fbpx

0
0
0
s2sdefault

888e6a35 dfc8 49ba a484 a155c785f376 169Foto: Sampingan 

Sampingan, startup lokal yang menyediakan pekerja sampingan ini mengumumkan telah meraih suntikan dana segar USD 1,5 juta atau sekitar 21 miliar yang bersumber dari Golden Gate Ventures, Antler, dan juga beberapa angle investor.

"Saat ini, kita fokus untuk mengembangkan produk dan teknologi yang akan semakin mempermudah penggunaan aplikasi Sampingan," ujar Wisnu Nugrahadi, CEO dari Sampingan.

Disebutkannya, pengembangan tersebut dilakukan agar para agen Sampingan dapat bekerja dengan waktu yang lebih fleksibel. Karena dengan lebih banyak waktu luang, mereka dapat menggunakannya untuk hal yang lebih baik, dan perubahan positif di hidup mereka itulah yang menjadi salah satu misi Sampingan.

Sampingan sendiri telah memiliki lebih dari 150 ribu mitra pekerja independen yang mereka namain agen di dalam platform-nya untuk menyelesaikan berbagai tugas-tugas pekerjaan rekan bisnis, seperti akuisisi toko atau pengumpulan data dengan cepat dan efisien. Gojek, OYO, Unilever, dan Danone merupakan beberapa klien dari startup ini.

Dalam pekerjaannya, Sampingan memiliki sejumlah ketua tim lapangan untuk memantau performa agen dan memaksimalkan efisiensi. Metode inovatif ini didorong oleh tiga prinsip utama Sampingan: kecepatan, kualitas, dan biaya, telah terbukti untuk menghemat biaya pekerja rekan bisnis Sampingan hingga 70%.

Saat ini, berbagai pekerjaan paruh waktu yang tersedia di platform Sampingan dapat memberikan seorang super-user penghasilan tambahan hingga Rp9 juta dalam sebulan.

Sejak diluncurkan pada Januari 2019, Sampingan telah berkembang dari sebuah tim dengan tiga anggota menjadi 60 anggota penuh. Dengan jumlah tenaga yang semakin besar dan pendanaan yang didapatkan, Sampingan akan mempercepat pertumbuhan bisnisnya dengan menyediakan lebih banyak opsi untuk bisnis-bisnis yang ingin menggunakan jasa mereka. 

Sumber: detik.com

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

Screenshot 20191007 150328Aswin Tanu Utomo, VP of Engineering Tokopedia, memberikan pesan kepada generasi muda yang ingin bikin start up. (Suara.com/Firsta Nodia)

Mendirikan start up tampaknya kini menjadi cita-cita bagi generasi mudasaat ini. Kisah sukses pendiri start up seperti Nadiem Makarim dengan bisnis Go-Jek, Ferry Unardi selaku pendiri Traveloka, serta William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison pendiri Tokopedia berhasil membuat para generasi muda saat ini berlomba-lomba untuk mendirikan start up.

Namun di tengah persaingan yang ketat, ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan ketika berencana mendirikan perusahaan rintisan berbasis internet ini. Disampaikan Aswin Tanu Utomo selaku VP of Engineering Tokopedia, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui permasalahan yang akan dipecahkan melalui bisnis tersebut.

"Jadi entrepreneur itu harus tahu problem apa yang mau disolve. Misalnya di Jakarta macet, start up apa yang bisa dibikin. Jadi harus cari tahu problemnya dulu," ujar Aswin dalam Indonesia Digital Economy Summit 2018 yang dihelat PT Pamerindo Indonesia di Jakarta, Rabu (24/10/2018).

Aswin yang juga merupakan pendiri start up AdaDiskon.com pada 2009 lalu ini mengatakan, pendiri start up pemula juga sebaiknya tidak mengikuti tren. Pasalnya jika mengikuti tren maka persaingan akan semakin besar dan sulit untuk mengungguli start up yang lebih besar.

