Search
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 17
Yang Membahayakan Gereja Bukan Kritik yang Keras, Tetapi Pendeta yang Tidak Lagi Bisa Dikoreksi.
PENDETA TIDAK BOLEH DIKRITIK? ATAU TIDAK MAU DIKOREKSI?
Ada sesuatu yang mulai terasa ganjil di banyak mimbar hari ini. Kritik perlahan menghilang, bukan karena semuanya sudah benar, tetapi karena tidak lagi diberi ruang. Jemaat belajar diam. Bukan karena tidak melihat, tetapi karena takut. Takut dicap memberontak, takut dianggap melawan Tuhan, takut dikucilkan hanya karena berani bertanya.
Di sisi lain, tidak sedikit pendeta yang tanpa sadar mulai membangun tembok tak terlihat di sekeliling dirinya. Setiap kritik dianggap serangan. Setiap koreksi dibaca sebagai ancaman. Setiap suara yang berbeda langsung dipatahkan dengan label “tidak tunduk.” Dalam suasana seperti ini, wibawa rohani sering disamarkan sebagai kekebalan terhadap kritik, padahal yang sedang dipertahankan bukanlah kebenaran, melainkan ego.
Padahal, sejak awal, kekristenan tidak pernah mengajarkan pemimpin yang kebal koreksi. Seorang pemimpin rohani atau pendeta dipanggil untuk hidup di bawah kebenaran yang ia beritakan, bukan di atasnya. Itu sebabnya, kemampuan menerima teguran bukanlah kelemahan, melainkan tanda kedewasaan. Dalam Amsal 27:5-6, ditegaskan bahwa teguran yang nyata lebih baik daripada kasih yang tersembunyi. Artinya, kebenaran tidak selalu datang dalam bentuk yang nyaman, tetapi tetap harus dihadapi dengan hati yang terbuka.
Namun realitasnya tidak sesederhana itu. Kritik memang tidak selalu benar. Ada yang lahir dari emosi, kepahitan, bahkan kesalahpahaman. Tetapi justru di situlah integritas atau kualitas seorang pendeta diuji. Bukan pada saat semua orang memuji, tetapi pada saat ia berhadapan dengan suara yang tidak menyenangkan. Apakah ia langsung menutup diri, atau berani menguji dirinya di hadapan Tuhan?
Kemarahan bukan selalu bukti kesalahan, tetapi kemarahan yang menutup telinga adalah tanda bahaya. Ketika seorang pendeta lebih cepat membela diri daripada mengoreksi diri, lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga hati, maka pelayanan perlahan bergeser dari panggilan menjadi panggung dan di titik itu, yang hilang bukan hanya kepekaan, tetapi juga kerendahan hati.
Gereja yang sehat bukan gereja yang sunyi dari kritik, melainkan gereja yang tahu bagaimana menghadapi kritik dengan benar. Ada keberanian untuk berbicara, tetapi juga ada kerendahan hati untuk mendengar. Ada ketegasan terhadap kebenaran, tetapi juga kebijaksanaan dalam menyikapi setiap suara.
Yang membahayakan gereja bukan kritik yang keras, tetapi pendeta yang tidak lagi bisa dikoreksi. Benarkah demikian?
[Pdt. Samuel Pasaribu https://www.facebook.com/share/p/18HLWsCGgj/
