Top Stories
-
Untuk Menjadi Kaya, Ada 5 Tahap yang Harus Anda Lalui
-
Mas Didit ke Solo ada apa?
-
Sikap Mentalmu Hari ini akan Menentukan apakah Kelak Hidup Kaya atau Miskin!
-
Miskin Dulu Boleh, Jangan Miskin Permanen
-
Begini Pola Permainannya Kenapa MSCI, S&P, MOODY'S Sering Beri Rating Jelek Saat Harga Nyungsep?
-
Yang Kelaparan itu Adalah Pemilik Dapur MBG dan Elit-elit Politik Menghadapi Pemilu 2029
-
Baca Order Book, Bagi Pemula yang Baru Join.
-
Apapun Kata MSCI Pagi Ini, Jangan Ada yang Panic Selling!
-
Kenapa 90% Trader Saham Boncos?
Search
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1518
Dosen Bunuh Perawat Gara-Gara Sakit Hati Lamarannya Ditolak
Perawat cantik yang dihabisi oleh oknum dosen yang juga sepupunya sendiri
SitindaonNews.Com | Pembunuhan Intan Mulyatin (25) mengegerkan warga Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Perawat cantik dibunuh oleh AS (31), oknum dosen yang merupakan sepupunya sendiri.
Warga Kelurahan Kumbe Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima itu dicegat oleh sepulang mengantar ibunya berjualan di Pasar Amahami, Rabu (5/8) sekitar pukul 8.30 Wita.
Pelaku menghabisi korban dengan cara ditusuk dan ditebas parang di Jalan Dana Traha, Kota Bima.
Setelah korban terkapar, pelaku melarikan diri. Warga kemudian membawa korban ke RSUD Bima. Namun nyawanya tak tertolong.
Pelaku yang sempat melarikan diri akhirnya dibekuk polisi. Dosen perguruan tinggi swasta di Bima itu mengaku nekat menghabisi korban karena lamarannya ditolak.
Kabarnya, orang tua Intan menolak lamaran AS karena buah hatinya telah memiliki pacar dan akan menikah dua bulan lagi.
AS sendiri mengaku sakit hati dan dendam karena ada ucapan orang tua Intan yang sangat menyakitkan.
“Kalimat dari orang tua si korban ini agak sulit saya terima,” ucap AS saat diintrogasi polisi.

AS, dosen pembunuh perawat cantik Intan Mulyatin
AS mengutip ucapan orang tua Intan Mulyatin yang membuatnya sakit hati.
“Walaupun malaikat datang (melamar) saya akan tetap tolak,” kata AS menirukan ucapan orang tua Intan.
AS mengaku sulit menerima bahasa seperti itu dari orang tua Intan. Terlebih, AS telah membiayai Intan saat kuliah di Makassar, Sulawesi Selatan.
Intan kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Sulsel.
“Apa salah saya? Sementara dia meminta saya membiayai kuliah korban di Makassar,” tandas AS.