Search
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 805
Presiden Joko Widodo
JURUS BINGUNG ISTANA
Jokowi di ujung tanduk.
Alasannya jelas...ketika corona mewabah di Wuhan di bulan Januari..Jokowi dan para menterinya terlihat santai.
Ketika Corona benar-benar menghantam Indonesia, hal yang dikhawatirkan pun terjadi. Indonesia belum siap.
Dua bulan dibuang percuma.
Artinya persiapan perang melawan Corona tidak dilakukan secara total..benar ada persiapan..namun persiapan itu tidak cukup memadai.
Ternyata pada saat mulai pertempuran 2 Maret 2020 lalu, persiapan perang melawan virus Corona berantakan.
Persiapan senyap yang ditunggu, tak seperti yang dibayangkan.
Ambil satu contoh saja soal APD..Alat Pelindung Diri (APB) untuk para dokter dan perawat sangat minim.
Masker dan alat test Corona yang ada, jumlahnya jauh dari yang diharapkan.
Namun seiring dengan perkembangan situasi, persiapan perang melawan Corona mulai terihat lebih rapi dan matang.
Jokowi sedikit demi sedikit mulai keluar dari tekanan..situasi mampu dikendalikan.
Posisinya bergeser menjauh dari titik di ujung tanduk.
Perang Jokowi melawan Corona, tidak murni hanya melawan Corona.
Ada tiga pihak yang ikut menebeng dan memanfaatkan kekacauan virus Corona untuk melengserkan Jokowi..adalah kaum radikalis agama semacam HTI..Gabungan para mafia minyak, pangan & koruptor dan pihak asing yang ingin Indonesia kolaps.
Setiap saat mereka menunggu, aktif melakukan provokasi, memancing kerusuhan, mengintip, membentuk opini ngawur dan siap memangsa Jokowi bulat-bulat.
Mereka menunggu Jokowi terpeleset...kita namai komplotan yang menebeng pandemic Corona ini sebagai Kadrun.
Bersama para buzzer, mereka berteriak lancang: “Lockdown”.
Jokowi tidak langsung melakukan lockdown. Jokowi membiarkan Kadrun kebingungan.
Mengapa?
Jokowi mengumpan Terawan, Luhut, Jubir Istana dan Menter lain membuat pernyataan yang satu sama lain terlihat berbeda dan kurang koordinasi..bahkan pernyataan Jokowi sendiri bisa berbeda dengan para menterinya.
Pada satu kesempatan Jokowi mengatakan bahwa Indonesia tidak akan melakukan lockdown. Pada kesempatan lain, Luhut memberi pernyataan, Indonesia bisa setiap saat lockdown.
Jokowi mengatakan bahwa cicilan kredit kendaraan dilonggarkan satu tahun. Di kesempatan lain, jubir istana Fadjroel memperinci pernyataan Jokowi itu dengan mengatakan bahwa kemudahan cicilan kredit kendaraan itu hanya bagi pihak yang terdampak Corona.
Di satu kesempatan, istana meminta daerah tetapkan protocol kesehatan di wilayahnya. Pada kesempatan lain Mendagri Tito mengatakan bahwa terkait Corona, daerah tak membuat kebijakan sendiri.
Pada kesempatan lain, Jokowi mengeluarkan pernyataan bahwa ada opsi darurat sipil dan bukan lockdown. Lalu pada akhirnya yang diambil adalah PSBB.
Di kesempatan lain, Jokowi mengatakan tidak melarang mudik.
Namun Jubir presiden Fadjroel menyampaikan bahwa Jokowi memperbolehkan mudik. Pernyataan ini langsung diralat Praktino bahwa pemerintah berusaha keras mengajak masyarakat tak mudik ke kampung halaman di tengah wabah corona.
Ketika kadruan dan para buzzernya ramai-ramai mengecam satu demi satu pernyataan Jokowi dan para pejabatnya, pejabat lain mengeluarkan pernyataan lain.
Ketika buzzer mengejar pernyataan lain itu, Jokowi mengeluarkan pernyataan yang baru. Kadrun dan para buzzer kebingungan dan hanya bisa memaki-maki.
Ternyata Jokowi sedang mengendalikan isu, melempar isu, menarik isu, melebarkan isu. Jokowi cerdas memainkan isu sambil melakukan test the water..dan seperti yang kita tahu kaum kadrun dan para buzzer mereka, termakan isu itu.
Saya ambil contohnya ketika ada wacana darurat sipil melawan corona, kadrun ketakutan.
Mereka kemudian ramai-ramai mengerahkan tenaga menolak darurat sipil..ada banyak opini berseliweran soal darurat sipil itu.
Tetapi pada akhirnya yang jadi sekurang-kurangnya sampai hari ini adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Para Kepala Daerah yang semula berani mengumumkan lockdown di daerahnya, kini tak berkutik setelah diancam oleh Jokowi.
