SITINDAON NEWS SITINDAON NEWS

Categories

  • Tarombo Marga Sitindaon (47)
    • Tugu Namangolu Sitindaon (4)
    • Sukacita & Dukacita (14)
  • Politik & Opini (340)
  • Ekonomi & Bisnis (405)
  • Lifestyle & Health (404)
  • Tekno & Sains (71)
  • Entertaintment (66)
  • Nasional (19)
  • Food & Travel (98)
  • Budaya (58)
  • Inspirasi dan Inspiratif (137)
    • Jansen Sitindaon (32)
  • Sport (16)
  • Lowongan Kerja (29)
  • International (46)
  • Siraman Rohani (0)
    • HKBP Pasar Minggu (3)
  • Pilpres 2019 (69)
  • Hukum & Kriminal (37)

Berdiri sejak 2018

  • Login
SITINDAON NEWS SITINDAON NEWS
  • Homepage
  • Tarombo Marga Sitindaon
    • Jansen Sitindaon
  • Siapa kita?
  • MORE

    HOT CATEGORIES

    • Pilpres 2019
    • Our Social Media

    USER

    • Login Form
    Show
    • Forgot your username?
    • Forgot your password?
  • WTNG
Berlangganan buletin kami Newsletter
  1. You are here:  
  2. Home
  3. Politik & Opini
  4. JURNALISME DAN GODAAN MENGHAKIMI

Search

Details
Category: Politik & Opini
ZA Sitindaon By ZA Sitindaon
ZA Sitindaon
28.Mar
Hits: 80

JURNALISME DAN GODAAN MENGHAKIMI

JURNALISME DAN GODAAN MENGHAKIMI - Sebagai jurnalis pensiunan, saya melihat pergeseran yang mengganggu: profesi yang dulu rendah hati dalam mencari kebenaran kini kerap berubah menjadi panggung penghakiman.

Wartawan tidak lagi sekadar bertanya. Ia merasa berhak mengadili. Menuding. Memaksa. 

Di titik ini, saya kembali pada pertanyaan lama: Apakah ini membantu publik memahami? Apakah ini penting? Apakah ini berdampak?

Pertanyaan itu relevan ketika kita menyaksikan wawancara yang makin konfrontatif, bahkan agresif. 

Sosok seperti Najwa Shihab dipuji karena keberaniannya. Namun keberanian dalam jurnalisme bukan soal menekan narasumber.

Keberanian sejati adalah menahan diri — tidak tergoda merasa paling tahu, apalagi paling benar. Membawa dan memaksakan kebenarannya sendiri. 

Dalam "The Elements of Journalism", Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menegaskan: jurnalisme adalah disiplin verifikasi, bukan panggung opini. Wartawan mencari kebenaran, bukan mengklaim telah memilikinya.

Kini garis itu kian kabur.

Jurnalis bergeser dari penanya menjadi “investigator moral” yang gemar menuding. Gaya konfrontatif ala jurnalis perang Italia, Oriana Fallaci (1929-2006) memang memikat. Tajam, dramatis, menggugah emosi. Namun tanpa kedalaman, ia berubah menjadi pertunjukan.

Wawancara bukan lagi proses menggali, melainkan panggung - untuk memuaskan penonton.

Pertanyaan disusun bukan untuk menjernihkan, tetapi untuk menjebak. 

Narasumber diposisikan sebagai objek yang harus dipojokkan — bahkan dipermalukan.

Apakah ini penting? Belum tentu.

Apakah ini berdampak? Mungkin—tapi sebatas sensasi. Apakah ini membantu memahami? Di sinilah kita patut ragu.

Masalah lain muncul: narsisme profesi. Wartawan ingin menjadi pusat cerita. Dia bernafsu jadi tokohnya. 

Filsuf dan intelektual publik Pierre Bourdieu pernah mengingatkan bahwa televisi telah mendorong jurnalis menjadi aktor utama, bukan fasilitator dialog.

Akibatnya, publik tidak lagi fokus pada substansi, tetapi pada performa. Bukan apa yang dikatakan narasumber, melainkan bagaimana pewawancara menekan — misalnya saat interview Presiden Prabowo Subianto, baru baru ini. 

Ironisnya, ini terjadi ketika ruang kebebasan media justru semakin terbuka. Kekuasaan yang tidak lagi represif memberi ruang bertanya.

Namun ruang ini sering disalahartikan sebagai lisensi untuk bertindak semaunya.

Dalam etika Society of Professional Journalists, ada prinsip yang kerap dilupakan: "minimize harm". Mencari kebenaran tidak boleh merendahkan martabat narasumber. Apalagi sengaja memancing efek sensasi di balik upaya mengikofirmasi dan mengklarisikasi. 

Jurnalisme bukan interogasi. Ia percakapan untuk membuka wawasan.

Saya tidak menolak wawancara keras. Dalam situasi tertentu, ia perlu — ketika narasumber menghindar atau publik butuh kejelasan.

Namun tekanan tanpa tujuan hanya menjadi kebisingan. Ia mungkin memuaskan ego penanya, tetapi tidak memperkaya pemahaman.

Di ujungnya, pertanyaannya sederhana: apakah kita masih setia pada esensi jurnalisme?

Atau kita telah berubah menjadi aktor dalam drama yang kita ciptakan sendiri?

Jurnalisme yang kuat bukan yang paling lantang, melainkan yang paling jernih. Bukan yang menekan, melainkan yang membuka.

Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk ini, yang kita butuhkan bukan keberanian untuk menyerang—melainkan kerendahan hati untuk mendengar. ***

Sumber: FB Supriyanto Martosuwito https://www.facebook.com/share/1BdXrnvSt6/

ZA Sitindaon
ZA Sitindaon

No comments

Leave your comment

In reply to Some User
Previous article: APA ARTI FOTO INI ? Prev Next article: Jangan Panik! Dunia Tidak akan Runtuh Jika Selat Hormuz Ditutup Next

Popular Posts

  • Cara Mengatasi Internet Telkomsel 'Lemot', Ikuti Langkah-langkahnya Agar Akses Internetmu Lancar
    27.Nov
  • Semrawutnya Parkir di Kawasan Pusat Pasar Medan
    04.Jan
  • Emak Emak Yang Terlibat Menjual Senjata Untuk Aksi Rusuh 22 Mei 2019
    28.May
  • Bokom, Makanan Pengantar Sejarah Aceh Singkil yang tak Lekang Digerus Zaman
    07.Sep

Categories News

  • Lowongan Kerja
  • National
  • Food & Travel
  • Lifestyle & Health
  • Sport
  • Tekno & Sains
  • Entertainment
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kisah Insipirasi
  • Budaya
  • Politik & Opini
  • Hukum & Kriminal
  • Mimbar HKBP
  • International

Follow Us

Facebook Sitindaon News Instagram Sitindaon News YouTube Sitindaon News Twitter Sitindaon News Email Berlangganan Buletin Kami

SITINDAON NEWS 1

Sitindaon News menuju Situs Web Portal Berita Online berkelas dunia melalui penyediaan jasa informasi dan berbagai produk multimedia lainnya sehingga terbangun Tugu Namangolu didalam maupun diluar negeri khususnya marga Sitindaon yang nantinya dapat menjalankan fungsi² sosial lainnya bagi masyarakat luas. Berdiri sejak 2018.

Bagikan Share
FacebookFacebook MessengerMessenger TwitterTwitter WhatsAppWhatsApp TelegramTelegram Copy LinkCopy Link