Dalam kesempatan itu saya juga mengunjungi Tugu leluhur kami marga Sitindaon yang ada di tanah Pakpak. Tambak cq. Tugu Marga Sitindaon (Op. Ambarita Sitindaon) ini berada di Desa Mungkur, Kec. Siempat Rube, Kab. Pakpak Bharat.
-----

Op. Ambarita Sitindaon (berdasarkan prasasti di Tambak) adalah leluhur kami yang pertama "merantau" ke tanah Pakpak (saat ini Kab. Pakpak Bharat).

Kami marga Sitindaon adalah pendatang di tanah Pakpak ini. Seperti halnya banyak marga Batak lainnya yang merantau atau "berdiaspora" ke wilayah lain mencari kehidupan yang lebih baik.

Berdasarkan kisah "turi-turian" yang diturunkan secara turun temurun, dikisahkan, kula-kula cq. hula-hula kami marga Padang (salah satu marga di suku Pakpak) adalah "Raja Huta". Dan sejak awal telah mendiami salah satu wilayah di tanah Pakpak dimana daerah itu saat ini berada di Kec. Siempat Rube.

Raja dan leluhur marga Padang (Mungkur) inilah yang membuka pintu kepada kami marga Sitindaon dan memberikan tanah nya untuk kami tempati sebagai titik awal keberadaan kami Sitindaon di tanah Pakpak. Lebih daripada itu, secara lebih istimewa lagi, Raja Padang juga memberikan Putri (anak perempuannya) untuk dipersunting oleh kami Sitindaon.

Hingga kami marga Sitindaon menjadi bagian yang permanen dari keluarga maupun dalam struktur sosial marga Padang (Berru) di daerah tersebut.
----

Berdasarkan hitungan para tokoh Marga Padang maupun Sitindaon, sudah ada sekitar sepuluh generasi marga Sitindaon mendiami dan menjadi bagian dari tanah Pakpak.

Tentu dengan rentang waktu yang sudah ratusan tahun ini, marga Sitindaon saat ini telah menjadi bagian dari tanah Pakpak, terutama karena ikatannya dengan "hula-hula" kami marga Padang dan semua marga Pakpak lain tentunya dalam "Silima Suak". Dari segi bahasa yang dipergunakan sehari-hari, budaya dan adat istiadat, kehidupan marga Sitindaon di tanah Pakpak ini sudah persis sama dengan masyarakat Pakpak pada umumnya.

Itu jugalah yang menjadi dasar berdirinya Tambak cq. Tugu cq. Makam leluhur kami marga Sitindaon di Tanah Pakpak yang pendiriannya tentu saja atas seizin hula-hula kami marga Padang.
-----

Sebagai anak muda, saya terharu sekaligus menaruh hormat kepada hula-hula kami marga Padang saat mengunjungi monumen sakral tersebut.

Secara pribadi dan sebagai marga Sitindaon saya berterima kasih dan bangga atas teladan dan kebaikan dari Raja Marga Padang kepada leluhur kami, semoga kedepan kami bisa membalas kebaikan ini.

Inilah menurut saya tambak cq. tugu yang hidup (tugu na mangolu). Dimana semangat dan teladan "tolong menolongnya" harus kita hidupkan terus dari generasi ke generasi. Bukan hanya di Pakpak saja, namun diseluruh Indonesia ini. Mari kita terus tolong menolong sebagai sesama saudara sebangsa. Karena kalau bukan kita yang melakukannya siapa lagi.

Kami marga Sitindaon, merasakan betul kebaikan hula-hula kami marga Padang sejak awal sekali kami marga Sitindaon ada di tanah Pakpak dan sampai saat ini. Kebaikan ini, lintas generasi akan terus kami ingat.

Kekeluargaan antara Sitindaon dengan marga Padang dan seluruh marga-marga Pakpak lainnya yang sudah permanen dan telah di ikat selama ratusan tahun ini akan terus abadi dan kami jaga. Karena saat ini, keturunan kami marga Sitindaon juga sudah banyak kawin dengan berbagai marga-marga Pakpak lainnya dan membangun ikatan keluarga.

Dari tanah Pakpak mari kita rajut semangat tolong menolong. Kalau bukan karena kebaikan dan pertolongan orang Pakpak, rasanya.. tidak mungkin hari ini kami Sitindaon bisa ada dan hidup di tanah Pakpak. Sekali lagi terimakasih kami ucapkan kepada hula-hula kami marga Padang (Mungkur) dan seluruh orang Pakpak dimanapun berada untuk kebaikan yang telah diberikan kepada kami marga Sitindaon.

Njuah-Njuah
Lias ate mo Pertuanami..

JANSEN SITINDAON
#BanggaJadiAnakDairidanPakpakBharat

NB: jika ada istilah-istilah yang saya pergunakan didalam tulisan diatas yang dirasa kurang tepat, saya mohon dimaafkan. Sebagai anak muda saya menyadari masih punya begitu banyak kekurangan dan masih harus terus belajar budaya. Setiap masukan, kritikan apalagi pelurusan istilah saya siap menerimanya.