Top Stories
-
Money Management anti Boncos
-
Cara Jual Saham agar Langsung Matched
-
Trading Adalah Permainan Disiplin.
-
Punguan Sitindaon Boru Bere Kota Medan: Partangiangan atau Kebaktian Minggu 19 April 2026.
-
Siap-siap! Mulai Hari Ini 18 April 2026 Harga Pertamina DEX Naik Tajam
-
Mustahil Bisa Sukses dan Memiliki Rasa Aman Jika Tidak Mencoba Skill Baru dan Menambah Jam Kerja.
-
Tahun 2026 Yang Semakin Sulit
-
Lulus SMA, Mau Kuliah atau Langsung Kerja?
-
Anda Datang ke Bumi Sendirian dan Akan Pergi Sendirian
Search
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 470
Transformasi Ekonomi.
Tahun 2013 saya bertemu dengan pejabat China di Guangxie. “ China sedang melakukan transformasi. Dari manufaktur dan industri yang berorientasi ekspor ke domestik. Pasar domestik kami harus kami optimalkan.”
“ Kenapa ? Tanya saya.
“ Konyol kalau terus bergantung ekspor. Pasar utama kami adalah AS dan Eropa. Kalau PDB kami tergantung mereka. Apa bedanya kami dengan Jepang, Taiwan, Korea. Yang hidup mati mereka tergantuk kebijakan tarif UE dan AS. Negeri ini pernah hancur akibat ulah UE dan AS. Dan mereka kalau ada kesempatan akan terus hancurkan. Negara manapun itu akan mereka jadikan korban “ Katanya.
Apa yang terjadi setelah itu? Lambat laun upah buruh China terus naik. Dari Rp. 2 juta / bulan. Kini sudah mencapai Rp 14 juta. Akibatnya daya beli rakyat meningkat. Produksi domestik terserap. Ketergantungan pasar ekspor samakin berkurang. Makanya walau kemudian terjadi perang dagang antara China-AS, China aman saja. Yang korban ya rakya AS. Karena harga melambung dan langka.
Kemudian China amankan pangan. Maklum China itu rakyatnya diatas 1 miliar. Resiko besar kalau pangan kurang. Sejak tahun 2013, riset besar besaran dilakukan untuk ketahanan pangan. Kini China sudah mampu mengubah iklim sehingga petani bisa produksi sepanjang tahun. Menjadikan air laut untuk tanaman padi. Sehingga luas tanaman padi bertambah. China juga merevitalisasi 50.000 desa menjadi estate food. Sehingga kemiskinan akibat kurangnya lahan produksi bisa diatasi dan melipat gandakan pangan.
China tahu ancaman akan kenaikan energi. Sejak tahun 2013 mereka lakukan program besar besaran replance pembangkit listri dari batubara ke energi terbarukan. Tahun kemarin mereka sudah operasikan hidro power terbesar nomor dua di dunia. Kapasitas 30.000 Megawat. Operasikan pembangkit listri tenaga angin terbesar di dunia. Untuk menjaga kelangsungan industri akibat krisis energi selama pembangun listrik terbarukan, tahun kemarin China sudah stok batubara untuk 5 tahun. Jadi, program energi terbarukan akan selesai semua dalam 5 tahun kedepan.
Apa yang akan jadi ancaman dimasa depan soal pangan dan energi China sudah antisipasi. Bukan dengan retorika. Tetapi kerja nyata. Ancaman ketidak seimbangan ekonomi global yang berdampak kepada perang tarif, China sudah amankan pasar domestik. Jadi mau beli barang china, atau engga. China engga ada urusan. Pasar ekspor hanya suplementari saja. Mengapa China mampu menganantisipasi itu?
Pertama. Nation interest mereka jelas. Tidak Abu abu. Akibatnya mereka paham membuat kebijakan yang bertumpu kepada geopoltik dan geostrategis.
