Top Stories
-
Mas Didit ke Solo ada apa?
-
Sikap Mentalmu Hari ini akan Menentukan apakah Kelak Hidup Kaya atau Miskin!
-
Miskin Dulu Boleh, Jangan Miskin Permanen
-
Begini Pola Permainannya Kenapa MSCI, S&P, MOODY'S Sering Beri Rating Jelek Saat Harga Nyungsep?
-
Yang Kelaparan itu Adalah Pemilik Dapur MBG dan Elit-elit Politik Menghadapi Pemilu 2029
-
Baca Order Book, Bagi Pemula yang Baru Join.
-
Apapun Kata MSCI Pagi Ini, Jangan Ada yang Panic Selling!
-
Kenapa 90% Trader Saham Boncos?
-
Tipuan Support Tebal Cara Bandar untuk Akumulasi dan Distribusi
Search
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 778
Egoisme! KONVOI Kendaraan di Jalan Raya Cenderung Merugikan Orang Lain
Ilustrasi Konvoi Motor Gede dan Mobil Mewah
*Konvoi
Cobalah sekali ini baca dengan hati lapang, tanpa egoisme, tapi, tapi, dan tapi.
Bahwa apapun itu jenisnya, konvoi kendaraan di jalan raya itu cenderung merugikan orang lain. Mari kita bahas satu-persatu. Dan ayo, sekali lagi, baca dengan lapang. Jangan dengan emosi:
1. Apa urgensinya?
Apakah konvoi-mu itu mendesak sekali bagi planet BUMI? Tidak. Tidak. Lebih banyak konvoi ini karena hobi, suka-suka, sambil foto2, rolling shot, dll dsbgnya. Nah, saat tidak ada urgensinya, tidak ada manfaatnya, ngapain kamu harus melakukannya?
2. Arogan.
Well, bahkan anak alay saja saat konvoi cenderung arogan, apalagi saat itu moge, mobil mewah, dll, dsbgnya. Konvoi kamu cenderung menguasai lajur jalan yg seharusnya milik bareng. Yang harusnya 1 lajur, kamu ambil 2. Belum lagi kecepatan kendaraan, dll. Kamu cenderung melanggar lalu lintas, marka, dll, dsbgnya. Kamu cenderung mengambil hak pengguna jalan lainnya. Ssst, ayolah, berhenti egois, terus membela diri.
3. Fasilitas bersama
Bahkan saat konvoi itu resmi, dikawal polisi, patuh 100%, tertib 100%, dll, dsbgnya, ketahuilah, itu tetap tidak fair. Jalan raya itu milik bersama. Kenapa ada rombongan yg diberikan privelege melintas? Setiap jalan raya itu adalah milik bersama. Hanya karena rombongan tertentu dapat pengawalan, bukan berarti dia jadi yg punya jalan tsb.
Pada akhirnya, cobalah memikirkan hal2 ini dari sisi orang lain, loh. Jangan kita, kita dan kita terus. Well, jika kita memang benar2 mau mengotot tetap konvoi, maka saran saja: lakukan di jalan pribadi. Bikin sendiri jalannya, nah, saat itu memang jalan milik kamu, sah sudah terserah kamu. Tapi jika itu jalan bersama, ayolah, hormati orang lain.
Apa sih urgensinya kita konvoi? Kita bakal mati jika tidak konvoi di jalan raya? Itu kadang hanya soal foto2, video. Sungguh, itu kadang hanya untuk konten. Apakah tidak ada kegiatan bermanfaat lain yg bisa kita lakukan?
*Tere Liye, penulis novel 'Negeri Para Bedebah'
Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=479804903513080&id=100044507226666