Top Stories
-
Rahasia Cuan Saat IHSG Merah dan Harga Saham pada Nyungsep
-
Untuk Menjadi Kaya, Ada 5 Tahap yang Harus Anda Lalui
-
Mas Didit ke Solo ada apa?
-
Sikap Mentalmu Hari ini akan Menentukan apakah Kelak Hidup Kaya atau Miskin!
-
Miskin Dulu Boleh, Jangan Miskin Permanen
-
Begini Pola Permainannya Kenapa MSCI, S&P, MOODY'S Sering Beri Rating Jelek Saat Harga Nyungsep?
-
Yang Kelaparan itu Adalah Pemilik Dapur MBG dan Elit-elit Politik Menghadapi Pemilu 2029
-
Baca Order Book, Bagi Pemula yang Baru Join.
-
Apapun Kata MSCI Pagi Ini, Jangan Ada yang Panic Selling!
Search
- Details
- Category: Budaya
- By ZA Sitindaon
- Hits: 2567
- Details
- Category: Budaya
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1917
#BANGGA BATAK#
Memang Batak ini hebat, beda dengan yang lain, orang Batak semua jadi Raja, tapi orang Batak semua juga jadi Pelayan, semua tergantung di mana posisi kita berada.
Jika kita lebih bangga dan lebih menghargai adat, budaya, sosial dan bahasa suku lain, sebaiknya janganlah mengaku Batak dan jangan lagi pakai Marga Batak, itu lebih sportif.
#HORAS BATAK#
#RAJA BATAK#
#BATAK HEBAT#
Foto bersama Jansen Sitindaon, Z.A.Sitindaon (Op. Savana) dan Sudin Maurid Sitindaon.
SitindaonNews.Com - Mari kita dukung Renovasi Tugu Sitindaon. Panitia Renovasi Tugu Sitindaon dan Partangiangan Sitindaon se Indonesia telah terbentuk dan mulai bekerja. Partangiangan Sitindaon se Indonesia tersebut direncanakan akan diadakan 28-29 Juni 2019.
Samosir - Kisah-kisah dari Raja Sidabutar di Tomok, Pulau Samosir, Sumut, selalu asyik untuk didengar wisatawan. Ada sejarah hubungan Islam dan Batak yang kompak.
Awalnya, sebelum mengenal Kristen sampai sekarang ini, orang Batak menganut kepercayaan malim atau parmalim. Dalam kepercayaan itu, penganut dilarang makan daging babi, anjing, dan darah.
sebelumnya MEMBONGKAR MITOS SI RAJA BATAK: Sebuah Strategi Belanda dalam Pembatakan Non-Melayu Part 3
Populasi Toba adalah Etnis Toba
Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa yang pertama melakukan konstruksi terhadap Toba ialah misionaris Jerman, sehingga Toba yang pada awalnya dijadikan ”Batak”. Tetapi, kemudian hari Belanda melakukan konstruksi lebih luas lagi hingga seluruh masyarakat non-Melayu di daratan Sumatera Utara dibatakkan atau dijadikan “Batak”. Kemudian istilah “Batak” tadi kemudian ditambah, sehingga menjadi “Batak Toba” yang dapat dilihat pada judul buku-buku yang ditulis oleh Johannes Warneck pada awal abad ke-20. Kata “Batak” merupakan hasil konstruksi misionaris Jerman ini dan mereka memberikan arti baru di dalam kata tersebut seperti dikatakan oleh Dr. Johannes Warneck, yaitu: “Penunggang kuda yang lincah.” Penulis merasa arti ini berlebihan, karena Toba tidak memiliki sejarah yang menonjol dengan kuda bila dibandingkan dengan Simalungun yang pernah memiliki pasukan berkuda yang hebat. Tuan Rondahaim, Raja Raya, memiliki pasukan berkuda yang sangat kuat di penghujung abad ke-19, sehingga tidak pernah dapat dikalahkan oleh Belanda sampai akhir hayatnya.
sebelumnya MEMBONGKAR MITOS SI RAJA BATAK: Sebuah Strategi Belanda dalam Pembatakan Non-Melayu Part 2
Si Raja Batak, Sang Tokoh Mitos?
Menarik, N. Siahaan, BA. dalam bukunya “Sejarah Kebudayaan Batak” (1964) mengemukakan dengan kritis dan jernih sebagai berikut: “Berapa jumlah orang Batak dan kapan mereka tiba di sekitar gunung Pusuk Buhit tidak dapat dijawab (rasanya tidak mungkin hanya seorang, yakni Si Raja Batak dengan isterinya jadi nenek-moyang pertama). ... Mengenai riwayat Si Raja Batak, yakni leluhur bersama suku Batak, semata-mata masuk mitos. … Si Raja Batak sudah tokoh mitos, demikian juga Tatea Bulan dan Isumbaon. Tentang nama-nama yang lain kita terima saja mereka itu leluhur yang pernah hidup.” (1964:83,84,86). Tepat sekali pertanyaan kritis dan pernyataan kritis N. Siahaan tadi, bahwa tidak mungkin hanya seorang bersama isterinya menjadi nenek-moyang bersama dan itu semata-mata merupakan mitos. sehingga Si Raja Batak adalah tokoh mitos!