SITINDAON NEWS SITINDAON NEWS

Categories

  • Tarombo Marga Sitindaon (47)
    • Tugu Namangolu Sitindaon (4)
    • Sukacita & Dukacita (15)
  • Politik & Opini (342)
  • Ekonomi & Bisnis (422)
    • Trading Saham untuk Pemula oleh R Noto Wodjojo (63)
  • Lifestyle & Health (418)
  • Tekno & Sains (71)
  • Entertaintment (66)
  • Nasional (20)
  • Food & Travel (100)
  • Budaya (58)
  • Inspirasi dan Inspiratif (144)
    • Jansen Sitindaon (32)
  • Sport (16)
  • Lowongan Kerja (29)
  • International (46)
  • Mimbar Kristen (7)
    • HKBP Pasar Minggu (3)
  • Pilpres 2019 (69)
  • Hukum & Kriminal (39)

Berdiri sejak 2018

  • Login
SITINDAON NEWS SITINDAON NEWS
  • Homepage
  • Tarombo Marga Sitindaon
    • Jansen Sitindaon
  • Siapa kita?
  • MORE

    HOT CATEGORIES

    • Pilpres 2019
    • Our Social Media

    USER

    • Login Form
    Show
    • Forgot your username?
    • Forgot your password?
  • WTNG
Berlangganan buletin kami Newsletter
  1. You are here:  
  2. Home
  3. Politik & Opini
  4. Nadiem, Chromebook, dan Salah Kaprah "Proyek Pengadaan" dari Kacamata Analis IT

Search

Details
Category: Politik & Opini
ZA Sitindaon By ZA Sitindaon
ZA Sitindaon
16.May
Hits: 6

Nadiem, Chromebook, dan Salah Kaprah "Proyek Pengadaan" dari Kacamata Analis IT

Nadiem, Chromebook, dan Salah Kaprah "Proyek Pengadaan" dari kacamata Analis IT

Sebagai orang yang bergerak dan bekerja di industri IT dan juga sering menjadi konsultan IT dibeberapa lembaga pendidikan, saya melihat polemik pengadaan Chromebook yang menyeret nama Nadiem Makarim dan Ibrahim Arief baru-baru ini bukan sekadar perkara hukum atau kebijakan pendidikan. Ini adalah contoh nyata bagaimana Transformasi Digital Nasional sering gagal dipahami karena negara kita masih melihat teknologi sebagai proyek "pengadaan barang", bukan sebagai "pembangunan ekosistem". Transformasi digital selalu gagal bukan karena teknologinya salah, tetapi karena organizational readiness tidak ikut berubah. Ini pola yang sama yang pernah terjadi di banyak proyek e-Government di Korea Selatan, Jepang, hingga beberapa negara Eropa sebelum mereka mencapai kematangan digital.

Mari kita bedah secara objektif dari kacamata System Architecture dan Enterprise Governance.

1. Secara Desain Sistem, Chromebook Itu Sangat Logis 

Banyak kritikus menilai Chromebook itu "laptop tanggung" karena spesifikasi hardware-nya rendah dibanding laptop konvensional. Ini salah kaprah.

Chromebook memang dirancang berbasis cloud. Keunggulannya justru ada pada Centralized Management (via Chrome Education Upgrade atau CDM) dan kebutuhan maintenance yang sangat rendah. Untuk negara dengan jutaan siswa dan ribuan sekolah yang kapasitas IT-nya berbeda-beda, pendekatan ini adalah global best-practice. Dengan CDM aktivitas belajar dapat dipantau, akses konten berisiko (game/porno/judi) dapat dibatasi, dan sekolah tidak perlu terus menerus membayar lisensi atau upgrade perangkat mahal. Bayangkan pusingnya admin IT pusat kalau harus mengurus jutaan laptop Windows konvensional yang rentan malware, kena virus, atau lisensinya habis di pelosok daerah. Secara TCO (Total Cost of Ownership), Chromebook jauh lebih stabil jangka panjang.

Kebetulan di sekolah beberapa anak saya juga menggunakan Chromebook untuk platform belajarnya yang diprovide sekolah sejak bertahun tahun lalu. 

2. Salah Framing: Masalah Internet Bukan Domain Kemendikbud

Kritik terbesar yang muncul selalu sama: "Bagaimana mau pakai Chromebook kalau di daerah 3T internetnya lemot atau gak ada?"

Di sinilah letak kesalahan strukturalnya. Masalah konektivitas itu bukan domain kebijakan pendidikan.

