Top Stories
-
Money Management anti Boncos
-
Cara Jual Saham agar Langsung Matched
-
Trading Adalah Permainan Disiplin.
-
Punguan Sitindaon Boru Bere Kota Medan: Partangiangan atau Kebaktian Minggu 19 April 2026.
-
Siap-siap! Mulai Hari Ini 18 April 2026 Harga Pertamina DEX Naik Tajam
-
Mustahil Bisa Sukses dan Memiliki Rasa Aman Jika Tidak Mencoba Skill Baru dan Menambah Jam Kerja.
-
Tahun 2026 Yang Semakin Sulit
-
Lulus SMA, Mau Kuliah atau Langsung Kerja?
-
Anda Datang ke Bumi Sendirian dan Akan Pergi Sendirian
Search
- Details
- Category: Food & Travel
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1159
Veny Rossa - d'travelers
Bali merupakan destinasi yang sangat populer didunia, bagi saya Bali tidak pernah membosankan sedikitpun, selalu ada yang baru di Bali, selalu menyenangkan dan berkesan berlibur ke Bali. Pada liburan kali ini saya berkesempatan mengunjungi Bali untuk kesekian kalinya. Destinasi pilihan saya jatuh kepada Nusa Penida. Nusa Penida adalah salah satu pulau yang berada disebelah tenggara Bali. Berbekal dari hasil pengetahuan mbah gugel saya memulai perjalanan kali ini. Untuk menuju Nusa Penida saya memilih menyebrang melalui Pelabuhan Sanur.
Jam 06.30 pagi saya sudah sampai Pelabuhan Sanur dan menuju booth tempat penukaran tiket fast boat yang sudah saya pesan sebelumnya secara online. Saya menaiki Idola Fast Boat, dengan tujuan Sanur-Sampalan, perjalanan menuju Sampalan kurang lebih memakan waktu sekitar 30 menit, Idola Fast Boat berangkat pukul 07.30. Harga tiket Fast Boat Idola pp Sanur-Sampalan dijual seharga Rp 150.000,- cukup murah menurut saya, namun bagi turis harganya dijual dua kali lipat. Sedikit informasi, saya salah membeli tiket fast boat, seharusnya saya membeli tiket fast boat yang menuju Toyapakeh bukan Sampalan, karena destinasi tujuan saya lebih dekat diakses melalui Pelabuhan Toyapakeh.
Alhasil, saya menempuh perjalanan lebih jauh ke destinasi tujuan saya yaitu Pantai Kelingking & Broken Beach karena saya membeli tiket fast boat ke Sampalan. Tips dari saya, sebelum memulai perjalanan selalu sedia Tolak Angin, kapanpun dan dimanapun. Apalagi pada perjalanan kali ini saya menaiki kapal laut, yang memungkinkan saya terkena paparan langsung angin laut, sebelum mual dan masuk angin menghadang saya minum Tolak Angin agar dapat Mencegah dan Mengatasi Masuk Angin. Sesampainya di Sampalan, saya langsung bertemu dengan agen dari rental motor yang saya sewa, saya menyewa sebuah sepeda motor untuk menjelajahi Nusa Penida dengan harga Rp 60.000,- per hari diluar bahan bakar. Uniknya agen rental motor tersebut menyuru saya menaruh motor ditempat semula dengan kuncinya jika saya sudah selesai memakai motor tersebut tanpa bertemu dengan agen itu lagi, di Nusa Penida motor tidak akan hilang walaupun kuncinya masih menyantel dimotor tersebut.
Sebelum memulai perjalanan saya mengisi perut disebuah warung milik warga lokal, saya memesan mie instan lengkap dengan telor dan sayur, entah mengapa rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat daripada biasanya. Setelah perut terisi penuh, saya dan teman saya memulai perjalanan kali ini. Kami hanya mengandalkan aplikasi navigasi untuk mencapai destinasi tujuan kami, yaitu Pantai Kelingking, sedikit nekat memang. Pada awalnya perjalanan kami lancar, menurut aplikasi navigasi tersebut kami akan tiba dalam waktu kurang lebih 1 jam, ya memang jaraknya sangat jauh. Di pertengahan jalan sinyal kami mulai melemah bahkan hilang sekalipun, akhirnya kami memutuskan untuk bertanya arah pada warga sekitar. Bukannya sampai lebih cepat, kami malah nyasar tak karu-karuan, belum lagi jalanan di Nusa Penida banyak yang rusak, berkali-kali kami bergantian turun dari motor ketika ada turunan atau tanjakan dengan jalanan yang rusak. Akhirnya perjalanan kami menemukan titik terang ketika kami bertemu sesama wisatawan yang berasal dari jakarta, kami sepakat untuk mencapai Pantai Kelingking bersama dengan mengandalkan aplikasi navigasi yang ia miliki. Singkat cerita, akhirnya kami sampai juga di Pantai Kelingking. Rasa takjub ketika melihat keindahan Pantai Kelingking menghampiri saya, lautan yang cantik berwarna biru terang, pasir putih yang bersih, serta tebing yang kokoh menjadi pemandangan yang membuat saya tidak dapat berkata-kata, sungguh luar biasa ciptaan Tuhan.
