpan alpukat dalam freezer agar membeku. Alpukat beku bisa bertahan hingga enam bulan tanpa atau hanya sedikit berubah warna, lo.
Cara Menyimpan Alpukat yang Sudah Dibelah
Atau mungkin teman-teman ingin menyimpan sisa alpukat yang sudah dibelah di dalam kulkas dan akan digunakan kemudian?
Caranya adalah dengan letakkan sisa alpukat dalam wadah tertutup. Namun sebelumnya berikan air perasan lemon untuk membaluri alpukat lebih dulu agar tidka berubah warna, ya.
Nah, alpukat yang sudah dibelah ini bisa disimpan dalam keadaan beku selama tiga bulan di dalam freezer.
Sumber: bobo.grid.id
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By ZA Sitindaon
- Hits: 986

Sumber: .kumparan.com
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By ZA Sitindaon
- Hits: 853
Pernahkah kamu menghidupkan mesin mobil saat AC dalam kondisi menyala? Biasanya kebiasaan buruk ini dilakukan karena lupa kalau kondisi AC mobil itu sedang menyala saat kita sedang ingin menstarter mobil
Namun Apakah hal tersebut berdampak buruk bagi mobil itu sendiri? Berikut penjelasan dari Inspektor Carsome terkait hal tersebut.
Menyalakan mesin mobil memang tidak terlalu berakibat buruk pada mesin kompresor AC, namun hal ini akan membebani daya kinerja aki yang harus mengeluarkan daya tarikan lebih besar untuk memutar dinamo starter saat menyalakan mesin.
Jika Aki mobil sudah lama dan sudah jelek maka arus listrik yang tersimpan dalam aki bisa langsung habis. Selain itu juga bisa menyebabkan mesin alternator dan accucepat rusak.
Jadi, baiknya kamu mengecek apakah AC, head unit, dan lampu dalam keadaan menyala atau tidak sebelum menghidupkan mobil agar menjaga kondisi dan daya tahan aki lebih awet dan tidak mudah rusak.
Sumber : .suara.com
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By admin
- Hits: 902
Mulai dari babi, surat cinta hingga bus cinta jadi simbol merayakan Valentine setiap 14 Februari. Dari berbagai sumber, CNNIndonesia.com menemukan 10 negara dengan tradisi dan cara unik merayakan Valentine.
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By ZA Sitindaon
- Hits: 842
PENCARI ILMU SEJATI
Bindere Zainur, seorang filsuf bangsawan dari Madura, mengeluh kepada sahabatnya, Raden Wong Wongan, penguasa Negeri Rembang,
"Aku hidup demi pengetahuan", Bindere bicara dengan suara yang masgul, "kalau tak ada lagi yang tersisa dari dunia ini yang belum kuketahui, untuk apa lagi hidupku ini?"