Bantuan Sepeda Motor untuk Pegawai SPPG, Guru Jadi Anak Tiri yang Menangis di Pojokan Kelas?
Di tengah gencarnya program pelayanan publik berbasis dapur dan distribusi pangan, kabar bantuan sepeda motor untuk pegawai SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) menjadi sorotan. Pemerintah disebut ingin mempercepat mobilitas petugas agar distribusi berjalan lancar dan efisien. Secara konsep, tentu ini terdengar mulia: pelayanan cepat, logistik tepat waktu, gizi tersampaikan.
Namun di sudut ruang kelas yang atapnya bocor dan papan tulisnya mulai pudar, ada profesi yang kembali merasa seperti “anak tiri” pembangunan: guru.
Para pegawai SPPG dapat kendaraan operasional baru. Sementara itu, banyak guru honorer masih bergulat dengan honor yang sering kali lebih kecil dari cicilan motor yang bahkan belum tentu mereka miliki. Ada yang berangkat mengajar naik sepeda tua, ada yang nebeng, ada yang harus membagi waktu antara mengajar dan pekerjaan sampingan agar dapur tetap mengepul.
Ironinya, sekolah adalah tempat lahirnya generasi yang kelak akan mengisi berbagai sektor—termasuk sektor pelayanan gizi itu sendiri. Tapi ketika perhatian dan fasilitas terasa lebih deras ke satu sisi, muncul pertanyaan yang sulit dihindari: apakah pendidikan masih dianggap fondasi utama, atau sekadar pelengkap narasi?
Bukan soal iri pada pegawai SPPG. Mereka pun bekerja keras. Mengurus distribusi makanan untuk anak-anak bukan perkara mudah. Mereka layak mendapatkan dukungan operasional yang memadai. Tetapi kebijakan publik semestinya berjalan dengan rasa keadilan yang seimbang. Ketika satu sektor diberi kendaraan, sementara sektor lain bahkan belum diberi kepastian kesejahteraan, rasa timpang itu sulit diabaikan.
Di banyak daerah, guru masih harus membeli alat peraga dengan uang pribadi. Ada yang patungan untuk memperbaiki kipas angin kelas. Ada yang harus jadi admin, bendahara, bahkan petugas kebersihan sekaligus. Dan kini, melihat bantuan kendaraan untuk sektor lain, perasaan “ditinggal” itu makin nyata.
Jika negara serius membangun sumber daya manusia, maka pendidikan tak boleh hanya jadi slogan. Gizi penting, tentu. Tapi ilmu dan kesejahteraan pendidik adalah tulang punggungnya. Anak yang kenyang perlu guru yang sejahtera untuk bisa tumbuh cerdas.
Jangan sampai gambaran paling menyedihkan dari kebijakan ini adalah guru yang tersenyum di depan murid, tetapi pulang dengan hati yang terasa makin kecil—seolah menangis sendirian di pojokan kelas.
Karena pada akhirnya, bangsa besar bukan hanya soal motor yang melaju cepat di jalan distribusi, tetapi juga tentang guru yang berdiri tegak dan dihargai di ruang kelas.
Sumber: FB Yoyok Rahayu Basuki https://www.facebook.com/share/1B6hG2ccQG/
