Tragedi Sepuluh Ribu Rupiah: Protes BEM UGM, Surat untuk UNICEF, dan Intimidasi di Ruang Gelap

​YOGYAKARTA — Ketika narasi triliunan rupiah mengalir deras untuk mega-proyek di pusat kekuasaan, sebuah kabar memilukan dari pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT) datang laksana tamparan keras bagi nurani bangsa. Akhir Januari lalu, seorang bocah berusia sepuluh tahun di Kabupaten Ngada memilih mengakhiri hidupnya dengan tragis. Alasannya terlampau sederhana namun menyayat hati: sang ibu, seorang janda yang bertani serabutan, tak sanggup menyisihkan sepuluh ribu rupiah untuk sekadar membelikan buku tulis dan pena.

​Kisah duka ini nyaris menguap begitu saja sebagai obituari senyap di pinggiran Republik. Namun, di jantung kota pendidikan Yogyakarta, keputusasaan itu menjelma menjadi sebuah perlawanan.

Menggugat ke Lintas Batas

​Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) menolak bungkam. Di bawah komando Ketua BEM, Tiyo Ardianto, sebuah langkah di luar kelaziman diambil. Mereka tidak lagi hanya berorasi di jalanan. Pada 6 Februari 2026, sebuah surat resmi dilayangkan melintasi batas-batas negara, tertuju langsung ke UNICEF (Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa).

​Surat tersebut mewujud menjadi manifes kekecewaan atas prioritas negara yang dianggap salah arah. Terdapat satu kalimat berbahasa Inggris yang kemudian meledak menjadi episentrum perdebatan nasional:

​"Help us to tell Prabowo Subianto how stupid he is as president."

​Pemilihan diksi "bodoh" (stupid) jelas memicu polemik tajam. Namun, Tiyo dan jajarannya menolak mundur. Mereka berpegang pada akar makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), di mana "bodoh" juga dapat mengartikan "tidak tahu".

Artikel Pilihan Redaksi: roni Dibalik Papan Tulis Saat Anggaran Pendidikan Berbagi Piring Dengan MBG

​Bagi BEM UGM, pemimpin negara dinilai tidak tahu dan buta terhadap realitas sesungguhnya di akar rumput. Mereka menggugat keras ironi yang terjadi: ketika negara sibuk memoles statistik pembangunan, nyawa anak-anak justru melayang hanya karena negara absen memenuhi kebutuhan yang paling mendasar.

Mengundang Teror Fisik dan Siber

​Di negeri ini, kritik vokal sering kali datang sepaket dengan risiko tinggi. Tak butuh waktu lama sejak surat itu menyita perhatian publik, bayang-bayang kelam mulai mengintai sang Ketua BEM.

​Sejak 9 Februari, ruang privasi Tiyo direnggut paksa. Perangkat selulernya diserbu pesan berantai dari deretan nomor tak dikenal berkode negara Inggris (+44). Pesan-pesan itu bukan lagi sekadar kritik balasan, melainkan ancaman penculikan dan tuduhan serius yang melabelinya sebagai "agen asing penjual narasi sampah".

​Intimidasi ini tak berhenti di ranah siber; ia merayap ke ruang publik secara fisik.

​Pengintaian: Di sebuah kedai kopi di sudut Yogyakarta, Tiyo memergoki dua pria berpostur tegap yang diam-diam mengawasi dan mengambil fotonya. Saat Tiyo berusaha bangkit mendekat, kedua pria misterius itu lekas menghilang di tengah keramaian.

​Ancaman Keluarga: Puncak intimidasi terjadi pada 14 Februari. Teror mengetuk pintu ruang paling privasinya ketika sang ibunda turut menerima pesan bernada ancaman.

Ujian Nyata Demokrasi

​Kasus ini kini membesar melampaui sebatas selembar surat ke lembaga internasional. Rentetan teror sistematis ini memancing kemarahan dari kalangan akademisi dan legislator. Komisi X DPR RI merespons keras, mendesak aparat penegak hukum untuk bergerak cepat mengusut siapa dalang di balik intimidasi tersebut dan menjamin kebebasan berekspresi mahasiswa.

​Kematian tragis bocah SD di NTT telah menyingkap tabir tentang realitas prioritas anggaran bangsa. Kini, publik dihadapkan pada satu pertanyaan kritis: Mampukah negara merespons kritik pedas BEM UGM dengan introspeksi kebijakan yang lebih memihak rakyat miskin, atau justru membiarkan aksi teror menjadi jawaban bisu untuk membungkam suara kampus?

​Bagi Tiyo dan BEM UGM, pesan telah menggema ke telinga komunitas global. Dan dunia kini ikut menatap lekat-lekat: bagaimana Indonesia merawat anak-anaknya, dan bagaimana negara melindungi mahasiswa kritis dari ancaman di ruang gelap.

Sumber: FB Lhynaa Marlinaa  https://www.facebook.com/share/p/1PCQvcq6kk/