fbpx

0
0
0
s2sdefault

PENCARI ILMU SEJATI

Bindere Zainur, seorang filsuf bangsawan dari Madura, mengeluh kepada sahabatnya, Raden Wong Wongan, penguasa Negeri Rembang,

"Aku hidup demi pengetahuan", Bindere bicara dengan suara yang masgul, "kalau tak ada lagi yang tersisa dari dunia ini yang belum kuketahui, untuk apa lagi hidupku ini?"

Raden Wong Wongan pun jadi prihatin. Tapi sejurus kemudian ia ingat sesuatu,

"Ah! Ada satu hal yang aku yakin engkau belum mengetahui hakikatnya!"

Bindere Zainur sontak berbinar. Semangatnya akan ilmu pengetahuan berpijar-pijar,

"Apa itu?"

"Blekuthuk".

"Apa itu 'blekuthuk'? Dimana aku bisa mempelajarinya?"

Raden Wong Wongan tercenung. Lalu, seolah tanpa sadar ia menggelengkan kepala dengan lemah,

"Tidak mudah... tidak mudah..."

Bindere menggeretakkan gerahamnya,

"Katakan padaku! Kesulitan apa pun akan kutempuh! Sebesar apa pun pengorbanannya, aku siap! Sepenuh jiwa ragaku! Demi satu pengetahuan baru!"

"Engkau harus menemui seorang guru besar di padepokan Gunung Merapi".

"Siapa?"

"Kanjeng Sunan Sumobagor"

Bindere tak mau buang-buang waktu. Dengan bekal seadanya ia berangkat. Menempuh hutan, gunung dan jurang, laut dan sungai-sungai besar penuh mara bahaya. Hingga bertemu Kanjeng Sunan.

"Temuilah penjual ikan di pasar maya", sabda Kanjeng Sunan.

"Siapa?"

"Danyang Badrus"

Bindere mematak aji, memasuki jagad lelembut, menemui Danyang Badrus.

"Carilah seorang nelayan di kisik antah berantah. Mung namanya".

Nelayan Mung memandangi Bindere dengan sorot mata terheran-heran.

"Sungguh Paduka ingin tahu?"

"Ya! Bagaimana pun caranya!"

"Paduka berani?"

"Jangan tanya lagi! Cepat katakan!"

Mung menghela napas dan memberesi jala yang terkelumbruk di sampannya.

"Paduka harus pergi ke Pulau Sorga".

"Dimana itu? Antarkan aku kesana!"

Mung menggelengkan kepala,

"Tidak bisa. Hamba tak berani. Paduka bawa sendiri saja sampan hamba ini".

"Baik! Aku harus ke arah mana? Mencari siapa atau apa?"

"Mengayuhlah ke Utara.Kalau angin sudah berbau harum dan ikannya terasa manis, Paduka sudah dekat dengan Pulau Sorga".

"Lalu, kalau sudah sampai, aku harus bagaimana?"

"Temuilah seorang pertapa di sana. Simbah Nyutz namanya".

Entah berapa purnama Bindere terkatung-katung di tengah samudera, hingga tinggal kulit yang membalut tulangnya, sebelum akhirnya sampai di Pulau Sorga. Di sebuah goa yang ditunggui tujuh ekor macan dan sembilan ekor singa --badan Bindere sudah menjadi begitu kurusnya sampai-sampai binatang-binatang ganas itu pun tak berselera-- Bindere bertemu Sang Pertapa.

Dengan penuh kasih-sayang Simbah Nyutz menerima bangsawan yang merana itu. Ia memaksa untuk terlebih dahulu merawat Bindere hingga sehat sebelum menjawab pertanyaannya. Setelah Bindere memperoleh kembali kesegaran tubuhnya, barulah Sang Pertapa mewejang,

"Di tengah pulau ini ada sebuah bukit. Di atas bukit itu ada telaga. Itulah Telaga Kehidupan. Di tepi telaga itu ada sepasang pohon pinang yang batangnya merunduk ke arah Barat. Di tengahnya tergeletak batu bacan seukuran kerbau. Kalau kau sanggup menggeser batu itu, galilah tanah dibawahnya".