Pun penerapan PSBB seperti di Jakarta yang mulai dilakukan hari ini (Jumat 10 April) secara hati-hati dan terukur tidak menimbulkan gejolak.
Jokowi menang...Kadrun pun tersungkur.
Kini Jokowi memasuki puncak pertempuran melawan Kadrun-Corona.
Indonesia juga semakin siap menghadapi corona..dana 400 triliun Rupiah siap diluncurkan Jokowi.
APD, masker, alat test, koordinasi dengan semua pihak semakin baik.
PSPB pun juga sudah siap diterapkan di daerah lain dengan persiapan yang matang.
Pun yang paling telak adalah adalah Kapolri mengeluarkan telegram untuk menangkap siapa saja penghina Presiden.
Telegram Polri ini membuat SBY kebakaran jenggot yang sudah jarang tumbuh.
Ini adalah salah satu bentuk serangan balik dari Jokowi.
Siapapun yang memperkeruh suasana..seenak jidat mengkritik dengan fitnah tanpa dasar dengan berlindung pada kata demokrasi... langsung ditangkap.!!
Copas: https://www.facebook.com/100015232300276/posts/867061317144937/
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1058

"Sudah makan siang belum, sudah dapat uang belum, ada berapa orang" itulah sepenggal pertanyaan relawan dan membagikan nasi, sembako dan uang kepada beberapa driver ojol dan masyarakat lainnya.
Sungguh mulia memang para relawan tsb bukan soal nilai materinya, walau sedikit tetapi sangat menolong, semoga semakin banyak masyarakat yang peduli dan mau berbagi kepada sesama yang kesulitan ekonomi terutama akibat dampak serangan Covid-19 ini.
Yang jadi sorotan dan perhatian cuma driver ojol saja yang belum makan siang, belum dapat penumpang, belum bayar kreditan, belum bayar kosan.
Tetapi sesungguhnya yang perlu dapat perhatian yang terdampak dari Covid-19 ini bukan hanya driver ojol saja, ada banyak mereka yang tidak mempunyai penghasilan untuk menghidupi keluarganya lagi.
Salah satunya pedagang sayuran dan kebutuhan harian dapur di pasar subuh sana yang berangkat dari rumah sejak jam 24.00 tengah malam hingga jam 11.00 baru pulang, tidak jarang mereka tidak bawa pulang uang dan bahkan modal dagangannya juga tidak kembali.
Tidak ada yang bertanya kepada mereka "Sudah sarapan belum, sudah dapat uang belum, modal dagangan pagi ini sudah kembali belum?"
Mereka juga ada yg pinjam ke rentenir, ada juga pinjam kupedes ke bank, ada kredit kendaraan untuk menunjang usahanya, semua kreditnya mulai tidak sanggup bayar.
Mereka ini tidak pernah jadi perhatian publik dan penguasa negeri ini, mereka hanya peduli dengan nasib driver idol dan keluarganya saja.
Semoga semakin banyak yang peduli kepada siapa saja yang kesulitan makan, tidak memandang profesi atau pekerjaannya, tidak memandang suku dan agamanya, mari kita saling berbagi....
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 782

Tolong Tolak Usul Yasonna Bebaskan Napi Koruptor, Bapak Presiden !!!
Oleh:
Rudi S Kamri
Bukan Yasonna Laoly kalau tidak membuat gaduh Indonesia. Kemarin membuat blunder dengan menghina orang Tanjung Priok. Sekarang alih-alih meringankan beban Presiden Jokowi yang lagi pusing memikirkan penanganan penyebaran Covid-19 di Indonesia, yang ada Yasonna justru menyebarkan blunder yang membuat Pemerintah berpotensi menjadi sasaran tembak.
Kemasan kebijakan Yasonna tentang pembebasan 30 ribu narapidana (napi) untuk menghambat penyebaran Covid-19 di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang sudah kelebihan beban lebih 700% awalnya cukup masuk akal sehat. Rencana pembebasan napi yang berusia di atas 60 tahun dan punya penyakit bawaan serta telah menjalani dua pertiga masa hukumannya awalnya sangat menyentuh rasa kemanusiaan. Karena golongan usia di atas 60 tahun apalagi yang punya penyakit bawaan memang kelompok paling rentan terkena Covid-19.
Dengan kapasitas lebih dari 700%, kondisi Lapas kita yang berjubel memang sangat rawan terjadi migrasi virus antar manusia karena sama sekali tidak memenuhi syarat program Physical Distancing untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Namun pada saat Yasonna Laoly akan merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 99/2012 yang memungkinkan napi koruptor bebas .......hellooooo ??????