Kedua. Mereka membangun negara secara modern. Lewat riset yang mahal. Dari rasio PDB, China adalah negara nomor tiga terbesar di dunia dalam hal anggaran risetnya. Dari segi size terbesar kedua di dunia.
Ketiga. China membangun lewat kerja keras dan minimal subsidi. jadi kehebatan china karena rakyatnya memang hebat.
Bagaimana dengan kita?. Hanya jokowi yang paham,. Yang lain engga jelas. Yang jelas, sejak era Soeharto sampai kini, tidak terjadi transformasi ekonomi. Tetap bertumpu kepada konsumsi bukan produksi. Lah anggaran riset ajan terendah di ASEAN. Gimana mau maju. Makanya saat Pemilu orang dikasih gocap mau berubah pilihan. (Wawan Suwandi)
https://www.facebook.com/100014725653904/posts/1335757503591759/
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 572

"Kekuasaan itu candu, melenakan, anginnya membuai kerabat, keluarga dan teman². Sinarnya me-lambai², laron² beterbangan, berkisar datang merubung"
Kekuasaan itu candu. Melenakan. Sekadar dihembus anginnya saja, orang-orang akan terpelanting ke awan, jadi mapan, jadi kaya-raya, dan menggapai semua impian. Anginnya membuai kerabat, keluarga, teman-teman.
Singgasana kekuasaan itu bak seberkas cahaya yang begitu terang dan menyilaukan. Sinarnya melambai-lambai, laron-laron beterbangan, berkisar dan datang merubung. Terang cahaya kekuasaan bisa memberi harapan pada mereka yang putus asa, tapi panasnya juga bisa memanggang mereka yang tak terbiasa.
Jika hari-hari ini ada suara-suara yang ingin memperpanjang kekuasaan Presiden Jokowi, dengan aneka muslihat – tiga periode, perpanjangan masa jabatan, atau penundaan pemilu -- yang patut dicurigai adalah yang memiliki gagasan dan yang melontarkannya ke khalayak. Jangan-jangan, orang-orang ini justru ketakutan, apabila Presiden Jokowi berhenti sesuai konstitusi di tahun 2024, kekuasaan mereka di partai atau di kumpulan juga tumbang?
Jokowi sendiri jauh-jauh hari, setidaknya sudah tiga kali menegaskan: “saya ini produk pemilihan langsung”. Dan itu amanat reformasi. Karena itu, ide amendemen konstitusi pun sudah ditolaknya jauh-jauh hari. Alasannya sederhana: “Apakah ini tidak akan melebar ke mana-mana? Bukan sekadar amendemen untuk kembali ke garis-garis besar haluan negara?”
Suara-suara untuk melanggengkan kekuasaan Presiden hari-hari ini datang dari para pecandu yang khawatir kehilangan nikmatnya kekuasaan.
Suara rakyat – juga saya – jelas: menolak perpanjangan kekuasaan, dengan muslihat apa pun. Survey LSI terbaru yang dikeluarkan hari ini, 3 Maret 2022 menyebutkan:
• Mayoritas warga menolak perpanjangan masa jabatan presiden sehingga Presiden Joko Widodo harus mengakhiri masa jabatannya pada 2024 sesuai konstitusi (berkisar 68-71%), baik karena alasan pandemi, pemulihan ekonomi akibat pandemi, atau pembangunan Ibu Kota Negara baru.
• Mayoritas warga juga lebih setuju bahwa pergantian kepemimpinan nasional melalui Pemilu 2024 harus tetap diselenggarakan meski masih dalam kondisi pandemi (64%), ketimbang harus ditunda karena alasan pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi (26.9%).
Jadi, sodara-sodara, kepada mereka yang masih bermain-main dengan perpanjangan kekuasaan ini, kita layak mengingatkan: jangan sampai termakan tulah kekuasaan. Seperti laron yang mengejar cahaya dan terjengkang kepanasan.
Kekuasaan, kata Pramoedya dalam novel kolosal Arus Balik, "seperti unggun api dalam kegelapan dan orang berterbangan untuk mati tumpas di dalamnya."