Dalam arsitektur transformasi digital negara:

• Pendidikan itu hanyalah Application & Data Layer (penyedia platform pembelajaran digital dan perangkat endpoint (Chromebook/gawai), sedang Sekolah menjadi user dari ekosistem yang sudah siap

• Jaringan Internet adalah Foundational Infrastructure (infrastruktur dasar/backbone konektivitas nasional), yang secara mandat berada di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) klo dulu Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Operator jaringan/provider & satelit menyediakan last-mile connectivity untuk wilayah 3T. 

Artinya, kalau sekolah di daerah terpencil belum punya internet stabil, yang perlu diperbaiki bukan konsep Chromebook-nya, melainkan kesiapan ekosistem jaringan/infrastruktur nasionalnya! Jangan sampai kita membangun jalan tol sebelum akses jalan penghubungnya siap, lalu ketika macet, kita menyimpulkan mobilnya yang bermasalah.

3. Solusi Teknisnya Sudah Ada (LEO Satellites!)

Secara teknis, Chromebook memang optimal jika cloud-connected. Tapi solusi untuk wilayah 3T itu sebetulnya sudah tersedia hari ini. Penggunaan satelit orbit rendah (LEO) seperti Starlink, misalnya, terbukti secara global mampu memangkas hambatan geografis yang selama puluhan tahun jadi alasan klasik kesenjangan pendidikan.

Idealnya, system design-nya berjalan sinkron: Kemendikbud mendesain platform dan endpoint (Chromebook), Komdigi atau Kominfo memastikan backbone internetnya, operator/satelit menyediakan last-mile connectivity, dan sekolah tinggal pakai. Jika satu layer belum siap, jangan otomatis menganggap kebijakan di layer lain gagal.

4. Bahaya Terbesar: "Defensive Bureaucracy"

Sebagai profesional IT, kasus ini memicu kekhawatiran serius. Ketika kebijakan berbasis best practice global justru berujung pada persoalan hukum akibat ekosistem pendukungnya belum matang, maka birokrasi kita akan masuk ke mode defensif (risk aversion).

Para pejabat publik ke depan akan memilih teknologi lama yang "aman secara politik dan administratif", daripada teknologi baru yang "benar secara arsitektur". Akibatnya? Inovasi berhenti, transformasi digital cuma jadi formalitas di atas kertas, dan kita kehilangan momentum untuk mengejar ketertinggalan global.

Kesimpulannya

Inti dari transformasi digital itu bukan sekadar beli perangkat atau bagi-bagi laptop. Intinya adalah sinkronisasi kebijakan lintas kementerian yang berjalan sebagai satu kesatuan sistem.

Kasus Chromebook ini pada akhirnya bukan soal laptopnya. Ini adalah cermin apakah negara kita sudah paham cara kerja ekosistem digital, atau kita memang belum benar-benar siap menjadi negara digital?

Sumber: FB Josua Sinambela https://www.facebook.com/share/p/192d57nuCi/

ZA Sitindaon
ZA Sitindaon

No comments

Leave your comment

In reply to Some User
Next article: Kriminalisasi Kredit Macet: Banyak Analis Kredit yang Minta Pindah Bagian dan Bahkan Rela Resign Next

Popular Posts

  • Cara Mengatasi Internet Telkomsel 'Lemot', Ikuti Langkah-langkahnya Agar Akses Internetmu Lancar
    27.Nov
  • Semrawutnya Parkir di Kawasan Pusat Pasar Medan
    04.Jan
  • Emak Emak Yang Terlibat Menjual Senjata Untuk Aksi Rusuh 22 Mei 2019
    28.May
  • Bokom, Makanan Pengantar Sejarah Aceh Singkil yang tak Lekang Digerus Zaman
    07.Sep

Categories News

  • Lowongan Kerja
  • National
  • Food & Travel
  • Lifestyle & Health
  • Sport
  • Tekno & Sains
  • Entertainment
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kisah Insipirasi
  • Budaya
  • Politik & Opini
  • Hukum & Kriminal
  • Mimbar Kristen
  • International

Follow Us

Facebook Sitindaon News Instagram Sitindaon News YouTube Sitindaon News Twitter Sitindaon News Email Berlangganan Buletin Kami

SITINDAON NEWS 1

Sitindaon News menuju Situs Web Portal Berita Online berkelas dunia melalui penyediaan jasa informasi dan berbagai produk multimedia lainnya sehingga terbangun Tugu Namangolu didalam maupun diluar negeri khususnya marga Sitindaon yang nantinya dapat menjalankan fungsi² sosial lainnya bagi masyarakat luas. Berdiri sejak 2018.

Bagikan Share
FacebookFacebook MessengerMessenger TwitterTwitter WhatsAppWhatsApp TelegramTelegram Copy LinkCopy Link