Bindere harus mengerahkan segala kesaktiannya untuk melaksanakan petunjuk Sang Pertapa, hingga akhirnya berhasil mengangkat sebuah peti yang terkubur dibawah batu bacan raksasa. Serasa bergemuruh dada Bindere saat membuka peti itu. Ia dapati didalamnya sebuah guci kuno dan selembar kertas papirus yang terlipat. Tulisan di kertas itu tak mungkin dapahami orang awam, karena berupa kalimat-kalimat dari bahasa purba yang sudah lama punah. Tapi Bindere adalah gudang segala pengetahuan. Bahasa itu sudah pernah dipelajarinya,

"Barang siapa telah menempuh segala kesulitan dan mara bahaya untuk mengetahui hakikat yang ia cari hingga ke tempat ini, hendaklah ia celupkan guci ini secara tegak lurus kedalam telaga".

Bindere terharu luar biasa. Segala pengorbanan itu kini telah sampai ke buahnya. Tanpa terasa air matanya bercucuran oleh suka-cita. Hampir-hampir kakinya tak mampu menyangga tubuhnya menuju tepian air telaga itu. Dengan khusyuk, hatinya memanjatkan syukur ke Hadirat Yang Mahakuasa, yang telah memberinya kekuatan dan menuntunnya hingga ke tujuan. Lalu dengan penuh takzim, ia julungkan guci itu ke permukaan telaga.

Tepat pada saat mulut guci itu mulai turun dari permukaan telaga, Bindere Zainur mendengar suara,

"Blekuthuk... blekuthuk... blekuthukkk....."

Copas Gus : Yahya Cholil Staquf

Sumber: https://www.facebook.com/100000484892065/posts/4003799312979526/

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

1578614788589picture-alliance/Photoshot/Y. Shunpi

Manfaatkan Aplikasi Berbagi Video, Petani Cina Raup Untung Besar Saat Panen

Dari gagal berjualan pakaian online di kota, seorang warga asal Cina memutuskan pulang kampung dan berusaha sarang madu. Kini ia berhasil menjual madu hingga nyaris Rp 6 miliar per tahun.

Apa kamu mau?" ujar seorang peternak lebah bernama Ma Gongzuo. Ia melihat ke arah kamera telepon selular pintar milik seorang kawannya. Ma Gongzuo kemudian menggigit sarang madu manis dan renyah berwarna kuning keemasan itu.

Video ini diluncurkan kepada 737.000 pengikut Ma Gongzuo di aplikasi berbagi video yang populer di Cina yaitu Douyin. Aplikasi ini mirip dengan aplikasi TikTok dan memiliki sekitar 400 juta pengguna di negara tirai bambu ini. Aplikasi video ini telah mengubah Ma Gongzuo dari petani dan peternak biasa menjadi layaknya selebriti.

Membuat video telah menjadi taktik penjualan yang populer bagi para petani di Cina. Ini menunjukkan bahwa konsumen semakin ingin tahu tentang asal-usul produk yang mereka beli. Selain itu, video juga memberikan pengetahuan terkait kehidupan di pedesaan dan ternyata berhasil memukau imajinasi penontonnya.

Baca juga: Indonesia Luncurkan Program Digitalisasi Pertanian

Lalu bagi sebagian orang, video-video seperti yang dibuat Ma Gongzuo juga telah membantu mereka keluar dari kemiskinan - yang diharapkan oleh Partai Komunis di Cina untuk bisa diberantas pada tahun 2020.

Pulang kampung dan bisnis madu

"Semua orang mengatakan saya tidak berguna ketika mereka melihat saya memutuskan untuk pulang kampung," kata lelaki berusia 31 tahun itu terkait kepulangan ke desa setelah usahanya menjalankan bisnis pakaian online gagal.

"Mereka mengatakan bahwa kita hanya bisa keluar dari kemiskinan jika kita belajar dan mendapatkan pekerjaan di kota," tambah Ma Gongzuo.

Namun kini Ma Gongzuo bisa mengendarai mobil mahal dan punya cukup uang untuk membeli properti. Ia juga membantu orang tuanya serta sesama penduduk desa tentang hal-hal yang berkaitan dengan rumah dan bisnis mereka.

Tahun 2015, Ma Gongzuo menjalankan bisnis keluarga yaitu memproduksi madu di daerah perbukitan hijau di Provinsi Zhejiang. Berkat aplikasi e-commerce, ia pun berhasil mengubah pendapatan tahunan menjadi sebesar 1 juta yuan (nyaris mencapai Rp 2 miliar).

Namun saat itu penjualan mulai mandek.

