Manusia yang Memburu Bayangannya Sendiri
Di kesenyapan desa di pinggiran Tasikmalaya, saya sedang memetik pisang raja cerai yang sudah matang sebagian di pohon tatkala mendengar berita ini.
Berita yang tidak penting tapi menarik itu datang dari sebuah sudut Karanganyar, Jawa Tengah, di mana bau kuah soto Mbok Giyem menguap bersama uap yang menenangkan perut-perut lapar.
Rupanya di sini sebuah lakon panggung sedang digelar. Bukan oleh rombongan ketoprak keliling, melainkan oleh seorang lelaki yang tampaknya telah merasa menjadi pusat semesta.
Anies Baswedan, sosok yang sejak fajar Pilpres 2029 masih remang-remang sudah sibuk memoles cermin, kembali mementaskan drama "Orang Teraniaya".
Ada sesuatu yang ganjil, seperti suara burung bence yang bersahut-sahutan di malam buta. Tiga orang tentara tanpa seragam yang sedang asyik menekuri mangkuk soto tiba-tiba ditarik ke dalam pusaran narasi.
Dalam logika sang mantan Gubernur, tak ada yang namanya "kebetulan". Baginya, setiap gerak angin adalah intrik, dan setiap sendok yang beradu dengan mangkuk adalah operasi intelijen.
Ia menyodorkan wajahnya ke kamera, merangkul mereka yang sedang mengunyah, seolah ingin berteriak kepada dunia, "Lihatlah, aku begitu penting hingga bayanganku pun harus dijaga dan diikuti!"
Namun, sebagaimana kabut yang menipis saat matahari meninggi, kebenaran itu sederhana saja. Pihak Kodam IV Diponegoro hanya bisa mengelus dada. Bagi negara, Anies kini hanyalah warga biasa, sama seperti tukang arit atau penjual cendol yang punya hak untuk makan soto tanpa perlu diawasi.
Namun, dalam batin yang terlampau rindu akan takhta, menjadi "biasa" adalah sebuah kiamat kecil. Maka, diciptakanlah sebuah simulakra (berhubung saya teringat Jean Baudrillard): sebuah pengawasan imajiner demi memanen simpati yang kian mengering.
"Bukankah menyedihkan melihat seseorang yang begitu takut dilupakan hingga ia merasa perlu mengarang musuh di balik semak-semak, hanya agar namanya tetap dipercakapkan di pasar-pasar?" bisik batin saya sambil mengupas kulit pisang.
Saya teringat Jalaludin Rahmat alm. yang semasa saya kuliah mengajar psikologi komunikasi. Katanya, ada gejala aneh yang melanda jiwa manusia yang terlalu lama memandang pantulan dirinya di air keruh saat tidak berkomunikasi.
Psikolog mungkin menyebutnya megalomania yang berpadu dengan paranoia, sebuah penyakit jiwa di mana seseorang merasa dirinya adalah sang juru selamat yang sedang dizolimi oleh kekuasaan yang tak tampak.
Ia melakukan kampanye mandiri di saat musim tanam baru dimulai, seolah takut jika sedetik saja ia tak berpose, dunia akan berhenti berputar.
Lakon di warung soto ini hanyalah puncak dari gunung es kegelisahan. Anies sedang menari sendirian di atas panggung yang ia bangun dari isu-isu yang ia hembuskan sendiri.
Ia menuduh intel mengawasi, padahal mungkin, satu-satunya yang mengawasi Anies dengan ketat hanyalah ambisinya sendiri yang tak kunjung tidur.
Di Karanganyar, soto Mbok Giyem tetaplah soto. Gurih dan hangat, sehangat kamu.
Yang pahit hanyalah kenyataan bahwa demi mendapatkan simpati warga, seseorang tega menjadikan makan siang orang lain sebagai tumbal politik yang lucu sekaligus memilukan.
Belanda masih jauh, kata pepatah, tapi bagi Anies Pilpres 2029 sudah dekat, bahkan sudah di ambang pintu.
Pepih Nugraha
Sumber: Pepih Nugraha II https://www.facebook.com/share/1CBPHsEUap/