Sudah jadi rahasia umum bahwa para napi koruptor yang rata-rata mantan pejabat negara dan ketua umum partai politik serta para pengusaha pengembat uang rakyat telah melakukan Social Distancing dan juga Physical Distancing di Lapas mereka masing-masing. Artinya mereka sudah membangun sel mewah bak fasilitas hotel bintang lima di sel tahanannya. Dan mereka seperti kost di apartemen mewah dengan per kamar per satu orang koruptor. Lalu apa urgensinya para para koruptor jahanam itu harus mendapat perlakuan istimewa karena "corona bleesing", Mr Laoly?
Usulan perubahan PP No 99/2012 harus kita lawan habis-habisan. Tidak ada satu alasan logis dan satu pasalpun yang bisa menjadi pembenaran untuk memberikan hadiah bagi para perampok uang rakyat. Saya mengharapkan Presiden Jokowi tidak akan mengabulkan permohonan sesat Yasonna Laoly. Karena akan menyesatkan Presiden ke arah jalan yang salah. Sikap awal Staf Khusus Presiden bidang hukum Dini Purwono sudah tepat yaitu menolak usulan Yasonna. Mudah- mudahan ini ditindaklanjuti sebagai sikap resmi Presiden Jokowi.
Keteguhan sikap Presiden Jokowi sedang diuji. Agar tegar menyaring masukan dan bisikan dari para pembantunya yang tidak semua steril dengan kepentingan politik. Rasa keadilan masyarakat Indonesia kini disampirkan ke pundak Presiden Jokowi. Sikap Presiden terkait permohonan Yasonna akan menjadi parameter dan indikator keseriusan itikad Jokowi dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Namun saya optimis Presiden seperti biasa peka terhadap suara jeritan rakyat.
Mudah-mudahan hal ini menjadi catatan di buku kecil Presiden Jokowi. Setelah badai corona berlalu Presiden dengan mudah segera melakukan resuffle menteri-menteri yang gemar membuat keributan dan kegaduhan. Kita memang harus cerdas memaknai syukur di balik musibah. Salah satunya kita dengan jelas bisa melihat siapa menteri yang cekatan, siapa menteri yang suka cari panggung dan siapa menteri yang menjadi beban Presiden seperti Yasonna ini.
Bapak Presiden, tolong jangan abaikan rasa keadilan rakyat. Jangan bebaskan napi koruptor dengan alasan apapun ?
Salam SATU Indonesia
04042020
Copas: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213741295125948&id=1812978131
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 768

PAK JOKOWI, JANGAN BEBASKAN NAPI KORUPTOR
Pak Jokowi yth,
Situasi saat wabah Corona ini memang tidak mengenakkan..
Banyak keputusan dibuat, harus ditelan dengan pahit karena situasi yang mengharuskan. Ingin mencegah virus menyebar dengan karantina negara, tapi ekonomi menghadapi kehancuran. Akhirnya keputusan yang buruk dibuat, untuk mencegah yang terburuk datang.
Pak Jokowi, saya sangat paham bahwa bapak ada di situasi yang tidak akan bisa menyenangkan banyak orang..
Begitu juga saat ada niat dari Menkumham, Menteri bapak yang ingin membebaskan 30 ribu napi dari sel penjara. Saya harus setuju, apalagi melihat kenyataan kapasitas tahanan lebih banyak dua kali lipat dari tersedianya rutan.
Melihat para napi dalam ruang sempit tidur bertumpuk-tumpukan, saya akhirnya juga merasa miris, bagaimana seandainya satu orang dari mereka terkena Corona ya ? Tentu penyebarannya akan cepat sekali, karena disana tidak mampu - bukan tidak mau - social distancing.
Meski tidak suka, saya terpaksa harus setuju. Keputusan buruk harus diambil untuk mencegah keburukan yang lebih besar lagi.
Tapi, pak.. Maaf, napi koruptor itu beda. Mereka adalah napi dengan kejahatan luar biasa, sama dengan napi terorisme dan bandar narkoba.
Ikut membebaskan napi koruptor, terorisme dan bandar narkoba, sungguh berlawanan dengan hati nurani. Tidak punya empati kepada masyarakat yang ingin penegakan hukum terhadap ketiga napi luar biasa itu, tegak setegak-tegaknya.
Saya paham, bahwa banyak yang akan menekan bapak untuk membebaskan napi itu - utamanya napi korupsi. Terutama dari anggota DPR, yang mungkin teman-teman mereka ada dipenjara disana.
Saya berharap bapak mengambil keputusan berbeda.
Sebenarnya napi koruptor itu tidak dihukum mati saja sudah meninggalkan luka di hati. Jangan sampai malah dibebaskan lagi, terus mereka senyum penuh kemenangan, dadah dadah depan kamera, pulang masih kaya raya.
Jika para koruptor mudah bebasnya, lalu kapan negeri ini bisa belajar ?
