Search
- Details
- Category: Nasional
- By ZA Sitindaon
- Hits: 27
Bukalah Topeng Agamamu
BUKALAH TOPENG AGAMAMU -
Hentikan promosi kegiatan agama sebagai topeng yang justru membusukkan ajaran agama itu sendiri. Sebab ketika agama dipamerkan berlebihan, yang sering lahir bukan ketakwaan, melainkan kompetisi moral yang dangkal—siapa paling sering terlihat suci, siapa paling keras bersuara atas nama Tuhan, siapa paling piawai mengutip ayat sambil menutup mata atas kenyataan.
Kita sudah terlalu lama terjebak pada simbol. Rumah ibadah diperbesar, pengeras suara ditinggikan, ritual diperpanjang—tetapi kejujuran justru diperkecil, empati dipendekkan, dan tanggung jawab dipelankan.
Kita melihat pejabat berdoa di depan kamera, tetapi anggaran bocor di belakang meja.
Kita menyaksikan tokoh tampil religius di panggung, tetapi rakyat tetap antre keadilan yang tak kunjung datang.
Lalu apa gunanya semua itu?
Agama, yang seharusnya menjadi kompas batin, berubah menjadi kostum sosial. Dipakai saat perlu legitimasi, dilepas saat berhadapan dengan godaan kekuasaan.
Di titik ini, agama tidak lagi membimbing manusia—justru manusia memanfaatkan agama.
Kita tidak merindukan keramaian yang penuh slogan kesalehan. Saya merindukan kesunyian yang melahirkan integritas.
Kita tidak membutuhkan orang yang fasih bicara surga-neraka, tetapi gagap dalam urusan amanah.
Kita tidak mencari pemimpin yang pandai bersumpah atas nama Tuhan, tetapi lalai menjaga hak rakyat.
Apakah kita berani jujur melihat ini?
Di banyak tempat yang sering kita sebut “maju”, orang tidak sibuk mempertontonkan iman. Tidak ada lomba kesucian di ruang publik. Tetapi aturan ditegakkan. Waktu dihargai. Hak orang lain dijaga. Sampah tidak dibuang sembarangan. Korupsi bukan sekadar dosa—ia adalah aib yang mematikan karier.
Ironisnya, di sini kita sering membalik logika: dosa ditakuti secara ritual, tetapi pelanggaran sosial dinegosiasikan. Kalian takut tidak terlihat religius, tetapi tidak takut merugikan orang lain. Kalian gelisah jika absen dari ibadah simbolik, tetapi santai saja ketika melanggar aturan yang merugikan banyak orang.
Apakah ini yang disebut masyarakat beradab?
Agama seharusnya melahirkan kejujuran, bukan sekadar keramaian. Melahirkan keadilan, bukan sekadar retorika. Melahirkan ketertiban, bukan sekadar seremonial. Jika semua itu tidak hadir, maka yang kita miliki hanyalah bayangan agama — bukan substansinya.
Dan bayangan, seindah apa pun, tidak pernah bisa menggantikan realitas.
Sudah saatnya kita berhenti terpesona pada tampilan luar. Sudah saatnya kita menilai bukan dari seberapa sering seseorang berbicara tentang Tuhan, tetapi seberapa jujur ia memperlakukan sesama manusia. Bukan dari seberapa ramai ia beribadah, tetapi seberapa bersih ia menjaga amanah.
Karena pada akhirnya, masyarakat yang kuat tidak dibangun dari simbol, tetapi dari perilaku. Dari hal-hal sederhana yang sering diabaikan: tidak mencuri, tidak menipu, tidak menyalahgunakan kekuasaan, tidak mengambil yang bukan haknya.
Sesederhana itu. Dan justru sesulit itu.
Maka jika ada yang masih sibuk mempromosikan kesalehan di ruang publik sambil menutup mata terhadap kebobrokan di baliknya, pertanyaannya sederhana saja:
Apakah itu agama, atau sekadar panggung? ***
Sumber: FB Suproyanto Martosuwito https://www.facebook.com/share/p/18QwyfzHj6/