Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya.
Kata-kata itu bukan sekadar kata-kata manis untuk dibacakan di majelis, bukan pula ajaran moral kosong untuk menenangkan hati yang takut. Ia adalah hukum hidup rakyat: kedaulatan tidak bisa ditawar, keadilan tidak bisa ditangguhkan.
Coba lihat sekeliling kita! Para penguasa, para penjajah, dan para pemilik modal yang rakus, datang menjarah tanpa izin. Mereka menjarah tanah, mereka menjarah harta, mereka menjarah kemerdekaan rakyat. Dan sebagian orang berpikir, cukup kita “berunding,” kita duduk bersama mereka di meja perundingan, lalu semuanya akan damai. Itu omong kosong! Maling tidak menghormati perjanjian, maling tidak menghormati yang lemah.
Hanya ada satu jalan: rakyat harus sadar, rakyat harus bersatu, rakyat harus menuntut haknya dengan tegas. Rumah kita adalah tanah air kita, harta kita adalah keringat kita, nyawa kita adalah harga kemerdekaan kita. Tidak ada kompromi! Jika tuan rumah menawar, rumahnya akan terus dijarah. Jika rakyat menawar, kemiskinan dan penindasan akan menindihnya terus-menerus.
Perjuangan rakyat bukan soal sopan santun di meja bundar, tetapi soal melawan ketidakadilan dengan keberanian dan solidaritas. Tuan rumah tak akan berunding dengan maling—dan begitu juga rakyat yang sadar: kita hanya bisa menang jika kita menegakkan kebenaran dan mengambil kembali yang menjadi milik kita.
Salam Kato
sumber: Literasi Kata https://www.facebook.com/share/1K7toz9xgm/