Sia-sia dong revolusi mental yang bapak gaungkan, jika ternyata orang yang rusak mentalnya mudah mendapat pengampunan.
Apa yang para koruptor itu pernah lakukan, bisa jadi inspirasi bagi calon koruptor yang akan muncul kemudian. "Ah, gapapa. Dipenjara sebentar, toh gak lama dibebaskan dan kita masih kaya.." begitu pikiran mereka.
Jika koruptor harus bebas hanya karena perasaan manusiawi, apa gak sekalian juga bebaskan napi terorisme dan bandar narkoba ? Mereka kan manusia juga..
Tolong, pak.. Jangan rusak apa yang sudah dikerjakan hanya karena membela para penghianat negeri ini. Biarkan DPR yang sibuk ingin membebaskan, bapak harus berdiri diseberang jalan.
Sudah tidak ada beban lagi, kan pak ? Jika begitu, pasti lebih mudah ambil keputusan.
Saya dengar bapak senang sekali melihat media sosial sebagai bagian masukan sebelum mengambil keputusan. Saya harap, surat ini juga bisa sampai dan dibaca bapak sebagai perimbangan.
Salam seruput kopi, pak.. Semoga wabah cepat berlalu.
Denny Siregar.
Copas: https://www.facebook.com/961333513929517/posts/3067141366682044/
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 842
SitindaonNews.Com | Fadjroel Rachman mengklarifikasi pernyataannya. Kata dia pemerintah mengimbau warga tidak mudik.
Setelah sebelumnya Jubir Presiden Fadjroel Rahman menyebut tak ada larangan mudik pada Kamis (2/4) pagi, sore harinya pernyataan itu berubah.
Dia menekankan agar masyarakat tidak mudik. Fadjroel juga mengirimkan video pernyataannya.
"Masyarakat diimbau tidak mudik," kata dia.
Menanggapi hal tersebut, dalam cuitannya Jansen Sitindaon meminta juru bicara presiden Fadjroel Rahman agar hati² bicara karena pernyataannya yang selalu berubah seperti soal mudik, pagi hari bilangnya tidak ada larangan mudik, tapi sore hari bilang lagi dihimbau tidak mudik. "Pagi Tempe, Sore Dele" kata Jansen Sitindaon.
"Kedepan baiknya lebih hati² bang @fadjroeL. Krn sdh tertanam di publik abang itu tukang revisi. Aku tdk tahu apa ini murni salah abang atau memang pengambilan keputusan di istana itu "amburadul" tiap saat berubah². Dimasa krisis gini usahakan mulai zero errorlah. Pusing rakyat.?" kata @jansen_jsp
"Ini juga sekaligus pelajaran buat abang. Dulu kalian mengatakan Pak SBY lambatlah, terlalu hati² dll. Skrg kalian sendiri amburadul bang @fadjroeL. Pagi tempe sore dele. Pernyataan tak bisa dipegang apalagi kebijakan. Tp kami tetap doakan kalian semua sehat mengurus negeri ini.?" kata @jansen_jsp lagi.
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 890

Sampai saat ini di Jepang tidak ada lockdown atau Karantina. Perkantoran, restoran dan mal tetap beraktifitas seperti biasa. Transportasi umum, dan perbatasan internasional tetap normal dan dibuka. Yang diliburkan cuma sekolah dan aktivitas publik.
Mengapa jepang masih terlihat begitu normal ketika banyak negara "sekarat" dengan pandemi Corona? Padahal dekat dengan China.
1. Karena tidak ada orang yang sedikit tahu tapi banyak bacot.
2. Tidak ada ahli agama yang merasa wakil Tuhan. Yang seenaknya ngemeng azab ini itu.
3. Orang Jepang sudah terbiasa memakai masker jika bepergian.
4. Orang Jepang terbiasa hidup bersih, tidak membuang sampah sembarangan. Juga tidak mengatakan bahwa kebersihan itu adalah bagian dari iman. Mereka cukup melakoni perilaku bersih, di mana pun mereka berada.
5. Budaya Jepang tidak berjabat tangan, cipika cipiki. Tapi menundukkan kepala jika menyapa orang lain.
6. Orang Jepang terbiasa cuci tangan. Disediakan sabun di toilet umum, pintu masuk kantor, dan ruang publik lainnya.
7. Orang Jepang kalau sakit pergi ké dokter, bukan ké dukun.
8. Orang Jepang tidak suka mencela orang lain, tidak menghina cara hidup orang lain. Mereka juga tidak memusuhi pihak-pihak lain. Mereka hanya hidup dengan cara mereka.
Nb: Yang pasti, tidak ada sejenis bacot Zonk dan Tengku Jul
~DeFatah~
Copas: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2960432210715683&id=100002467989737