Setelah puas berfoto ria di Pantai Kelingking, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi terakhir yaitu Broken Beach & Angel Billabong yang lokasinya berdekatan. Seharusnya menurut rencana kami, kami ingin mengunjungi satu destinasi lagi, yaitu Crystal Bay, namun karena keterbatasan waktu kami hanya dapat mengunjungi Broken Beach & Angel Billabong. Perjalanan menuju Broken Beach & Angel Billabong tak kalah menantang dari perjalanan sebelumnya, jalanan Nusa Penida masih tidak bersahabat dengan kami. Seperti sebelumnya, berkali-kali kami bergantian turun dari motor ketika ada turunan atau tanjakan dengan jalanan yang rusak. Hari semakin sore, akhirnya kami sampai di Broken Beach & Angel Billabong yang tak kalah menakjubkan dari Pantai Keliling.
Hembusan angin yang kencang, deburan ombak yang tak tenang, dan air laut yang biru bening disuguhkan oleh tempat ini. Pada saat kami datang air laut sedang pasang, sehingga tidak memungkinkan kami untuk turun kebawah Angel Billabong, jadi kami hanya berfoto ria dan menikmati hembusan angin selama disana. Tak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat, berat hati rasanya meninggalkan pulau seindah Nusa Penida, kapal kami akan berangkat pukul 15.30 sore, mau tak mau kami bergegas untuk kembali ke Pelabuhan Sampalan. Saya harus kembali mengunjungi dan mengexplore Nusa Penida†kata-kata itu terucap didalam hati saya selama perjalanan pulang menuju pelabuhan. Jadi tunggu apalagi, segera kunjungi Nusa Penida dan jangan lupa membawa Tolak Angin. Salam Traveler!
(Veny Rossa)
- Details
- Category: Budaya
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1068
- Details
- Category: Budaya
- By ZA Sitindaon
- Hits: 437
Pawai Ogoh-ogoh di Surabaya diiringi Reog Ponorogo dan Barongsai (Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Hari Raya Nyepi 2022 akan diperingati besok, Kamis 3 Maret 2022. Pada perayaan Nyepi, biasanya identik dengan adanya ogoh-ogoh.
Lantas apakah itu ogoh-ogoh? Melansir laman resmi ISI Denpasar, sejak 1980-an, umat Hindu memanfaatkan ogoh-ogoh sebagai atribut acara mengelilingi desa dengan membawa obor.
Umumnya, ogoh-ogoh diarak menuju sema, yakni tempat persemanyaman umat Hindu, sebelum dibakar dan pada saat pembakaran mayat. Kemudian, ogoh-ogoh yang sudah diarak mengelilingi desa tersebut dibakar.
Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh diarak setelah upacara pokok selesai diiringi irama gamelan khas Bali, Bleganjur Patung. Alat musik ini biasanya berbahan dasar bambu, kertas, dan kain.
Benda-benda sederhana tersebut merupakan kreativitas dan spontanitas masyarakat demi memeriahkan upacara. Seiring waktu, ogoh-ogoh lekat dengan berbagai perayaan demi menyemarakkan suasana, termasuk saat Nyepi.
Ogoh-ogoh sendiri umumnya berbentuk boneka raksasa yang merupakan manifestasi Bhutakala. Dalam ajaran Hindhu Dharma, Bhutakala merupakan kekuatan Bhu (alam semesta) dan Kala (waktu) yang tak terukur dan tak terbantahkan.
Ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk hidup di mayapada, surga, dan neraka, seperti naga, gajah, garuda, widyadari, serta dewa. Ogoh-ogoh biasanya dibuat dari styrofoam, bambu, koran bekas, kain, cat, kawat besi, dan kayu.
Makna Ogoh-Ogoh
Patung ogoh-ogoh diarak saat pawai pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 yang dihadiri Presiden Jokowi di Bali (23/6). Acara ini dilaksanakan di depan Monumen Bajra Sandi, Lapangan Puputan Niti Mandala. (Liputan6.com/Pool/Biro Pers Setpres)
Ogoh-ogoh melambangkan pengakuan manusia akan kuasa alam semesta dan waktu dengan kekuatan yang dapat dibagi dua. Pertama, kekuatan Bhuana Agung (alam semesta) dan kedua, Bhuana Alit (kekuatan dalam diri manusia).
Kedua kekuatan ini dapat digunakan untuk menghancurkan atau membuat dunia lebih baik. Masyarakat Bali percaya bahwa ogoh-ogoh mempresentasikan sifat buruk di dalam diri manusia. Karenanya, mereka membuat ogoh-ogoh sebelum perayaan Nyepi.