.
.
.
Tomi Lebang
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 891

SitindaonNews.Com | Perang Rusia- Ukraina sebenarnya terjadi adalah karena Ukraina yang tidak menghormati Perjanjian Minsk tahun 2014 dan 2015, dimana dalam perjanjian tersebut sudah ada kesepakatan antara Rusia dan Ukraina untuk memberikan status ekonomi khusus kepada wilayah Luhansk dan Donetsk.
Presiden Ukraina tidak mau melaksanakan perjanjian tersebut dengan alasannya DPR belum membuat UU nya, sementara pemerintahnya sendiri tidak pernah mengajukan UU ekonomi khusus tersebut ke DPR nya.
Akibatnya, rakyat yang ada di Luhansk dan Donetsk berontak untuk memerdekakan diri. Pemberontakan tersebut dihadapi oleh militer Ukraina dengan keras.
Rusia tidak mau turut campur atas apa yang terjadi antara Ukraina dengan para pemberontak Luhanks dan Donetsk dan menganggap itu adalah urusan dalam negeri Ukraina sendiri.
Justru Eropa dan AS membantu persenjataan militer Ukraina untuk menghabisi pemberontak atau kelompok separatis Luhansk dan Donetsk.
Melihat Eropa dan AS yang membantu militer Ukraina, maka kelompok pemberontakpun meminta bantuan Rusia. Untuk itu Rusia meminta atau menuntut agar Ukraina patuh pada perjanjian Minsk tahun 2014 dan 2015 tentang kawasan ekonomi khusus wilayah Luhansk dan Donetsk, tetapi presiden Ukraina ngeyel dan presiden Ukraina yang pelawak itu justru mentertawakan Rusia.
Presiden Rusia, Putin menganggap sikap presiden Ukraina yang pelawak tersebut sebagai bentuk mengajak berantam. Putin pun mengambil keputusan untuk menghabisi presiden Ukraina dan tidak bermaksud Ukraina menjadi koloni Rusia.
Setelah presiden Ukraina dihabisi atau jatuh, maka selanjutnya kembali diserahkan kepada rakyat Ukraina sendiri untuk memilih presiden baru.
*Z.A. Sitindaon*
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 490
Kalkulasi ancaman dan antisipasi Rusia.
SitindaonNews.Com | Ancaman Sekutu Eropa Barat dan AS untuk keluarkan Rusia dari keanggotaan SWIFT dan akses perbankan di negara anggota, memang keliatannya telak memukul ekonomi Rusia. Banyak commitment credit perusahaan Rusia yang dealing dengan bank china di Singapore dan London terpaksa dibatalkan. Karena walau china tidak menuduh Rusia invasi dan tidak mendukung boikot namun bank mereka yang beroperasi di negara yang mendukung boikot harus patuh hukum lokal. Sementara di Hongkong wilayah teritori china tidak berlaku. Tetap dilayani.
Lantas apakah sebodoh itu Putin untuk dihancurkan ekonominya hanya karena kekuatan financial sistem barat? Jelas, menurut Trumps “ Putin itu jenius” mengapa ? Perhatikan.
Pertama, mata uang rubel jatuh sebesar 20%. Itu akan membuat Rusia lebih kompetitif masuk ke pasar ekspor. Ingat, mitra dagang terbesar Rusia setelah China adalah Amerika. Jadi walau Rusia tidak bisa jual ke Amerika langsung, namun dengan kurs yang kompetitif akan mendorong pihak counter trader untuk memfasilitasi barang Rusia masuk AS.
Kedua, dengan jatuhnya rubel maka, akan menimbulkan gagal bayar hutang korporat yang pinjam pakai dollar AS atau Euro. Ingat, gagal bayar karena force majeur politik tidak membuat downgrade rating Bond. Korporasi Rusia Happy. Bisa ngemplang hutang. Pernah ingat tahun 1998 kasus skandal Long-Term Capital Management (LTCM), yang mengakibatkan kerugian bank besar di AS mencapai usd 1 triliun. Tahu apa sebabnya ? Karena surat utang Rusia gagal bayar. Nah kalau sekarang terjadi gagal bayar lagi, itu yang korban adalah bank bank besar di Eropa dan AS. Nila risk pasti lebih besar dari tahun 1998.
