Search
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1275
Johanes B Kotjo (Foto: Ari Saputra-detikcom)
Faiq Hidayat - detikNews
Jakarta - Pengusaha Johanes B Kotjo mengaku menyesal telah memberikan uang kepada eks Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih. Dia mengatakan duit tersebut hanya sebatas bantuan dan tak menyangka bakal menimbulkan masalah hukum.
"Kalau saya tahu dari awal bantuan (uang kepada Eni) itu akan berpotensi masalah hukum seperti ini, mungkin saya akan berpikir ulang sebelum membantu (Eni)," ujar Kotjo saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi dalam di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Senin (3/12/2018).
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1438
Bohong Apa Bohong
Ada Maling Teriak Maling
Koruptor Teriak Koruptor
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1051
Partai Nyinyir atau Partai Komentar
Ada yang ngomong "Politikus Sontoloyo", rame-rame komentar.
Ada yang ngomong "Tampang Boyolali", rame-rame gempar.
Ada yang ngomong "Politikus Genderuwo", sang politikus bikin puisi dengan komentar.
Ada yang ngomong " Budeg dan Buta", terus panik berkomentar.
Tampang Boyolali vs Sontoloyo sudah dipanasi media nasional bersama para tokoh politik, pakar dan ahli bahasa, akankah "Genderuwo vs Budeg dan Buta akan dipanasi lagi oleh media nasional itu bersama para "tokoh nyinyir berkomentar dari partai nyinyir tukang komentar ?
Hai para ahli komentar, mana ide, mana gagasanmu untuk mensejahtetakan rakyat seperti yang selalu kau persoalkan itu ?
Rakyat tidak peduli mau ada yang ngomong sontoloyo, tampang boyolali, genderuwo, budeg dan buta. Rakyat menunggu anda semua para ahli komentar dari partai komentar untuk komitmen membuat UU Hukum Mati semua Koruptor tanpa banyak komentar.
Jangan banyak komentar, Hukum Mati semua Koruptor, atau anda semua memang bagian dari koruptor.
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1290
Mereka Yang Mempersoalkan "Boyolali vs Sontoloyo"
Situasi politik makin panas adalah ketika "Boyolali vs Sontoloyo" diperdebatkan di depan publik melalui media nasional, apalagi semua narasumber merasa paling benar sendiri.
Sederhana sekali, tidak perlu pengamat, tokoh, ahli atau pakar politik atau pakar bahasa untuk memperdebatkannya karena mungkin saja ada conflik interest disana.
Akar masalah kata Boyolali dan Sontoloyo bukanlah pada siapa yang mengatakannya atau siapa yang membuat statemen itu, tetapi masalahnya adalah pada siapa yang mempersoalkan atau siapa yang protes atau siapa yang keberatan dengan kata-kata itu sendiri.
Ya, sekali lagi sangat sederhana sekali, bahwa mereka yang mempersoalkan, keberatan, protes dengan kata Boyolali atau Sontoloyo adalah menunjukkan pada diri mereka sendiri.
Kalau tidak mengerti juga, kalau saya mempersoalkan "Tampang Boyolali mungkin akan di usir jika masuk mall atau hotel mewah di Jakarta" itu adalah karena saya adalah orang Boyolali, kalaupub ada sedikit bukan orang Boyolali yang ikut protes itu adalah hanya bentuk solidaritas.
Demikian pula jika saya mempersoalkan, protes atau keberatan dengan kata "Politikus Sontoloyo", berarti saya adalah adalah orang yang dimaksud. Kalaupun ada orang lain bukan saya ikutan protes. Itu karena ada sedikit orang lain yang mau membela dan mendukung saya atau ada conflik interest nya.
Untuk itu, mari kita ciptakan rasa damai dan aman, jika memang benar-benar ingin meningkatkan kesejahteraan rakyat atau ingin mendapatkan simpati rakyat, tunjukkanlah gagasan atau ide yang membangun untuk bangsa dan negara ini. Jangan habiskan energi dengan sedikit-sedikit tuntut, sedikit-sedikit lapor polisi atau memperdebatkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi rakyat.
Salam damai
Zul Abrum Sitindaon.
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1384
Habis jualan petai, tempe, susu, sekarang jualan tampang.
Tampang Boyolali
Capres sebelah punya penasehat ekonomi handal, tapi programnya cuma jualan petai, tempe, susu dan yg terakhir tampang boyolali juga coba mau di jual.
Petai sudah habis diborong par lapo, tempe yg tebal sudah habis diborong tetanggaku, susu juga sudah habis diminum emak-emak sama bayinya, sekarang tampang boyolali juga mau dijual, tapi katanya gak laku di mall dan hotel hotel mewah di Jakarta, di usir, katanya.
Kami sebagai rakyat miskin tidak mengerti apa hubungan kesejahteraan rakyat dengan tampang boyolali.