"Tren itu cepat sekali hilang dan tergantikan. Jadi jangan ikuti tren. Jangan gara-gara lagi gempar fintech terus bikin start up fintech. Jadi coba lihat problem di sekitar kita dan bikin inovasi yang belum dilirik pesaing," tambah dia.

Selain itu, Aswin juga meminta pelaku start up pemula untuk benar-benar serius di bidang tersebut. Passion dibutuhkan sebagai bahan bakar untuk memajukan bisnis yang dirintis. Jika perlu, sebelum mendirikan start up, anak muda bisa menimba ilmu terlebih dulu di start up yang sudah berkembang.

"Jadi sebaiknya jangan bikin sendiri. Belajar dulu di start up orang lain. Misal di Tokopedia kita ada bikin tim kecil-kecil jadi seperti start up within start up. Jadi kalau ada anak muda yang mau bikin start up dan penasaran start up itu gimana sih mungkin bisa gabung di kita untuk belajar dulu," tambah dia.

Nah soal pendanaan, Aswin mengatakan pelaku start up bisa memulainya dengan menjalin hubungan baik dengan para investor. Menurut dia di era sekarang start up lebih mudah mendapatkan investor dibandingkan beberapa tahun yang lalu.

"Soal pendanaan entreprenuer sekarang susah-susah gampang. Tapi kalau dibandingin waktu saya start up dulu nggak ada sama sekali investor. Sekarang sudah banyak. Tapi yang penting jalin relationship dulu ke investor. Jangan langsung minta duit, jadi waktu ketemu bisa minta tanggapan soal bisnis kita seperti ini nanti dengan sendirinya mereka akan tertarik invest di kita," tandas dia.

NXT Indonesia 2018, pameran teknologi digital pertama di Indonesia, dibuka hari ini di JIExpo Kemayoran Jakarta, bersamaan dengan Communic Indonesia dan Broadcast Indonesia. Menghadlrkan Iebih dari 100 eksibitor dari 18 negara, serta Iebih dari 5,000 pengunjung, pameran Ini beriangsung hingga 26 Oktober 2018.

Selama pameran, peserta juga akan dimanjakan dengan berbagai pembicara di Indonesia Digital Economy Summit 2018, yang menghadirkan para profesional dari sektor Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK).

Bagaimana, generasi muda tertarik untuk mendirikan start up?

Sumber: suara.com

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

1570081888798Foto: Pedagang menjajakan dagangannya dengan sistem pembayaran cashless di Pasar PSPT Tebet Jakarta Selatan (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, Keinginan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) agar Indonesia punya startup unicorn ke-5 tahun ini ternyata sudah kesampaian. Startup unicorn ke-5 Indonesia adalah OVO.

Dalam laporan CB Insights bertajuk The Global Unicorn Club disebutkan OVO memiliki valuasi US$2,9 miliar. Unicorn merupakan julukan bagi startup yang memiliki valuasi di atas US$1 miliar atau Rp 14 triliun. Meski nilai perusahaan tinggi, startup ini masih masih mencatatkan kerugian.

CB Insights menyatakan OVO menyandang status unicorn ini sejak 14 Maret 2019. Pertumbuhan valuasi OVO terbilang cukup cepat bahkan melampaui valuasi Traveloka dan Bukalapak yang sudah lebih dahulu menyandang status unicorn.

OVO merupakan aplikasi dompet digital (e-wallet) yang dikelola oleh PT Visionet Internasional dan merupakan salah satu perusahaan milik Lippo Group. Pada awalnya OVO merupakan aplikasi loyalitas yang mengelola point hasil berbelanja di pusat perbelanjaan milik Lippo Group.

OVO kemudian berkembang menjadi dompet digital dan mendapatkan lisensi dari Bank Indonesia pada. 2017 silam. Strategi untuk membesarkan OVO adalah dengan menjadikan OVO sebagai alat pembayaran resmi non-tunai di semua pusat perbelanjaan milik Lippo terutama di sektor pembayaran parkir.