Ketiga. Apakah kalau surat utang Rusia gagal bayar lantas Rusia collapsed? Ya engga. Rusia bisa gunakan system keuangan China, yang sudah punya perjanjian billateral swap dengan banyak negara, terutama di ASIA dengan korea dan Jepang termasuk Indonesia. Likuiditas RMB sangat kuat dan diakui IMF sebagai reserved currency selain USD dan Euro. Kalau AS marah ke china karena bantu Rusia, ya AS lakukan gol bunuh diri. Mengapa? China adalah kreditur utama AS untuk nomboki APBN mereka yang deficit.
Keempat. Apakah dampaknya serius dengan larangan beroperasi maskapai penerbangan Rusia di negara yang ikut boikot ? Ah itu kecil. Putin sudah buat keputusan. Melarang udara Rusia dipakai untuk lalulintas udara penerbangan terutama bagi negara yang ikut boikot. Semua rudal darat udara sudah standby. Setiap pesawat komersial yang melintasi udara Rusia terancam kena rudal. Engga percaya? Itu pernah dikakukan oleh Rusia dengan jatuhnya Korean Airline dan MAS. Nah peswat dari Eropa atau Australia mau ke negara Asia pasti nyerempet udara Rusia. Apalagi batas udara Rusia dengan korea, china dan Jepang itu tipis banget. Mau lewat mana? Hayooo.
Jadi berita horor soal ancaman ekonomi sekutu barat dan AS kepada Rusia itu, di media Massa pro Sekutu hanya konsumsi orang awam saja. Dan ini menguntungkan secara poltik bagi elite sekutu yang stress mikirin ekonomi dan inflasi tak terkendali.
Wawan Suwandi
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1333862850447891&id=100014725653904
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 449

Ancaman SWIFT terhadap Rusia.
SitindaonNews.Com | Ada yang lucu di media Massa. Yaitu berita tentang diancamnya Rusia dari delisting keanggotaan SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication ). Diberitakan begitu mengerikan dan menakutkan bagi Rusia. Tetapi para banker dan bank cetral tidak ada menanggapi serius. Ini langkah politik AS yang paling dungu dari presiden dungu. Mengapa?
SWIFT itu bagian dari sistem yang diterapkan oleh Bank International for Settlement. Sebagai bagian dari risk management terhadap cross border transfer antar bank. Keanggotaannya sangat luas. Sekarang diperkirakan diatas 11.000 lembaga kuangan. Namun karena perkembangan zaman, SWIFT ini hanya dipakai untuk transaksi kelas K ( ribuan doang). Kelas jutaan, udah jarang orang pakai SWIFT. Apa alasannya? karena lambat settlementnya.
Perhatikan cara kerja SWFIT. Ada bank pengirim. Ada bank Penerima. Dan ada bank tengah ( Bank Correspondent/BC ) yang bertindak sebagai penjamin pembayaran atas transaksi bank penerima dan pengirim. Kemudian setiap bank anggota saling memilik rekening di bank anggota. Sehingga kalau terjadi cross settlement, BC bisa langsung deduct. Masalahnya, walau secure tetapi tidak cepat. Masih perlu klarifikasi dari BC. Kalau bank of New York sebagai BC, bisa diatas 3 hari.
Nah kalau anda trader crude oil. Itu transaksi diatas 10 juta dollar. Bahkan diatas USD 100 juta. Harga minyak terus bergerak setiap detik. Kalau pakai mekanisme SWFIT, pasar spot engga jalan. Saya lihat penawaran dari trader Crude Oil. Dia tunjukan titik koordinat kapal cargo Crude itu. Saya lihat pakai fitur GPS, untuk pastikan di mana kapalnya berlayar. Setelah saya catat lambung kapal dan sesuaikan dengan data bid. Dalam hitungan detik, bid trader itu saya ask dan take down. Pada waktu bersamaan pembayaran selesai. hitungan detik.