Lalu pada bulan November 2018, dengan bantuan dari teman-temannya di desa, Ma Gongzuo mulai memposting video tentang hidupnya di daerah pertanian. Mereka menunjukkan bagaimana ia membuka sarang lebah yang dikelilingi segerombolan lebah, berenang telanjang dada di sungai, dan memotong kayu.

"Saya tidak pernah mengiklankan produk saya. Saya menunjukkan kehidupan sehari-hari saya, pemandangan pedesaan. Itulah yang menarik minat orang," kata Ma Gongzuo. "Tentu saja orang juga berpikir saya menjual madu. Mereka lalu menghubungi saya dan mengatakan bahwa mereka ingin membeli madu."

Dan seperti kebanyakan transaksi di Cina, di mana uang tunai menjadi semakin kurang populer, pesanan-pesanan para pembeli ini pun dibayar melalui aplikasi seperti WeChat atau AliPay.

Ma Gongzuo mengatakan sekarang dia bisa menjual madu senilai antara 2 dan 3 juta yuan (Rp 4- 6 miliar) setiap tahunnya. Selain itu, ia juga menjual ubi jalar kering dan gula merah.

"Ketika saya masih muda, kami miskin," kenangnya. Ia menambahkan: "Di sekolah saya dulu mengagumi anak-anak lain yang punya uang saku, karena saya tidak pernah punya." Sekarang dia mengendarai BMW 4x4 yang harganya sekitar 760.000 yuan (Rp 1,5 miliar) dan juga berinvestasi membangun penginapan.

Berdayakan ekonomi pedesaan

"Menggunakan (aplikasi) Douyin, itu adalah titik balik saya," ujarnya.

"Kini saya dapat membelikan apa yang keluarga saya butuhkan. Saya juga membantu penduduk desa lainnya untuk menjual produk mereka. Semua ekonomi lokal merasakan manfaatnya," jelasnya.

Di Cina, sekitar 847 juta orang mengakses internet melalui ponsel pintar mereka. Ini menjadikan aplikasi online sangat berperan penting bagi kesuksesan petani dan peternak seperti Ma Gongzuo.

"Ini kemajuan," ujar sang ayah, Ma Jianchun, dengan gembira. "Kami sebagai orang tua merasa sangat senang. Dengan uang itu, kami dapat merenovasi rumah kami."

Menurut perusahaan audit asal Amerika Serikat, Deloitte, Cina adalah pasar terbesar di dunia untuk penyiaran video langsung secara online. Untuk mengikuti tren, perusahaan induk Douyin yaitu ByteDance mengatakan telah menyelenggarakan pelatihan kepada 26.000 petani tentang seni membuat video. Di negara itu ada juga platform serupa lainnya seperti Kuaishou dan Yizhibo.

Sementara Taobao, aplikasi e-commerce paling populer di Cina milik raksasa teknologi Alibaba, pada tahun 2019 meluncurkan sebuah proyek yang memperlihatkan kepada para petani bagaimana cara melakukan siaran langsung guna membantu mereka mendapatkan lebih banyak penghasilan.

Angka pemerintah Cina menunjukkan bahwa jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan di wilayah pedesaan di Cina memang berkurang secara dramatis. Namun depopulasi di pedesaan juga terus berlanjut karena banyak orang pergi ke kota untuk mencari pekerjaan dengan harapan memperoleh bayaran lebih baik.

"Kami ingin menjadi contoh dan menunjukkan kepada kaum muda bahwa sangat mungkin mendirikan bisnis dan menghasilkan uang di daerah pedesaan," jelas Ma Gongzuo yang berpendidikan universitas. "Kami berharap akan lebih banyak yang kembali ke kampung sehingga kehidupan dan (kegiatan) ekonomi dapat kembali di desa."

Sumber: republika.co.id

 

 

0
0
0
s2sdefault
0
0
0
s2sdefault
0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

1576253149917Vlogger muda dan misterius Cina, Li Ziqi dengan 58 juta pengikut di YouTube dan Weibo.

Vlogger Li Ziqi memikat perhatian dunia dengan tayangan video yang menceritakan kehidupan sehari-hari warga pedesaan di provinsi Sichuan, Cina.

Li kelahiran tahun 1990, merekam aktivitas sehari-hari dirinya seperti bertani, memasak makanan tradisional Cina yang tampak lezat, membuat furnitur dari bambo, membuat kertas, menenun kain sutera, hingga kehidupan alam sekitar khas pedesaan.

0
0
0
s2sdefault

Subcategories