Setelah ogoh-ogoh selesai dibuat, lalu diarak berkeliling kota atau desa, ogoh-ogoh dibakar sebagai simbol telah hilangnya sifat buruk di dalam diri manusia. Sehingga, mereka pun siap melakukan tapabrata pada Hari Raya Nyepi keesokan harinya.
- Details
- Category: Budaya
- By ZA Sitindaon
- Hits: 482

Kementerian Pariwisata dan Kepurbakalaan Yordania pada Selasa (22/2) mengumumkan sebuah penemuan situs arkeologi untuk ritual keagamaan yang memiliki sejarah sekitar 9.000 tahun di bagian tenggara negara tersebut.

Para arkeolog menemukan sebuah tempat pemujaan di situs tersebut dengan instalasi ritual unik pada zaman Neolitik, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.
Instalasi yang disebut "layang-layang gurun" itu digunakan sebagai perangkap massal untuk berburu gazel. Instalasi tersebut tersebar luas di dataran gersang Timur Tengah dan Asia barat daya, kata kementerian itu, seraya menambahkan bahwa diyakini instalasi di situs itu digunakan untuk tujuan keagamaan.
"Penemuan ini belum pernah terjadi sebelumnya, karena merupakan bukti unik dari susunan ritual yang kompleks, yang berasal dari zaman Neolitik," papar pernyataan itu.
Kementerian tersebut juga menekankan pentingnya penemuan itu, dengan mengatakan bahwa penemuan tersebut menyoroti Yordania sebagai "tempat lahirnya peradaban yang terus memukau dunia dengan penemuan arkeologi baru."
- Details
- Category: Budaya
- By ZA Sitindaon
- Hits: 492
Cara warga Korut merayakan Imlek.
SitindaonNews.Com, || Warga di Korea Utara punya tradisi khusus merayakan Imlek. Warga Korut memulai Imlek dengan menunjukkan rasa hormat mereka kepada keluarga Kim Jong-un, pemimpin negara itu.
Mereka menaruh bunga dan memberikan penghormatan pada patung ataupun potret pemimpin Korut sebelumnya, Kim Il-sung dan Kim Jong-il.
Warga Pyongyang mengunjungi Istana Matahari Kumsusan, di mana tubuh Kim Il-sung dan Kim Jong-il disemayamkan. Setelah itu, mereka mendaki bukit Mansu untuk membungkuk ke patung perunggu raksasa para pemimpin sebelumnya.
Kemudian, masyarakat menyaksikan upacara leluhur, makan bersama keluarga, dan menyaksikan pertunjukan seni yang memuat pesan pujian kepada Kim Jong-un dan partai berkuasa, dikutip dari The Korea Herald.
Selain itu, warga Korut juga memainkan permainan tradisional seperti menerbangkan layangan, top-spinning, jegichagi, dan permainan papan yunnori di hari raya tersebut.
Meski demikian, tak ada mudik bagi sebagian besar warga Korut untuk mengunjungi keluarga. Warga di negara itu harus memiliki izin perjalanan bila mereka ingin keluar dari tempat tinggalnya.
Tak hanya itu, pembatasan pergerakan warga Korut saat ini semakin diperketat demi mencegah dan mengendalikan penyebaran virus Covid-19
Sementara itu, Kim Jong-un dan para pembantunya yang setia turut menyaksikan konser yang dipenuhi lagu dan aksi pemujaan terhadap Partai Buruh Korea dan pemimpin Korut.
Menurut laporan media lokal Korut KCNA, lagu seperti "Kami Akan Pergi di Sepanjang Jalan Kesetiaan," dan "Kami Akan Melakukan Perjalanan Satu Jalan Selamanya," kerap ditunjukkan dalam aula konser.
"Penonton sekali lagi merasakan kebenaran bahwa negara dan rakyat kita memiliki masa depan yang cerah meski menghadapi kesulitan dan kesusahan di jalan kemajuan selama Sekretaris Jenderal (Kim Jong-un) memimpin partai," demikian tulis KCNA dikutip dari Korea Herald.
Sementara itu, Kim Il-sung menilai Tahun Baru China sebagai sisa masyarakat feodal. Sejak Perang Korea terjadi di 1953, tradisi hari raya tersebut menghilang dari Korut.
Namun, pemimpin Korut Kim Jong-il mengembalikan Tahun Baru China sebagai bagian dari kampanye 'Semangat Pertama Bangsa Korea.' Rezim Kim Jong-il menekankan pentingnya Tahun Baru Imlek sebagai hari libur tradisional untuk mewarisi tradisi nasional.
Menurut Kementerian Unifikasi Korsel, kalender tahun ini menunjukkan Korut telah memberikan satu hari raya publik untuk merayakan Imlek. Warga diizinkan libur pada hari itu, tetapi mereka harus melakukan kerja tambahan di akhir pekan.
Walaupun demikian, masyarakat Korut bakal berpartisipasi di perayaan tahun ini, mengingat rezim Kim Jong-un memberikan makanan dan keperluan sehari-hari di hari libur nasional