Mau tahu saya bayar Swift ? pasti tidak. Karena swift tidak bisa real time payment. Jadi gunakan apa ? antar trader punya platform GPCM ( Global payment Cash management), yang terhubung dengan bank raksasa. Ada juga platform Exchange trade funds, yang ter-intergrasi antara pedagangan dan agent pembayaran. Semua trader besar pasti punya rekening GPCM dan ETF. Bahkan semua trader punya keanggotaan Palladium untuk transaksi limit maksimum 500,000 USD. Jadi ngapain pakai SWIFT.
Memang transaksi perdagangan dunia, 90% pakai SWIFT. Tetapi 90% itu kalah dengan 1 % transaksi tidak pakai SWIFT. SWIFT itu hanya alat jadul yang lelet mengembangkan diri. Dan para bank anggota ogah terlalu tergantung dngan SWIFT. Karena sangat politis. Pemilik uang banyak tidak mau deal dengan bank yang masih tergantung kepada SWIFT. Biden memang lucu, karena terlalu tua jadi presiden. Dan Presiden Ukraina yang mantan palawak terlalu percaya. Jadi tambah lucu dah.
Wawan Suwandi
https://www.facebook.com/100014725653904/posts/1333790560455120/
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 465
PDIP klaim soal pemilu 2024 diundur. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP mengusulkan perubahan sistem proporsional terbuka menanggapi usul penundaan Pemilu 2024 yang salah satunya karena ongkos Pemilu yang mahal.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan, pihaknya mengusulkan agar sistem proporsional terbuka yang dipakai saat ini diubah dengan kembali menerapkan sistem proporsional tertutup yang terakhir dipakai dalam Pemilu 2004.
"Demi kepentingan bangsa dan negara, sistem ini dapat diubah menjadi proporsional tertutup. Ini lebih penting sebagai insentif bagi kaderisasi Partai," kata Hasto dalam keterangannya, Minggu (27/2).
Dia menjabarkan, sistem proporsional tertutup relatif Pemilu tak akan banyak memakan biaya. Pada 2004, kata dia, pemilihan presiden putaran 2 dan 2 hanya hanya menelan biaya senilai Rp3,7 triliun.
AHY Sindir Ide Tunda Pemilu: Minyak Goreng Langka Kok Pikir Kekuasaan?
Lewat sistem proporsional tertutup, pemilih hanya dapat memilih partai politik secara keseluruhan dan tidak dapat memilih kandidat. Sistem itu berbeda dengan sistem proporsional terbuka, di mana pemilih bisa memilih nomor urut atau kader dalam pemilihan legisltif.
"Belajar dari Pemilu 2004 dengan pemilu legislatif, Pilpres I, dan Pilpres II biaya hanya kurang lebih Rp3,7 triliun," kata dia.
Lebih lanjut, Hasto menegaskan partainya berkomitmen untuk setia pada konstitusi dengan menolak wacana penundaan Pemilu yang disampaikan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar pada Rabu (23/2).
Menurut Hasto, tingginya kepercayaan publik terhadap kinerja Presiden Joko Widodo berdasarkan hasil survei teranyar, mestinya dimaknai sebagai legacy Presiden, alih-alih mendukung perpanjangan masa jabatan. Terlebih, pemerintah dan DPR juga sudah menyepakati jadwal Pemilu 2024 pada 14 Februari.
"Bagi PDI Perjuangan seluruh legacy Presiden Jokowi tersebut kemudian menjadi dasar bagi Presiden dan Wapres hasil Pemilu 2024 dalam melanjutkan kemajuan bagi Indonesia Raya di seluruh aspek kehidupan," ucap Hasto