Strategi lainnya dengan bekerja sama dengan Tokopedia untuk menjadi dompet digital resmi di raksasa e-commerce Indonesia menggantikan Tokocash, dompet digital milik Tokopedia yang ditutup.

Selain itu, OVO juga bekerja sama dengan Grab, startup ride-hailing. OVO menjadi dompet digital satu-satunya yang bisa digunakan untuk pembayaran transaksi dalam platform Grab di Indonesia.

Saat ini Lippo Grup merupakan pemegang saham utama OVO. Pada Mei tahun lalu, manajemen OVO mengumumkan suntikan modal sebesar US$120 juta dari Tokyo Century Corporation. CB Insights melaporkan investor lain OVO adalah Grab dan Tokopedia.

Berikut daftar startup unicorn Indonesia beserta dengan valuasinya:

  • Gojek dengan valuasi US$10 miliar (Rp 140 triliun)
  • Tokopedia dengan valuasi US$ 7miliar (Rp 98 triliun)
  • OVO dengan valuasi US$2,9 miliar (Rp 40,6 triliun)
  • Traveloka dengan valuasi US$ 2 miliar (Rp 28 triliun)
  • Bukalapak dengan valuasi US$ 1 miliar (Rp 14 miliar)

Sumber: cnbcindonesia.com

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

1570158177697Kantor WeWork. Foto: Reuters

California - Kejatuhan spektakuler   startupWeWork   membuat   sorotan mengarah ke startup sejenis di Amerika Serikat yang punya pola yang sama, yaitu punya nilai valuasi sangat tinggi tapi belum jelas kapan menghasilkan untung dan terus saja 'membakar' uang.

Pada masa puncak, valuasi WeWork pernah bernilai USD 47 miliar atau di kisaran Rp 667 triliun. Sayang seiring berjalannya waktu, praktik bisnis WeWork banyak dipertanyakan. Pada tahun 2018, diketahui mereka mengalami kerugian masif hingga USD 2 miliar.

Menjelang rencana berjualan saham pada publik, WeWork merilis dokumen keuangan yang mengejutkan. Mereka ternyata masih rugi USD 900 juta di paruh pertama 2019 dan ada kewajiban sewa USD 47 miliar. Akibatnya, Adam Neumann selaku CEO lengser dan rencana IPO dibatalkan.

"WeWork tidak sendirian. Perusahaan ride hailing Uber dan Lfyt yang go public tahun silam merugi miliaran dolar. Uber melaporkan kerugian USD 6,2 miliar dalam dua kuartal pertama semenjak IPO. Lfyt yang jadi rivalnya merugi USD 1,7 miliar di periode yang sama," tulis kolumnis teknologi CNN, Nicole Gelinas.

Investor pun menjauh dan saham kedua perusahaan terus jatuh. "Selama bertahun-tahun, Silicon Valley memicu startup mencari valuasi begitu tinggi, membakar sejumlah besar uang dan tidak mengcecek power pendirinya. Sekarang, pasar publik memberi sinyal bahwa itu ada batasnya," tulis CNN.

WeWork sendiri, yang bergerak di bidang penyewaan kantor virtual dan fisik, diprediksi kehilangan seluruh uangnya tahun depan jika situasi tidak berubah. Pada akhir Juni, WeWork memiliki uang tunai USD 2,5 miliar.

Jika mereka terus membakar duit dalam skala seperti saat ini, yakni USD 700 juta per kuartal, mereka akan kehabisan uang pada kuartal I 2020. Dengan pembatalan IPO dan reputasinya yang merosot, bahkan ada kemungkinan bisnis WeWork tidak dapat dipertahankan.

Sumber: detik.com

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

IMG 20190918 WA0041

Harga minyak melonjak secara besar-besaran usai terbakarnya fasilitas minyak raksasa milik Arab Saudi, Saudi Aramco, akibat serangan drone pada Sabtu (14/9/2019). Sejalan dengan meningkatnya harga minyak, harta kekayaan miliarder asal Amerika Serikat (AS), Harold Hamm juga melesat.

0
0
0
s2sdefault