Sikap Realistis Demokrat, Menjauh dari Pusaran Tuduhan Ijazah Palsu Jokowi
Sejujurnya, saya sudah mencium aroma ini sejak awal, yaitu aroma masakan yang gosong sebelum dihidangkan. Di jagat persilatan politik yang penuh intrik, ada sebuah adagium klasik yang tak pernah usang, "Pesta usai, saatnya cuci piring."
Tapi celakanya, dalam drama ijazah palsu Jokowi ini, para tamu undangan sudah kabur lewat pintu belakang sebelum piring-piring kotor itu sempat disentuh.
Saya mengamati pergerakan ini dengan saksama. Ingat betapa menggebu-gebunya Denny Indrayana di awal? Ia tampil layaknya "pendekar hukum" yang siap pasang badan untuk tersangka Roy Suryo dan kawan-kawan. Retorika hukumnya tajam, menyerang ke sana-kemari.
Namun, lihatlah sekarang. Denny seolah lesap ditelan bumi, menghilang tertiup angin bahorok, "gone with the wind" . Tak ada lagi suara lantang itu saat perkara ini benar-benar akan segera memasuki ruang sidang.
Mengapa? Jawabannya ada pada gestur politik Partai Demokrat.
Bagi saya, kunjungan Wasekjen Demokrat ke Solo untuk menemui Jokowi bukan sekadar silaturahmi biasa. Itu adalah pernyataan sikap yang tebal dan terang: Demokrat, terutama SBY dan AHY, ogah dilibatkan dalam pusaran isu ijazah palsu ini. Mereka sadar betul, terus menempel pada isu "sampah" ini hanya akan menjadi beban elektoral yang mematikan.
AHY yang sedang digembleng sebagai pemimpin masa depan tentu tidak boleh terlihat "bermain kotor" atau terjebak dalam lubang skeptisisme yang tak berujung, lalu ditepuktangani publik.
SBY, sebagai ahli strategi kawakan, pasti paham bahwa "bermain api" dengan isu personal seperti ijazah palsu Jokowi yang sudah berkali-kali dipatahkan hanya akan merusak kredibilitas partai yang ia bangun dengan narasi santun dan religius.
Maka, tinggallah Roy Suryo sendirian di tengah gelanggang. Ia ditinggalkan oleh barisan pendukungnya, bahkan oleh "inang" yang selama ini dianggap memberi perlindungan politik.
Ia kini harus berjibaku sendiri di pengadilan, sementara orang-orang yang dulu menyulut api justru sudah sibuk mencari ember untuk menyiram jejak mereka sendiri. Mengapa? Karena berada di dekat Roy saat ini dianggap "berbahaya secara elektoral". Tak ada yang mau tenggelam dalam perahu yang bocor.
Sekali lagi, kita harus akui, Jokowi adalah maestro catur politik yang tidak biasa. Ia tak perlu banyak bicara, cukup membiarkan waktu dan logika hukum bekerja, dan satu per satu bidak lawan rontok karena kepanikan mereka sendiri.
Saran saya untuk Roy Suryo dan kawan-kawan?
Mungkin inilah saatnya mencari pelabuhan baru. Bergabunglah dengan PDIP, misalnya.
Di sana, Anda akan menemukan kawan-kawan seperasaan. Sebab di sana, meski kiamat kurang dua hari lagi, narasi bahwa "Jokowi adalah penghianat" akan tetap dirawat dengan penuh keyakinan, apa pun alasannya. Klop, 'kan?
Pepih Nugraha
Sumber: FB Pepih Nugraha II https://www.facebook.com/share/p/1Rs2TifnkR/