Kalau tampang boyolali gak laku juga, ntar mau jual apalagi boz, jual jengkol belum ya ....?
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1119
Pesan Mufti Suriah Syeikh Al-Afyouni untuk Indonesia, Sebut Negaranya Hancur karena Provokasi Agama
Minggu, 4 November 2018 05:20
"Maka dari celah ini mereka yang berkonflik melakukan fitnah melalui celah agama. Mereka mulai menebar permusuhan bahwa akan ada pembunuhan kepada orang Kristen atau orang Syiah padahal semua ini tidak ada. Mereka buat ini supaya panas."
-----Syeikh Adnan Al-Afyouni----
TRIBUN-MEDAN.COM - Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah sekaligus Mufti Damaskus, Syeikh Adnan Al-Afyouni memberikan pesan kepada Indonesia terkait penyebab konflik di negara tersebut.
Pesan tersebut disampaikan saat seminar kebangsaan bertajuk 'Jangan Suriahkan Indonesia' yang digelar Ikatan Alumni Syam Indonesia (Isyami), di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (1/11/2018) kemarin.
Adnan Al-Afyouni mengingatkan mengenai kondisi Suriah yang mengalami krisis luar biasa setelah masyarakat kacau karena kepentingan politik yang dibalut agama.
Dia menyatakan, konflik yang terjadi di Suriah bukan dilatarbelakangi urusan agama, tapi politik.
"Krisis Suriah merupakan krisis politik secara otomatis. Dan ini merupakan cerminan konflik global di mana mereka bertempur memperebutkan kepentingan," ujar Adnan yang dikutip dari Wartakotalive.com dari yang berjudul "Ulama Suriah Harap Umat Islam Indonesia Hindari Konflik".
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menerima kunjungan Mufti Damaskus Syekh Adnan Al Afyouni. Pertemuan tersebut berlangsung di Kantor Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta, Kamis (1/11/2018).| Dok.Kemenag.
Menurut Adnan, ada banyak negara yang terlibat dalam konflik Suriah.
Mereka saling berperang memperjuangkan kepentingannya masing-masing.
Salah satunya dengan menghancurkan negara tersebut dan menguasai kekayaan alamnya.
Mereka menjerumuskan masyarakat Suriah dalam konflik tersebut.
Padahal selama ini masyarakat Suriah dikenal hidup rukun.
Tidak pernah ada pertikaian antar-etnik maupun golongan.
Namun mereka berhasil dipecah dengan isu agama.
Ulama Suriah itu menyebut, di negaranya pemerintah menggratiskan biaya pendidikan mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Biaya kesehatan juga digratiskan.
Segala sesuatu yang menjadi kebutuhan pokok dijamin oleh pemerintah.
Sehingga tidak ada lagi celah yang bisa dimainkan untuk memecah belah Suriah kecuali dengan isu agama.
"Maka dari celah ini mereka yang berkonflik melakukan fitnah melalui celah agama. Mereka mulai menebar permusuhan bahwa akan ada pembunuhan kepada orang Kristen atau orang Syiah padahal semua ini tidak ada. Mereka buat ini supaya panas," ungkap Adnan.
Mereka ingin Suriah bernasib seperti Tunisia, Mesir, Yaman, hingga Libia di mana konflik diciptakan hingga pemerintahan yang sahnya berhasil digulingkan. Namun upaya menghancurkan Suriah gagal.
"Itu semua tidak berhasil karena mayoritas rakyat Suriah tak rela apabila agama dilakukan untuk perebutan kekuasaan. Dan tentara Suriah, dan para pemuda siap mempertahankan Suriah sampai kapanpun," dia menegaskan.
Sejatinya, problem yang dihadapi Suriah bukan bersumber dari rakyatnya, tapi dari luar.
Kini, rakyat Suriah yang sempat terpecah belah telah sepakat melakukan rekonsiliasi.
Presiden Bashar Al-Assad telah membuka pintu maaf bagi pihak yang memusuhinya dan menawarkan damai.
"Kami di Suriah sangat meyakini kebenaran Islam dan Nabi Muhammad, maka kami tak akan menyianyiakan satu nyawa pun. Kami akan selalu menempatkan kepentingan Suriah di atas apapun. Kami tidak akan lagi saling menyalahkan dan akan fokus rekonsiliasi. Dan kami sepakat membangun Suriah bersama-sama," kata Adnan.
Mereka yang dulu saling berperang kini telah berada dalam satu barisan membangun Suriah. Sebab kemenangan tidak akan ada harganya jika mereka akhirnya tidak memiliki negara.
Adnan berpesan kepada masyarakat Indonesia dari berbagai elemen agar bersatu dan menjunjung tinggi kepentingan negara di atas kepentingan lainnya.
Adnan ingin masyarakat Indonesia mengambil pelajaran dari konflik yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah
