SITINDAON NEWS SITINDAON NEWS

Categories

  • Tarombo Marga Sitindaon (47)
    • Tugu Namangolu Sitindaon (4)
    • Sukacita & Dukacita (16)
  • Politik & Opini (348)
  • Ekonomi & Bisnis (422)
    • Trading Saham untuk Pemula oleh R Noto Wodjojo (102)
  • Lifestyle & Health (418)
  • Tekno & Sains (71)
  • Entertaintment (66)
  • Nasional (20)
  • Food & Travel (100)
  • Budaya (58)
  • Inspirasi dan Inspiratif (150)
    • Jansen Sitindaon (32)
  • Sport (16)
  • Lowongan Kerja (29)
  • International (46)
  • Mimbar Kristen (13)
    • HKBP Pasar Minggu (3)
  • Pilpres 2019 (69)
  • Hukum & Kriminal (40)

Berdiri sejak 2018

  • Login
SITINDAON NEWS SITINDAON NEWS
  • Homepage
  • Tarombo Marga Sitindaon
    • Jansen Sitindaon
  • Siapa kita?
  • MORE

    HOT CATEGORIES

    • Pilpres 2019
    • Our Social Media

    USER

    • Login Form
    Show
    • Forgot your username?
    • Forgot your password?
  • WTNG
Berlangganan buletin kami Newsletter
  1. You are here:  
  2. Home
  3. Tarombo Marga Sitindaon
  4. News of the Day
  5. Laris Manis Es Dawet Jembut Kecabut, Eh... Bahan Bakunya Apa Ya?

Search

Laris Manis Es Dawet Jembut Kecabut, Eh... Bahan Bakunya Apa Ya?

es dawet jembut ketarik 8 169Kios Es Dawet Jembut Kecabut di Purworejo (Foto: detikcom/Rinto Heksantoro/detikJateng)

SitindaonNews.Com | Kalau berkunjung ke Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, ada minuman khas daerah yang sayang kalau dilewatkan. Namanya es dawet jembut kecabut. Eh... bahan bakunya dari apa ya?

Es dawet jembut kecabut ini mungkin terdengar sedikit saru atau jorok.

Tapi ternyata, nama itu hanya sebuah singkatan. Dalam bahasa Jawa, jembut berarti rambut kemaluan, sedangkan kecabut artinya tercerabut atau lepas dari akarnya.

Dinamai es dawet jembut kecabut karena lokasinya berada di sebelah timur Jembatan Butuh (Jembut), Kecamatan Butuh (Kecabut).

Unik, nyentrik, dan nikmatnya bakal menarik siapa saja untuk menikmati dawet hitam tersohor ini. Banyak orang luar kota datang jauh-jauh hanya untuk menyeruput kesegaran dawet legendaris tersebut.

Dawet hitam khas Purworejo tersebut pertama kali dirintis oleh Mbah Ahmad Dansri pada sekitar tahun 1950-an.Semula Mbah Ahmad membuat minuman tradisional tersebut untuk dikonsumsi para petani ketika musim panen. Ia berkeliling dari sawah ke sawah untuk menjajakan dagangannya.

"Awalnya kakek saya yang jualan, sekarang sudah meninggal. Dulu hanya untuk para petani pas musim panen. Keliling ke sana sini dan sekarang minuman itu diwariskan ke kami," ujar cucu dari mbah Ahmad yang kini mengelola usaha dawet tersebut, Wagiman (37), saat ditemui detikJateng, beberapa waktu lalu.

Proses pembuatan dawet atau cendol hitam khas Purworejo ini dilakukan manual dengan tangan dan tidak menggunakan bahan pewarna buatan. Awalnya, tepung pati gelang direbus sambil diaduk sehingga menjadi adonan kental dan siap dicetak menjadi dawet.

es dawet jembut ketarik 5 169Es Dawet Jembut Kecabut Khas Purworejo (Foto: detikcom/Rinto Heksantoro/detikJateng)

Warna hitam pada dawet diambil dari pewarna alami yakni jerami padi yang dibakar lalu abunya dihaluskan dan disaring.

"Dawetnya berwarna hitam itu karena diberi oman atau jerami padi yang dibakar, bukan pewarna buatan. Kemudian racikannya dawet diberi santan, pemanis dari gula kelapa dan es," imbuh Wagiman.

Harga satu mangkok es dawet jembut kejabut hanya Rp. 4.000. Jika ingin semakin segar dan nikmat, pembeli bisa menambah Rp. 1.000 dengan tambahan tape ketan.

Setiap hari, ratusan porsi dawet selalu ludes diserbu pembeli, baik pelajar, pegawai kantoran, pejabat hingga artis ibu kota.        (detik.com)

Details
Category: News of the Day
ZA Sitindaon By ZA Sitindaon
ZA Sitindaon
20.Feb
Hits: 898
ZA Sitindaon
ZA Sitindaon

No comments

Leave your comment

In reply to Some User
Previous article: Hotman Paris ke Menaker Soal JHT 56 Tahun: Dimana Keadilannya Bu? Prev Next article: Tergiur Tawaran Kerja Palsu, Pria China Diculik dan Darahnya Dikuras di Kamboja Next

SITINDAON NEWS 1

Sitindaon News menuju Situs Web Portal Berita Online berkelas dunia melalui penyediaan jasa informasi dan berbagai produk multimedia lainnya sehingga terbangun Tugu Namangolu didalam maupun diluar negeri khususnya marga Sitindaon yang nantinya dapat menjalankan fungsi² sosial lainnya bagi masyarakat luas. Berdiri sejak 2018.

Bagikan Share
FacebookFacebook MessengerMessenger TwitterTwitter WhatsAppWhatsApp TelegramTelegram Copy LinkCopy Link