Search
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 46
Tak Perlu Marah Saat Pendeta dan Gereja Dibahas di Media Sosial
TAK PERLU MARAH SAAT PENDETA DAN GEREJA DIBAHAS DI MEDIA SOSIAL.
Tidak semua reaksi keras itu lahir dari hati yang benar. Kita sering tersinggung bukan karena kebenaran diserang, tetapi karena ego kita merasa terusik. Kebenaran tidak menjadi lemah hanya karena dibicarakan atau disalahpahami di media sosial. Ia tetap berdiri, tetap kuat, tanpa perlu dibela dengan kemarahan.
Jangan buru-buru marah ketika melihat gereja atau pendeta dibahas. Yang lebih penting adalah sikap hati. Jika hidup kita benar-benar selaras dengan kebenaran, kita tidak perlu bereaksi secara emosional atau terburu-buru saat ada kritik atau pembicaraan. Kita tidak mudah tersulut, tidak panik, dan tidak merasa harus langsung membela diri. Yang diperlukan hanyalah keteguhan, tetap tenang, tetap berdiri pada kebenaran dan tidak goyah oleh opini orang lain. Karena hidup yang benar sudah menjadi bukti, tanpa perlu reaksi berlebihan.
Kebenaran tidak perlu dibuktikan dengan kemarahan, debat keras, atau emosi yang meledak-ledak. Kebenaran justru terlihat dan terbukti melalui cara hidup seseorang, melalui sikap, tindakan, dan karakter yang sejalan dengan apa yang diyakini.
Ini adalah ajakan untuk menguji diri, apakah reaksi kita lahir dari kasih akan Tuhan dan kebenaran, atau hanya dari keinginan membela diri dan menjaga citra.
Jika kita hidup benar, tetaplah teguh. Jangan goyah hanya karena opini manusia. Sebab firman Tuhan berkata, “Berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran” (Efesus 6:14).
Keteguhan adalah bukti bahwa iman tidak dibangun di atas pengakuan manusia, melainkan di atas dasar yang tidak tergoncangkan. Namun jika prilaku kita salah, jangan membela diri. Jangan mencari pembenaran. Beranilah berubah. Sebab Tuhan menolak kesombongan, tetapi mengasihani hati yang hancur.
Masalah terbesar bukanlah apa yang orang katakan di luar, tetapi apa yang terjadi di dalam. Banyak orang sibuk membela gereja, tetapi lalai membenahi hatinya sendiri. Banyak yang marah ketika nama Tuhan disinggung, tetapi hidupnya sendiri jauh dari Tuhan. Inilah ironi rohani, membela yang kudus, tetapi tidak hidup dalam kekudusan.
[Pdt. Samuel Pasaribu https://www.facebook.com/share/p/1J8yvGqtTF/
